Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita

Kategori Opini Oleh

“Sekitar jam 11.30, saya melihat beberapa orang di antara massa mencegat sebuah mobil dan memaksa penumpang turun, kemudian menarik dua orang gadis keluar. Mereka mulai melucuti pakaian kedua gadis itu dan memperkosanya beramai-ramai. Kedua gadis itu coba melawan sambil menjerit ketakutan, namun sia-sia,” tutur seorang saksi mata di Muara Angke, Jakarta pada tanggal 14 Mei 1998.

“Hati saya masih sangat perih. Hidup saya tak berarti, hampa. Sampai kapan pun saya tidak akan bisa melupakan peristiwa biadab yang merengut nyawa anak saya dalam Tragedi Mei 1998. Dia dituduh penjarah, padahal ia korban. Saya hendak mencari keadilan, tapi kepada siapa? Mengapa ini harus terjadi?” tutur seorang ibu korban tragedi kemanusiaan Mei 1998.

(Dikutip dari Petisi “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi”)

Itulah beberapa penuturan saksi hidup Tragedi Mei 1998. Sebuah kesaksian yang –disadari atau tidak– menorehkan luka batin ke dalam gendang nurani kita yang (konon) telah lama dikenal sebagai bangsa yang santun dan beradab. Torehan luka yang amat menyayat itu bisa menjadi bukti betapa kekerasan telah tumbuh menjadi “bahaya laten” yang akan menemukan momentumnya ketika kontrol nurani sudah tak tersisa. Kita bisa berbuat demikian biadabnya terhadap bangsa sendiri. Agaknya, bangsa kita telah lama terkurung dalam tempurung –meminjam istilah Nurcholish Madjid– “kebangkrutan sosial” sehingga menjadi gelap mata dan gampang kalap. Sorotan dunia internasional pun makin tajam membidikkan stigma sebagai sebuah bangsa yang paling sering melanggar HAM terhadap sesama warga bangsa. Namun, nyali kita menjadi ciut ketika bangsa ini dihina dan dilecehkan oleh negeri jiran.

Sungguh, Tragedi Mei 1998 telah meluluhlantakkan basis-basis kemanusiawian kita sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat. Dari dalam luluh-lantak, dari luar hancur berkeping-keping. Lagi-lagi, saya diingatkan oleh lirik tragis sahabat saya, Budi Maryono:

Seandainya Garuda Pancasila bisa menangis

Kita akan tenggelam ke dalam banjir

air matanya

Ya, tanpa bermaksud bersikap sentimentil dan hiperbolis, agaknya bangsa kita memang telah lama “memberhalakan” kekerasan setiap kali terjadi perubahan. Repotnya, kita gagal mengelola perubahan itu. Bahkan, disadari atau tidak, perubahan telah membawa implikasi bergesernya nilai-nilai luhur baku, sehingga kita (nyaris) gagal menciptakan atmosfer kebangsaan yang lebih visioner dan manusiawi. Terjadilah siklus kekerasan yang terus berulang pada setiap dimensi ruang dan waktu. Haruskah kita kalah dengan keledai yang tidak mau terperosok ke dalam lubang yang sama?

Bloggers UniteTapi, sudahlah. Kita memang hanya bisa berharap agar negeri ini bisa menjadi sebuah “Indonesia Baru” tanpa kekerasan dan diskriminasi. Kita juga sudah terlalu capek dan lelah cakar-cakaran dengan sesama bangsa sendiri. Untuk menimbulkan efek jera, kita juga perlu terus melakukan pressure kepada pemerintah untuk mengusut tuntas para pelaku kejahatan kemanusiaan yang jelas-jelas telah meruntuhkan basis-basis kemanusiawian kita sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar siklus kekerasan dan berbagai ulah pelanggaran HAM itu tidak terulang? Yups, kita bisa menyuarakan sikap antikekerasan dan pelanggaran HAM lewat blog kita masing-masing. Sekadar mengingatkan, 15 Mei 2008, bloger dari berbagai belahan dunia akan “tampil beda” dengan menyuarakan kepeduliannya terhadap persoalan HAM. Dalam konteks keindonesiaan, momentum itu bisa kita manfaatkan untuk menyuarakan jerit dan luka batin kita terhadap berbagai macam bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM.

Secara tidak langsung memang belum tentu bisa memutus mata rantai dalam siklus kekerasan itu. Namun, paling tidak, kita bisa “memfosilkan” nilai-nilai kemanusiaan itu ke dalam nurani kita masing-masing, sehingga tidak gampang terperangkap ke dalam tempurung “kebangkrutan sosial”. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

77 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Go to Top