Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita

Diposting 12 May 2008 oleh Sawali Tuhusetya pada kategori Artikel, Budaya, Opini, Pendidikan, Refleksi, moral, multikultur, politik, sosial | 29 komentar

“Sekitar jam 11.30, saya melihat beberapa orang di antara massa mencegat sebuah mobil dan memaksa penumpang turun, kemudian menarik dua orang gadis keluar. Mereka mulai melucuti pakaian kedua gadis itu dan memperkosanya beramai-ramai. Kedua gadis itu coba melawan sambil menjerit ketakutan, namun sia-sia,” tutur seorang saksi mata di Muara Angke, Jakarta pada tanggal 14 Mei 1998.

“Hati saya masih sangat perih. Hidup saya tak berarti, hampa. Sampai kapan pun saya tidak akan bisa melupakan peristiwa biadab yang merengut nyawa anak saya dalam Tragedi Mei 1998. Dia dituduh penjarah, padahal ia korban. Saya hendak mencari keadilan, tapi kepada siapa? Mengapa ini harus terjadi?” tutur seorang ibu korban tragedi kemanusiaan Mei 1998.

(Dikutip dari Petisi “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi”)

Itulah beberapa penuturan saksi hidup Tragedi Mei 1998. Sebuah kesaksian yang –disadari atau tidak– menorehkan luka batin ke dalam gendang nurani kita yang (konon) telah lama dikenal sebagai bangsa yang santun dan beradab. Torehan luka yang amat menyayat itu bisa menjadi bukti betapa kekerasan telah tumbuh menjadi “bahaya laten” yang akan menemukan momentumnya ketika kontrol nurani sudah tak tersisa. Kita bisa berbuat demikian biadabnya terhadap bangsa sendiri. Agaknya, bangsa kita telah lama terkurung dalam tempurung –meminjam istilah Nurcholish Madjid– “kebangkrutan sosial” sehingga menjadi gelap mata dan gampang kalap. Sorotan dunia internasional pun makin tajam membidikkan stigma sebagai sebuah bangsa yang paling sering melanggar HAM terhadap sesama warga bangsa. Namun, nyali kita menjadi ciut ketika bangsa ini dihina dan dilecehkan oleh negeri jiran.

Baca lanjutannya ….

Diskusi Buku dan Peluncuran Kumcer

Diposting 11 May 2008 oleh Sawali Tuhusetya pada kategori Budaya, Cerpen, Esai, Opini, Pendidikan, Refleksi, Sastra, moral, sosial, tradisi | 49 komentar

Sebagaimana yang dipublikasikan oleh Kang Kombor, jika tidak ada aral melintang, Jumat, 16 Mei 2008, pukul 13.30-18.00 WIB, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, buku kumpulan cerpen saya Perempuan Bergaun Putih akan diluncurkan sekaligus didiskusikan. Jujur saja, saya tak menduga kalau kumcer saya itu akan… baca lanjutannya .... | 49 komentar

Kesadaran Kolektif yang Terkoyak

Diposting 10 May 2008 oleh Sawali Tuhusetya pada kategori Artikel, Budaya, Opini, Pendidikan, Refleksi, moral, multikultur, politik, sosial | 40 komentar

(Refleksi Satu Dekade Reformasi)

Bangsa merupakan keinsyafan, sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsyafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsyafan tujuan bertambah besar karena sama seperuntungan, malang yang sama diderita, mujur yang sama didapat oleh karena jasa bersama. (Mohammad Hatta)

Sengaja saya kutip pernyataan Bung Hatta sebagai prolog… baca lanjutannya .... | 40 komentar



Halaman berikutnya »