Home | Budaya, Opini, Refleksi, Sastra | Dari Kumcer, Kopdar, hingga Seminar: Sebuah Perjalanan Budaya

Dari Kumcer, Kopdar, hingga Seminar: Sebuah Perjalanan Budaya

Sunday, 18 May 2008 (12:43) | 608 pembaca | 58 komentar | Print this Article

Diskusi buku dan Peluncuran KumcerPerempuan Bergaun Putih (PBP)” itu akhirnya tergelar juga di Ruang Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, bersamaan dengan diskusi buku puisi “Kembali dari Dalam Diri” karya penyair Malaysia, Dr. Ibrahim Ghaffar. Terlepas dari segala macam kekurangan yang ada, acara yang digelar atas kerjasama PENA Malaysia dan KSI-KCI itu memberikan pengalaman buat saya sebagai penulis ecek-ecek yang mencoba merambah peta kesusastraan Indonesia mutakhir.

(Pembacaan cerpen “PBP” oleh Putri Miranda)

(Foto bareng Ibrahim Ghaffar, Maman S Mahayana, Ahamdun Y. Herfanda, Hanna Fransisca, SM Zakir, dan Edo Senggono)

Seperti “pengantin” baru (yang masih jomblo mohon di-strike, kekekeke :lol: ) rasa haru dan dag-dig-dug-der, tanpa disadari, menyelinap ke dalam pusat kepekaan rasa dan emosi. Tak banyak yang bisa saya ungkapkan pada acara diskusi itu. Apalagi, waktu sudah banyak tersedot untuk diskusi puisi “Kembali dari Dalam Diri”. Saya hanya bisa mengucapkan rasa terima kasih kepada Pak Maman S. Mahayana dan Mbak Hanna Fransisca yang telah memprovokasi sekaligus membidani lahirnya kumcer itu, juga kepada teman-teman bloger yang telah memberikan dukungan moral selama ini. Namun, saya buru-buru mendapat sentilan dari Pak Maman, “Kau salah! Saya tidak mengorbitkan kau! Karya-karya kau itu yang mengorbitkannya. Banyak juga tuh penulis yang minta pengantar dari saya, tapi bukan hal yang mudah. Saya lihat dulu karya-karyanya. Kalau masih bisa diperbaiki, silakan perbaiki dulu. Kalau parah, justru kasihan dong sama penulisnya sendiri, hahahaha …” ungkap kritikus yang suka bicara ceplas-ceplos itu sambil tertawa ngakak.

Waduh, jadi salah tingkah. Padahal, dari kajian teori struktural, sebagaimana dikemukakan Bang Kurnia Effendi, cerpen-cerpen dalam PBP itu masih banyak kekurangannya; mulai pengulangan idiom, plot, karakteristik, hingga ending. Benar juga Bang Kurnia! Tapi sudahlah, tentang proses kreatif agaknya akan lebih menarik kalau ditulis dalam postingan tersendiri.

(Mbak Chika, Mas Dana, Ridu, Nazieb *tak nongol wajahnya*, dan Mas Yudies)

Sungguh senang dan berbangga hati, saya bersama Farhan untuk pertama kalinya bisa berkopdar-ria dengan teman-teman bloger yang telah berkenan hadir di acara itu. Saya bisa beradu kening dengan Mas Nindityo, Mas Anggara, Mas Dana, Mas Nazieb, Mbak Chika, Mas Brainstrom, Mas Ridu, Mas Imam-Waterbomm, Mas Suprie, Mas Ade, Mas Yudies, Bung Caplang (makasih telah menghadiahi kaos KBBC keren), Mbah Hanna Fransisca, teman-teman dari Tobadreams, juga kepada Pak Zulfaisal Putera beserta rombongan dari Kalimantan Selatan. Mohon maaf kalau ada yang lupa kusebut. (Liputan kopdar selengkapnya bisa dibaca di blog Mbak Chika dan Mas Nindityo). Terima kasih semuanya! Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Mbak Ratih Kumala, penulis kumcer “Larutan Senja” ** yang tak dapat datang bersama suami tercinta, Mas Eka Kurniawan, sang novelis “Cantik itu Luka”, karena sibuk ** yang telah menyempatkan diri untuk hadir di PDS, semoga novel berikutnya bisa segera terbit, ya, Mbak.

Keesokan harinya, saya mengikuti seminar nasional bertajuk “Taufiq Ismail: 55 Tahun dalam Sastra Indonesia”. Ini bisa saya katakan sebagai salah satu perjalanan budaya, bisa ikut terlibat dalam suasana memeringati kiprah Pak Taufiq Ismail sepanjang jejak kepenyairannya. Terlepas dari “perseteruan”-nya dengan (alm.) Pramudya Ananta Toer, yang pasti kreativitas dan produktivitasnya dalam dunia sastra Indonesia layak dikagumi. Bisa jadi, konsitensi sikapnya dalam “menjaga gawang” puisi Indonesia mutakhir merupakan manifestasi dan eskpresi jiwanya sebagaimana terungkap dalam lirik “Dengan Puisi, Aku” yang dilantunkan oleh Bimbo.

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

Begitulah sosok Pak Taufiq Ismail. Dalam usianya yang sudah berkepala 7, penyair kelahiran Bukittinggi, 25 Juni 1935 itu masih begitu bersemangat dalam menjaga gawang puisi Indonesia. Tak berlebihan kalau tokoh-tokoh semacam Bambang Sudibyo (Mendiknas), Budi Dharma, atau M. Arief Rahman, amat menghormatinya, sehingga berkenan meramaikan acara seminar itu.

Kesempatan itu saya gunakan juga untuk bertemu dengan para sastrawan yang sudah lama dikenal kiprahnya dalam sastra Indonesia mutakhir, semacam cerpenis eksentrik Hamsad Rangkuti (redaktur Horison), Ahamdun Y. Herfanda (sastrawan dan redaktur Republika: sehari sebelumnya sudah bertemu), si kembar Tjahyono Widiyanto dan Tjahyono Widarmanto (sastrawan asal Ngawi, Jatim), Suminto A. Sayuti (sastrawan dan guru besar dari Universitas Negeri Yogyakarta), Romadon Pohan (cerpenis dan redaksi Jurnal Nasional), Joni Ariadinata (cerpenis dan redaktur Horison), Jamal D. Rahman (pemimpin redaksi Horison), Pak Maman S. Mahayana (yang saat itu akan segera meluncur ke Surabaya), juga saya sempatkan untuk mengucapkan selamat kepada Pak Taufiq Ismail.

(Dari kiri: Jamal D Rahman, Hamsat Rangkuti, saya *halah*, dan Romadon Pohan)

(Ingin berguru kepada sang cerpenis eksentrik, Hamsad Rangkuti)

(Sulit tersenyum ketika foto bareng dengan penyair besar, Taufiq Ismail)

Ya, sebuah perjalanan budaya yang (sungguh) tak terduga. Mohon maaf apabila selama hampir lima hari blog ini tak terurus sehingga belum bisa me-repons komentar teman-teman ***

ooo

Liputan kopdar juga bisa dibaca di blog Mas Ridu.

Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Sastra | Tags: , , , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 280 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgKastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI (Wednesday, 9 June 2010, 737 pembaca, 97 respon) Baru-baru ini, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan, 18 sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena dinilai tidak memenuhi persyaratan pendirian....
imgPenafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna (Saturday, 22 May 2010, 560 pembaca, 106 respon) Dalam sebuah rapat kabinet yang gerah, wajah Rahwana memerah seperti kepiting rebus. Sorot matanya liar memerah saga. Tiupan angin yang lembut dari moncong AC yang dingin pun gagal menaklukkan hati penguasa Alengka yang tengah murka itu. Berulang-ulang...
imgMembangun Karakter Bangsa melalui Festival dan Lomba Seni (Thursday, 29 April 2010, 756 pembaca, 47 respon) Tanggal 26-28 April 2010, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi juri dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa SD Tingkat Prov. Jawa Tengah Tahun 2010 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Dalam pandangan awam saya, festival dan lomba...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Dari Kumcer, Kopdar, hingga Seminar: Sebuah Perjalanan Budaya" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 18 May 2008 (12:43)) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

58 Responses to "Dari Kumcer, Kopdar, hingga Seminar: Sebuah Perjalanan Budaya"

  1. forex news says:
    Menggunakan Firefox 3.8 Firefox 3.8 pada Ubuntu 9.25 Ubuntu 9.25

    I was on that online community and 1 guy was chatting involving your blog site. My interest brought me study. I usually do not use a single thing bad to say concerning your content, Infact I assume this free of is an incredible weblog! Constantly writing!

  2. marshmallow says:
    Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows Vista Windows Vista

    kreativitas ternyata telah berbuah sangat manis, pak satu. dengan menelurkan kreasi setaraf “perempuan bergaun putih,” pak satu telah memperoleh banyak keuntungan yang jauh dari sekadar materi. benarlah bahwa ada hal-hal yang tak bisa dibeli dengan uang, pengalaman ini salah satunya. sungguh luar biasa.

    terus bekarya, pak! saya akan tetap membaca tulisan-tulisan bapak.

  3. shei says:
    Menggunakan Firefox 3.0.1 Firefox 3.0.1 pada Windows XP Windows XP

    :mrgreen:

    saia mau dun pak, kumcer nyaa..

    kapan2 kita share yaa..banyak cerpen saia yyang patut di-edel-edel :P

  4. afin says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.4 Firefox 2.0.0.4 pada Windows XP Windows XP

    aku terbilang orang baru dalam dunia bloger, tapi boleh kan ikut berkomentar? aku kepingin seperti pak syawali, kreatif n inovatif.

    Baca juga tulisan terbaru afin berjudul Shoot Film Dokumenter, Lucu

  5. nenyok says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    salam
    Biar terlambat asal selamat, salute atas kiprah Pakdhe and your Kumcer too of course, i really enjoy it..Congrat ya Pakdhe, sukses terus :oke

    nenyoks last blog post..Baju Koruptor

    hehehe :idea: makasih support dan apresiasinya, mbak nenyok. :oke

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (129 queries: 0.965 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP