Pesona Uang dan Kekuasaan

Kalau mau jujur, siapakah yang tidak tergiur dengan kemerincing dhuwit? Siapa pula yang tak ingin hidup serba enak-kepenak di atas kursi kekuasaan yang dielu-elukan banyak pengagumnya? Bisa jadi, retorika semacam itu tak berlaku bagi seorang rohaniwan suci yang sudah tak mau lagi bersentuhan dengan soal-soal duniawi. Sisa-sisa hidup mereka semata-mata hanya untuk mengabdikan diri kepada Sang Pemilik Kehidupan. Namun, bagi orang awam, lebih-lebih saya, yang masih terdiri dari roh dan daging, punya keluarga, punya setumpuk kebutuhan duniawi, jujur saja, masih sangat tergiur oleh pesona uang dan kekuasaan. Uang dan kekuasaan, konon bisa membuat hidup menjadi lebih terhormat dan bermatabat. Uang dan kekuasaan bisa membuat jari-jari tangan menjadi lebih leluasa untuk memberikan komando dan aba-aba. Uang dan kekuasaan konon bisa menciptakan “syurga” di tengah gemerlapnya duniawi yang makin hedonis dan konsumtif.

“Menjadi miskin di Indonesia itu tidak bermakna. Orang miskin dianggap tidak ada. Yang ada dan bermakna itu adalah uang dan kekuasaan. Mereka yang memiliki banyak uang dapat berbuat apa saja, termasuk membeli kekuasaan. Dan kekuasaan untuk mendera mereka yang miskin. Mereka yang miskin adalah orang-orang usiran. Mereka adalah orang-orang kalah,” tulis Jakob Sumardjo suatu ketika dengan nada pedih.

Ya, ya, ya! Kalau kita sejenak melakukan refleksi, hampir-hampir tak ada sebuah kekuasaan yang bisa ditegakkan tanpa campur tangan uang. Lihat saja pilkades di kampung-kampung yang sunyi dan terpencil. Mereka tak jarang menggunakan uang untuk menghipnotis massa dalam upaya menggapai ambisi kekuasaan. Demikian juga pada level pilkada atau pilgub. Yang tak kalah seru, tentu saja pemilu 2009. Pesta demokrasi yang tak lama lagi akan tergelar itu bisa jadi juga akan menyuguhkan pesta “perkawinan” antara uang dan kekuasan yang lebih dashyat. Politisi berkantong tebal mungkin akan berubah menjadi dermawan secara mendadak. Mereka yang selama ini berdiri di atas “menara gading kehidupan” pun tak segan-segan “turba” (turun ke bawah) untuk melakukan interaksi politik dengan massa. Tabur pesona politisi juga akan menjadi sebuah pemandangan yang menarik.

Namun, uang dan kekuasan juga bisa menciptakan “neraka”. Selalu saja muncul sejarah tragis ketika uang dan kekuasaan ini “dikawinkan” dalam membangun sebuah singgasana. Darah dan kekerasan seringkali muncul karena uang dan kekuasaan sebagai biangnya. Orang tega menghilangkan nyawa sesamanya juga karena uang dan kekuasaan. Imperialisme dan kolonialisme yang telah menghilangkan banyak nyawa sebagai tumbal pun tak lepas dari imbas uang dan kekuasaan. Sungguh, uang dan kekuasaan jika tidak dikelola dengan penuh wisdom dan kearifan bisa menjelma menjadi elemen kekejaman dan kebiadaban terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Merebaknya korupsi hingga membuat bangsa dan negeri ini bangkrut, konon juga bersumber dari pesona uang dan kekuasaan. Mungkin ada benarnya kalau Sejarawan Inggris, Lord Acton, menyatakan bahwa kekuasaan pada dasarnya cenderung korup, dan kekuasaan absolut hampir pasti korup secara absolut pula. Ya, ya, ya! Orang yang sedang berkuasa, memang bisa berbuat apa saja. Hukum yang lurus bisa dibengkok-bengkokkan, orang yang benar bisa disalah-salahkan atau sebaliknya, sejarah pun bisa diputarbalikkan sesuai dengan selera penguasa.

“Kisah Naga Baru”, sebagaimana diceritakan dalam Wikipedia, menunjukkan betapa kekuasaan bisa membuat seseorang menjadi “mabuk” dan lupa akan kesejatian dirinya. Alkisah pada suatu hari seorang pendekar perguruan silat yang sangat sakti dibujuk oleh murid muridnya untuk masuk ke dalam sebuah goa dan mengalahkan seekor naga yang menghuni goa tersebut. Sudah ratusan pendekar yang masuk dan berusaha membunuh naga tersebut, tetapi mereka tak pernah keluar dari goa dengan selamat.

Karena merasa tertantang, sang pendekar guru segera masuk ke dalam goa. Ternyata sang naga sama sekali tidak sakti. Dengan sekali tebasan pedang saja sang naga langsung tersungkur mati. Sang pendekar segera melihat sekeliling goa. Ternyata penuh dengan bongkahan emas permata yang kemilau sangat memesona. Sang pendekar guru tergiur untuk mengambil beberapa genggam permata sebagai oleh-oleh kepada murid-muridnya sekaligus sebagai bukti bahwa dia telah berhasil mengalahkan sang naga.

Namun, apa lacur? Begitu meraup harta permata, seketika sang pendekar guru menjelma menjadi seekor naga. Karena merasa malu, sang pendekar guru memilih tetap tinggal di dalam goa dan menjadi Naga Baru. Murid-murid di luar goa merasa cemas dan menyangka gurunya telah tewas diterkam sang naga, padahal sang guru telah menjelma menjadi naga yang baru.

Meski hanya sebuah fiksi, kisah ini menunjukkan sebuah ilustrasi betapa dekatnya kekuasaan itu dengan hal-hal yang berbau busuk dan korup. Orang-orang idealis bisa hancur martabatnya setelah masuk dalam lingkaran kekuasaan. “Wong milik nggendhong lali”, kata orang Jawa. Betapa menggiurkannya kekuasaan itu sehingga tak sedikit orang yang rela mengeluarkan banyak duwit untuk “membeli”-nya.

Nah, apakah Pemilu 2009 nanti akan menciptakan “Kisah Naga Baru” yang lebih seru, atraktif, sekaligus menengangkan dalam upaya meraih pesona uang dan kekuasaan? Nah, kita tunggu saja! ***

—————-

Catatan OOT:

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Mas Mantan Kyai yang telah berkenan meluangkan waktu membuatkan header untuk blog ecek-ecek ini. Bagaimana, jadi keren, bukan?

Tulisan lain yang berkaitan:

Ketika Televisi menjadi “Tuhan” Kedua (Thursday, 5 January 2012, , 96 respon) Kang Darpin mengerjapkan bola matanya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Dengan wajah bersungut-sungut dimatikannya pesawat TV 14 inchi yang (nyaris)...
Hari Ibu dan Nasib TKW yang “Ternistakan” (Thursday, 22 December 2011, , 46 respon) Hari ini, Kamis, 22 Desember 2011, seharusnya kaum perempuan di negeri ini terbebas dari segala macam bentuk kekerasan dan penindasan. Pada hari yang...
Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra” (Monday, 12 December 2011, , 11 respon) Ada yang menarik dalam bedah Kumcer Nyanyian Penggali Kubur (NPK) karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) yang digelar Kebun Sastra Kendal di Balai...
Wani Pira: Idiom Sindiran terhadap Fenonema Suap (Tuesday, 6 December 2011, , 31 respon) Pernah mendengar idiom “wani pira?” Ya, ya, idiom bahasa Jawa yang bermakna “berani berapa?” yang meluncur dari mulut seorang bintang iklan...
Reformasi Birokrasi dalam Kepungan Limbah Korupsi (Tuesday, 29 November 2011, , 25 respon) Selasa, 29 November 2011, Korpri genap berusia 40 tahun. Jika dianalogikan dengan perjalanan hidup manusia, usia empat dekade merupakan masa yang...
tentang blog iniTulisan berjudul "Pesona Uang dan Kekuasaan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (20 October 2008 @ 02:03) pada kategori Bahasa, Budaya, Edukasi, Politik, Refleksi dan telah dikunjungi oleh . Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: