Home | Antologi PBP
Ancaman
(8 November 2008, 1 pembaca, 11 respon)
Cerpen Sawali Tuhusetya
Jam di tembok ruang tamu menunjuk angka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki –entah dari mana datangnya—sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Daraha Minranti mendesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja.
“Selamat pagi, Nyonya!” sapa lelaki... Santhet
(5 April 2008, 204 pembaca, 21 respon)
Cerpen: Sawali Tuhusetya
Kang Jolodot marah besar. Darahnya berdesir deras. Kabut duka menyumbat dadanya.
“Pasti ada yang nggak beres!” berangnya menyaksikan ayam jagonya dihantam telak lawannya. “Jagoku ini sudah tiga kali jawara! Mustahil, mustahil!” pekiknya. Kang Jolodot menjadi gusar. Batinnya menerawang jauh. Tenggorokannya panas. Sementara, matahari membakar bumi dengan dahsyat. Menambah beban arena semakin panas.... Gapit *)
(8 March 2008, 73 pembaca, 25 respon)
Cerpen: Sawali Tuhusetya
Darah Gopal berdesir. Hatinya panas. Daun telinganya perih seperti tersengat lebah. Bola matanya menyala liar seolah hendak membakar orang-orang yang duduk di sekitarnya. Dia berdiri, berkacak pinggang. Otot-ototnya yang kekar menegang. Orang-orang yang semula duduk santai sambil ngobrol ngalor-ngidul terhenyak. Mereka bertatapan sambil mencuri pandang ke wajah Gopal yang sangar. Rasa waswas menggantung... Dhawangan
(4 February 2008, 158 pembaca, 15 respon)
Cerpen: Sawali Tuhusetya
Ketakutan dan kecemasan menggerayangi wajah setiap penduduk. Tak seorang pun yang berani melangkah keluar pintu ketika senja menyelubungi perkampungan. Lorong dan sudut-sudut kampung yang gelap seperti dihuni oleh monster-monster ganas. Sudah lima warga kampung yang menjadi korban. Tewas mengenaskan dengan cara yang sama. Leher mereka nyaris putus seperti terkena bekas gigitan makhluk ganas. Darah kental... Marto Klawung
(24 January 2008, 142 pembaca, 31 respon)
Untuk ke sekian kalinya, Marto Klawung kembali mengamuk. Sorot matanya liar, ganas, menantang. Ke mana-mana, dia membawa parang terhunus, berkilat-kilat. Kalau sedang kambuh, nyaris tak ada seorang pun yang sanggup menjinakkannya.
Meski setengah sinting, Marto Klawung tergolong memiliki ingatan tajam. Dia hafal betul dengan orang-orang yang dianggap pernah menyakitinya. Dengan sikap bagaikan jawara, dia tak segan-segan melabraknya.... Perempuan Bergaun Putih
(10 January 2008, 513 pembaca, 57 respon)
Cerpen: Sawali Tuhusetya
Bulan sepotong semangka menggantung di bibir langit yang berkabut. Temaram. Angin malam berkesiur lembut, menaburkan hawa busuk kematian. Seisi kampung seperti tenggelam di bawah jubah gaib Malaikat Maut. Sesekali terdengar samar lolong serigala di hutan jati yang jauh seperti memanggil-manggil arwah para penghuni lembah kematian.
“Sampeyan masih melihat sosok perempuan bergaun putih itu?”
“Ya! Perempuan... Tumbal
(3 January 2008, 231 pembaca, 11 respon)
Orang-orang bagai rusa masuk kampung. Bingung. Subuh tadi, anak Lik Karimun yang baru berusia tujuh bulan, hilang. Konon, si Nok tiba-tiba raib dari sisi tetek simboknya. Kontan saja Yu Painem menjerit-jerit histeris. Lik Karimun yang tidur di sisi Yu Painem pun limbung. Tubuhnya loyo.
“Wah! Ini pasti ulah demit jembatan itu lagi. Sudah tiga anak yang jadi tumbal!” kata seorang lelaki tua di sela-sela kerumuman banyak orang... Kang Sakri dan Perempuan Pemimpi
(1 January 2008, 211 pembaca, 3 respon)
Puluhan mayat terjepit mengenaskan di sela-sela reruntuhan dan puing-puing bangunan yang porak-poranda. Bau busuk menyembur-nyembur. Ratusan burung pemangsa bangkai terbang rendah. Lantas, dengan kecepatan tak terduga menyerbu mayat-mayat itu. Dengan kekuatan penuh, paruh dan kuku burung-burung ganas itu mencengkeram dan mencabik-cabik puluhan mayat yang sudah penuh belatung.
“Crok… crok … cruok!” Ratusan burung pemakan... Sepotong Kepala
(1 January 2008, 122 pembaca, 1 respon)
Para penduduk bergidik ngeri menyaksikan jasad Sukardal yang hanya tinggal gembungnya, seperti bangkai babi yang barusan dibantai tukang jagal. Sepotong kepalanya menggelinding entah di mana. Bayangan kebiadaban menggerayangi setiap kepala.
“Untuk apa orang gembung seperti Sukardal dibunuh!” teriak seseorang disambung gumam-gumam lirih yang tumpah di tengah kerumunan penduduk.
“Benar-benar biadab!”... Kepala di Bilik Sarkawi
(1 January 2008, 141 pembaca, 3 respon)
Bilik Sarkawi yang sumpek, singup, dan gelap diselimuti asap dupa. Baunya yang khas berbaur aroma kembang telon dan minyak serimpi menyedak hidung. Sarkawi merasakan pikriannya hanyut dan tenggelam dalam arus percumbuan yang ganjil. Melayang-layang. Sepotong kepala yang tergantung dalam bilik itu tampak menjelma bagai wajah bidadari. Anggun, cantik, memesona, putih bercahaya, memancarkan aura kegaiban. Sarkawi merasakan kenikmatan... 










