Home » Opini » Keperkasaan Tidak Hanya Menjadi Milik Kaum Lelaki

Keperkasaan Tidak Hanya Menjadi Milik Kaum Lelaki

(Refleksi Hari Ibu Tahun 2013)

Perempuan-Perempuan Perkasa
Puisi Hartoyo Andangdjaja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, ke manakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka: cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa
***

Catatan Sawali Tuhusetya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Sengaja saya kutip puisi Hartoyo Andangdjaja yang indah itu. Lihat saja rima akhirnya yang serempak berakhir dengan bunyi /a/. Sungguh, puisi yang dibuat dengan stilistika yang cermat dan matang. Namun, bukan lantaran keindahan itu yang membuat saya “terpesona”. Ada nilai keperkasaan dan maskulinitas yang terpancar di sana. Keperkasaan dan maskulinitas ternyata tidak menjadi dominasi kaum lelaki. Kesetaraan gender di negeri ini sudah lama ada.

Sesekali luangkan waktu Sampeyan ke daerah pedesaan. Kalau bisa, di sebuah dusun terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Syukur-syukur yang tinggal berbatasan dengan kawasan hutan. Saksikan bagaimana kiprah kaum perempuan di sana dalam menjaga tegaknya pilar-pilar ekonomi keluarga. Hampir bisa dipastikan, di setiap sudut pedusunan Sampeyan akan menyaksikan “kemitraan” kaum lelaki dan perempuan yang bersama-sama keluar dari pagar rumah tangga untuk bahu-membahu mengais rezeki. Ladang, sawah, atau hutan menjadi lahan perburuan kaum perempuan dan lelaki dalam mempertahankan mengepulnya periuk dapur. Maka, bisa juga dipastikan bahwa puisi Hartoyo Andangdjaja itu bukan semata-mata sebagai sebuah fiksi.

Ya, ya, ya, zaman boleh berubah. Peradaban modern dan global dengan segala thethek-bengek nilai materialistik, hedonistik, dan konsumtivistik yang ditawarkan boleh saja terus menggerus nilai-nilai kejujuran, kebersahajaan, dan kemanusiaan lainnya, tetapi peran kaum Ibu sepanjang sejarah peradaban tak akan pernah berubah. Mereka adalah penyangga sekaligus pencerah peradaban. Fitrah kaum Ibu tak semata-mata menjalankan peran biologis; mengandung, menyusui, dan membesarkan anak-anaknya dalam buaian kasih sayang tak terhingga, tetapi juga melakukan peran publik; bersosialisasi, bekerja, dan menegakkan pilar-pilar kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dari sisi ini jelas bahwa keperkasaan tidak hanya didominasi kaum lelaki. Bahkan, dalam banyak hal, kaum perempuan mampu melakukan pekerjaan publik yang biasa dilakukan oleh kaum lelaki. Namun, kaum lelaki belum tentu sanggup melakukan pekerjaan domestik yang biasa dilakukan oleh kaum perempuan.

Lantas, bagaimana dengan kiprah kaum perempuan yang perilakunya tidak mencerminkan perilaku fitrahnya sebagai perempuan sejati? Korupsi, misalnya, bukankah di negeri ini tidak sedikit kaum Ibu (perempuan) yang terjerat kasus hukum akibat perilaku korup yang dilakukannya?

Saya kira korupsi tidak identik dengan kaum lelaki. Ia (baca: korupsi) bisa dilakukan oleh siapa pun, terlepas dari jenis kelaminnya. Di balik perilaku feminitasnya, kaum Ibu yang fondasi karakternya sudah dicemari sikap kemaruk dan serakah akan sangat dekat dengan berbagai ulah tak terpuji, termasuk korupsi. Oleh karena itu, sangat naif apabila mengaitkan antara fitrah peran keagungan seorang ibu dengan berbagai perilaku korup yang belakangan ini sering melibatkan kaum perempuan.

Terlepas dari sisi buram yang menghinggapi kehidupan sebagian kaum perempuan yang korup, yang pasti fungsi dan peran kaum perempuan, baik di sektor domestik maupun publik akan tetap eksis sepanjang sejarah peradaban. Perempuan-perempuan perkasa yang selalu bangun di pagi buta untuk memenuhi fitrahnya, sebagaimana tersirat dalam puisi Hartoyo Andangdjaja, menguatkan fakta dan eksistensi kaum perempuan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bahkan, dalam ranah domestik yang begitu agung dan mulia, peran seorang Ibu tak akan pernah bisa tergantikan oleh apa pun dan siapa pun.

Nah, dirgahayu Ibu Indonesia! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Keperkasaan Tidak Hanya Menjadi Milik Kaum Lelaki" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (21 Desember 2013 @ 22:10) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 12 komentar dalam “Keperkasaan Tidak Hanya Menjadi Milik Kaum Lelaki

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *