Cukup Satu Malin Kundang Saja!

Tuesday, 27 May 2008 (22:39) | 609 pembaca | 61 komentar

Baru saja kita menyaksikan sebuah adegan drama di atas panggung kehidupan sosial. Tragis dan ironis sekaligus. Tragis lantaran harus ada korban. Kaum muda kita, mahasiswa-mahasiswa yang gencar menyuarakan penolakan kenaikan BBM itu, ada yang harus tersungkur kena sasaran peluru aparat. Belum lagi terhitung yang luka-luka akibat bentrok terbuka. Ironis, lantaran bangsa ini telah kehilangan kearifan. Bangsa yang dulu pernah disanjung puji sebagai bangsa yang ramah dan santun telah berubah jadi bar-bar dan biadab terhadap sesamanya.

Tapi sudahlah! Bangsa kita memang telah kebal terhadap luka dan derita. Luka-luka itu akan segera terlupakan. Ibu pertiwi pun tak sanggup lagi menitikkan air mata. Darah telah terkuras akibat luka yang terus menganga. Ibu pertiwi tampak pucat. Sebagai “anak kandung”-nya, tegakah kita menambah beban penderitaannya? Masihkah kita akan terus menyakiti nuraninya dengan melakukan tindakan-tindakan konyol dengan tak henti-hentinya menyemburkan darah dan mengumbar kekerasan?

***

(more…)

Sastra Koran di Tengah Imaji Kekerasan

Monday, 26 May 2008 (01:02) | 708 pembaca | 39 komentar

Tradisi penulisan teks sastra lewat koran (sastra koran) sudah lama muncul. (Hampir) semua sastrawan kondang memanfaatkannya. Gerson Poyk, Abdul Hadi WM, Danarto, Seno Gumira Ajidarma, Gus Mus, Hamsad Rangkuti, atau Afrizal Malna –sekadar menyebut beberapa nama—adalah sederet tokoh yang dengan amat sadar ”menggauli” koran sebagai ”corong” kreativitasnya dalam berkesenian. Hampir mustahil seorang sastrawan bisa terangkat namanya secara otomatis tanpa harus bersentuhan dengan koran. Bahkan, bagi penerbit, sastra koran barangkali dijadikan sebagai ”barometer” untuk mengukur tingkat kapabilitas seorang sastrawan yang menginginkan karyanya diterbirkan sebagai buku. Itu artinya, koran, disadari atau tidak, memiliki andil besar dalam melambungkan nama seorang sastrawan.

Sayangnya, tidak semua penerbitan (koran) sanggup dan mampu bertindak sebagai ”juru bicara” sang sastrawan, apalagi ketika harga kertas melambung. Tidak sedikit koran yang terpaksa menggusur rubrik sastra. Koran pun jadi lebih banyak menyajikan berita-berita politik dan ekonomi yang ”memanas”, demo menolak kenaikan BBM, aksi-aksi kekerasan yang mengerikan, pernyataan para elite yang kontroversial, atau penanganan kasus hukum yang stagnan. Hanya penerbitan tertentu yang dengan setia menghadirkan tulisan yang humanis, menyentuh nurani, dan menyejukkan. Selebihnya, adalah penerbitan yang sering disebut orang sebagai ”pers provokator”. Tidak bikin sejuk, tetapi secara emosional malah bikin suasana makin panas dan mudah terkompori.

(more…)

Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *)

Saturday, 24 May 2008 (01:25) | 426 pembaca | 38 komentar

Oleh: Kurnia Effendi

Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa dengan membaca cerpen-cerpen panjang (yang seolah melawan kaidah istilahnya sendiri) karya Budi Darma.

Empat syarat (bisa kurang dan lebih) yang kemudian saya pegang itu adalah sebagai berikut:

  1. Kemampuan berbahasa: syarat utama penulis, agar cukup komunikatif, syukur-syukur mengandung estetika
  2. Logika fiksi: sekalipun fantastik ada “hukum” yang menjaga “kebenaran” kisah
  3. Gaya (meliputi teknik penceritaan, struktur, plot, majas, sudut pandang, karakter atau penokohan, dialog, deskripsi, konflik, dll)  bagaimana mengolah gagasan
  4. Orisinalitas: dewasa ini sangat sulit mencapainya, karena setiap pengarang terdahulu akan memberikan pengaruh kepada kita.

(more…)

Arogansi Tumenggung Wilmuna

Wednesday, 21 May 2008 (22:44) | 262 pembaca | 38 komentar

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya

Mata Tumenggung Wilmuna melotot. Jidatnya yang lebar berkerut-kerut. Belum tuntas berita dalam majalah itu dibaca, buru-buru dibanting keras-keras di atas meja kerjanya yang mengkilat. Wayang separo baya itu segera memanggil salah seorang staf kepercayaannya untuk menghadap.

“Bapak memanggil saya?” tanya stafnya sembari menatap penuh kecemasan. Tubuhnya yang kurus membungkuk dalam-dalam.

“Duduk!” perintah Tumenggung Wilmuna dengan muka merah dadu. Staf yang masih muda itu dengan sangat sopan segera menunduk hormat, lalu dengan gerak pelan segera menggeser kursi. Dadanya berdenyar-denyar.

“Coba baca majalah ini!” seloroh Tumenggung Wilmuna sambil menjatuhkan majalah di hadapan stafnya yang dilanda kecemasan. Dengan sangat hati-hati, majalah itu dibacanya. Keningnya berkerut.

(more…)

Reformasi Kultural: Sebuah Indonesia yang Tertinggal

Monday, 19 May 2008 (22:50) | 3,608 pembaca | 39 komentar

(Refleksi Hari Kebangkitan Nasional 2008)

Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini diawali dengan dua peristiwa penting Boedi Oetomo (1908) dan Sumpah Pemuda (1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain: Sutomo, Gunawan, dan Tjipto Mangunkusumo, dr. Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Douwes Dekker, dll

Selanjutnya pada 1912 berdirilah partai politik pertama Indische Partij. Pada tahun ini juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (Yogyakarta) dan Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera di Magelang.

(more…)

  • Halaman 1 dari 3
  • 1
  • 2
  • 3
  • >