Home | Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi | Tayangan TV yang Bias Gender

Tayangan TV yang Bias Gender

Saturday, 13 September 2008 (00:00) | 1,179 pembaca | 47 komentar | Print this Article

Saya bukanlah pengamat media. Namun, perasaan saya sering kalut ketika menyaksikan tayangan televisi yang makin tidak membumi, bertentangan dengan akal sehat, jauh dari nilai-nilai edukatif, bahkan sangat bias gender. Sesekali, amatilah tayangan hiburan yang demikian marak di layar gelas itu. Sebagian besar tayangan hiburan yang terdedahkan (nyaris) tak lagi mengindahkan nilai-nilai kesantunan dan kelayakan buat publik.

Yang lebih mencemaskan, ketika trend dunia sudah mulai mengarah pada upaya pemuliaan harkat dan martabat kaum perempuan, dunia TV kita justru beramai-ramai mengeksploitasinya. Tubuh kaum perempuan yang memang memiliki daya pesona dan daya pikat “dijual” melalui produk-produk iklan untuk kepentingan kaum kapitalis demi menegakkan pundi-pundi bisnisnya. Dalam dunia sinetron, kaum perempuan seringkali digambarkan sebagai sosok “anomalis” yang sarat dengan tumpukan masalah sosial-kemanusiaan yang begitu kompleks; gila harta, sosok yang lemah dan tak berdaya, sekaligus juga sosok yang kejam.

Tayangan-tayangan lawakan pun acapkali mengeksploitasi tubuh perempuan melalui akting-akting konyol dan vulgar untuk memancing tawa. Lihatlah sosok Tessy atau serial Extravaganza yang demikian nyata dan vulgar menggunakan tubuh perempuan sebagai objek pengocok perut. Dengan karakter feminitas yang dibuat-buat dan artifisial, para pengocok perut bisa demikian mudah dan seenaknya memelintir tubuh perempuan di layar gelas yang disaksikan publik dari berbagai lapisan dan tingkatan usia. Sungguh, sebuah tayangan yang benar-benar abai terhadap nilai keadilan dan kesetaraan gender.

Agaknya benar apa yang dikatakan oleh banyak pengamat media bahwa dunia TV telah masuk dalam perangkap kaum kapitalis. Mereka hanya menyisakan sekian persen dari seluruh tayangan yang masih setia pada nurani. Selebihnya, hanyalah tayangan-tayangan “sampah” yang lebih berorientasi pada keuntungan finansial semata. Berdasarkan catatan Veven Sp. Wardhana, pengamat televisi dan media, setidaknya ada tiga tipologi perempuan dalam tayangan televisi Indonesia, yakni (1) perempuan pembawa petaka; (2) perempuan pelaku duka nestapa yang sama sekali tak pernah punya daya untuk menghadapi dan melawan penyebab duka derita; dan (3) pseudo-manusia alias perempuan “sakti” yang menjadi pendekar aneh macam Mak Lampir atau sekalian menjadi hantu macam Si Manis Jembatan Ancol dan mereka inilah yang bisa balas dendam.

Sebagai media publik, TV idealnya mampu menjalankan fungsinya sebagai media informasi dan hiburan yang mencerahkan. Kehadirannya secara tidak langsung akan membangun opini publik terhadap berbagai topik dan masalah kehidupan yang makin rumit, kompleks, dan sarat tantangan. Dalam konteks dan wacana tentang kesetaraan dan keadilan gender, TV pun seharusnya mampu membangun citra positif terhadap sosok dan kiprah kaum perempuan di tengah ranah dan panggung kehidupan sosial.

Dalam konteks demikian, peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sangat diperlukan untuk menjembatani kepentingan publik dengan pengelola media TV. Jangan sampai terjadi, TV menjadi media “sampah” yang hanya sekadar menyajikan hiburan-hiburan “picisan”, vulgar, dan murahan, yang akan berimbas terhadap kekeliruan publik dalam memahami dan mengapresiasi kiprah kaum perempuan di tengah panggung kehidupan sosial. Secara jujur harus diakui, suara KPI tentang keberpihakannya terhadap pengarusutamaan gender selama ini belum terdengar gaungnya. Kita masih terus saja “dipaksa” untuk menyaksikan tayangan hiburan “sampah” yang gagal memberikan pencerahan kepada publik. Para pengelola media TV pun seharusnya tak lagi sewenang-wenang mengekspolitasi sosok perempuan hanya semata-mata untuk memenuhi ambisi bisnis yang dikembangkan oleh kaum kapitalis. Nah, bagaimana? ***

Keterangan: gambar diambil dari sini.

Kategori: Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,573 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Tayangan TV yang Bias Gender" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 13 September 2008 (00:00)) pada kategori Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

47 Responses to "Tayangan TV yang Bias Gender"

  1. ariss_ says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.3 Firefox 2.0.0.3 pada Windows XP Windows XP

    hehe… justru kalau perfilman kita serba edukatif, religius dan serba bermanfaat, maka bukan Indonesia lagi dong, namanya. Nggih tho, Pakdhe? :-D .
    NB. Nyuwun saget nampilke avatar ing komentar panjenengan pripun sih, Pakdhe? Saya sudah login kok ya masih harus ngisi nama, email dan blog. Ono opo ya?

    mas aris mungkin benar, hehehe :lol: ttg setting avatar, waduh, nggak tahu juga yah, kenapa bisa begitu?

  2. izandi says:
    Menggunakan Firefox 3.0.1 Firefox 3.0.1 pada GNU/Linux GNU/Linux

    salam kenal om..

    pinter kita aja mau nonton apa ngga..
    toh kan saluran tivi lain masih banyak yang ngga gitu (atau ngga ada kali ya)

    salam kenal juga, mas izandi. wew…. bener juga tuh, mas tergantung pandai2nya kita pilih acara :arrow:

  3. marsudiyanto says:
    Menggunakan Opera 9.52 Opera 9.52 pada Windows XP Windows XP

    Saya seneng dengan kotak komentarnya Pak Sawali, yang ada panel instrumennya, si Komentar pakai OS apa dan browser apa. Mulane tak jajal2. Ini saya nyoba opera…

    saya pakai plugin firestats, pak mar, hehehehe :lol:

  4. Jauhari says:
    Menggunakan Safari 3.1.2 Safari 3.1.2 pada Mac OS X 10.5.4 Mac OS X 10.5.4

    Media emang sulit dibendung.. saatnya mempunya MEDIA yang lebih cocok untuk negeri ini…. tidak hanya UANG UANG UANG dan UANG….

    yaps, sepakat dg mas jauhari :cool:

  5. Qizink says:
    Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    televisi tak hanya terperangkap dalam kaum kapitalis. Tapi televisi itu menjadi virus yang menyebarkan kapitalisme untuk mengajak masyarakat hedonis dan konsumtif.
    Dan penyakitnya itu berasal dari RATING yang nggak jelas….

    yapas, bener banget, mas qizink. seperti itulah realitas engelola media TV kita, haks :sad:

  6. Rully Patria says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.16 Firefox 2.0.0.16 pada Windows XP Windows XP

    beduull skali Kang…
    Sekiranya para pemilik stasiun televisi dan para produser sinetron itu takkan menayangkan jika tidak ada yang menonton. Namun yang terjadi, masih banyak dari rakyat Indonesia ini rela menghabiskan waktu mereka hanya untuk menyaksikan kekerasan dan ke-matrealisme-an.
    Jika ingin terjadi perubahan, dari sisi masyarakat terlebih dahululah yang dapat kita rangkul. Setidaknya pembatasan tayangan sinetron di rumah dan pemberian pendidikan yang lebih layak dari sekadar tayangan tidak bermutu tersebut.
    Saya ‘kangen’ dengan slogan TPI sebagai Televisi Pendidikan Indonesia yang sebagian besar menyajikan acara pendidikan untuk anak dan remaja DAHULU KALA. Apa daya, acara seperti itu TIDAK LAKU lagi sekarang..

    nah itu dia kang rully yang jadi persoalan, sebagian besar pengelola TV kita sdh tereduksi oleh kepentingan kam pemilik modal, haks :sad:

  7. fuad syamee says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.16 Firefox 2.0.0.16 pada Windows XP Windows XP

    boleh minta kaos yang diatas itu ga’ Pak?

    coba langsung meluncur ke link yang saya tunjukkan itu, mas fuad, hehehehehe ;)

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (120 queries: 1.116 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP