Ancaman
Saturday, 8 November 2008 (14:05) | 1 pembaca | 9 komentar
Cerpen Sawali Tuhusetya Jam di tembok ruang tamu menunjuk angka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki –entah dari mana datangnya—sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyo.... (selanjutnya?)
Santhet
Saturday, 5 April 2008 (04:42) | 173 pembaca | 21 komentar
Cerpen: Sawali Tuhusetya
Kang Jolodot marah besar. Darahnya berdesir deras. Kabut duka menyumbat dadanya.
“Pasti ada yang nggak beres!” berangnya menyaksikan ayam jagonya dihantam telak lawannya. “Jagoku ini sudah tiga kali jawara! Mustahil, mustahil!” pekiknya. Kang Jolodot menjadi gusar. Batinnya menerawang jauh. Tenggorokannya panas. Sementara, matahari membakar bumi dengan dahsyat. Menambah beban arena semakin panas. Penonton sabung ayam jingkrak-jingkrak tanpa irama. Rasanya Kang Jolodot ingin menyumbat mulut mereka. Namun, kini benar-benar terpojok. Merasa asing.
“Hore, jago Kang Jolodot KO. Kena tanduk matanya!” teriak salah seorang penonton disambung kegaduhan lain yang bergemuruh. Penonton semakin merapat. Riuh tanpa kendali. Gemanya membubung ke angkasa.
“Ayo hantam terus biar mampus!” teriak yang lain memberi semangat pada Bagong, jago lawan Kang Jolodot. Suasana semakin kacau. Lelap dalam keonaran yang mahadahsyat.
“Stop, stop!” bentak Kang Jolodot menyeruak kerumunan penonton. Dengan berkacak pinggang di tengah arena, mata Kang Jolodot menyapu bersih keributan. Mendadak suasana menjadi sepi. Nyenyet. Mirip deru bara api disiram air. Senyap. Semua penonton merunduk. Mereka hanya saling mencuri pandang dengan yang lain. Suasana tetap hening. Hanya sesekali terdengar kepakan sayap Bagong tanda kemenangan. Jago Kang Jolodot babak belur, tak berdaya.
“Dengar semua! Aku akan bikin perhitungan dengan Bejo. Pemilik Bagong. Mana orangnya?” serunya memecah keheningan. Tak ada yang berani bersuara. Sebab, mereka tahu selama ini Kang Jolodot dikenal sebagai orang yang brutal. Mudah sekali mengayunkan bogem mentah bila kemarahan sudah mencapai puncaknya, walau tindakannya salah besar. Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh gempal berkelebat di tengah arena. Semua penonton terkejut. Bisikan lirih mulai terdengar. Akhirnya ribut dan suasana bergemuruh lagi.
Gapit *)
Saturday, 8 March 2008 (01:32) | 56 pembaca | 25 komentar
Cerpen: Sawali Tuhusetya
Darah Gopal berdesir. Hatinya panas. Daun telinganya perih seperti tersengat lebah. Bola matanya menyala liar seolah hendak membakar orang-orang yang duduk di sekitarnya. Dia berdiri, berkacak pinggang. Otot-ototnya yang kekar menegang. Orang-orang yang semula duduk santai sambil ngobrol ngalor-ngidul terhenyak. Mereka bertatapan sambil mencuri pandang ke wajah Gopal yang sangar. Rasa waswas menggantung di wajah mereka. Hening sejenak. Di dada mereka berkecamuk tanda tanya.
“Siapa yang bilang Pak Bandiyo mata keranjang, he? Siapa tadi yang bilang?” bentaknya sambil menatap tajam orang-orang yang dilanda waswas itu.
Sepi. Tak ada jawaban. Maklum, mereka tahu siapa Gopal. Lelaki keras dan kasar, bahkan terkesan brangasan. Jika amarahnya tersulut, dia akan berubah menjadi serigala. Brutal dan tidak punya pengampunan. Memukul, menempeleng, menendang, meludahi orang, menyikut, dan semacamnya. Sangatlah beralasan kalau orang-orang di sekitarnya memilih diam.
Dhawangan
Monday, 4 February 2008 (00:17) | 135 pembaca | 15 komentar
Cerpen: Sawali Tuhusetya
Ketakutan dan kecemasan menggerayangi wajah setiap penduduk. Tak seorang pun yang berani melangkah keluar pintu ketika senja menyelubungi perkampungan. Lorong dan sudut-sudut kampung yang gelap seperti dihuni oleh monster-monster ganas. Sudah lima warga kampung yang menjadi korban. Tewas mengenaskan dengan cara yang sama. Leher mereka nyaris putus seperti terkena bekas gigitan makhluk ganas. Darah kental kehitam-hitaman berceceran.
“Tolooong …. tttolooong, tttoo……” Terdengar jeritan histeris yang memilukan. Menggetarkan perkampungan. Para penduduk bergegas keluar rumah dengan setumpuk pertanyaan yang menyerbu kepala. Namun, jeritan histeris itu seketika menghilang seperti ditelan senja yang berkabut. Sepi. Nglangut.
“Dhawangan1) keparat itu muncul lagi, Kang?” tanya seorang penduduk.
“Mungkin!”
“Lho, kok, mungkin?”
“Mana aku tahu? Memang aku ini prewangan?2)”
“Tapi biasanya Sampeyan menjawab dengan penuh kepastian? Takut, ya, Kang?”
“Dasar gemblung!3)”
“Ah, sudah, sudah! Nggak ada gunanya berdebat! Yang perlu kita lakukan sekarang, kita harus secepatnya mencari tahu siapa yang menjerit-jerit tadi!” sergah penduduk yang lain.
Marto Klawung
Thursday, 24 January 2008 (08:23) | 120 pembaca | 31 komentar
Untuk ke sekian kalinya, Marto Klawung kembali mengamuk. Sorot matanya liar, ganas, menantang. Ke mana-mana, dia membawa parang terhunus, berkilat-kilat. Kalau sedang kambuh, nyaris tak ada seorang pun yang sanggup menjinakkannya.
Meski setengah sinting, Marto Klawung tergolong memiliki ingatan tajam. Dia hafal betul dengan orang-orang yang dianggap pernah menyakitinya. Dengan sikap bagaikan jawara, dia tak segan-segan melabraknya. Suro Gentho, pemuda yang pernah mengejeknya, terpaksa mendekam di rumah sakit setelah berduel dengannya. Demikian juga Kang Jolodong. Pemuda yang pernah berguru di Banten itu pun babak-belur gara-gara berani memelototinya.
Suatu ketika, Marto Klawung bikin onar di tengah pentas campur sari di rumah seorang penduduk yang sedang punya hajat mantu. Ketika para penonton sedang asyik bergoyang menikmati lagu-lagu yang meluncur dari mulut seorang biduan lokal, tanpa diduga dia naik ke atas panggung. Sorot matanya menyala, menyapu wajah para penonton yang membludak. Tangan kanannya yang kokoh mengacung-acungkan parang terhunus. Suasana pentas pun jadi kacau. Para penyanyi dan rombongan pemain musik berlarian turun panggung dengan perasaan was-was. Para penonton dicekam kepanikan.
















