Top

Pesona Uang dan Kekuasaan

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Monday, 20 October 2008 | 538 pembaca | 172 komentar | Feed
Kategori: Bahasa, Budaya, Pendidikan, Politik, Refleksi

Kalau mau jujur, siapakah yang tidak tergiur dengan kemerincing dhuwit? Siapa pula yang tak ingin hidup serba enak-kepenak di atas kursi kekuasaan yang dielu-elukan banyak pengagumnya? Bisa jadi, retorika semacam itu tak berlaku bagi seorang rohaniwan suci yang sudah tak mau lagi bersentuhan dengan soal-soal duniawi. Sisa-sisa hidup mereka semata-mata hanya untuk mengabdikan diri kepada Sang Pemilik Kehidupan. Namun, bagi orang awam, lebih-lebih saya, yang masih terdiri dari roh dan daging, punya keluarga, punya setumpuk kebutuhan duniawi, jujur saja, masih sangat tergiur oleh pesona uang dan kekuasaan. Uang dan kekuasaan, konon bisa membuat hidup menjadi lebih terhormat dan bermatabat. Uang dan kekuasaan bisa membuat jari-jari tangan menjadi lebih leluasa untuk memberikan komando dan aba-aba. Uang dan kekuasaan konon bisa menciptakan “syurga” di tengah gemerlapnya duniawi yang makin hedonis dan konsumtif.

“Menjadi miskin di Indonesia itu tidak bermakna. Orang miskin dianggap tidak ada. Yang ada dan bermakna itu adalah uang dan kekuasaan. Mereka yang memiliki banyak uang dapat berbuat apa saja, termasuk membeli kekuasaan. Dan kekuasaan untuk mendera mereka yang miskin. Mereka yang miskin adalah orang-orang usiran. Mereka adalah orang-orang kalah,” tulis Jakob Sumardjo suatu ketika dengan nada pedih.

Ya, ya, ya! Kalau kita sejenak melakukan refleksi, hampir-hampir tak ada sebuah kekuasaan yang bisa ditegakkan tanpa campur tangan uang. Lihat saja pilkades di kampung-kampung yang sunyi dan terpencil. Mereka tak jarang menggunakan uang untuk menghipnotis massa dalam upaya menggapai ambisi kekuasaan. Demikian juga pada level pilkada atau pilgub. Yang tak kalah seru, tentu saja pemilu 2009. Pesta demokrasi yang tak lama lagi akan tergelar itu bisa jadi juga akan menyuguhkan pesta “perkawinan” antara uang dan kekuasan yang lebih dashyat. Politisi berkantong tebal mungkin akan berubah menjadi dermawan secara mendadak. Mereka yang selama ini berdiri di atas “menara gading kehidupan” pun tak segan-segan “turba” (turun ke bawah) untuk melakukan interaksi politik dengan massa. Tabur pesona politisi juga akan menjadi sebuah pemandangan yang menarik.

Namun, uang dan kekuasan juga bisa menciptakan “neraka”. Selalu saja muncul sejarah tragis ketika uang dan kekuasaan ini “dikawinkan” dalam membangun sebuah singgasana. Darah dan kekerasan seringkali muncul karena uang dan kekuasaan sebagai biangnya. Orang tega menghilangkan nyawa sesamanya juga karena uang dan kekuasaan. Imperialisme dan kolonialisme yang telah menghilangkan banyak nyawa sebagai tumbal pun tak lepas dari imbas uang dan kekuasaan. Sungguh, uang dan kekuasaan jika tidak dikelola dengan penuh wisdom dan kearifan bisa menjelma menjadi elemen kekejaman dan kebiadaban terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Merebaknya korupsi hingga membuat bangsa dan negeri ini bangkrut, konon juga bersumber dari pesona uang dan kekuasaan. Mungkin ada benarnya kalau Sejarawan Inggris, Lord Acton, menyatakan bahwa kekuasaan pada dasarnya cenderung korup, dan kekuasaan absolut hampir pasti korup secara absolut pula. Ya, ya, ya! Orang yang sedang berkuasa, memang bisa berbuat apa saja. Hukum yang lurus bisa dibengkok-bengkokkan, orang yang benar bisa disalah-salahkan atau sebaliknya, sejarah pun bisa diputarbalikkan sesuai dengan selera penguasa.

“Kisah Naga Baru”, sebagaimana diceritakan dalam Wikipedia, menunjukkan betapa kekuasaan bisa membuat seseorang menjadi “mabuk” dan lupa akan kesejatian dirinya. Alkisah pada suatu hari seorang pendekar perguruan silat yang sangat sakti dibujuk oleh murid muridnya untuk masuk ke dalam sebuah goa dan mengalahkan seekor naga yang menghuni goa tersebut. Sudah ratusan pendekar yang masuk dan berusaha membunuh naga tersebut, tetapi mereka tak pernah keluar dari goa dengan selamat.

Karena merasa tertantang, sang pendekar guru segera masuk ke dalam goa. Ternyata sang naga sama sekali tidak sakti. Dengan sekali tebasan pedang saja sang naga langsung tersungkur mati. Sang pendekar segera melihat sekeliling goa. Ternyata penuh dengan bongkahan emas permata yang kemilau sangat memesona. Sang pendekar guru tergiur untuk mengambil beberapa genggam permata sebagai oleh-oleh kepada murid-muridnya sekaligus sebagai bukti bahwa dia telah berhasil mengalahkan sang naga.

Namun, apa lacur? Begitu meraup harta permata, seketika sang pendekar guru menjelma menjadi seekor naga. Karena merasa malu, sang pendekar guru memilih tetap tinggal di dalam goa dan menjadi Naga Baru. Murid-murid di luar goa merasa cemas dan menyangka gurunya telah tewas diterkam sang naga, padahal sang guru telah menjelma menjadi naga yang baru.

Meski hanya sebuah fiksi, kisah ini menunjukkan sebuah ilustrasi betapa dekatnya kekuasaan itu dengan hal-hal yang berbau busuk dan korup. Orang-orang idealis bisa hancur martabatnya setelah masuk dalam lingkaran kekuasaan. “Wong milik nggendhong lali”, kata orang Jawa. Betapa menggiurkannya kekuasaan itu sehingga tak sedikit orang yang rela mengeluarkan banyak duwit untuk “membeli”-nya.

Nah, apakah Pemilu 2009 nanti akan menciptakan “Kisah Naga Baru” yang lebih seru, atraktif, sekaligus menengangkan dalam upaya meraih pesona uang dan kekuasaan? Nah, kita tunggu saja! ***

—————-

Catatan OOT:

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Mas Mantan Kyai yang telah berkenan meluangkan waktu membuatkan header untuk blog ecek-ecek ini. Bagaimana, jadi keren, bukan?

Tulisan Terkait:

172 komentar terhadap “Pesona Uang dan Kekuasaan”

  1. ershad | Monday, 20 October 2008 | @ 02:26

    hell yeah, pertamax ! :D
    Baca juga tulisan terbaru ershad berjudul Menonaktifkan Post Revisions Tracking

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 10:02

    hehehe …. gampang kok mas ershad komen vertamax di sini, haiks.

    [Reply]


  2. ershad | Monday, 20 October 2008 | @ 02:30

    kesempurnaan hanya milik Allah.

    tapi kalimat diatas bukan untuk pembenaran melakukan penyimpangan lho :D
    Baca juga tulisan terbaru ershad berjudul Menonaktifkan Post Revisions Tracking

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 12:04

    wah, setuju banget, mas ershad, manusia memang serba tidak sempurna. semoga saja tdk lantas ketidaksempurnaan itu selalu dijadikan alasan pembenar terhadap tindakan yang btak terpuji.

    [Reply]


  3. dana | Monday, 20 October 2008 | @ 04:38

    Kapan ya kekuasaan sekedar menjadi hobi? Jika telah menjadi hobi maka sebanyak apapun uang dihabiskan untuknya tidak akan perlu berusaha balik modal. :d

    Baca juga tulisan terbaru dana berjudul Merantau - Titik Puspa

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 12:06

    kekuasaan sbg hobi? walah, jangan2 sedikit2 suka menggunakan kekuasaan utk memenuhi ambisi kekuasaannya, mas dana, hehehe …

    [Reply]


  4. Epat | Monday, 20 October 2008 | @ 05:01

    bakalan ada container berisi full cash lagi gak ya ntar di pemilu 09?
    bukan duit berkarung lagi maenannya ternyata di negeri ini, tapi containeran!

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 12:08

    kontainer? sebegitu banyaknya uang yang mesti dibagi-bagikan, mas epat, sampai2 mesti diangkut pakai kontainer, haks.

    [Reply]


  5. anton | Monday, 20 October 2008 | @ 05:29

    Memang jaman sekarang apapun dilakukan hanya untuk mendapatkan uang

    Baca juga tulisan terbaru anton berjudul Busby Seo Contest

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:01

    nah itu dia reptonya, mas anton, kalau harus pakai cara2 ala machiavelli, hiks, jadi menghalalkan segala cara utk mendapatkan uang.

    [Reply]


  6. Rizoa | Monday, 20 October 2008 | @ 05:31

    Kalau udh bcara pltik ma kkuasn,. Duit yg bicara..klemhn kt jg kok bnyk yg mw dpt duit kyak gt? Tp ia mw gmana lg..duit emg sush dcari.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:11

    wah, resikonya pasti berdampak luas, mas zoa, apalagi kalau proses rekruitmennya pakai duwit juga.

    [Reply]


  7. anton | Monday, 20 October 2008 | @ 05:31

    Waduh komentarku masuk bui (:(
    tolong keluarin dong :((

    Baca juga tulisan terbaru anton berjudul Busby Seo Contest

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:12

    sudah saya tebus dari bui, kok mas anton, hehehe ….

    [Reply]


  8. anton sulistiyono | Monday, 20 October 2008 | @ 05:32

    Waduh komentarku masuk bui (:(
    tolong keluarin dong :((

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:13

    udah bebas, mas anton, hehehe … cup3!

    [Reply]


  9. mantan kyai | Monday, 20 October 2008 | @ 07:24

    jaksa dibeli. hakim disuap. pejabat di entertain. wah. pake uang semua itu yah. edan !!!!

    Baca juga tulisan terbaru mantan kyai berjudul Go Kuler. Go Cooler

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:14

    hehehehe … kita memang hidup di zaman edan, mas ardy, haks.

    [Reply]


  10. adipati kademangan | Monday, 20 October 2008 | @ 07:41

    Di tempat saya ada spanduk yang bertuliskan begini “ambil uangnya, jangan pilih orangnya”
    seperti cerita diatas, apa nantinya saya akan jadi naga juga pak guru ?

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:15

    hehehe … kalau bisa jangan sampai jadi naga baru seperti nasib guru pendekar itu, mas adipati, hiks.

    [Reply]


  11. Sumintar | Monday, 20 October 2008 | @ 07:59

    Benar pak sawali, saya bahkan sulit mencari celah agar uang tidak berperan dalam menentukan sang pemimpin. Yang tragis di daerah saya rakya mau mau saja dititup oleh oktum Pilkada padahal okum tersebut sumber mala petaka baru yang lebih ngeri dari pada uang yang telah rakyat kecil terima.

    Masa Ampun,

    Jadi orang biasa saja ah, yang selalu bersyukur.

    Baca juga tulisan terbaru Sumintar berjudul Soempah Pemoeda 80 Tahun Sumpah Pemuda

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:17

    fenomena “perkawinan” antara uang dan kekuasaan agaknya tak hanya terjadi di daerah pak sumintar, tapi sdh menggejala secara umum. pak. ini membutuhkan kesadaran kolektif semua pihak dab butuh waktu panjang utk menghentikannya. wew… saya juga sepakat tuh, pak, jadi rakyat biasa malah bisa hidup merdeka, pak, hehehe …

    [Reply]


  12. gajah_pesing | Monday, 20 October 2008 | @ 08:05

    uang…lagi lagi uang…
    uang bikin orang mabuk kepayang…
    (menyanyi style..)

    Baca juga tulisan terbaru gajah_pesing berjudul TPC feat PENITI

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:18

    wew… mas vay kayaknya demen banget sama lagu ndangdut itu, kekeke …

    [Reply]


  13. pak didik | Monday, 20 October 2008 | @ 08:15

    Ya jangan dipilihn semua biar kosong. rakyat waktunya untuk memimpin.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:20

    jadi golputkah? hiks. memang bener tuh, sudah saatnya rakyat yang berdaulat. Kembalikan “Tahta untuk Rakyat”!

    [Reply]


  14. Andy MSE | Monday, 20 October 2008 | @ 08:22

    aku ora milik lho pak!
    sejujurnya, saya tidak pernah tergiur dengan kemerincing dhuwit. saya hanya tergiur oleh kemreseknya dhuwit… itu karena saya tidak doyan duit recehan pak Sawali!…
    *semoga bila mendapat sesuatu amanah, kita tidak menjadi naga baru…

    Baca juga tulisan terbaru Andy MSE berjudul Rumahku Diobrak-Abrik ALEXA

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:22

    hehehe …. kemeeincing hanya sekadar utk menggambarkan enaknya duwit, mas andy, hehehe … btw, mudah2an makin banyak yang seperti mas andy, tak kemaruk ketika sedang berada di atas kursi kekuasaan.

    [Reply]


  15. okta sihotang | Monday, 20 October 2008 | @ 08:32

    emang klo dengar kata UANg ini, bawaaanya gimanaaaaaaaa gitu, jadi pengen menguasai mas…hu..hu..hu :-?
    Baca juga tulisan terbaru okta sihotang berjudul Pindahan

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:23

    hehehe …. tak dilarang kok mas okta menguasai uang, tapi dengan cara yang halal, terhormat dan bermartabat. bisa sambil ngupil, kan? haks.

    [Reply]


  16. darnia | Monday, 20 October 2008 | @ 09:51

    mencontek koran kemarin ….. uang dan kekuasaan menyebabkan habit 3H lama berubah jadi 3H baru.

    3H lama : honored (kehormatan), humble (rendah hati) dan happy (kegembiraan)

    3H baru : hurried (buru-buru), hostile (bermusuhan) dan humourless (gak punya humor)

    duh… semoga terhindar dari 3H baru deh :p

    Baca juga tulisan terbaru darnia berjudul Season of Love

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:24

    3 H baru, wew… ternyata dampaknya sangat menyeramkan ya, mbak, sampai nggak punya rasa humor.

    [Reply]


  17. laporan | Monday, 20 October 2008 | @ 11:03

    Harta dan kuasa itu setali tiga uang. Harta bisa meraup kuasa dan kuasa bisa meraup harta. Pasti akan heboh jika dikabarkan bahwa Jusuf Kalla mengangkat menteri jika menyetor diut 100 milyar. Inilah yang terjadi di Indonesia, mulai dari jabatan Camat, Kanwil, jaksa, Dirjen, hingga menteri dikomersialkan dan dinegoisasikan. Maka mereka para pengabdi rakyat hanya akan mengabdi pada rakyat yang mampu memberi upeti. Ini semua tidak bisa dibiarkan berlarut-larut… !

    Jangan terlalu berharap pada janji omong kosong para politikus pemilu 2009 !!

    Baca juga tulisan terbaru laporan berjudul Well, Come to Reality

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:27

    wah, sudah bener2 ndak bener lagi tuh, pak. kalau suasana korup itu menembus hingga batas2 yang selama ini “disucikan”, ndak tahu deh, pak aryo, bagaimana nasib negeri ini. butuh kesadaran kolektif, para pejabat menjadi teladan utk menjadi aparat yang bersih dan berwibawa, lalu tegakkan supremasi hukum. hukum seberat2nya buat pejabat yang suka menilap dan bermain2 dg uang utk memberikan efek jera. tapi kapan suasana seperti itu bisa terwujud, ya, pak?

    [Reply]


  18. toim | Monday, 20 October 2008 | @ 11:32

    wong milik nggendhong lali iku nopo tho, bung? aq koq ora ngerti :D

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:29

    hehehe … itu ungkapan jawa, mas toim. konon orang yang punya pangkat dan kedudukan gampang lupa, seperti pepatah “lupa kacang akan kulitnya”.

    [Reply]


  19. mikekono | Monday, 20 October 2008 | @ 12:22

    se7 mas sawali, pesona uang dan kekuasaan pula
    yg bs membuat kehormatan bs lewong dlm sekejap
    jabatan dan status seolah sdh menjadi ‘candu’
    sehingga bnyk orng sudah berusia 70 pun
    masih ngotot mengincar jabatan/ kekuasaan
    btw, mestinya uang dijadikan sbg sarana memprbnyk amal
    bukan menjdi kekuatan membeli kekuasaan…
    :-?
    Baca juga tulisan terbaru mikekono berjudul ‘Bencana’ Award

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:31

    hehehe, begitulah fenomena yang sedang terjadi, mas agus. kalau pangkat dan jabatan diburu dg menghalalkan segala macam cara, dampaknya tentu akan sangat dirasakan oleh publik. bisa2 setelah pangkat dan jabatan teraih, jadi lupa memegang amanahnya secara benar.

    [Reply]


  20. thimbu | Monday, 20 October 2008 | @ 13:12

    sebuah kecemasan yang dialami banyak pihak :d
    takut di 2009 akan ada naga baru :d
    abis banyak yang syahwat politiknya terlalu besar :-?
    Baca juga tulisan terbaru thimbu berjudul Satu Lagi Yang Akan Terjerat

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:33

    betul banget, mas thimbu. kita akan melihat situasi 2009 yang mencemaskan, terutama dampak yang terjadi pasca pemilu. gimana negeri ini bisa baik kalau uang dan kekuasaan dibuat ajang main2, haks.

    [Reply]


  21. dadan | Monday, 20 October 2008 | @ 13:29

    2009 adalah tahun yang dinanti dengan penuh harap sekaligus cemas :D
    akan kah kehidupan pasca momen tersebut akan membaik atau justru terpuruk ?
    dibalik hiruk pikuk pesta kekuasaan, selalu ada kaum lemah yang terhimpit dan menjadi korban. :D
    well, we live in not so perfect world.

    semoga semakin banyak orang-orang amanah yang kompeten untuk meng-handle negeri ini..

    Baca juga tulisan terbaru dadan berjudul Victory Lap

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 13:35

    nah, kita hanya bisa berharap dan berdoa, mas dadan, semoga saja pemilu 2009 nanti mampu melahirkan negarawan ulung yang berbasis kerakyatan. rakyat sdh bermimpi menantikan lahirnya sosok pemimpin yang seperti itu.

    [Reply]


  22. genthokelir | Monday, 20 October 2008 | @ 14:16

    ketika naga itu menjadi baru ada dua kesalahan yang terlintas pertama karena sang guru silau terhadap permata yang kedua berharap membawakan anak buahnya atau muridnya
    kalao untuk para wakil rakyat berbagi uang itu juga kedua kebusukan satu yang busuk politisinya mau membeli suara dengan uang dan berharap kalo jadi nanti uangnya balik entah dari korupsi atau yang lain kedua rakyatnya juga lebih busuuk lagi dengan menerima uang politisi a sampai z pokoknya yang bagi duit terima masalah nyoblos nanti pemimpin yang baik bukan hal yang penting wakil yang jujur malah nggak dapat suara karena gak bagi duit berarti kita sendiri juga sebagai rakyat yang menukarnya dengan sebungkus rokok seliter bensin atau sekilo beras ……mumet:(

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 20:23

    wah, memang repot banget, ya, mas totok, sampai mumet mikirnya, haks. bener kalau ronggowarsita bilang hidup di zaman edan kalau ndak ngedan ndak bakalan keduman. padahal, sabeja-bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada. mestinya ungkapan itu dirafsirkan secara lengkap, tidak sepenggal-sepenggal, hehehe … kita hanya bisa berharap, semoga politisi kita tetep memiliki wisdom dan kearifan yang selalu eling lan waspada.

    [Reply]


  23. genthokelir | Monday, 20 October 2008 | @ 14:18

    kadang repot juga ya sudah tahu yang nongkrong calon nya payah kita masih nyoblos juga itu hahahahaha pilihan terbaik ya tidak memilih……..( karena belum ada pilihan )

    Baca juga tulisan terbaru genthokelir berjudul Antara Uang dan Kredibilitas

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 20:24

    bisa jadi bener, mas totok. jadi golput. golput itu juga termasuk memilih, loh, hehehe … memilih untuk tidak memilih karena tak ada yang cocok, hiks.

    [Reply]


  24. Zulmasri | Monday, 20 October 2008 | @ 14:41

    ada buku bagus dulu yang sempat saya baca. terjemahan dari vietnam, yang diindonesiakan menjadi “Seks, Uang, dan Kekuasaan”. Tiga hal itu menjadi sesuatu yang berkaitan erat.

    namun satu hal yang pasti, negeri kita yang konon kaya menyimpan lebih banyak rakyat yang miskin. karena adanya join penguasa dan pengusaha. coba, harga bbm dunia sudah turun, tapi bbm kita kok masih utuh? (eh kok komennya ngelantur….)

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 20:27

    hehehe …. bener juga tuh, pak zul, ada yang menyebutnya dengan trinita, harta, tahta, dan wanita. hiks, konon ketiga “ta” itu bisa menjadi penyebab timbulnya prahara dan huru-hara. bener tidaknya, saya sendiri juga ndak tahu tuh, pak zul.

    [Reply]


  25. atakeo | Monday, 20 October 2008 | @ 15:59

    Ternyata kekuasaan bisa dibeli dengan uang. Karena kekuasaan menjadi harta yang terus dijaga. Mana ada Menteri yang mengundurkan diri bila ada salah urus. Mana ada penguasa Indonesia yang menyatakan saya siap melepaskan jabatan.

    Teman saya bercanda tentang polisi. Pangkat adalah kekuasaan. Dia beli dengan 20 juta. Makanya dia jaga agar tetap jadi polisi dan jadilah setiap priitan adalah cara untuk mencari duit. Kekuasaan diperoleh dengan beli, maka kekuasaan dijaga sebagai harta untuk mengkais duit lagi.

    Baca juga tulisan terbaru atakeo berjudul JAGA JARAK AMAN

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 20:30

    itulah yang terjadi di negeri ini, mas atakeo. jabatan dan pangkat tak ubahnya seperti orang dagang sapi, keluar modal, balik modal situasi rekruitmen birokrasi seperti mungkin yang menyebabkan negeri ini ndak pernah maju, tapi malah set-back, haks.

    [Reply]


  26. marsudiyanto | Monday, 20 October 2008 | @ 16:44

    Ono dhuwit wae durung mesti biso opo2, opomaneh rak ono dhuwit. Upoma rak ono dhuwit, opo mungkin mbangun blog apike koyo iki?. Satu yg pasti, semua komentator di sini ndak ada yg mengharapkan imbalan duwit, karena yg pasti pula, Pak Sawali ora bakal mbayari komentator…
    Mugo2 aku salah.
    [No. Rekeningku 0241-21001 BRI Cabang Kota]

    Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul Sedang Ingin Seperti Pujangga

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 20:33

    kekekeke =)) kalau mesti mbayari komentator, bisa thingpes, pak mar, haks, terus utk mbayar langganan broadband-nya piye, hara toh! btw, itu nomor rekening bri-nya kok ameh. perasaan no, rekening terakhir tuh hanya satu digit, wakakaka :))

    [Reply]


  27. Tony | Monday, 20 October 2008 | @ 17:40

    kalo urusannya mempertahankan kekuasaan halal tidak halal tetap jadi halal

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 20:35

    wah, kayak machiavelli, halal atau haram sama aja, haks, yang penting tujuan tercapai. serba repot jadinya, mas tony, hehehe ….

    [Reply]


  28. edratna | Monday, 20 October 2008 | @ 17:50

    Cobaan yang mendapat kekuasaan dan bergelimang uang lebih sulit pak, dibanding cobaan yang berat…karena kalau punya uang dan kuasa, pengin lagi…pengin lagi…entah kenapa ya, mungkin udah dari sononya, kalau uang itu tak pernah memuaskan.

    Tapi yang paling enak adalah mendapat uang banyak, halal dan berkah….susah nggak ya pak?

    Baca juga tulisan terbaru edratna berjudul Sebuah cincin kawin

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 20th, 2008 @ 22:18

    betul sekali, bu enny, konon, semakin tinggi semakin kencang tiupan anginnya. makin tinggi jabatan seseorang makin banyak godaannya. yang bagus memang punya banyak uang dan halal sehingga membawa berkah, kekuasaan pun didapatkan dengan cara2 yang jujur dan fair. tapi utk zaman sekarang rasa2nya masih terasa sulit utk diwujudkan, bu.

    [Reply]


  29. masarif | Monday, 20 October 2008 | @ 19:50

    Pada saatnya uang dan kekuasaan itu nanti tidak akan bisa disandingkan! Untuk para pelaku dan yang punya kebijakan serta calon peserta pemilu 2009 yang akan datang, semoga menyadari itu dengan sepenuh kesadaran. Bukan begitu, P Sawali?

    Baca juga tulisan terbaru masarif berjudul 7 Langkah Besar Agar Postingan Nangkring di 10 Besar Google

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 21st, 2008 @ 00:16

    yaps, kita punya harapan yang sama, mas arif. semoga saja para politikus punya wisdom dan kearidan shg tak menggunakan uang dan kekuasaan sebagai bahan mainan, haks.

    [Reply]


  30. joko supriyanto | Monday, 20 October 2008 | @ 21:15

    jadi miskin itu mudah, jadi banyak duit itu yg ndak susah :((

    iyah headernya keren euy, bisa minta tolong nih

    Baca juga tulisan terbaru joko supriyanto berjudul Photoblog Panorama Laut Batam

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 21st, 2008 @ 00:17

    mas pri bener, jadi miskin memang gampang kok. nggak berbuat apa2 bisa miskin sendiri tanpa diminta, hiks. btw, headrnya bikinan mas ardy tuh sebagai hadiah sebagai top komentatir di blognya, hehehe ….

    [Reply]


  31. satya sembiring | Monday, 20 October 2008 | @ 21:16

    uang bukan segala galanya
    tapi uang mampu membeli segalanya

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 21st, 2008 @ 00:19

    betul banget, pak satya. jangan menjadikan uang sebagai “tuhan” baru, ntar pengikutnya banyak yang tersesat, haks.

    [Reply]


  32. SJ | Monday, 20 October 2008 | @ 21:18

    mungkin hanya kesadaran massal yg bisa membalikkan paradigma para pejabat [yg sok kuasa]. supaya tujuan kekuasaan bukan untuk menguasai, tapi malah menjadi abdi. *teorinya* :d >:)

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 21st, 2008 @ 00:21

    yaps, saya sepakat dengan mas jenang. bukan hal yang mudah utk mengubah paradigma uang dan kekuasaan yang “menyesatkan” yang sudah telanjur membudaya. dibutuhkan kesadaran kolektif dan simultan.

    [Reply]


  33. marshmallow | Monday, 20 October 2008 | @ 22:32

    karena memang sudah disebutkan kalau godaan untuk seorang (lelaki) itu adalah harta, tahta, dan wanita.
    jadi manusia tinggal menjalankan yang sudah digariskan saja toh, pak sawali?
    ya, blog ini makin keren saja, pak.

    menarik juga membuat analogi korupsi dengan kisah naga baru, saya jadi ikut ternanti-nanti kelanjutan gerangan yang memegang estafet naga berikutnya.

    Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Makan Malam Bersama yang Mengesankan

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 21st, 2008 @ 00:24

    hehehe … maaf lho, mbak yulfi, saya hanya meminjam akronim itu, bukan utk bermaksud mengangkat masalah bias gender, hehehe … tapi bener juga kok, mbak, asal kita menjalankan amanah sesuai dengan jalur yang bener, bisa jadi trinita tadi ndak mempan menghantam kita *walh sok tahu juga saya* btw, makasih apresiasinya terhadap blog ini, mbak, sayang sekali pr-nya langsung merosot dari pr 4 ke pr 2 setelah dofollow.

    [Reply]


  34. aziz | Monday, 20 October 2008 | @ 22:38

    perkembangan zaman membuat uang menjadi segalanya, tak heran kalau sekarang semua hal harus ada uang untuk bisa melancarkan segala kegiatan. orang rela membuat dirinya nista hanya demi beberapa lembar uang.

    memang kenyataannya seperti ini, uang menjadi suatu tulang punggung bagi seluruh kegiatan di dunia. tapi tak sepatutnya kita menjadi ‘buta’ karena uang juga. banyak orang korup hanya karena ingin menikmati indahnya dunia, jadi sebenarnya siapa yang salah? keberadaan uang, perkembangan zaman, atau mental ’sakit’ dari masyarakat yang makin lama makin parah???

    Baca juga tulisan terbaru aziz berjudul TIDAK HANYA SEKEDAR GELAR, TAPI ADA BUKTI NYATA

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 21st, 2008 @ 00:27

    wah, analisis yang cukup mencerahkan, mas azis, intinya jangan sampai manusia diperbudak oleh uang hingga lupa kesejatian dirinya. zaman memang terus berkembang secara dinamis, tapi tidak lantas berarti kita larut dalam gelimang uang dan kekuasaan yang berujung pada ending yang tragus, haks.

    [Reply]


  35. Ersis Warmansyah Abbas | Monday, 20 October 2008 | @ 23:37

    Uang dan kekuasaan perlu Pak … tapi jangan sampai ditungangginya, begitu kan Pak.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 21st, 2008 @ 00:28

    betul banget, pak ersis. kurang lebih seperti itulah, hehehe ….

    [Reply]


  36. Masedewe | Tuesday, 21 October 2008 | @ 01:28

    uang uang dan uang
    ketika moral dinomorduakan
    maka uang yang berperan

    Baca juga tulisan terbaru Masedewe berjudul Ngawi : Berjuang apa Bersemangat ?

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:00

    betul banget, masedewe, mudah2an saja ndak sampai berlarut-larut.

    [Reply]


  37. bangpay | Tuesday, 21 October 2008 | @ 07:53

    ah saya au belajar jadi pemimpin di keluarga dulu deh…. :)

    —pakde, yang bener itu milik atau melik pada kalimat: “milik nggendhong lali”??

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:02

    hehehe … jadi pemimpin keluarga malah sangat luhur dan mulia kok, bangpay. btw, makasih koreksinya. sepertinya yang bener memeng milik tuh, hehehe …

    [Reply]

    genthokelir menjawab pada October 22nd, 2008 @ 17:51

    kalo milik tuh bahasa jawa sedang melik ( e nya yang di bukan pepet ) berarti rasa kepemilikan sedang kalau kata milik ituh bahasa indo ya hehehe sama pak guru kok menerin hahahaha kwalat
    tapi kalo sesorah atau paribasan yang banyak saya denger dalam bahasa jawa itu melik je tenan mas kui heheh

    Baca juga tulisan terbaru genthokelir berjudul Antara Uang dan Kredibilitas

    [Reply]

    genthokelir menjawab pada October 22nd, 2008 @ 17:53

    maksudnya melik ituh yang bahasa jawa nak milik niku kulo di geguyu kaliyan poro sepuh nek nangkletke pripun milik niku

    Baca juga tulisan terbaru genthokelir berjudul Antara Uang dan Kredibilitas


    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:50

    wah, mas totok jelis juga nih. mesti buka2 kamusnya wjs puwardarminta nih. campur kode antara bahasa jawa dan bahasa indonesia agaknya juga sulit dihindarkan, mas totok. bahasa jawa memang unik karena antara ejaan dan lafak seringkali berbeda. misalnya saja kata milik, lafalnya sama2 e taling tapi ejaannya harus berbeda, haks. kalau mau konsisten, mestinya lafal yang sama perlu ditulis dg ejaan yang sama pula. tapi, pendapat mas totok bisda menjadi wacana lebih jauh nih, terutama di kalangan pemerhati bahassa jawa.




  38. icha | Tuesday, 21 October 2008 | @ 09:01

    eh jadi teringat tiap pesta demokrasi pasti ada operasi subuh…bagi-bagi duit sesaat sebelum pencoblosan..kalo sudah begini…koar2 kampanye yang katanya bisa melekat di hati bisa terhapus dengan lembaran rupiah…..uang jadi pemenangnya….

    Baca juga tulisan terbaru icha berjudul Jendela Kecil

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:10

    betul banget, mbak icha, ada lagi yang menyebutnya dengan istilah serangan fajar. ujung2nya pasti bagi2 duwit dg pamrih utk mencoblos partai tertentu, hehehe … pada sisi lain masyarakat kita juga makin cerdik, uang diterima, tapi soal nyoblos nanti dulu, hiks.

    [Reply]


  39. Achmad Sholeh | Tuesday, 21 October 2008 | @ 09:26

    Uang dan kekuasaan sampai saat ini masih menjadi primadona dan akan terus menjadi primadona selama masih ada manusia di dunia ini yang perlu kita renungi adalah bahwa kedua hal tersebut sebenarnya hanyalah amanah atau titipan dari yang maha memberi, ketika sebuah amanah ini di gunakan tidak sebagaimana yang diamanahkan maka kita hanya bisa menunggu sebuah kehancuran

    Baca juga tulisan terbaru Achmad Sholeh berjudul Harus Siap Menghadapi Kenyataan Hidup

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:13

    pernyataan mas andy sangat arif dan bijak, haks, memang bener banget, mas, kalau kedua hal ini terus dipertuhankan, bisa jadi kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

    [Reply]


  40. waw | Tuesday, 21 October 2008 | @ 10:07

    Sptnya kekuasaan sulit jika tanpa uang. Coba biaya kampanye Barack Obama brp? Jg di Indonesia, brp biaya kampanye capres untuk iklan TV saja? Jd kita yg hrs pintar2 milih, mana yang bener2 bs bawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Jgn hanya krn sering muncul di TV, ato hanya krn tampilan fisik saja.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:25

    yaps, setuju banget, mas waw. mudah2an rakyat makin cerdas dalam memilih para pemimpin. susah2 milih kala keliru orang kan repot, haks.

    [Reply]


  41. ekkei | Tuesday, 21 October 2008 | @ 10:12

    Uang memang masih sangat menggiurkan bagi siapa saja, didukung lagi dengan pola hidup yang begitu konsumtif.
    salam kenal juga.. :)
    Baca juga tulisan terbaru ekkei berjudul Kalau English Grammar Menjadi Kendala Bagi Anda

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:31

    betul banget, mas ekkei, apalagi di tengah aman yang makin hedonis dan konsumitif seperti saat ini.

    [Reply]


  42. Diah | Tuesday, 21 October 2008 | @ 10:33

    Uang bagi saya perlu banget lo pak..apalagi kalau udah harga2 naik …ck..ckk..
    tapi yang pasti kebahagian lahir dan bathin didalam sebuah keluarga itu yang utama pak..baru lainnya ..

    Baca juga tulisan terbaru Diah berjudul Dongkrak Adsense Anda Sekarang Juga

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:34

    betul, mbak diah, uang memang sangat kita butuhkan, hehehe …. asalkan bisa memanage-nya dg baik. yang sti, saya juga setuju sama mbak diah, kebahagiaan keluarga adalah yang utama.

    [Reply]


  43. BLogicThink [dot] com | Tuesday, 21 October 2008 | @ 12:21

    saya pernah liat orang yang kaya tapi gak doyan duit…
    cuma bisa melongo…
    sampe saat ini saya jadikan guru saya…
    orang ajaib..
    bagi saya dia jadi representasi kebaikan… bahkan segala doktrin agama…
    jadi inget Imam ‘Ali yang ‘mentalak tiga’ materi namun masih bisa memberi…
    saya sendiri..?? jauuuuuuuh… :(
    Baca juga tulisan terbaru BLogicThink [dot] com berjudul Membangun Bisnis Sendiri

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:38

    wah, sungguh mulia akhlak orang kaya seperti itu, mas satria. saya kok juga kepikiran utk berguru seperti mas satria itu, hhehehe …

    [Reply]


  44. Moh Arif Widarto | Tuesday, 21 October 2008 | @ 12:22

    Saya cenderung untuk melihat dari sisi positifnya. Kekuasaan diperlukan untuk dipegang amanahnya. Uang diperlukan agar kita bisa bersedekah.

    Mengenai politik uang, hal ini memang sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Pemilihan Lurah/Kepala Desa tidak lepas dari amplop-amplopan. Pemilihan Bupati/Walikota, pun demikian adanya. Akan tetapi, apakah hal tersebut akan dilestarikan atau tidak, tentu berpulang kepada diri kita juga. Apabila kita ternyata mau menerima amplop-amplop itu atau justru kita menjadi pemberi amplop, maka sudah jelas interpretasinya, yaitu kita merasa nyaman dengan hal itu dan tidak ingin hal itu hilang. Sungguh menyedihkan.

    Mari kita bergerak untuk mengikis hal itu. Uang ceban, noban sampai goban tidak berharga dibandingkan diri kita yang tergadai di depan calon lurah/kepala desa, bupati/walikota atau calon-calon apa pun. Begitu diri kita sudah terbeli, janganlah berharap yang membeli mau mendengarkan aspirasi kita.

    Baca juga tulisan terbaru Moh Arif Widarto berjudul Maju Terus Gerindra

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:41

    prinsip mas arif semacam itu yang membuat saya mendukung mas arif utk menjadi wakil rakyat. semoga harapan dan cita2 mas arif terkabulkan. citra bloger pun dengan sendirinya akan ikut terangkat.

    [Reply]


  45. galihyonk | Tuesday, 21 October 2008 | @ 12:55

    lagi-lagi uang… >:p

    uang memang bisa membuat kita lupa akan segalanya…

    Baca juga tulisan terbaru galihyonk berjudul Sistem Baru di Parkiran FMIPA

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:45

    hehehe, kayak judul lagu tuh, mas galih, hiks. semoga kita tak diperbudak oleh uang.

    [Reply]


  46. Edi Psw | Tuesday, 21 October 2008 | @ 13:28

    Yach begitulah, Pak, kalau orang sudah menuhankan uang. Seakan-akan uang sudah menjadi segala-galanya, padahal itu bukanlah sesuatu yang hakiki.

    Btw, headernya menarik banget, Pak.

    Baca juga tulisan terbaru Edi Psw berjudul Peringkat 1 di Google

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:43

    betul banget, pak edy. wong milik nggendhong lali, begitu kata nenek moyang kota. btw, makasih banget apresiasinya, pak, itu header buatan mas ardy, mantan kyai kita, haks.

    [Reply]


  47. fatamorgana | Tuesday, 21 October 2008 | @ 15:51

    Uang memang bukan segalanya. Dia adalah benda yang fana. Tapi, selama hidup di dunia ini kita semua butuh uang. Asal, jangan terlena sama pesona si uang saja, ya pak? Sebab kalau terlalu terlena bisa gelap mata.

    Baca juga tulisan terbaru fatamorgana berjudul JUST BE MYSELF

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:44

    betul banget, mas fatamorgana, kalau sampai diperbudak uang, bisa gelap mata tuh.

    [Reply]


  48. Gempur | Tuesday, 21 October 2008 | @ 16:11

    Saya ndak menuhankan uang loh pak!
    Hanya, kalau saya pas gak punya duit, bawaannya sensitif terus itu kenapa ya? hehehehe.. *serius pak*

    btw, headernya keren loh pak, artistik.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:50

    sama dong, pak gempur, hehehe …. btw, header artistik itu juga berkat jasa baik mas ardy, sanga mantan kyai, pak. makasih apresiasinya.

    [Reply]


  49. Alex | Tuesday, 21 October 2008 | @ 16:19

    semua bobrok 32 tahun lalu, dibuka dan di telanjangi hari ini.Dulu boborok itu belum di buka dan tidak ada yang tahu. KArena zaman berubah dan era berganti dan masa berlalu, maka semua jadi terbuka, semua jadi bebas dan bahkan kebablasan.

    Namun sy termasuk orang yg optimis, bangsa ini akan maju, jika saja kita berpartisipasi utk kemajuan bangsa ini, minimal di bilik suara tentukanlah matang2 pilihan kita kepada siapa di jatuhkan ??? Apakah orang2 rakus dengan harta ? ataukah orang2 yang memang ikhlas karena-NYA.

    MOGA INDONESIA JAYA

    Baca juga tulisan terbaru Alex berjudul DAN TAMAN KECIL ITU-PUN JADI SURGA

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 00:53

    yaps, semoga saja kebohongan dan kejahatan itu akan terbongkar bung abdillah, kita juga berharap optimisme bung abdillah itu benar2 bisa terwujud, amiin.

    [Reply]


  50. masDan | Tuesday, 21 October 2008 | @ 16:53

    Allahummaj’alid dunya tahta aidinaa, wala taj’alha fii Qulubina ..Duh Gusti, Taruhlah Dunia Itu dalam Genggaman Tanganku, Jangan taruh dalam hatiku …

    Baca juga tulisan terbaru masDan berjudul Sebuah Kata Sambutan

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 19:30

    wah, sebuah renungan kontempalatif dan reflektif, sekaligus religius, mas dan. semoga kita bisa seperti itu.

    [Reply]


  51. imoe | Tuesday, 21 October 2008 | @ 20:33

    uang memang menentukan pak…bisa mernentukan ke arah kebaikan, juga ke arah ke hancuran…tergantung manusia yang memaknainya….mau di bawa kemana. Salam kenal…warga KAMPUNG BLAGU MARSHMALLOW mohon ijin di link pak…

    Baca juga tulisan terbaru imoe berjudul “Kabar Untuk Emak-Ananda Part II-” (to Uni Mallow)

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 19:34

    wew… warga kampung blagu marsmallow. mbak yulfikah? dah ganti rumah rupanya, hehehe …. ok deh, mbak, selama ini saya selalu gagal komen di rumah mbak yulfi yang lama, hiks.

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 19:39

    aduh, sorry banget, kirain rumah mbak yulfi yang di wp.com. ternyata bukan, yak? ok deh salam kenal juga *mas atau mbak nih* imoe.

    [Reply]



  52. zoel | Tuesday, 21 October 2008 | @ 20:40

    hmmm di tambah satu lagi pak,, pesona uang, kekuasaan dan wanita :D

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 19:48

    hehehe…. bener juga tuh, mas zoel, apalagi mass zoel dah merasakannya, toh? kekeke …..

    [Reply]


  53. emfajar | Tuesday, 21 October 2008 | @ 21:23

    jaman sekarang emank semua2 dinilai dengan uang,, seakan-akan dengan uang mereka bisa memiliki dunia ini :(

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 19:49

    nah, itulah fenomena yang sedang terjadi, mas fajar, bahkan tak jarang yang menjadikan uang sebagai tuhan baru, hiks.

    [Reply]


  54. aha | Tuesday, 21 October 2008 | @ 22:12

    apa lacur? bahasa yang jarang aku dengar bos..he2

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 19:50

    walah, masa iya sih, mas har? hiks….

    [Reply]


  55. Brain | Tuesday, 21 October 2008 | @ 23:23

    Pak sawali apa kabar? kangen sama pak guru.. hehehe

    uang ya pak? kalo kata orang london mah

    “money is not everythings, but everythings needs money”
    *halah.. menghilang lagi ah..

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 19:52

    mas brain? ke mana aja selama ini? aku juga dah kangen banget nih? hiatusnya kok pajang banget! walah, menghilang lagi, haks.

    [Reply]


  56. Adi | Wednesday, 22 October 2008 | @ 00:00

    Walah, serem juga yah. Ngambil emas bisa berubah jadi naga:d:d
    Hm,tulisan yang menarik:-?, tetap semangat menulis pak guru:)>-:)>-

    Baca juga tulisan terbaru Adi berjudul Untuk Mencintaimu

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 20:14

    hehehe, makasih support dan apresiasinya, mas adi. mas adi juga makin semangat ngeblognya, yah….

    [Reply]


  57. Kaya dan Bahagia « One Step Closer For Reading | Wednesday, 22 October 2008 | @ 06:39

    [...] dan tidak menulis dan juga hasil dari pilihan setelah membaca tulisan mbak ulan, mas adi isa, pak sawali dan mbak itik kecil yang membahas tentang [...]

  58. iniDanoe | Wednesday, 22 October 2008 | @ 06:45

    kebenaran adalah kekuasaan. siapa yang berkuasa dialah yang benar.
    karena tak ada orang yang ingin disalahkan., maka berlombalah orang2 tersebut mencari kuasa :-\”

    Baca juga tulisan terbaru iniDanoe berjudul Kaya dan Bahagia

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 20:41

    wah, makin repot kalau sudah muncul pandangan bahwa kekuasaan identik dengan kebenaran. memburu kekuasaan memang bukan hal yang tabu, tapi caranya pun mesti jangan yang saru, hiks.

    [Reply]


  59. L 34 H | Wednesday, 22 October 2008 | @ 08:34

    Jadi ingat waktu pilkades. warga miskin di kasih amplop 20 rb aja dah seneng luar biasa dan memastikan akan memilih.

    Baca juga tulisan terbaru L 34 H berjudul Doa untuk putri kami tercinta

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 20:42

    aduh, gimana bisa memilih pemimpin yang baik, yak, mbak leah, kalau suara nurani telah dikalahkan oleh kepyuran duwit.

    [Reply]


  60. pranajayas | Wednesday, 22 October 2008 | @ 09:10

    Indosat blog contest ikutan yuk !!!

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 20:56

    wah, saya ndak memenuhi syarat, mas prana, hehehe ….

    [Reply]


  61. Alex | Wednesday, 22 October 2008 | @ 10:07

    blom update ya Pak ?? ……..kayaknya lagi sibuk neh

    Baca juga tulisan terbaru Alex berjudul DAN TAMAN KECIL ITU-PUN JADI SURGA

    [Reply]

  62. goenoeng | Wednesday, 22 October 2008 | @ 10:31

    ah, tapi saya masih pesimis dengan segala macam tetek bengek politik. dari dulu sampai yang terakhir, sepertinya cerita ‘naga baru’ selalu terulang.
    salam, pak sawali….negara kita bertetangga (saya dari negeri semarang) :D
    Baca juga tulisan terbaru goenoeng berjudul saat hening masih bersamaku dan ku menunggu untuk mencium-Mu

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:14

    hehehe … mudah2an saja ada perubahan mas goenoeng, hehehe … btw, kita tetangga dekat, mas. saya juga sering tuh ke semarang? kita bisa kontak2an dan bertemu di darat nih.

    [Reply]


  63. Ardy Pratama | Wednesday, 22 October 2008 | @ 12:41

    Hhhh…klo bcara mslah kkusan dan hbugnx dngn uang gak ada hbisnya, ya gak mas? [-( Sngkatx klo mw brkuasa siapkan bnyak uang.. :d:d

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:15

    kayaknya bener tuh, mas pratama. itulah repotnya uang dan kekuasaan di negeri yang sedang digoyang nilai2 hedonisme, konsumtivisme, dan materialisme, haks.

    [Reply]


  64. bisaku | Wednesday, 22 October 2008 | @ 13:10

    Apa ini yang dikatakan si CY, siapa menang jadi tuhan dan yang kalah jadi setan?… :d

    Baca juga tulisan terbaru bisaku berjudul Kebrengsekan Jiwa Lelaki

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:17

    hemmm …. bisa jadi bener juga tuh apa yang dikatakan cy, mas.

    [Reply]


  65. bendiel | Wednesday, 22 October 2008 | @ 13:11

    sambil menunggu mari kita netralisir segala bentuk propaganda para politisi tak beradab dg kekuatan yg telah Tuhan berikan kpd kita…:d

    Baca juga tulisan terbaru bendiel berjudul Sejenak Mengkaji Ideologi Partai Politik

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:18

    sebuah ajakn yang simpatik, mas bendiel. setuju banget saya!

    [Reply]


  66. Hery Azwan | Wednesday, 22 October 2008 | @ 13:44

    Makanya Pak Sawali, saya takut menjadi caleg.
    Takut nggak kuat menahan godaan amplop…
    Lagian siapa juga yang mau merekrut saya jadi caleg…
    He he…geer loe…

    Baca juga tulisan terbaru Hery Azwan berjudul Kamus Mini Bahasa Medan

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:21

    hehehee …. wah, sebuah ketakutan yang bagus, mas azwan, hehehe …. kalau memang mau nyalon, pasti deh banyak yang milih, asalkan tak sampai terjebak mempermainkan uang dan kekuasaan. *halah*

    [Reply]


  67. sapimoto | Wednesday, 22 October 2008 | @ 14:23

    Mudah-mudahan tidak akan seperti itu, Pak…
    Mudah-mudahan akan muncul pemimpin yang bijaksana, yang bisa mengayomi dan menentramkan hati rakyatnya…. [-(

    Saya cuma berharap aja lho Pak, hasilnya mari kita sama-sama saksikan pada tahun 2009…. :d

    Baca juga tulisan terbaru sapimoto berjudul Journey To The Center Of The Earth

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:23

    amiiin, mudah2an harapan semacam itu bisa terwujud, mas sapimoto.

    [Reply]


  68. gajah_pesing | Wednesday, 22 October 2008 | @ 14:38

    lho masih tulisan yang ini pak? tak kira uda ada yang baru….

    Baca juga tulisan terbaru gajah_pesing berjudul Selamat Ulang Tahun

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:25

    baru mau update nih, mas vay, hehehe … jadi malu nih!

    [Reply]


  69. qizink | Wednesday, 22 October 2008 | @ 16:11

    Sekarang memang sulit mas mencari sesuatu yang ideal dalam perpolitikan bangsa kita, karena partai-partai yang bertarung dalam pemilu saja tak jelas idealismenya. Ada partai yang mengaku berazaz agama, tapi kadernya banyak yang tersangkut kasus korupsi. PArtai yang ngaku nasionalisme, tapi lebih sering menyebar fitnah untuk memecah belah bangsa.
    Lalu apa lagi yang bisa kita harapkan?

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:27

    itula kenyataan politik yang terjadi, mas qizink. dari sisi ini, kita juga ndak tahu, kapan situasi anomali semacam itu akan berakhir, haks, tragis!

    [Reply]


  70. Mihael Ellinsworth | Wednesday, 22 October 2008 | @ 16:51

    Selaris - larisnya uang, sebanyak - banyaknya harta, adalah suatu hal pasti apabila uang itu tidak bermakna. Saya bertaruh apabila seluruh manusia di dunia sepakat bahwa uang itu tidak ada, pasti mereka akan mampu melakukannya. Karena uang itu hanya benda mati, yang dipertaruhkan keberadaan tatkala dibutuhkan.

    When they don’t, they’ll cast it out. :D
    Baca juga tulisan terbaru Mihael Ellinsworth berjudul Ksatria Argumentasi

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:29

    mas db saya kira benar. sayangnya, justru banyak orang yang memuja benda mati itu secara berlebihan, tak semata2 sebatas utk memenuhi kebutuhan semata.

    [Reply]


  71. Parvian | Wednesday, 22 October 2008 | @ 17:22

    Kalau menurut saya pak, kenapa orang bisa tergila-gila oleh uang dan kekuasaan itu karena sedari kecil sudah diberikan contoh2 dan pandangan bahwa uang dan kekuasaan itu menunjukkan tingkat keberhasilan seseorang… seandainya sedari kecil anak-anak diajari bahwa akhlaq dan ibadah itu menunjukkan tingkat keberhasilan seseorang, insya allah akan lain ceritanya… ini pendapat pribadi saya loh pak :)

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:33

    wah, mas parvian saya kira bener juga tuh. anak2 akan melihat referensi yang ada di sekitar mereka. ketika citraan muncul di benak mereka bahwa uang dan kekuasaan menjadi simbol kesuksesan, mereka agaknya juga akan meniru perilaku semacam itu. makanya *kok jadi sok tahu saya* pendidikan akhlak dan budi pekerti dalam lingkungan keluarga menjadi fondasi yang utama.

    [Reply]


  72. ami fauzijah | Wednesday, 22 October 2008 | @ 17:33

    mas.. saya minta ijin. Boleh nggak tulisan anda ini saya kirimkan ke koran lokal di daerah saya? Sekarang di daerah saya lagi rame2nya pilwali+pilkada… Kebetulan suami saya juga mencalonkan jadi pilwali… dan saya sebenarnya sangat tidak setuju dengan keputusannya itu, karena memang saya tau selama ini suami saya tidak pernah menjadi sosok orang yang dermawan maupun manusia yang turba.. saya sekarang sedang sedang ada masalah karena itu.. so ijinkan saya menegur suami saya dengan tulisan anda… terima kasih atas ijinnya… saya tunggu jawaban anda secepatnya.. saya tidak akan meluncurkan tulisan anda tanpa ijin anda.. dan mohon dituliskan syaratnya jika memang ada syarat untuk mempublikasikan tulisan anda pada media yang laen.. trims

    Baca juga tulisan terbaru ami fauzijah berjudul Kekalahan Diplomasi

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:30

    wah, makasih banget apresiasinya, mbak fauzijah. kalau memang berminat untuk mengirimkan tulisan saya di media lokal, silakan, mbak. ndak banyak kok syaratnya. cukup cantumkan sumber tulisan dan nama penulisnya saja, mbak. bagi saya itu sudah merupakan kehormatan buat saya. terima kasih sekali lagi, mbak, semoga masalah yang dihadapi mbak fauzijah bisa cepet terselesaikan dengan cara yang baik.

    [Reply]


  73. TengkuPuteh | Wednesday, 22 October 2008 | @ 17:41

    kekuasaan adalah paradoks

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:04

    paradoks? bisakah minta tolong mas tengku utk menjelaskannya lebih lanjut?

    [Reply]


  74. Cabe Rawit | Wednesday, 22 October 2008 | @ 19:30

    uang atau harta yang berlimfah, bukan jaminan telah berlimfah rejeki. Karena rejeki adalah segala sesuatu yang sudah termanfaatkan dan dirasakan manfaatnya. Orang yang terus memburu uang, akan merasakan kelelahan karena upayanya mencari dan mengumfulkannya, bukan kelelahan untuk menikmatinya… :-?

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:02

    wah, pernyataan yang reflektif dan kontemplatif, mas cabe. makasih pencerahannya.

    [Reply]


  75. gajah_pesing | Wednesday, 22 October 2008 | @ 19:32

    koment lagi ah..sapa tahu dapat hadiah dari pak sawali…:d

    Baca juga tulisan terbaru gajah_pesing berjudul Demi Sebuah Angka ?

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:01

    minta hadiah apaan, mas vay? hehehe …

    [Reply]


  76. rizoa | Wednesday, 22 October 2008 | @ 20:39

    wah…gmana om??? jadi masuk koran???

    Baca juga tulisan terbaru rizoa berjudul mengamankan wordpress pake siluman version

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 22nd, 2008 @ 21:00

    masukm koran apaan, mas zoa? jadi ndak tahu, nih, hehehe ….

    [Reply]


  77. Masedewe | Wednesday, 22 October 2008 | @ 22:36

    aku ikutan mas vay,
    coment lagi…., sapa tahu hadiahnya da dua :d/

    Baca juga tulisan terbaru Masedewe berjudul Anti Pesta Blogger 2008

    [Reply]

    Sawali Tuhusetya menjawab pada October 23rd, 2008 @ 00:38

    kekeke … kok pada nagrepin hadiah, sih? hehehe … hadiah apaan tuh, masedewe, hehehehe ….

    [Reply]


  78. Diskriminasi | Thursday, 23 October 2008 | @ 21:00

    [...] sebuah penilaian ,mungkin apakah seperti terdidik oleh keadaan saat ini sebagai mana di tuturkan Guru kita yang ini , bahwa uang bisa membeli sebuah pilihan ,membeli sebuah kekuasaan ,dengan mudah sekali menukar idiologi,idealisme dengan ua