Home » Cerpen » Malam Sepasang Lampion

Malam Sepasang Lampion

Cerpen Triyanto Triwikromo
Dimuat di Kompas (10/19/2003)

HUJAN-yang kau sangka bisa menghijaukan seluruh lampu lampion-baru saja mendera jalanan Sussex, Dixon, dan Goulburn. Matamu tentu tak waras kalau menganggap billboard Sussex Centre atau Nine Dragons telah menghijau. Dalam kepungan kristal-kristal air yang jernih pun, papan nama-papan nama restoran itu menguarkan cahaya merah-kuning yang tajam. Dan lampu-lampu lampion bergenta mungil itu tetap saja membiaskan kesejukan daun-daun hijau kekuningan di antara para migran Thailand, Vietnam, atau Korea yang berlarian menghindar ke trotoar.

DAN kau, Xi Shi, diimpit gedung-gedung pink, gapura-gapura berornamen naga atau patung-patung harimau, tak mau menghindar dari kutuk hujan. Maka, sungguh aneh jika orang-orang yang berpapasan denganmu tak menganggap kau sebagai perempuan edan. “Mereka toh tak memahami makna kenikmatan,” dengusku sambil menatapmu yang terus-menerus membentangkan sepasang tangan dan menari-nari dalam dera hujan.

Kau tahu apa yang kau harapkan Xi Shi. Di akuarium raksasa bernama Chinatown, tak seorang berani mengguratkan segores luka jarum pun di tubuhmu yang dipenuhi tato naga. Luka paling luka, perih paling perih, dan pedih paling pedih pun tak mengubahmu menjadi perempuan sehening teratai, selembut bunga lili, atau sesejuk kolam-kolam jernih di The Chinese Garden of Friendship.

Ya, ya, kau pasti membayangkan kristal-kristal air itu akan berubah menjadi jarum-jarum tato yang menusuk-nusuk ke sekujur tubuh. Kau pasti mengharapkan petir akan menyambar sepasang bahu indah, membakar rambut panjang terurai, dan mengabukan jasad naga yang senantiasa menjelita di keriuhan ruang kasino dan restoran-restoran bergorden sutra. “Maka, sungguh busuk hati para turis yang tak segera memotret tarianmu. Sungguh bodoh mereka yang tak bergegas mengabadikan kenikmatan seorang perempuan mendamba kematian.”

Aduh! Aku sebenarnya tak perlu mendengus-dengus seperti itu, Xi Shi. Mataku masih waras untuk memergoki ketololan para pejalan kaki. Mereka memang membelalakkan mata harimau dan berharap kau segera telanjang, tetapi sesungguhnya terlalu takut menatap tubuhmu yang terus-menerus menggelinjang itu ditabrak mobil polisi yang berpatroli. Mereka memang mengasah keberanian untuk menyeretmu dari amuk petir, tetapi tak sejumput nyali pun mengecambah untuk sekadar membebaskanmu dari cambukan hujan.

Namun, Thian1) dan naga paling ganas tak mengasah lidah api di langit Sussex. Hujan mereda justru ketika kau mengharapkan kota ini dihantam banjir dahsyat, terhapus dari peta Sydney dan keangkuhan para perintis asal Guangdong yang membangun taman-taman persahabatan sembari melupakan penghinaan besar-besaran terhadap orang-orang Asia pada masa Politik Australia Putih.2)

Maka, dipandang dari angkasa yang jauh, Chinatown hanyalah sebuah akuarium penuh cahaya lampion. Kau dan turis-turis yang memuja kosmetik dan kepalsuan kostum Negeri Leluhur yang disewakan secara murah tak lebih dari ikan-ikan konyol yang berenangan dari Hay Market ke Sussex, Dixon ke Goulburn, atau Sussex ke Dixon. Kau hanya melingkar-lingkar dalam labirin dan jadi tontonan turis bego. Apakah kau juga menikmati penjara yang ditebarkan lampion-lampion indah itu, Xi Shi?

SUDAH kuduga Xi Shi tak akan menjawab pertanyaanku. Aku juga yakin dia tak akan pernah peduli pada siapa pun yang menebarkan sepasang mata ke sekujur tubuhnya saat itu.

Musim dingin memang menjijikkan. Namun, bukan lantaran sayatan-sayatan udara minus 8 Celsius itu yang membuat Xi Shi abai pada kekasih. Bergaul dengan dia sepanjang waktu, aku jadi paham kapan perempuan indah itu menebar senyum, merokok, mengisap marijuana, teler, menari, memimpin gerombolan bandit merampok toko, berjalan sambil mengendus- endus bau anjing, menangis, atau bercumbu.

Bahkan, andai kata dia tahu sudah sesiang tadi aku menguntit ketika dia bercermin di kehijauan kolam yang dikepung bambu-bambu di Kuil Kupu-kupu, sangat mungkin Xi Shi mengabaikan kehadiranku.

Xi Shi memang suka bercermin. Namun, aku tahu benar, dia bukan jenis perempuan narsistis. Rasa-rasanya dia hanya percaya pada cermin atau apa pun yang bisa memantulkan sekujur tubuhnya. Cermin telah memberikan pemahaman tak kunjung habis tentang siapa dirinya. Menatap cermin lama-lama Xi Shi tahu Thian telah memberikan anugerah sekaligus kutukan.

“Apa yang kaurasakan saat bercermin, Xi Shi?” selalu aku bertanya sehabis kami mengisap marijuana.

“Aku melihat keheningan kuil-kuil sehabis hujan, kolam yang senantiasa hijau, sepasang undan tak henti-henti menciptakan gelombang transversal, gunung penuh sukma leluhur, mata burung phoenix setelah membakar sayap, dan kera-kera kecil bergelantungan. aku melihat diriku sebagai ratu naga paling rupawan.”

“Apa yang kau rasakan saat bercermin, Xi Shi?” aku selalu mengulang pertanyaan itu.

“Aku melihat Buddha menatap kesedihan dari jalanan sunyi ke lorong-lorong mesum. Aku melihat Yesus mengerang-ngerang dan lambungnya mengucurkan penderitaan terus-menerus. Aku melihat bocah-bocah kecil menadahkan tangan dan aku sedikitpun tak pernah merasa kasihan.”

Dan ketahuilah tak seorang pun menganggap Xi Shi edan. Dia memang perempuan bandit yang sejak kecil membawa pisau lipat ke mana-mana, namun tak sepercik pun darah orang Sussex menetes oleh kebengisannya. Dia memang pemimpin gerombolan perampok tengil, namun tak sepotong pun jarum orang Sussex hilang oleh tangan iblisnya.

Mungkin karena itulah, penduduk membiarkan Xi Shi menari-nari atau berteriak-teriak tak keruan di jalanan. Tak ada alasan bagi mereka untuk tak memuja Xi Shi. Xi Shi membuat Sussex tak dijarah preman-preman Aborigin. Xi Shi membuat pria-pria sok polisi mati berdiri saat menatap dia menari di ruang-ruang kasino atau telanjang bulat di penjara yang sunyi.

Berlebihan? Tidak. Xi Shi memang lahir untuk menjadi perempuan yang tak pernah peduli pada tubuhnya sendiri. Bagaimana harus percaya pada tubuh, kalau sejak kecil sudah jadi sarang pukulan ayahnya yang bengis? Bagaimana percaya pada tubuh kalau pada usia dua belas tahun sudah diganyang preman jalanan? O, bagaimana dia merasa memiliki tubuh jika pada saat umur mulai mengelopak pacar dan sang ibu berebut mencumbu dirinya?

Kesakitan demi kesakitan itukah yang menjadikannya sebagai perempuan iblis? Apa jadinya jika sihir sang Mahasakit telah kehilangan teluhnya? Entahlah. Yang jelas Xi Shi telah menjadi batu yang cuek dan terluka. Yang jelas Thian memberikan sepasang mata indah sekaligus tak pernah menganugerahkan rasa sakit kepadanya.

Maka, pahamilah mengapa sejak siang tadi Xi Shi mengabaikan kehadiranku. Kehadiran orang lain yang dia sangka sebagai neraka itu.3) YA, di yang ya, aku, penderita bodoh ini, relung mata Xi Shi ganjil, tetap sebagai pelukis tato. Tetap saja hanya budak impian ingin menebarkan rasa sakit tubuhnya.

AHA! Kau pasti ingin bertanya mengapa sepanjang hari aku menguntit Xi Shi? Minumlah kopi di kafe-kafe dulu. Ciumlah kekasih-kekasihmu di jalanan gelap dulu. Setelah itu, dengarlah ceritaku!

Yu Chao, bandit bengis Makau yang ingin menguasai Sussex-lah, yang memperkenalkan aku kepada Xi Shi. Waktu itu di Star City, di ruangan kasino berarsitektur Cina mewah yang dikepung 200 meja permainan dan 1.500 mesin slot, bersama para penari lain Xi Shi menarikan salah satu nomor Shanghai Dance.

“Jangan menganggap remeh penari bermata liar itu. Dia memang suka menari, tetapi dia bandit yang tak terkalahkan. Dia memang menebar mata indah. Namun, sesungguhnya dia hanya ingin menatap lama-lama calon korbannya. Setelah mereka teperdaya, habislah riwayat kekayaan para pria bodoh itu. Perempuan licik ini akan mengajak mereka berjudi terus-menerus dan mencumbu serigala-serigala bloon itu hingga mereka tak punya keberanian menolak segala keinginan Xi Shi, bahkan akhirnya mempercayai dia sebagai ratu,” Yu Chao mendesis.

Tak kurespons kekaguman Yu Chao. Dan sebagai perempuan mata-mata yang dibayar Yu Chao untuk menenggelamkan para pemain kasino atau bandit lain ke ceruk kekalahan, aku memang tak berhak membuncahkan kata-kata yang paling tak bermakna sekalipun.

“Aku dengar dia mencari perempuan penato yang bisa mengguratkan sepasang naga di sekujur tubuh. Aku dengar dia ingin menunjukkan kepada para bandit Sussex betapa rasa sakit paling sakit pun tak membuatnya gigrik menghadapi kehidupan. Dan sekarang, kau, Cit Li, kutugaskan untuk menenggelamkan dia ke comberan.”

“Kenapa aku? Kenapa harus seorang perempuan penato? Bukankah Fan Li, pemimpin Gerombolan Naga Sembilan, musuh bebuyutan yang paling kita takuti pun telah bertekuk lutut kepadanya?”

“Karena Fan Li tak punya apa-apa, kecuali pistol dan kebodohan. Kau lain, Cit Li. Kau punya jarum-jarum tato. Kau…,” Yu Chao mendesiskan alasan-alasan aneh.

TAK butuh musim demi musim yang lebih menjijikkan untuk menyusup ke ceruk kehidupan Xi Shi. Sebulan menguntit perempuan iblis itu, aku menemukan keindahan sekaligus kerapuhan jiwa moleknya Xi Shi-yang kutaksir telah 30 tahun tak usai-usai memahami kepedihan-sangat menyukai penari-penari muda. Dan karena aku sangat mahir menarikan nomor-nomor Shanghai Dance, dia meminta aku mengajarinya sepanjang hari di apartemennya. Xi Shi-seperti dugaan Yu Chao-juga membutuhkan perempuan penato. Dan karena menganggap aku sebagai penato hebat, dia memaksaku menusukkan jarum-jarum tatoku ke tubuh indah yang seharusnya tak membutuhkan tambahan keindahan itu.

Sampai di sini harus kukatakan kepadamu: Yu Chao keliru ketika memilihku menjadi kaki tangannya. Dia tak tahu betapa aku sangat bisa dan cepat berpaling dari serigala-serigala bengis yang tak percaya pada kekuatannya sendiri. Dia keliru menafsirkan kelembutanku sebagai perempuan. Dia juga keliru ketika terlalu percaya pada ketakmungkinanku terperosok dalam sihir cinta monster cantik itu. Maka, sebengis apa pun kemarahan Yu Chao, perintah-perintah dan bayaran setinggi langit agar aku segera membunuh Xi Shi pun kuabaikan.

Memang seorang pelukis tato hanya berhak memandang keindahan tanpa boleh memiliki sejumput keinginan mencumbu tubuh para pelanggan. Namun, Xi Shi telah menebar candu cinta yang begitu dahsyat sehingga aku memiliki keberanian melanggar segala pantangan. Melanggar petuah-petuah leluhur dan melawan aturan-aturan Thian hanya untuk sebuah kisah kasih yang konyol. Hanya untuk wajah liar Xi Shi saat didera sepotong rembulan.

Apakah Yu Chao menyangka aku tak bisa mencintai perempuan?

Tak perlu dia menjawab pertanyaan itu. Namun, seharusnyalah dia mendengarkan desis Xi Shi ketika pada suatu malam menebarkan teluh cinta kepadaku.

“Maukah kau segera mengguratkan tato sepasang naga, Cit Li?”

“Ya, Xi Shi, ya, akan kutatokan sepasang naga di sekujur tubuhmu. Akan kuguratkan juga sepasang lampion indah di bahumu.”

“Dalam warna-warni pelangi yang kusuka?”

“Ya, dalam warna-warni pelangi yang kau suka.”

Apakah Yu Chao masih berani menyangka kami hanya sepasang undan yang tak mungkin bercinta?

SEKARANG izinkan aku menceritakan kepadamu tentang keindahan segurat kepedihan. Ketahuilah, tak seorang pun pelangganku yang mampu menahan rasa sakit. Setiap jarum- jarum tajam itu kuhunjamkan ke tubuh, mereka akan meringis atau berteriak-teriak menyebut nama Thian. Xi Shi sungguh sebuah perkecualian. Tak pernah menyebut nama Thian. Tak mengeluh sedikit pun saat jarum menusuk-nusuk membentuk ekor, kepala, sisik, dan taring tajam.

“Masih adakah yang lebih sakit daripada tusukan-tusukan indahmu, Cit Li?”

Tak kujawab pertanyaan itu. Ingatanku melayang ke cerita Nenek tentang Sussex puluhan tahun lalu. “Dulu… dulu sekali… di Sussex hanya ada delapan perempuan Cina, Cucuku. Kau tahu, apa yang terjadi ketika delapan perempuan itu harus menghadapi pria-pria serigala?”

Waktu itu aku tak bisa menjawab pertanyaan Nenek. Namun, kini aku bisa membayangkan rasa sakit yang meletup-letup saat serigala-serigala itu mencabik-cabik daging indah para perempuan selembut keramik. “Karena itu, Cucuku, setiap perempuan Sussex diajari melupakan rasa sakit dan sebaliknya harus mampu menebarkan kesakitan yang luar biasa. Hanya dengan cara itu mereka bisa hidup. Hanya dengan cara itu Nenek bisa memiliki cucu secantik kamu.”

Maka, aku jadi tahu mengapa pada saat usiaku menginjak enam tahun. Nenek mengajariku menato tubuh sendiri. Mula- mula memang rasa sakit itu menebar ke sekujur tubuh, namun lama-lama menimbulkan kenikmatan luar biasa.

Nenek juga mengajari aku membenci setiap laki-laki. Laki- laki adalah serigala bodoh. Kata Nenek, dia selalu mencakar wajah Kakek saat mereka bercumbu. Ibuku juga lahir sebagai betina perkasa. Dia bercinta habis-habisan dengan Ayah, namun setiap malam membawa pria Aborigin atau serigala-serigala Sydney ke ranjang.

Lalu, kalaupun aku kemudian bekerja untuk Yu Chao, itu hanyalah siasat untuk menggiring pria bodoh Makau ini ke jurang paling dalam. “Hanya orang-orang yang bisa pelanggan yang sedang kautato. Kalau kaulanggar, jari-jemarimu akan patah. Matamu akan buta. Cintamu akan menghunjam ke comberan…..”

“Tak ada lagikah rasa sakit yang kau hunjamkan ke tubuhku, Cit Li?” Xi Shi mendesis lagi.

Lagi-lagi tak kujawab pertanyaan itu. Sambil memandang lukisan sepasang naga setengah jadi di tubuh Xi Shi, ingatanku melambung pada puluhan perempuan yang dicumbu dan dicambuki pria-pria sadis, pada pria-pria ganas yang menyiksa perempuan Cina di negara tetangga, pada kegilaan Yu Chao yang tak habis-habis mengusung puluhan penari ke apartemennya. O, apakah kami-para perempuan yang dicipta serupa bidadari-memang telah benar-benar melupakan rasa sakit? Dan Xi Shi, monster cantik itu, apakah telah melupakan pedih perih hingga ke tulang sumsum? Tak bisa kujawab pertanyaan itu. Tak bisa.

“Sepasang lampion itu telah kau guratkan ke bahuku, Cit Li?” Xi Shi membuyarkan lamunanku, “Apakah tubuhku terlalu indah bagimu?”

Aku mengangguk.

“Seperti dirimu, aku tahu, Cit Li, kau dikutuk untuk tak pernah merasakan kesakitan dan dilarang mencintai serigala- serigala Sussex bukan?”

Aku mengangguk lagi. Namun, Xi Shi tak tahu, aku juga tak boleh mencintai pelangganku. Xi Shi tak tahu keliaran dan sepasang lampion di matanya telah menaklukkan tebaran kutuk leluhur yang melilit diriku sepanjang waktu.

Kegairahan dan ketakutan itu akhirnya justru membuatku abai pada segala hal. Maka, dengan berahi dan cinta yang meletup-letup kutusuk-tusukkan jarum-jarum tato hingga sepasang naga betina dan sepasang lampion cantik menggurat di tubuh Xi Shi yang mestinya terlalu indah untuk dilukai. “Setelah ini, kau tak boleh ke mana-mana Xi Shi. Kau tak boleh menari. Kau tak boleh berkeliaran ke kuil-kuil. Kau tak boleh asyik-masyuk di ruang kasino atau melahap makanan sembarangan di restoran,” aku mendesis tak keruan dan merasa mengubah Xi Shi hanya menjadi seekor cacing.

“Kalau kulanggar?”

“Sepasang naga dan lampion-lampion itu akan hilang.”

NAMUN, di relung-relung musim Sussex yang menjijikkan, kau menghilang, Xi Shi. Rasa sakit yang kutebar lewat jarum tatoku, bahkan tak kaupedulikan. Dengan lipstik merah di cermin yang senantiasa memantulkan percumbuan kita, kau menuliskan kata-kata bodoh yang tak bakal dikenang oleh orang-orang yang mengaku sangat peduli pada penderitaan. Apa arti tulisan “Melawan sakit adalah kebodohan?” Apa pula makna “Melupakan sakit sama dengan melupakan Thian?” Bukankah kita telah lama melupakan penderitaan dan carut- marut zaman? Bukankah kita tak mampu berbuat apa-apa ketika manusia-manusia ganas membakar perempuan-perempuan lembut di ujung jalan?

Memang kemudian kau kutemukan di keriuhan kutuk hujan, tetapi tak lama lagi sepasang naga dan lampion-lampion itu akan menghilang. Kulitmu bakal mengelupas. Keliaranmu tanggal. Kau tak akan bisa menari di ruang kasino. Kau tak akan bisa merampok orang-orang kaya di pedesaan. Jiwamu bakal rontok di trotoar.

Karena itu, mesti tarianmu kian kacau, aku akan terus-menerus menguntitmu, Xi Shi. Aku harus menjagamu, wahai naga betinaku. Hanya kau yang kelak mampu memaknai surga Sussex. Hanya kau yang mampu menebarkan derita paling terkutuk pada orang-orangyang telah melupakan rasa sakit. Maka peluk kecup4) serigala, yang melupakan lalu buang ke selokan. Peluk kecup perempuan garang kemontokan dirinya sendiri, tinggalkan kalau merayu5). Namun, jangan kau jadikan aku boneka mainanmu.

“Apakah sepasang naga yang kautatokan di tubuhku telah hilang, Cit Li?” suaramu mengiang.

“Yu Chao yang telah hilang dan kembali ke Makau.”

“Apakah sepasang lampion itu juga telah sirna, Cit Li?”

“Aku yang telah hilang karena segala cintaku kauabaikan.”

Maka, sungguh sialan kalau aku masih ingin menguntitmu, Xi Shi. Sungguh aneh kalau aku terpaku di bawah sepasang lampion dan terus-menerus menatap tarian gilamu.

“O, adakah yang lebih edan daripada sepasang kekasih yang menggelegakkan tawa bahagia di riuh malam yang kehilangan amuk hujan, Xi Shi? Adakah yang lebih konyol daripada sepasang tawa yang kehilangan jiwa?”

Aku tahu… kau terus menari hingga cinta kehabisan api. Hingga tari kehabisan tari.

Semarang 2003-Sussex 2001

CATATAN:

1) Thian adalah bahasa Cina untuk menggantikan kata Tuhan.

2) Pada awal abad ke-20 Australia memberlakukan White Australia Policy yang melarang imigran Asia, termasuk Cina, masuk ke Benua Kanguru. Orang-orang Cina yang telah bekerja dan tinggal di berbagai kota didiskriminasi, dihina, dan diperlakukan secara tak adil.

3) Neraka adalah orang lain adalah ungkapan khas Sartre.

4) dan 5) bagian sajak Chairil Anwar, “Kepada Kawan”.

tentang blog iniTulisan berjudul "Malam Sepasang Lampion" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (8 Desember 2009 @ 05:57) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *