Home » Pendidikan » Sebuah Kado Menjelang Hari Guru

Sebuah Kado Menjelang Hari Guru

Sudah mengantongi sertifikat pendidik, tetapi belum menikmati tunjangan profesi? Pertanyaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi saya. Dari sekian puluh guru peserta uji sertifikasi susulan tahun 2007, bisa jadi sayalah satu-satunya guru bersertifikat pendidik yang belum menerima tunjangan 1 x gaji pokok itu. Kok tidak mengejutkan? Ya, karena berdasarkan infomasi yang saya terima, ada juga beberapa rekan sejawat dari angkatan lain yang bernasib sama. Maklum saja, pemerintah mesti mengurusi sekian ribu berkas sehingga kemungkinan “human error” itu pasti ada.

Saya baru terkejut setelah mendengar informasi dari seorang teman yang bekerja di Bidang PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan), Dinas P dan K, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, melalui Ka TU sekolah, bahwa ada surat yang masuk ke Jakarta mengenai “reputasi” saya sebagai seorang guru. Dalam surat itu disebutkan bahwa saya sering tidak melaksanakan tugas mengajar.

Karena terkejut, Senin, 17 November 2008, saya segera ke Dinas P dan K untuk meminta informasi lebih lanjut. Ternyata informasi yang saya terima dari Ka TU sekolah itu benar adanya. Teman pegawai Dinas P dan K yang saat itu ke Jakarta, menjelaskan bahwa nama saya telah dicoret sebagai penerima tunjangan profesi karena dianggap tidak layak. Kok bisa, haks!

Secara panjang lebar, teman tadi menginformasikan bahwa memang ada surat yang isinya berupa laporan kalau saya sering tidak melaksanakan tugas mengajar. Waktu yang ada lebih banyak digunakan untuk mengisi kegiatan di luar sekolah. Itu pun tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan yang saya miliki sebagai guru bahasa Indonesia.

Hemm …. Jarang melaksanakan tugas? Aduh, seumur-umur baru kali ini ada informasi semacam itu masuk ke telinga saya. Harus saya akui, memang saya pernah melaksanakan tugas di luar aktivitas sekolah, entah itu mengisi acara seminar, sarasehan, pelatihan, atau melaksanakan tugas-tugas saya sebagai Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs se-Kabupaten Kendal. Namun, saya masih memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap kompetensi siswa didik saya. Kalau toh harus meninggalkan tugas, saya masih menyempatkan diri untuk meninggalkan beberapa tugas kepada siswa sehingga mereka tetap bisa belajar mandiri sesuai dengan tugas dan petunjuk yang saya berikan.

workshopwptk2sertifikasi guru

Tugas luar itu juga bukan kehendak saya. Saya tidak pernah meminta. Semua tugas telah memiliki prosedur dan cara-cara profesional yang telah dianut oleh Dinas P dan K atau LPMP. Saya tidak akan pernah meninggalkan sekolah kalau tidak ada dasar penugasan dari instansi mana pun.

Tidak sesuai dengan disiplin keilmuan saya? Hemmm … seingat saya, memang pernah diminta mengisi pelatihan pembuatan blog untuk rekan-rekan sejawat di LPMP Jawa Tengah. Kalau memang itu yang dipersoalkan, tidak bolehkah guru Bahasa Indonesia seperti saya mengerti thethek-bengek dan dinamika dunia IT, termasuk blog? “Haram”-kah guru Bahasa Indonesia meng-upgrade diri dan mengembangkan wawasan IT demi kepentingan pembelajaran? Haruskah guru melulu menjadi “guru kurikulum”, yang semata-mata membatasi ruang kerjanya sebatas empat dinding ruang kelas? Tidak bolehkah guru menjadi “guru inspiratif” *maaf, bukan berarti saya termasuk guru inspiratif loh* yang mengilhami siswa didiknya terhadap dinamika dunia ilmu pengetahuan yang terus berubah dan berkembang sesuai dengan konteks zamannya?

Hemmm …. Saya jadi tidak mengerti apa maksud dan motif yang tersembunyi di balik tempurung kepala si pelapor. Dia paham benar tentang empat kompetensi guru: pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang diamanatkan oleh PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) atau tidak? Apakah guru yang hanya berkutat dengan tugas-tugas rutin di sekolah bisa menjadi jaminan bahwa mereka akan mampu mengantarkan siswa didik menuju peradaban yang cerah dan mencerdaskan?

Hemmm … Atau, jangan-jangan si pelapor hanya iseng? Kalau hanya sekadar iseng, mengapa mesti menempuh langkah yang tidak sehat dan ksatria, bahkan cenderung menjurus ke arah “pembunuhan karakter”? Atau, saya punya “musuh”? Aduh, sulit bagi saya untuk menjawabnya. Seumur-umur jadi guru, agaknya belum pernah saya menciptakan benih-benih konflik dan permusuhan. Kalau toh ada, biasanya saya mempunyai budaya “tabayun” *halah* dengan duduk satu meja untuk mencari solusinya. Kalau mengkritik memang saya akui, ya, dan itu bisa kena siapa saja yang tindakan-tindakannya saya anggap menyimpang.

Terlepas apa pun motifnya dan siapa si pelapor itu, saya bersyukur, teman saya yang bekerja di Dinas P dan K Kabupaten Kendal, telah melakukan klarifikasi dan “advokasi” terhadap kinerja saya selama ini sebagai guru. Terima kasih, teman. Bisa jadi “karakter” saya benar-benar akan terbunuh seandainya Sampeyan tidak melakukan langkah cerdas semacam itu. Semoga peristiwa semacam ini juga menjadi masukan bagi pihak Ditjen PMPTK agar tidak mudah percaya pada surat-surat laporan yang isinya bernada “pembunuhan karakter” sebelum melakukan klarifikasi lebih lanjut kepada pihak-pihak terkait.

Peristiwa semacam ini juga saya maknai sebagai “kado” menjelang Hari Guru Nasional. Semoga si pelapor segera kembali “ke jalan yang benar”, kemudian sadar bahwa cara-cara licik, culas, tidak ksatria, dan sangat tidak cerdas semacam itu bisa membawa imbas yang kurang menguntungkan. Toh, serapat apa pun kebusukan dibungkus, suatu ketika pasti akan terbongkar juga. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Sebuah Kado Menjelang Hari Guru" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (18 November 2008 @ 17:54) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 183 komentar dalam “Sebuah Kado Menjelang Hari Guru

  1. Kado, biasanya hal yang menyenangkan ya pak. Ternyata setelah saya baca malah sebaliknya. Tp yg saya salut deh buat bpk. Di profesi apapun, hal2 spt itu sering kali terjadi.
    semangat terus pak jangan patah semangat.

  2. aduuh…
    jadi guru ajach pengen di kasih hadiah,,,
    bukan kah sudah mndaptkn gaji???
    & murid” yg perhatian X tuch jug sich…
    he” maaf kata”a bila menyinggung perasaan guru-guru..:)

  3. Pingback: Catatan Sawali Tuhusetya

  4. Banyak orang yang bukab jadi guru tapi bisasejahtera juga kok, banyak jalan menuju rhoma, banyak jalan untuk pengganti tunjangan, mungkin bagi yang belom bagi yg belom sertifikasi juga……. Allah akan ngasih lewat jalan yang lain.

  5. Untuk pak syawali, kuacungkan jempol untuk kesabarannya….
    ga jadi guru juga ga apa, apalagi cuma ga terima tunjangan itu, Allah akan ngasih tunjangan lewat jalan yang lain….. pastiiiiii…..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *