Home | Archives for May, 2008
Cukup Satu Malin Kundang Saja!
(27 May 2008, 748 pembaca, 63 respon)
Baru saja kita menyaksikan sebuah adegan drama di atas panggung kehidupan sosial. Tragis dan ironis sekaligus. Tragis lantaran harus ada korban. Kaum muda kita, mahasiswa-mahasiswa yang gencar menyuarakan penolakan kenaikan BBM itu, ada yang harus tersungkur kena sasaran peluru aparat. Belum lagi terhitung yang luka-luka akibat bentrok terbuka. Ironis, lantaran bangsa ini telah kehilangan kearifan. Bangsa yang dulu pernah disanjung... Sastra Koran di Tengah Imaji Kekerasan
(26 May 2008, 812 pembaca, 40 respon)
Tradisi penulisan teks sastra lewat koran (sastra koran) sudah lama muncul. (Hampir) semua sastrawan kondang memanfaatkannya. Gerson Poyk, Abdul Hadi WM, Danarto, Seno Gumira Ajidarma, Gus Mus, Hamsad Rangkuti, atau Afrizal Malna –sekadar menyebut beberapa nama—adalah sederet tokoh yang dengan amat sadar ”menggauli” koran sebagai ”corong” kreativitasnya dalam berkesenian. Hampir mustahil seorang sastrawan bisa terangkat... Tags: Artikel, Edukasi, Esai, Kearifan Lokal, kekerasan, moral, Opini, pers provokator, redaksi koran, Sosial
Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *)
(24 May 2008, 511 pembaca, 40 respon)
Oleh: Kurnia Effendi
Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa dengan membaca... Arogansi Tumenggung Wilmuna
(21 May 2008, 325 pembaca, 38 respon)
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Mata Tumenggung Wilmuna melotot. Jidatnya yang lebar berkerut-kerut. Belum tuntas berita dalam majalah itu dibaca, buru-buru dibanting keras-keras di atas meja kerjanya yang mengkilat. Wayang separo baya itu segera memanggil salah seorang staf kepercayaannya untuk menghadap.
“Bapak memanggil saya?” tanya stafnya sembari menatap penuh kecemasan. Tubuhnya yang kurus membungkuk dalam-dalam.
“Duduk!”... Reformasi Kultural: Sebuah Indonesia yang Tertinggal
(19 May 2008, 4,358 pembaca, 40 respon)
Tags: Artikel, Edukasi, Kearifan Lokal, kebangkitan nasional, moral, Opini, pemuda, Politik, sejarah, Sosial
Dari Kumcer, Kopdar, hingga Seminar: Sebuah Perjalanan Budaya
(18 May 2008, 608 pembaca, 58 respon)
Diskusi buku dan Peluncuran Kumcer “Perempuan Bergaun Putih (PBP)” itu akhirnya tergelar juga di Ruang Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, bersamaan dengan diskusi buku puisi “Kembali dari Dalam Diri” karya penyair Malaysia, Dr. Ibrahim Ghaffar. Terlepas dari segala macam kekurangan yang ada, acara yang digelar atas kerjasama PENA Malaysia dan KSI-KCI itu memberikan... Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita
(12 May 2008, 2,806 pembaca, 76 respon)
“Sekitar jam 11.30, saya melihat beberapa orang di antara massa mencegat sebuah mobil dan memaksa penumpang turun, kemudian menarik dua orang gadis keluar. Mereka mulai melucuti pakaian kedua gadis itu dan memperkosanya beramai-ramai. Kedua gadis itu coba melawan sambil menjerit ketakutan, namun sia-sia,” tutur seorang saksi mata di Muara Angke, Jakarta pada tanggal 14 Mei 1998.
“Hati saya masih sangat perih. Hidup... Diskusi Buku dan Peluncuran Kumcer
(11 May 2008, 562 pembaca, 64 respon)
Sebagaimana yang dipublikasikan oleh Kang Kombor, jika tidak ada aral melintang, Jumat, 16 Mei 2008, pukul 13.30-18.00 WIB, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, buku kumpulan cerpen saya Perempuan Bergaun Putih akan diluncurkan sekaligus didiskusikan. Jujur saja, saya tak menduga kalau kumcer saya itu akan diluncurkan dan didiskusikan di sebuah tempat... Kesadaran Kolektif yang Terkoyak
(10 May 2008, 896 pembaca, 44 respon)
(Refleksi Satu Dekade Reformasi)
Bangsa merupakan keinsyafan, sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsyafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsyafan tujuan bertambah besar karena sama seperuntungan, malang yang sama diderita, mujur yang sama didapat oleh karena jasa bersama. (Mohammad Hatta)
Sengaja saya kutip pernyataan Bung Hatta sebagai prolog tulisan ini sekadar untuk mengingatkan... Kunta Wijayandanu untuk Anoman
(9 May 2008, 700 pembaca, 23 respon)
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Kawasan bukit Kutarunggu yang selama ini dikenal sebagai “kantong” bebas kekerasan, belakangan ini berubah panas dan menegangkan. Hampir setiap hari, ada-ada saja aksi bar-bar, anarkhi, dan vandalisme yang meluncur ke permukaan. Ulah kekerasan berdalih sentimen kesukuan, agama, ras, dan antargolongan merajalela. Banyak konglomerat hitam, koruptor kakap, atau wayang-wayang berkantong tebal yang urung... Tags: Anoman, Edukasi, filsafat, Kearifan Lokal, kekerasan, moral, Politik, serdadu, Sosial, wahyu makutharama











