Home » Opini » Tersedu di Atas Hamparan Sajadah

Tersedu di Atas Hamparan Sajadah

sajadah2Menjelang dini hari. Cuaca dingin berkabut. Sunyi. Saya masih tenggelam dalam penjelajahan arus dunia maya ketika tiba-tiba saja gendang telinga saya menangkap suara tangis tertahan. Tak terlalu keras, tapi cukup mengusik kepekaan nurani saya. Sejenak saya menghentikan aktivitas. Ketika melongok di kamar, istri saya tersedu di atas hamparan sajadah. Napasnya tertahan oleh desakan arus yang membadai dari dalam jiwanya. Saya jadi heran dan bertanya-tanya. Tak biasanya istri saya menangis. Namun, saya terus membiarkan istri saya tenggelam dalam pengembaraan batin dan segenap perasaannya. Sungguh tidak enak kalau saya harus bertanya dalam situasi seperti itu.

Ketika dia baru saja membenahi mukena dan sajadah, saya tak sabar untuk segera mengetahui kejadian yang sedang membuat jiwa dan batinnya menangis.

“Sudah selesai tahajudnya, Bu?” tanya saya.

“Sudah!” sahutnya sambil menyeka air mata yang tersisa di pelupuk mata dengan jemari lentiknya.

“Saya dengar ibu menangis, kenapa?”

“Sedih.”

“Ada kejadian apa memangnya?”

“Tentang kabar kemarin itu loh, Pak. Kok bisa-bisanya ada orang yang jahat sama kita. Setahu saya, kita nggak pernah berbuat jahat sama orang lain!”

“Walah, itu toh! Saya kira ada peristiwa apa sampai-sampai membuat ibu menangis. Udahlah, biarkan peristiwa itu berlalu, jangan diingat-ingat terus.”

“Nah, itu dia, karena tak tahan, aku menangis di hadapan Tuhan.”

“Oh, oh, oh! Begitu toh ceritanya, hehehe … Itu dia yang membuat saya bertanya-tanya. Kok lain dari biasanya!” Istri saya hanya tersenyum sembari membenarkan letak selimut si bungsu yang sedang terlelap menikmati dunia mimpinya. “Sekarang perasaan Ibu gimana?” tanya saya lebih lanjut.

“Alhamdulillah. Sudah bisa tenang.”

“Syukurlah! Tuhan pasti mendengar setiap desah napas dan tangis Ibu. Kita doakan saja, semoga mereka yang berbuat jahat sama kita itu segera sadar bahwa ulah mereka sungguh tidak dibenarkan dari sisi mana pun.”

“Saya juga bersyukur, Bapak bisa sabar menghadapi peristiwa itu.”

“Kalau menuruti emosi, mungkin saya sudah mengumpulkan teman-teman sejawat Bapak untuk melakukan aksi. Bahkan, sudah ada beberapa teman Bapak yang siap untuk menjadi koordinatornya. Tapi, mereka masih bisa saya tahan.”

“Nggak usah macem-macem, Pak, kita serahkan saja sama Allah!”

“Iyah, itu yang terbaik. Sudahlah, mari kita tidur. Malam sudah larut nih!” ajak saya manja.

***

Seperti telah saya ceritakan dalam postingan di sini, beberapa waktu yang lalu saya dilaporkan ke Jakarta jarang melaksanakan tugas mengajar karena terlalu sibuk menjalankan tugas luar. Akibat laporan itu, konon tunjangan profesi saya sebesar 1 x gaji pokok yang diperuntukkan bagi guru yang sudah mengantongi sertifikat pendidik tak bisa dicairkan.

Bagi saya, tidak bisa dicairkannya tunjangan profesi itu, bukan hal yang terlalu merisaukan kalau memang saya dinilai tidak layak sebagai guru profesional, asalkan melalui proses yang jujur dan fair. Jangan hanya lantaran ada laporan, lantas dengan begitu mudah menilai saya sebagai guru yang tidak profesional. Kalau saya harus tugas keluar, itu pun jelas ada surat penugasan dan seizin kepala sekolah. Namun, berita yang berkembang –entah siapa yang menyebarluaskannya—saya dikabarkan jarang mengajar sehingga nilai ujian nasional Bahasa Indonesia kalah jauh jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain.

Aduh! Pasti orang yang menyebarkan isu semacam itu tak bisa membaca data. Silakan dicek hasil perolehan ujian nasional Bahasa Indonesia dari tahun ke tahun. Kalau data sebagai premis mayornya sudah salah baca, konklusi yang dihasilkan pasti juga konyol. Saya sendiri yakin, akibat kesalahan fatal dalam membaca data semacam itu orang yang bersangkutan akan menyesal seumur hidup karena sudah terlalu jauh berbuat tanpa mempertimbangkan dampak yang bakal terjadi.

Seumur-umur jadi guru, belum pernah saya mangkir dari tugas mengajar untuk memburu kesenangan dan kepentingan diri sendiri. Kalau toh saya sesekali terlibat dalam kegiatan di luar, entah itu mengisi atau mengikuti pelatihan, jadi yuri ini itu, atau kegiatan-kegiatan lain di luar sekolah, itu juga karena ada institusi yang menugasi saya. Bisa jadi itu juga sebuah “blessing in disguise” di balik jerih payah saya selama ini. Ketika banyak orang tidur, saya justru bangun untuk menulis dan menulis, entah itu cerpen, esai, artikel opini, atau naskah buku teks. Dan alhamdulillah, buku teks Bahasa Indonesia SD, SMP, dan SMA versi KBK yang pernah saya tulis, dinyatakan lolos oleh Pusat Perbukuan dan dinyatakan layak digunakan sebagai buku ajar secara nasional. Kemudian, belakangan ini saya juga menulis buku teks Bahasa Indonesia SMP versi KTSP yang didaftarkan oleh penerbit ke Pusat Perbukuan sebagai calon Buku Sekolah Elektronik (BSE). Informasi yang saya terima dari penerbit, kemungkinan buku itu juga akan lolos. Sejak setahun yang lalu, buku “Sukses Menuju Ujian Nasional” yang saya tulis juga telah terbit, meski hanya digunakan untuk lingkup terbatas. Cerpen-cerpen yang saya tulis selama ini, alhamdulillah juga telah berhasil diterbitkan dalam bentuk buku kumpulan cerpen.

Sekarang, aktivitas saya bertambah, yakni mengendalikan 3 blog sekaligus. Selain Catatan Sawali Tuhusetya dan Meniti Pelangi, juga memegang admin blog MGMP Bahasa Indonesia SMP yang baru saja diluncurkan 1 Desember yang lalu. Kelahiran blog-blog tersebut terilhami oleh semangat untuk berbagi dan bersilaturahmi agar bisa ikut berkiprah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Harus saya akui, saya cenderung bersuara keras dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan pendidikan yang saya nilai menyimpang dari nilai-nilai idealisme. Mungkin lantaran aktivitas ngeblog ini, saya pernah diminta LPMP Jawa Tengah untuk mendampingi teman-teman guru yang sedang membuat blog.

Saya juga masih diminta untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan, sastra, dan budaya di sebuah majalah tingkat kabupaten. Seperti tulisan-tulisan saya yang lain, ternyata saya masih mengalami kesulitan untuk tutup mulut dalam menyikapi silang-sengkarutnya dunia pendidikan kita selama ini.

Saya tidak tahu, apa lantaran gaya penulisan saya yang semacam itu yang membuat pihak-pihak tertentu merasa tersinggung dan kebakaran jenggot hingga akhirnya membunuh karakter saya dengan melayangkan surat ke Jakarta.

Saya sendiri belum mengecek kebenaran surat itu ke Jakarta sehingga belum jelas siapa sesungguhnya yang telah iseng melakukan tindakan konyol semacam itu. Ada teman yang menyarankan agar saya tak tinggal diam. Peristiwa semacam itu harus diusut agar tak jadi preseden pada masa-masa mendatang. Selain membunuh karakter, laporan yang tidak benar semacam itu bisa memasung kreativitas guru. Jangan-jangan tak ada lagi guru yang mau mengembangkan kompetensi diri di luar sekolah, kata seorang teman memberikan dukungan.

Ya, ya, ya! Suatu ketika, Insya-Allah saya akan tetap mengagendakan pengusutan surat laporan itu untuk mengetahui siapa dalang yang sesungguhnya. Tujuannya? Yaps, agar orang tak gampang menjegal dan menghambat karir seseorang hanya karena perasaan suka dan tidak suka. Itu saja.

Saya juga tidak tahu, seandainya saya melakukan langkah itu, apakah istri saya akan kembali tersedu di atas hamparan sajadah? ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Tersedu di Atas Hamparan Sajadah" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (5 Desember 2008 @ 17:09) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Kinerja Guru dan Sertifikat Pendidik (24 Nov 2009) Sebuah Kado Menjelang Hari Guru (18 Nov 2008)

Ada 130 komentar dalam “Tersedu di Atas Hamparan Sajadah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *