Perempuan Bergaun Putih

Thursday, 10 January 2008 (22:35) | 286 pembaca | 57 komentar | Print this Article

Cerpen: Sawali Tuhusetya

Bulan sepotong semangka menggantung di bibir langit yang berkabut. Temaram. Angin malam berkesiur lembut, menaburkan hawa busuk kematian. Seisi kampung seperti tenggelam di bawah jubah gaib Malaikat Maut. Sesekali terdengar samar lolong serigala di hutan jati yang jauh seperti memanggil-manggil arwah para penghuni lembah kematian.

“Sampeyan masih melihat sosok perempuan bergaun putih itu?”
“Ya! Perempuan itu masih setia menunggui rembulan setiap malam di bukit itu.”
“Siapa dia sebenarnya?”
“Tak seorang pun yang tahu. Dia hanya dikenali sebagai perempuan bergaun putih.”
“Sejak kapan dia suka menunggui rembulan?”
“Sejak gadis kecil berkepang dua meninggal.”
“Siangnya?”
“Tak seorang pun yang tahu. Dia akan hilang ketika embun pertama jatuh di pucuk-pucuk ilalang.”
“Hemmm …. Malamnya dia datang lagi di bukit itu?”
“Ya, setiap malam.”
“Meskipun rembulan tanggal tua?”
“Ya.”
“Masih setiakah ia menunggui rembulan yang dipujanya ketika hujan tiba?”
“Ya.”
“Adakah hubungan perempuan pemuja rembulan itu dengan lembah kematian?”
“Tidak tahu.”

Ya! Sudah hampir tiga purnama ini, para penduduk kampung dikejutkan oleh kehadiran sosok perempuan misterius bergaun putih. Tak seorang pun penduduk yang tahu, siapa sesungguhnya perempuan bergaun putih itu. Setiap rembulan menggantung di langit, dia selalu setia menunggui bukit di bibir lembah kematian. Dari mulutnya sesekali mendesis senandung pemujaan rembulan yang perih.

….

Rembulanku,
Aku ingin bertemu
Bidadari yang memangku kucing
Yang selalu mendongeng tentang dewa-dewi
Yang berkisah dengan batin dan jiwa

Rembulanku,
Di sini aku kesepian
Tersekap di tengah labirin cinta dan kerinduan
Kapan aku bisa bertemu
Dengan bidadari yang memangku kucing
….

Senandung pemujaan rembulan yang perih itu seringkali menghanyutkan mimpi para penduduk kampung ketika malam mencapai puncak kematangan yang sempurna. Oleh angin yang bertiup dari lembah kematian, suara senandung yang perih itu seperti diterbangkan menuju ke pintu langit hingga membahana ke seluruh penjuru kampung dengan nada yang lembut, tetapi menyayat-nyayat rongga telinga.

Menurut penuturan beberapa penduduk, perempuan itu berwajah rata dengan rambut tergerai memanjang hingga menyentuh lututnya. Wajah perempuan bergaun putih itu selalu menengadah ke langit, menatap rembulan yang dipujanya.

“Apakah perempuan itu juga yang menggerakkan burung-burung gagak itu?”
“Tidak tahu.”
“Hantukah dia?”
“Tidak tahu.”
“Apakah dia membawa tongkat?”
“Tidak!”
“Pernahkah Sampeyan mendekatinya?”
“Pernah!”
“Kapan?”
….

Percakapan dua penduduk kampung di tengah kesunyian dan kesiur angin yang mencekam itu tiba-tiba terhenti ketika serombongan burung gagak berkaok-kaok, berkelebat di atas bubungan atap-atap rumah, menaburkan hawa busuk ke seluruh penjuru kampung. Konon, burung-burung gagak itu diyakini sebagai jelmaan arwah para penghuni lembah kematian. Para penduduk juga meyakininya sebagai pertanda buruk. Sebuah bencana akan melanda perkampungan di bibir hutan jati itu.
***

Azan Subuh menggema dari corong surau satu-satunya di perkampungan sunyi itu. Gemanya memantul dan menampar-nampar dinding bukit. Para penduduk tergeragap. Seperti digerakkan oleh sesuatu yang gaib, para penduduk menghapus sisa-sisa mimpi. Lantas, menggeliat, bergerak membuka pintu-pintu rumah yang dingin berkabut. Dalam sekapan dingin yang menggigit, telinga para penduduk tiba-tiba saja menangkap raungan tangis dari sudut perkampungan.
“Siapa yang meninggal, Kang?”
“Tidak tahu.”
Siapa yang menginggal, Yu?”
“Tidak tahu.”

Seperti mendapatkan isyarat gaib, para penduduk bergegas menuju ke arah raungan tangis itu. Sesekali terdengar suara batuk tua, tangis bocah, kokok ayam, dan lenguh kerbau. Para penduduk datang berduyun-duyun bagaikan rombongan masyarakat purba menuju ke sebuah altar pemujaan.

“Kenapa kamu Nduk? Kenapa?” teriak histeris seorang perempuan separo baya ditingkah raungan tangis yang membahana, memecah kesunyian pagi.
“Ayo, Nduk, bangun!” teriak seorang lelaki separo baya dengan suara tangis tertahan. Rombongan penduduk yang baru saja datang bersidesak mengerumuni seorang gadis kecil yang sudah tak berdaya. Bola mata mereka nanar, gagal membendung kawah air mata yang jebol di bendungan pelupuk mata. Tangis histeris bersambung-sambungan. Mereka menyaksikan gadis kecil yang biasa berdandan dengan rambut dikepang dua itu sudah tak bernyawa. Tubuhnya terbujur kaku.

Tak seorang pun penduduk yang bisa memahami, kenapa gadis kecil berkepang dua yang suka memburu capung dan kupu-kupu ketika senja jatuh itu tiba-tiba harus meninggalkan kampung kelahirannya untuk selama-lamanya. Padahal, senja tadi, gadis kecil itu masih bermain-main dengan capung dan kupu-kupu. Rambut kepangnya bergulir ke kiri dan ke kanan setiap kali dia berlari. Bahkan, dia sempat minta minum kepada seorang penduduk ketika rasa haus mencekik kerongkongannya.

Gadis kecil itu anak perempuan Kang Badrun dan Yu Darmi satu-satunya. Empat anaknya yang lain laki-laki yang sulit diharapkan masa depannya. Gadis kecil berkepang dua itulah yang didambakan Kang Badrun dan Yu Darmi dapat mengangkat martabat keluarganya. Mengikuti jejak gadis tetangganya merantau ke negeri orang. Mengumpulkan bekal hidup dan sepetak tanah sebagai kado yang “wajib” dipersembahkan kepada orang tuanya sebelum disunting seorang lelaki. Kang Badrun dan Yu Darmi sangat menyayanginya. Namun, agaknya Tuhan berkehendak lain. Harapan Kang Badrun dan Yu Darmi terkubur sudah bersama jasat anaknya yang telah terbujur kaku. Tak berdaya.

Seperti biasanya, para penduduk bergegas menyiapkan upacara pemakaman. Hampir tak ada seorang pun penduduk yang berangkat ke ladang atau berjualan kayu rencek ke pasar. Mereka suntuk meringankan beban duka yang tengah menjerat Kang Badrun dan Yu Darmi. Hanya anak-anak penggembala dengan cambuk di tangan yang rutin menggiring hewan-hewan piaraan menuju ke sebuah lembah.

Ketika matahari sepenggalah, para penduduk segera memberangkatkan jenazah gadis kecil berkepang dua itu menuju lembah kematian. Di tengah kemiskinan yang melilit, kematian gadis kecil berkepang dua itu merupakan malapetaka bagi Kang Badrun dan Yu Darmi. Sempurnalah penderitaan hidup mereka setelah sekian tahun lamanya terbenam dalam lumpur kemiskinan bersama anak-anak mereka yang tidak jelas dan pasti masa depannya. Mereka hanya mengandalkan hidup dengan berjualan kayu rencek ke sebuah pasar yang jauh.
***

Penderitaan hidup Kang Badrun dan Yu Darmi makin sempurna ketika salah satu anak lelakinya tertangkap basah mencuri uang milik kepala dusun. Sudah jatuh tertimpa tangga, digigit anjing pula. Kang Badrun dan Yu Darmi pun terpaksa diusir dari kampung kelahiran yang mereka cintai sesuai dengan adat yang telah disepakati oleh para tetua kampung. Tidak pandang bulu. Siapa pun yang melakukan pencurian, keluarganya harus meninggalkan kampung. Tak jelas, ke mana keluarga yang bernasib kurang beruntung itu pergi. Yang pasti, semenjak kematian gadis berkepang dua dan kepergian keluarga Kang Badrun, kampung bagaikan dipayungi jubah Malaikat Maut yang singup. Hawa busuk kematian tercium di setiap sudut dan pintu-pintu rumah penduduk.

Sejak saat itu pula, para penduduk sering terusik oleh kehadiran gerombolan burung gagak yang berkaok-kaok di atas bubungan atap-atap rumah. Yang membuat pori-pori mereka makin merinding, hampir setiap malam mereka menyaksikan seorang perempuan bergaun putih yang suka menunggui rembulan di bibir lembah kematian.

“Apakah perempuan bergaun putih itu jelmaan gadis berkepang dua yang arwahnya penasaran?”
“Tidak tahu. Tapi kalau dilihat potongan rambutnya sangat berbeda dengan gadis kecil berkepang dua. Perempuan pemuja rembulan itu berambut panjang hingga menyentuh lututnya..”
“Tapi kenapa munculnya kok sejak gadis berkepang dua itu meninggal?”
“Tidak tahu.”
“Kalau memang perempuan bergaun putih itu bukan jelmaan si gadis, kenapa dan dari mana dia bisa begitu datang secara tiba-tiba?”
“Tidak tahu.”
….

Percakapan dua penduduk kampung di tengah kesunyian dan kesiur angin yang mencekam itu tiba-tiba terhenti ketika serombongan burung gagak berkaok-kaok, berkelebat di atas bubungan atap-atap rumah, menaburkan hawa busuk ke seluruh penjuru kampung. Konon, burung-burung gagak itu diyakini sebagai jelmaan arwah para penghuni lembah kematian. Para penduduk juga meyakininya sebagai pertanda buruk. Sebuah bencana akan melanda perkampungan di bibir hutan jati itu.

Para penduduk tersentak ketika mendengar kabar bahwa jumlah perempuan bergaun putih yang setia menunggui bukit di bibir lembah kematian itu makin bertambah setiap malam. Potongan tubuh, wajah, dan rambutnya sangat mirip. Para perempuan bergaun putih yang selalu menengadah ke langit menatap rembulan yang dipujanya itu terlihat samar-samar di bawah siraman sinar rembulan sepotong semangka yang temaram. Terdengar senandung koor yang pedih, menggema dari pinggang bukit lembah kematian.
….

Rembulanku,
Aku ingin bertemu
Bidadari yang memangku kucing
Yang selalu mendongeng tentang dewa-dewi
Yang berkisah dengan batin dan jiwa

Rembulanku,
Di sini aku kesepian
Tersekap di tengah labirin cinta dan kerinduan
Kapan aku bisa bertemu
Dengan bidadari yang memangku kucing
….

Senandung pemujaan rembulan yang perih itu benar-benar menghanyutkan mimpi para penduduk kampung ketika malam mencapai puncak kematangan yang sempurna. Oleh angin yang bertiup dari lembah kematian, suara senandung yang perih itu seperti diterbangkan menuju ke pintu langit hingga membahana ke seluruh penjuru kampung dengan nada yang lembut, tetapi menyayat-nyayat rongga telinga. Senandung koor pemujaan rembulan yang perih itu pun seperti hendak menjebol dinding batin dan jiwa para penduduk.

Setiap malam, jumlah perempuan bergaun putih yang menengadahkan wajahnya ke langit itu makin bertambah. Para penduduk makin tersentak ketika pada malam berikutnya ribuan burung gagak bertengger di atas bubungan atap dengan meninggalkan kotoran busuk yang menusuk hidung. Setiap malam, jumlah burung gagak itu kian bertambah hingga membuat beberapa rumah penduduk tak sanggup lagi menampung beban. Sudah belasan rumah penduduk yang roboh; rata dengan tanah.

Atas kesepakatan dengan tetua kampung, para penduduk mengungsi ke tempat lain. Mereka tak sanggup melawan ribuan burung gagak yang datang dan pergi secara tak terduga pada setiap malam. Tidak jelas, ke mana mereka harus tinggal. Hampir setiap hari, terlihat rombongan penduduk membawa barang-barang dan ternak piaraan melintasi jalan-jalan kampung yang sunyi, dingin, dan berkabut. Entah sampai kapan. ***

Kendal, 11 Januari 2008
———————————–
Catatan:
(Cerpen ini kutulis ketika “insomnia”-ku kambuh pada Jumat dini hari, malam ke-2 Muharam 1429 H, ketika koneksi internet tiba-tiba lumpuh, ketika tiba-tiba saja imajinasi liarku teringat seseorang yang terus “menghipnotis” dan merangsang “adrenalin”-ku untuk melahirkan cerpen-cerpen surealis *halah* bernada perih).

Share and Enjoy:

  • Digg
  • del.icio.us
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • MySpace
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
  • Facebook

Tulisan Terkait:

57 komentar terhadap “Perempuan Bergaun Putih”

  1. melly | Friday, 11 January 2008 @ 08:57

    Pak kisah nyata atau cuma khayalan aja ? Atau barangkali memnag didatangi?Lain kali siguhin kopi biar nemani dikala kagak bisa tidur yah ?

    oOo
    hahahahaha :lol: menurut mbak melly gimana? nyata atau fiksi? hehehehe :lol: dah mulai ngurangi kopi kok, mbak.

    Reply

  2. caplang[dot]net | Friday, 11 January 2008 @ 00:05

    perempuannya cakep ga? :lol:

    caplang[dot]net’s last blog post..Pindah Blog Bareng Smith Si Tukang Feed

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 01:44):

    berwajah rata dan berambut panjang tergerai hingga sebatas lutut, bung caplang. Mau?

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  3. Ade | Friday, 11 January 2008 @ 00:42

    Duh, pada punya blog non WP yah.. ajarin dong mas. Eh siapa tuh yang bergaun putih? baca dulu deh!! :wink:

    -Ade-

    Reply

    STR (January 11th, 2008 @ 01:41):

    Ade balik lagi ke blogosfer?!

    STR’s last blog post..Senang Tak Berujung?

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 01:49):

    Halah, aku juga baru belajaran nih ade. banyak kok pakarnya. BTW, Ade baca dulu yak cerpennya!

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  4. STR | Friday, 11 January 2008 @ 01:40

    Wekeke … Ternyata insomnia ada hikmahnya. :grin: Cerpennya medeni, Pak. :mrgreen: Tapi bagus.

    STR’s last blog post..Senang Tak Berujung?

    Reply

  5. Sawali Tuhusetya | Friday, 11 January 2008 @ 01:51

    hehehehe :lol: ketimbang melotot terus lebih baik utak-atik di depan layar monitor, hehehehe :lol: masak medeni segh mas satria. BTW, ade emang kan dah lama kembali ke blogosphere.

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  6. Hanna lagi di Singkawang | Friday, 11 January 2008 @ 02:29

    Perempuan berambut panjang, bergaun putih, bermuka rata, wih!!! menyeramkan yach…

    makanya jangan berpikir lagi tentang perempuan itu… :mrgreen:

    Hanna lagi di Singkawang’s last blog post..Duniaku Bukan Di sini

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 05:25):

    Lho, mbak hanna masih hiatus juga? kapan kembali ke blogosphere mbak? *halah* bukan teringat mbak, tapi terusik, :mrgreen:

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  7. Iwan Awaludin | Friday, 11 January 2008 @ 03:13

    wah, saya juga kepengen bisa nulis cerpen nih. Tapi bukan buat orang dewasa, buat anak-anak. Gimana ya caranya? Udah pernah nyoba, tapi bahasanya kaku ngga mengalir kayak gini.

    Iwan Awaludin’s last blog post..Catatan Nikmat Ke-6: Sakit

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 05:28):

    bagus sekali pak iwan. cerita anak2 sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan. kayaknya emang cerita anak2 butuh penjiwaan yang lebih intens terhadap dunia anak2 dengan menggunakan bahasa yang khas anak2 pula. saya yakin pak iwan mampu melakukannya dengan baik. konon resepnya hanya tiga, pak: menulis, menulis, dan menulis. *halah*

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  8. edratna | Friday, 11 January 2008 @ 03:44

    Bukan si Manis dari Jembatan Ancol ya pak?
    Kenapa ya penggambarnnya selalu perempuan bergaun putih, atau supaya ada kontrasnya kalau malam?

    Buat novel pak…..

    edratna’s last blog post..Anugerah yang telah lama dinantikan

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 05:30):

    Hehehehe :lol: bu enny bisa aja nih. Kayaknya bener bu, warna putih di tengah malam menyisakan kesan yang lebih eksotis. mohon doa restu ya bu, mudah2an suatu ketika saya bisa ikut2an nulis novel.

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  9. moerz | Friday, 11 January 2008 @ 05:32

    wah ketemu kuntilanak yah…
    pasti mau dapet rejeki pak…
    hehhe..
    bagi2 yah.. :mrgreen:

    moerz’s last blog post..Jerit Dosa

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 05:48):

    Kok bisa Mas Moerz? dapat bocoran dari tukang terawangan yak? *halah*

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  10. Hoek Soegirang | Friday, 11 January 2008 @ 07:13

    wah….ceritanya udah mencekam, terus ninggalin rasa fenasaran fula! pak sawali ini ngawur lha mbikin cerita :razz: ! ko ya jadi nggantung gitu, saia jadi fenasaran sangadh….

    Hoek Soegirang’s last blog post..a Designer’s Note

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 08:32):

    cerita kalok ndak digantung nanti mas hoek ndak penasaran. malah jadi leluasa utk menafsirkan toh, halah.

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  11. kangguru | Friday, 11 January 2008 @ 09:09

    jadi penasaran sama yang bergaun putih…. di mall mana pak nongkrongnya :mrgreen:

    kangguru’s last blog post..Jepret

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 09:29):

    walah, kok sampe mall segala kang guru. ndak berani masuk mall, takut kena sinar lampu merkuri, hehehehehe :roll:

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  12. Hanna lagi di Singkawang | Friday, 11 January 2008 @ 11:21

    masih sunyi senyap…
    angin belalu…
    segumpal bayangan rembulan
    menerawang
    mengepakkan sayap imaji

    Hanna lagi di Singkawang’s last blog post..Duniaku Bukan Di sini

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 12:26):

    masih sunyi senyap…
    angin belalu…
    segumpal bayangan rembulan
    menerawang
    mengepakkan sayap imaji

    Kucoba menafsirkan maknanya berulang2, tetap ndak paham aku mbak hanna, halah :mrgreen:

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  13. chiw | Friday, 11 January 2008 @ 11:35

    yaolo… panjang bener cerpennya… :eek:
    pake puwisi puwisi juga lagi… :razz:

    Lagi melo ya Pak?

    *dilempar ke banjarbaru :oops: *

    chiw’s last blog post..Donation, Please? [updated]

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 12:28):

    kepanjangan ya mbak siwi? kok jauh amat, masak nglemparnya sampek ke banjar baru. kalimantan selatan tuh, tempatnya pak ersis.

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  14. Siti Jenang | Friday, 11 January 2008 @ 12:29

    mantap! itu bukitnya lama-lama disebut bukit tengkorak bukan ya? :mrgreen: :cool:

    Siti Jenang’s last blog post..Bahasa Jawa: Do?a Warisan Orang Tua

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 14:13):

    mas jenang? Ada2 saja, hubungannya apa perempuan bergaun putih dengan bukit tengkorak? *halah*

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  15. danalingga | Friday, 11 January 2008 @ 13:42

    Wah, pak saya numpang nongol dulu. Belon sanggup otak saya mo baca secara serius, tak save aja dulu. :D

    danalingga’s last blog post..Hitam dan Putih

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 14:14):

    mangga Mas Dana, sante aja! Dah menyempatkan mampir itu sebuah kehormatan bagi saya. Makasih Mas.

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  16. deKing | Friday, 11 January 2008 @ 17:36

    Wah … Pak Swali sudah kembali ke pakem penulisan cerpen gaya Boss Sawali ;)

    Mengikuti jejak gadis tetangganya merantau ke negeri orang. Mengumpulkan bekal hidup dan sepetak tanah sebagai kado yang “wajib” dipersembahkan kepada orang tuanya sebelum disunting seorang lelaki

    Maaf saya benar2 kehabisan kata2 untuk mengomentari hal tsb Pak …
    Menyedihkan …

    deKing’s last blog post..Dia dan Enam-Nya ?

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 20:10):

    walah, hanya kebetulan saja dapat inspirasinya kok ttg itu pak deKing, hehehehe :lol: namanya juga sedang “insomnia”. Halah.

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  17. bachtiar | Friday, 11 January 2008 @ 18:51

    suasananya hampir sama seperti kampungku . :???:

    bachtiar’s last blog post..Semangat kakek tukang reparasi payung

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 20:12):

    Lho, Mas moerz masih tinggal di Tegal, yak? walah, kok mirip suasana settingnya.

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  18. Yari NK | Friday, 11 January 2008 @ 21:03

    Wah rupanya keinsomniaan pak Sawali telah membuat dhedhemit pada “bermunculan” di tengah malam…. hehehehe….

    Btw, saya salut deh sama pak Sawali, keinsomniaan pak Sawali ditambah dengan ketidakadaan konseksi Internet justru membuat pak Sawali menjadi lebih liar dan ganas imajinasinya yang membuahkan sebuah cerpen yang lagi2 membuat mulut saya “menganga” di depan layar monitor komputer saya. :D

    Yari NK’s last blog post..Dapat Buku Lagi?.!!

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 11th, 2008 @ 21:38):

    Hahahahaha :lol: bung yari nih ternyata bisa juga usil, yak? halah. justru dari kekuatan “insomnia” itu yang membikin para dhemit menari2 di depan layar monitor sehingga lebih gampang untuk dideskripiskan bung, hehehehehe :mrgreen:

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perempuan Bergaun Putih

    Reply

  19. ridu | Friday, 11 January 2008 @ 22:06

    Ketemu 1 burung gagak aja serem,, apalagi kalo burung gagaknya banyak.. benar2 harus mengungsi

    ridu’s last blog post..Ada gak Polisi yang nge-blog?

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 12th, 2008 @ 02:27):

    oh, emang mas ridu pernah ketemuan yak sama burung gagak itu? *halah*

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perlukah Kita Menjadi Narcisus?

    Reply

  20. danalingga | Friday, 11 January 2008 @ 23:52

    Hem… akhirnya semua terusir dari desa ya pak. Ada apa gerangan penyebabnya? :roll:

    danalingga’s last blog post..Hitam dan Putih

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 12th, 2008 @ 02:28):

    selain sudah ndak sanggup menghadapi ribuan burung gagak itu, ada pesan moralnya mas dana. *halah* perlunya kita melakukan hijrah untuk melakukan sebuah perubahan. Yup!

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perlukah Kita Menjadi Narcisus?

    Reply

  21. hadi arr | Saturday, 12 January 2008 @ 08:45

    cerpen Pak Guru memang selalu seru
    Saya selalu baca samape tuntas lho, beneran!
    sekarang udah berapa tuh banyaknya permpuan bergaun putih, kenapa putih sih Pak Guru, kan gampang kotor.

    hadi arr’s last blog post..SEJENGKAL LAGI !

    Reply

  22. Sawali Tuhusetya | Saturday, 12 January 2008 @ 09:44

    makasih banget pak hadi telah meluangkan waktu untuk membacanya. hehehehehe :lol: kayaknya kalo warna putih itu terkesan lebih eksotis ketika ditaburi sinar rembulan yang redup. *halah*

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perlukah Kita Menjadi Narcisus?

    Reply

  23. aRuL | Saturday, 12 January 2008 @ 14:28

    wew…. saya jadi bertanya nih pak, sekarang blog menjadi sarana memasukkan cerpen, dan kayaknya media cetak sudah ditinggalkan pak yah?
    biasanyakan orang buat cerita, cerpen dll itu mencari duit yah?
    CMIIW

    aRuL’s last blog post..Teknik Negosiasi

    oOo
    Bukannya ditinggalin mas arul, hahahaha :lol: cerpen di koran masih jalan terus kok. cuman untuk ngirim cerpen ke koran kan anter. kalok di blog sendiri kapan kita mau, ya, dipublish aja. bikin cerpen pun ndak harus untuk cari duit. ada kepuasan tersendiri apabila bisa menulis cerpen, apalagi kalu berhasil dimuat di media cetak. *halah*

    Reply

  24. Goop | Sunday, 13 January 2008 @ 02:42

    Bahhh…. kelam sekali pak…
    perpaduan alam pedesaan, mistis dan kemelaratan memang khas Pak Sawali.
    Tapi saya senang, dengan penunjuk waktu dan deskripsi yang lain, misal penggunaan “rembulan di pucuk ilalang”, pun “bunyinya menampar-nampar tebing”, mengingatkan pada S.H Mintardja.
    bagus pak… ada banyak yang bisa saya bawa pulang :D
    *pulang membawa oleh-oleh dan berdendang*

    Goop’s last blog post..3 Bantal Bingkai Mimpi

    Reply

    Sawali Tuhusetya (January 13th, 2008 @ 04:21):

    hahahahaha :lol: mas goop bisa ajah. rupanya mas goop pengagum SH Mintarja ya, yang kerap menghasilkan cerita-cerita bersetting sejarah. makasih apresiasinya mas.

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Perlukah Kita Menjadi Narcisus?

    Reply

  25. Mbelgedez | Monday, 14 January 2008 @ 04:27

    Walah……
    Kalok berimajinasi jangan nyang liar-liar, pak….
    Ntar kalok ndak kesampean malah nelangsa looohhhh……

    ————–
    *wah, untung aku buka penjara akismet. agaknya komen mas mbel ditelan sama aki2, hehehehe :lol: tapi daha kuselematkan kok.*
    hehehehehe :lol: kalok ndak liar katanya nanti ndak seru mas mbel. *halah*

    Reply

  26. Mbelgedez | Monday, 14 January 2008 @ 04:31

    komen ku kok lenyap…..

    ditelan perempuan bergaun putih, kah….??? :shock:

    Mbelgedez’s last blog post..DUA PERUSAHAAN DALAM SATU ATAP

    Reply

  27. Sawali Tuhusetya | Monday, 14 January 2008 @ 05:37

    walah, komennya jelas bisa mangslup ke sini gitu kok mas mbel, hehehehe :mrgreen:

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Kembali Ke Sekolah

    Reply

  28. Kehidupan "Wong Cilik" dalam Teks Cerpen | Catatan Sawali Tuhusetya | Friday, 22 February 2008 @ 23:57

    [...] itu, dengan nada getir dan sedikit surealis, cerpen “Perempuan Bergaun Putih” mendedahkan nasib wong cilik yang kehilangan seorang anak gadis yang diharapkan menjadi tumpuan [...]

  29. nindityo | Thursday, 15 May 2008 @ 10:41

    baru dibaca untuk persiapan besok :roll:
    moga bisa dateng pak..
    btw, dress code nya apa ya pak?

    nindityos last blog post..BBM naik.. prasangka buruk dan tindakan kita

    ooo
    akhirnya mas nin bisa datang juga, kan? makasih :idea:

    Reply

  30. Diskusi Buku dan Peluncuran Kumcer | Catatan Sawali Tuhusetya | Sunday, 18 May 2008 @ 12:43

    [...] dapat kabar dari Mbak Hanna dan e-mail dari Pak Maman S. Mahayana bahwa kumcer saya bertajuk Perempuan Bergaun Putih itu sudah jadi dan akan didiskusikan sekaligus diluncurkan pada hari Jumat, 16 Mei 2008, bersamaan [...]

  31. Lanjutan Ending Cerpen dan Hadiah Kumcer | Catatan Sawali Tuhusetya | Thursday, 4 September 2008 @ 21:07

    [...] yang diterbitkan oleh bukupop dan Maharini Press, Jakarta, 2008. Cerpen selengkapnya silakan baca di sini! Sebenarnya ending tersebut masih bisa dilanjutkan hingga menjadi sebuah rangkaian cerita yang [...]

  32. Gadis Penembang « Cerita Dana | Wednesday, 10 September 2008 @ 20:03

    [...] yang lahir sebagai akibat pesona Perempuan Bergaun Putih Ditandai sebagai:bergaun, Cerpen, gadis, penembang, putih « [...]

  33. Perempuan Bergaun Putih « Suhadinet.wordpress.com | Monday, 15 September 2008 @ 11:27

    [...] bergaun putih ini adalah cerpen hasil rekayasa ulang saya terhadap cerpen dengan judul yang sama (Perempuan Bergaun Putih) karya Pak Sawali [...]

  34. thera | Wednesday, 8 October 2008 @ 14:12

    serem banget….! Tapi siapa sebenarnya perempuan yang bergaun putih tersebut?…Koz gak di jelasin sich? Tapi bagus sich, akhirnya, semua penduduk terusir.

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 8th, 2008 @ 17:18):

    serem? walah *mbak atau mas nih* thera kan bisa berimajinasi, kira2 siapa perempuan itu, haks. btw, makasih apresiasinya.

    Reply

  35. Udin | Wednesday, 8 October 2008 @ 21:05

    Ceritanya serem….. tapi…… ya….. bolehlah :)

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 8th, 2008 @ 21:44):

    serem? mas udin bisa aja nih. bagian yang mana sih yang bikin serem, hik.

    Reply

  36. ayu | Wednesday, 18 February 2009 @ 14:13

    ich wow…!

    Baca juga tulisan terbaru ayu berjudul

    Reply

Komentar Anda?

CommentLuv Enabled

« “Demam” Ngeblog di Kalangan Guru Makin “Parah”
Perlukah Kita Menjadi Narcisus? »IP
http://www.emailcashpro.com