Home | Budaya, Opini, Refleksi | Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita

Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita

Monday, 12 May 2008 (22:58) | 2,806 pembaca | 76 komentar | Print this Article

“Sekitar jam 11.30, saya melihat beberapa orang di antara massa mencegat sebuah mobil dan memaksa penumpang turun, kemudian menarik dua orang gadis keluar. Mereka mulai melucuti pakaian kedua gadis itu dan memperkosanya beramai-ramai. Kedua gadis itu coba melawan sambil menjerit ketakutan, namun sia-sia,” tutur seorang saksi mata di Muara Angke, Jakarta pada tanggal 14 Mei 1998.

“Hati saya masih sangat perih. Hidup saya tak berarti, hampa. Sampai kapan pun saya tidak akan bisa melupakan peristiwa biadab yang merengut nyawa anak saya dalam Tragedi Mei 1998. Dia dituduh penjarah, padahal ia korban. Saya hendak mencari keadilan, tapi kepada siapa? Mengapa ini harus terjadi?” tutur seorang ibu korban tragedi kemanusiaan Mei 1998.

(Dikutip dari Petisi “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi”)

Itulah beberapa penuturan saksi hidup Tragedi Mei 1998. Sebuah kesaksian yang –disadari atau tidak– menorehkan luka batin ke dalam gendang nurani kita yang (konon) telah lama dikenal sebagai bangsa yang santun dan beradab. Torehan luka yang amat menyayat itu bisa menjadi bukti betapa kekerasan telah tumbuh menjadi “bahaya laten” yang akan menemukan momentumnya ketika kontrol nurani sudah tak tersisa. Kita bisa berbuat demikian biadabnya terhadap bangsa sendiri. Agaknya, bangsa kita telah lama terkurung dalam tempurung –meminjam istilah Nurcholish Madjid– “kebangkrutan sosial” sehingga menjadi gelap mata dan gampang kalap. Sorotan dunia internasional pun makin tajam membidikkan stigma sebagai sebuah bangsa yang paling sering melanggar HAM terhadap sesama warga bangsa. Namun, nyali kita menjadi ciut ketika bangsa ini dihina dan dilecehkan oleh negeri jiran.

Sungguh, Tragedi Mei 1998 telah meluluhlantakkan basis-basis kemanusiawian kita sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat. Dari dalam luluh-lantak, dari luar hancur berkeping-keping. Lagi-lagi, saya diingatkan oleh lirik tragis sahabat saya, Budi Maryono:

Seandainya Garuda Pancasila bisa menangis

Kita akan tenggelam ke dalam banjir

air matanya

Ya, tanpa bermaksud bersikap sentimentil dan hiperbolis, agaknya bangsa kita memang telah lama “memberhalakan” kekerasan setiap kali terjadi perubahan. Repotnya, kita gagal mengelola perubahan itu. Bahkan, disadari atau tidak, perubahan telah membawa implikasi bergesernya nilai-nilai luhur baku, sehingga kita (nyaris) gagal menciptakan atmosfer kebangsaan yang lebih visioner dan manusiawi. Terjadilah siklus kekerasan yang terus berulang pada setiap dimensi ruang dan waktu. Haruskah kita kalah dengan keledai yang tidak mau terperosok ke dalam lubang yang sama?

Bloggers UniteTapi, sudahlah. Kita memang hanya bisa berharap agar negeri ini bisa menjadi sebuah “Indonesia Baru” tanpa kekerasan dan diskriminasi. Kita juga sudah terlalu capek dan lelah cakar-cakaran dengan sesama bangsa sendiri. Untuk menimbulkan efek jera, kita juga perlu terus melakukan pressure kepada pemerintah untuk mengusut tuntas para pelaku kejahatan kemanusiaan yang jelas-jelas telah meruntuhkan basis-basis kemanusiawian kita sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar siklus kekerasan dan berbagai ulah pelanggaran HAM itu tidak terulang? Yups, kita bisa menyuarakan sikap antikekerasan dan pelanggaran HAM lewat blog kita masing-masing. Sekadar mengingatkan, 15 Mei 2008, bloger dari berbagai belahan dunia akan “tampil beda” dengan menyuarakan kepeduliannya terhadap persoalan HAM. Dalam konteks keindonesiaan, momentum itu bisa kita manfaatkan untuk menyuarakan jerit dan luka batin kita terhadap berbagai macam bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM.

Secara tidak langsung memang belum tentu bisa memutus mata rantai dalam siklus kekerasan itu. Namun, paling tidak, kita bisa “memfosilkan” nilai-nilai kemanusiaan itu ke dalam nurani kita masing-masing, sehingga tidak gampang terperangkap ke dalam tempurung “kebangkrutan sosial”. ***

Kategori: Budaya, Opini, Refleksi | Tags: , , , , , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 280 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Monday, 12 May 2008 (22:58)) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

76 Responses to "Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita"

  1. utari says:
    Menggunakan Firefox 3.6.6 Firefox 3.6.6 pada Windows 7 Windows 7

    Tragedi Mei 98, yg saya tau kejadiannya sungguh tragis, bnyk penjarahan di mana2, wktu itu saya masih SD, jadi blum paham apa2..moga g terulang lg..Amin
    Baca juga tulisan terbaru utari berjudul Start – DepapepeMy ComLuv Profile

  2. ivony says:
    Menggunakan Firefox 3.0.6 Firefox 3.0.6 pada Windows XP Windows XP

    saya baru dapet artikel tentang etnis thionghua yang menjadi korban!

    pas saya baca n sy lihat fotony tragis bgt! ank2 hingga para wanita diperkosa seca berganian hingga meninggal n dikakar hidup….

    smoga kejadian seperti itu tidak terjadi lagi kita dapat bersatu dengan perbedaan yang jkita miliki

    amin…

  3. Menggunakan Firefox 3.0.6 Firefox 3.0.6 pada Windows XP Windows XP

    @0cha,
    wah ejaannya kok jadi sulit saya baca, hehehe ….

  4. Menggunakan Firefox 3.0.6 Firefox 3.0.6 pada Windows XP Windows XP

    @Masenchipz,
    walah, iya, mas enchipz, masih ada kesempatan ndak sih utk nyalon jadi ri 1, hehehe ….

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (150 queries: 1.159 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP