Home » Opini » Air Kehidupan

Air Kehidupan

Kemarau panjang selalu menghadirkan pemandangan yang memilukan di mata Kang Sandimin. Maklum, tanah kelahiran yang telah dia huni semenjak 40 tahun yang silam itu bukanlah tanah yang menjanjikan kesuburan. Setiap kemarau panjang tiba, pepohonan tampak meranggas, kebon belakang rumah, sawah, dan ladang, seperti habis kena ledakan bom. Retak-retak dan mengeras. Sumber air jadi sulit didapat. Lebih-lebih setelah hutan kapur di sebelah timur kampungnya dibabat habis. Dampaknya benar-benar menyengsarakan hidup masyarakat sekitarnya.

Bukan itu saja yang membuat hati Kang Sandimin sedih. Dia juga sering dipaksa untuk menyaksikan pertengkaran dan perseteruan. Nilai kekeluargaan dan persaudaran tiba-tiba saja hancur gara-gara kemarau. Lihat saja, antrean panjang di sumur Pak Mantri itu. Hampir tak ada suasana keramahan yang hadir di sana. Yang tampak hanyalah wajah-wajah yang diselubungi persaingan, permusuhan, dan kebencian.

Ya, ya, ya, air kehidupan telah mengubah segalanya. Pilar-pilar kedamaian telah runtuh. Nilai-nilai keguyuban hidup telah tercerai-berai akibat sumber air kehidupan telah berubah menjadi ladang tandus yang kerontang dan mengenaskan. Setiap kemarau panjang tiba, etos “kekitaan” telah berubah menjadi semangat “keakuan” yang mengilu-sumsum dalam setiap aliran darah penduduk.

Kang Sandimin sudah amat kenyang dengan pengalaman hidup yang getir seperti itu di kampungnya. Ingin dia berurbanisasi, mengadu nasib ke kota hingga beban kemarau panjang itu tak menjadi trauma tahunan yang hinggap dalam rongga dadanya. Namun, kalau dia harus meninggalkan keluarganya, itu sama saja dia sengaja lari dari tanggung jawab. Itu artinya, dia sudah sangat gagal mengemban amanah sebagai kepala keluarga yang harus menjadi patron teladan bagaimana seharusnya menghadapi tantangan alam yang makin tidak ramah.

Kang Sandimin hanyalah satu di antara sekian juta rakyat di negeri ini yang dipaksa harus menghadapi kerasnya tantangan hidup setiap kali kemarau panjang jatuh. Alam yang makin tidak ramah akibat gaya hidup segelintir orang yang kemaruk membabat hutan seenaknya, nyata-nyata telah meninggalkan jejak penderitaan rakyat banyak.

Konon, kerusakan hutan di negeri ini sudah mencapai stadium yang amat parah dan mengancam eksistensi bumi sebagai hunian manusia, hewan, dan tumbuhan. Pelan tapi pasti, manusia modern sedang melakukan pemusnahan terhadap eksistensi hutan. Hutan yang berfungsi menyerap karbon dan menyediakan oksigen bagi kehidupan di muka bumi ini telah gagal menjalankan perannya akibat ulah tangan jahil manusia yang tidak memiliki kepekaan terhadap eksistensi hutan. Indikator kerusakan hutan yang berdampak amat parah terhadap keseimbangan lingkungan hidup adalah maraknya praktik Illegall Logging, pembakaran hutan, atau penebangan hutan yang dilakukan secara liar. Hal ini menjadi penyebab banjir serta tanah longsor di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.

Data Departemen Kehutanan tahun 2006 menunjukkan bahwa luas hutan yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektar kawasan hutan di Indonesia, dengan laju deforestasi dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektar per tahun. Sementara itu, penelitian Greenpeace mencatat tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai angka 3,8 juta hektar pertahun, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas illegal logging atau penebangan liar. Sedangkan, data Badan Penelitian Departemen Kehutanan menunjukan angka Rp. 83 milyar perhari sebagai kerugian finansial akibat penebangan liar.

Kang Sandimin memang tidak paham dengan data-data statistik semacam itu dan memang dia tidak membutuhkannya. Yang dia perlukan adalah bagaimana agar kekeringan yang terus menjadi derita tahunan semacam itu bisa berangsur-angsur teratasi hingga tak ada lagi permusuhan dan kebencian dengan sesama tetangga sendiri. Namun, kapan hal itu bisa terwujud ketika rancang bangun pembangunan ekonomi selama ini hampir tak pernah menyentuh persoalan-persoalan riil yang dihadapi kampung kelahirannya?

Hmm … Kang Sandimin hanya bisa mengelus dada sambil garuk-garuk kepala. Dadanya tiba-tiba berdenyut kencang ketika telinganya menangkap sayup-sayup suara Yu Painem, Yu Darmi, dan Lik Paijo yang tengah beradu mulut di dekat sumur Pak Mantri. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Air Kehidupan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (26 Agustus 2009 @ 04:45) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 188 komentar dalam “Air Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *