Home | Budaya, Opini, Politik, Refleksi | Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global

Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global

Saturday, 11 October 2008 (00:21) | 6,431 pembaca | 103 komentar | Print this Article

padiDunia sedang gonjang-ganjing. Negeri Paman Syam yang selama ini menjadi poros kapitalisme global sedang terancam. Ibarat bangunan, pondasi utamanya mulai keropos, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ambruknya pilar-pilar penyangganya. Jika itu terjadi, bisa jadi dunia benar-benar akan mengalami “kiamat kecil”.

Namun, pemerintah dengan cepat mengeluarkan pernyataan agar rakyat tidak panik. Tapi tunggu dulu! Sebenarnya yang layak diimbau untuk tidak panik itu siapa? Rakyat, pejabat, atau pemilik modal?

Dari sekitar 220 juta penduduk negeri ini, sekitar 40 jutanya tersekap dalam ruang pengangguran dan kemiskinan. Kelompok ini jelas tak akan merasakan pengaruh kemungkinan terjadinya krisis global itu. Yang kebakaran jenggot, pastilah mereka yang sedang berada dalam lingkaran kekuasaan dan para pemilik modal.

“Pemerintah minta rakyat jangan panik, tetapi pemerintah sendiri menjadi begitu sensitif dan mudah panik,” kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo, sebagaimana dikutip Inilah.com. Lebih lanjut Bambang menyebutkan bahwa kasus maju-mundur rencana membuka perdagangan BEI ini mencerminkan adanya otoritas bursa yang tidak akurat dan kurang cermat menghitung berbagai kemungkinan.

Nah, lo! Rakyat yang tidak pernah berususan dengan BEI, jelas tidak akan merasakan dampak krisis keuangan yang bersumber dari Amrik itu. Selain itu, rakyat selama ini juga sudah biasa hidup menderita. Mereka memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang bisa sangat lentur terhadap setiap perubahan yang melanda dunia. Mereka bisa “manjing ajur ajer” dan gampang menyesuaikan diri.

Empu Tantular lewat kalimat Kakawin Sutasoma menggambarkan nilai-nilai kearifan lokal itu lewat idiom: “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” (Bermacam-macam sebutannya, tetapi Tuhan itu satu, tidak ada kebenaran yang mendua). Idiom ini, setidaknya menyiratkan makna dan prinsip religiositas yang telah menyatu ke dalam dinamika dan perjalanan hidup masyarakat di kalangan akar rumput. Tak berlebihan kalau mereka bisa bersikap luwes dan lentur dalam menghadapi setiap perubahan global; toleran, akomodatif, dan optimistik dalam memandang hidup dan kehidupan.

Meski demikian, makna hakiki yang tersirat di balik idiom warisan Sutasoma ini tak jarang mengalami pergeseran. Kita masih ingat betul kejadian pascareformasi. Tahun 1998 bisa dinggap sebagai “puncak” segenap perilaku anomali sosial yang pernah terjadi di negeri ini. Emosi gampang tersulut, amarah gampang menembus ubun-ubun, kekerasan pun menjadi jalan yang dianggap paling jitu dalam memanjakan “naluri” agresivitasnya. Permusuhan dan perang antaretnik; persaingan, kebencian, dan kecemburuan antar pemeluk agama, benar-benar telah menghancurkan pilar-pilar dan nilai kebenaran hakiki.

Kita berharap semoga pemerintah benar-benar bisa menemukan solusi yang tepat sehingga krisis global yang menggoncangkan sekat-sekat perekonomian dunia itu tak berdampak pada merebaknya “krisis sosial” yang semakin parah. Kita sudah benar-benar lelah untuk berususan dengan konflik berbasiskan Sara dan primordialisme sempit. Kita juga terus berharap dan berdoa, semoga krisis global yang mengancam dunia itu bisa segera teratasi. ***

Kategori: Budaya, Opini, Politik, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

Tidak ada tulisan lain yang berkaitan!
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 11 October 2008 (00:21)) pada kategori Budaya, Opini, Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

103 Responses to "Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global"

  1. iwan says:
    Menggunakan Firefox 3.0.5 Firefox 3.0.5 pada Windows Vista Windows Vista

    Yup setuju sekali dengan esensi tulisan ini. Great View!
    Btw, mungkin lebih baik kita (sy maksudnya) fokus ke masalah mikro ekonomi saja. Karena pada dasarnya makro ekonomi ‘diluar’ kendali kita dan merujuk ke teori pareto, paling2 yang kebakaran jenggot hanyalah mereka2 yang di ’20%’ aja.

    Tokh, ketika ekonomi makro ‘bagus’ pun, saya (dan juga banyak temen-temen laen) gak menikmati kue ‘pertumbuhan itu’ setidaknya secara langsung.

    Tetep aja dari dulu ampe sekarang ‘pengangguran’ alias bener-bener dari hari ke hari cari order sendiri, and doing all ‘sendiri’.

    Sendiri maksud saya, adalah bersama temen-temen sejawat yang tak tersentuh network para ‘the have’ termasuk bank.

    Salam sukses.

  2. ciwir says:
    Menggunakan Firefox 3.0 Firefox 3.0 pada Windows XP Windows XP

    menurutku sih, mending bali ndeso bercocok tanam untuk dimakan sendiri… :d

    Baca juga tulisan terbaru ciwir berjudul Air Siap Minum

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (165 queries: 0.681 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP