Home » Wayang » Ketika Drupadi Harus Berpoliandri

Ketika Drupadi Harus Berpoliandri

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya

Berita sayembara yang menghebohkan itu akhirnya hinggap juga ke kawasan Ekacakra yang porak-poranda. Sisa-sisa kekejaman Bakasura masih tampak di sana-sini. Restoran, kafe, dan warung-warung tenda hancur berantakan. Selimut duka masih menyelubungi rumah-rumah penduduk yang kehilangan anggota keluarganya, menjadi tumbal kebengisan Bakasura. Ekacakra dicekam kesunyian. Meskipun demikian, penduduk Ekacakra bersyukur. Mereka sudah bisa hidup normal dan tenang pasca-kematian Bakasura. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada sosok misterius yang telah berhasil menghabisi nyawa Bakasura.

Bimasena yang telah berhasil membunuh Bakasura tetap menjadi sosok misterius. Bersama dengan saudara-saudaranya yang lain, dia tetap menyamar sebagai brahmana miskin dan menjadi peminta-minta. Tak jarang, dia dan saudara-saudaranya diludahi, dilecehkan, dan dicaci penduduk Ekacakra, hingga akhirnya telinga mereka menangkap berita sayembara menghebohkan itu. Atas nasihat Dewi Kunti, mereka diminta untuk melanjutkan penyamarannya ke negeri Pancala.

drupadiwayang

Setelah menempuh perjalanan jauh yang melelahkan, Dewi Kunti dan para Pandawa akhirnya tiba juga di negeri Pancala yang makmur. Dengan berpenampilan ala brahmana miskin, mereka menumpang hidup di rumah seorang tukang kendi. Menurut berita yang beredar, tidak lama lagi Raja Drupada akan menyayembarakan putrinya, Drupadi. Konon, sayembara di negeri Pancala sudah menjadi tradisi lokal yang khas. Seorang raja yang mempunyai putri dewasa harus menggelar sayembara untuk mencari calon pasangan hidup yang layak bagi putrinya.
***

Siang itu, negeri Pancala bergetar. Para ksatria dan putra mahkota dari seluruh penjuru negeri tumpah-ruah di alun-alun Pancala yang terletak di jantung kota. Mereka sangat berambisi untuk memenangkan sayembara itu. Siapa yang tak tergiur? Selain Drupada penguasa kaya raya dan berpengaruh, Drupadi juga dikenal sebagai seorang gadis yang memiliki pesona luar biasa. Kecantikan dan kepribadiannya melebihi “inner beauty” Miss Universe dari zaman mana pun. Darah dalam tubuhnya seperti memancarkan aura kecantikan yang sanggup meruntuhkan iman di dada setiap lelaki. Potongan rambutnya yang panjang tergerai dan lehernya yang jenjang kian menyempurnakan kecantikan dan kemolekan tubuhnya yang mulus.

Terik matahari yang memanggang alun-alun Pancala tak menyurutkan ambisi para peserta untuk memenangkan sayembara terheboh abad ini. Para penduduk pun tak mau kalah. Mereka bersidesak dan terus merangsek agar bisa menyaksikan sayembara dan menikmati kecantikan Drupadi yang selama ini belum pernah mereka saksikan. Bau keringat, bau mulut, suara batuk, dan sesekali bau kentut menyeruak di tengah kerumunan. Namun, massa yang histeris tak peduli dengan semuanya. Nafsu untuk bisa menyaksikan dan menikmati kemolekan Drupadi telah mengalahkan segala-galanya.

Di atas panggung kehormatan, para ksatria dan putra mahkota tampak sudah tak sabar unjuk kemampuan. Bayangan Drupadi yang cantik dan molek sudah menari-nari di layar memori. Mereka yakin akan mampu memenangkan sayembara itu dan memboyong Drupadi ke istananya. Demikian juga halnya dengan Duryudana dan kroni-kroninya. Sedari tadi, putra Destrarastra itu berkali-kali memilin-milin kumis tebalnya dan membusungkan dada. Menurutnya, dari sekian peserta sayembara, hanya dirinyalah yang mampu dan layak memenangkan sayembara itu.

Maka, alun-alun Pancala pun bergetar ketika iring-iringan megah muncul dari perut istana. Tepuk tangan dan teriakan histeris menyeruak membubung ke langit. Lantunan musik rakyat Pancala yang khas makin membuat rombongan istana itu tak hanya megah, tetapi juga anggun dan berwibawa. Paling depan tampak Drestajumena menunggang kuda gagah, disusul Drupadi yang duduk di singgasana di punggung gajah yang tak kalah gagahnya. Gajah itu diberi pakaian dari sutera warna-warni bertatahkan emas dan permata. Dengan wajah ranum setelah dibasuh air kembang dan mengenakan pakaian putri mahkota dari sutera berjulai-julai, Drupadi tersenyum tersipu-sipu memandang rakyat yang berjejal-jejal di sepanjang jalan dari gerbang istana ke alun-alun Pancala yang bergetar. Dengan anggun dan wibawa, Drupadi turun dari punggung gajah, kemudian naik ke atas panggung kehormatan. Dada para peserta sayembara berdebar-debar ketika bola mata mereka secara tidak sengaja bersitatap dengan mata Drupadi yang bening dan ramah.

Suasana alun-alun makin histeris ketika gong sayembara dipukul. Semua mata tertuju ke panggung kehormatan. Suasana hening sejenak ketika lagu “National Anthem” Pancala menggema ke udara. Sejenak kemudian, suasana riuh kembali menggemuruh. Teriakan, suit-suit, dan tepuk sorak membahana bersahut-sahutan. Drestajumena dengan sigap mempersiapkan segala peralatan sayembara, lantas menuntun Drupadi ke tengah arena, ke dekat tempat busur raksasa diletakkan. Dengan vokal yang berat, tetapi lantang dan jernih, kakak kandung Drupadi itu segera menyampaikan aturan permainan sayembara.

“Para peserta sayembara yang kami muliakan. Kami akan menyampaikan aturan main dalam sayembara ini,” kata Drestajumena dengan lantang. Semua peserta sayembara tampak membelalakkan bola matanya. “Di sini terletak busur, di sana anak-anak panah, dan di seberang sana, di ketinggian itu terpasang sasaran yang harus Tuan-tuan kenai dengan anak panah. Barangsiapa mampu mengenai sasaran itu, melewati lubang di pusat cakra itu sebanyak lima kali berturut-turut, dan berasal dari keluarga baik-baik, dialah yang memenangkan sayembara ini. Dia berhak menyunting adikku, Drupadi!” lanjutnya tegas sambil melirik adiknya yang tampak bagai bidadari.

Maka, ribuan pasang mata pun tumpah ke arena sayembara ketika satu persatu peserta unjuk ketangkasan. Mereka terus bergantian mengangkat busur dan memasang sebatang anak panah. Namun, tak ada satu pun yang berhasil mengangkat busur, apalagi membidikkan anak panah. Duryudana yang sangat berambisi memenangkan sayembara pun harus menelan kekecewaan. Kehormatan dan kewibawaannya sebagai putra Hastinapura seperti terkoyak; malu dan kecewa. Karna yang dikenal kehebatannya dalam memanah pun gagal total. Meski berhasil mengangkat busur dan membidikkan anak panah, tetapi gagal mengarah ke sasaran dengan tepat. Anak panahnya meleset seujung rambut. Bahkan, busur pun ikut terpelanting setelah anak panah melesat ke udara. Segenap hadirin berteriak-teriak riuh dan histeris. Mereka menganggap sayembara itu terlalu berat dan mustahil ada yang sanggup memenangkannya. Bahkan, sebagian peserta menganggap sayembara itu sarat rekayasa “politik” dan sengaja digelar untuk mempermalukan dan menjatuhkan nama baik para putra mahkota yang mengikutinya.

Namun, suasana mendadak hening ketika muncul seorang brahmana muda yang menyeruak kerumunan penonton, lantas dengan sigap melaju ke tengah arena. Ketika ia menghampiri busur yang berat itu, sorak-sorai penonton kembali bergemuruh seperti hendak meruntuhkan dinding langit. Banyak peserta sayembara dan sebagian penonton yang mencibirnya. Jangankan brahmana yang berfisik ringkih, para ksatria dan putra mahkota yang kekar dan berotot pun gagal melakukannya. Meski demikian, mereka merasa penasaran juga apa yang hendak dilakukan brahmana berwajah pasi itu.

Di tengah arena sayembara, sang brahmana muda dengan lembut bertanya kepada Drestajumena. “Bolehkah seorang brahmana mengangkat panah itu?”

“Kenapa tidak? Siapa pun pemenangnya, adikku bersedia untuk dipersunting, asalkan berasal dari keluarga baik-baik. Itu sudah menjadi komitmen kami! Silakan angkat busurnya kalau memang mampu!” sahut Drestajumena.

Tak lama kemudian, sang brahmana yang tidak lain adalah Arjuna yang tengah menyamar itu segera memusatkan konsentrasi. Ribuan pasang mata pun membelalak ketika Arjuna mengangkat busur dan memasang lima anak panah dengan gerakan yang ringan, tangkas, dan indah. Para penonton terpesona, menahan napas. Suasana mendadak hening. Mereka seolah tak percaya kalau brahmana yang berwajah pucat itu mampu melakukannya dengan sempurna. Bagai kilat, lima anak panah itu melesat berurutan, lantas menembus lubang cakra yang terus berputar. Anak panah pertama tepat mengenai sasaran. Anak panah kedua menembus anak panah pertama, yang ketiga menembus yang kedua, dan seterusnya sampai lima anak panah. Cakra itu pun terbelah, hinggap ke tanah. Suasana hening pun mendadak pecah. Sorak-sorai kembali membahana untuk ke sekian kalinya. Musik khas Pancala kembali menggema, menyambut keberhasilan sang pemenang sayembara. Sasaran telah jatuh. Sayembara dinyatakan selesai. Para brahmana yang duduk di dekat arena bersorak sambil melambai-lambaikan selendang mereka yang terbuat dari kulit menjangan. Mereka merasa, kemenangan brahmana muda itu juga merupakan kemenangan golongan mereka.
***

Sorak-sorai semakin meriah ketika Drupadi yang mengenakan pakaian sutera kemilau bertatahkan emas permata, bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya bersinar-sinar bahagia. Dengan lembut, ia memandang Arjuna, melangkah anggun mendekatinya, lalu mengalungkan karangan bunga di lehernya. Yudhistira, Nakula, dan Sadewa meloncat kegirangan, lantas berlari menemui Dewi Kunthi. Sedangkan, Bimasena tetap menunggui Arjuna untuk berjaga-jaga dari berbagai kemungkinan buruk yang bakal menimpanya.

Kekhawatiran Bimasena ternyata benar-benar terjadi. Para ksatria dan putra mahkota yang gagal memenangkan sayembara murka. Mereka tidak bisa menerima kalau pemenangnya adalah golongan brahmana.

“Kami tidak rela Drupadi dipersunting seorang brahmana hina! Jika tidak mau menikah dengan satu di antara kami, Drupadi harus tetap menjadi perawan sampai ia melakukan satya, terjun ke dalam api pembakaran jenazah. Tak pantas brahmana menyunting putri raja. Kami menentang perkawinan itu. Kami minta sayembara dibatalkan demi mempertahankan aturan yang benar. Siapa tahu brahmana itu sesungguhnya berniat jahat!” teriak salah seorang putra mahkota sambil berdiri dengan wajah memerah. Tak ayal, kericuhan pun pecah. Panitia dan peserta saling beradu mulut, bahkan kekerasan pun gagal dicegah. Dengan cepat, Bimasena mengangkat pentungan untuk melindungi Arjuna. Sementara itu, Drupadi yang ketakutan hanya mampu berdiri di samping Arjuna sambil memegangi jubahnya yang terbuat dari kulit menjangan.

Lantaran suasana sulit dikendalikan, Arjuna secara diam-diam ngeloyor dari arena dengan dikawal Bimasena. Mereka segera berjingkat menuju ke penginapan Pandawa di rumah tukang kendi. Secara diam-diam pula, Drestajumena membuntuti mereka. Putra negeri Pancala itu merasa plong setelah mengetahui bahwa pemenang sayembara itu sesungguhnya adalah para Pandawa yang tengah menyamar. Ketika kembali ke istana, ia segera melaporkan apa yang ia saksikan kepada Raja Drupada.

“Saya yakin sekali, Bapak, brahmana yang memenangkan sayembara itu sebenarnya adalah Arjuna dan brahmana pengawalnya yang perkasa itu adalah Bimasena. Saya melihat sendiri, Drupadi sama sekali tidak merasa risih dan canggung berada di tengah-tengah mereka. Saya juga melihat seorang perempuan yang agung dan berwibawa. Dan perempuan itu pasti Dewi Kunthi,” kata Drestajumena dengan mantab dan lantang. Usai mendengar laporan putranya, Raja Pancala segera meminta para prajurit istana untuk menjemput para Pandawa.

Dewi Kunti dan kelima putranya yang telah tiba di istana segera menyampaikan bahwa putra mereka memang para Pandawa yang tengah menyamar. Selain itu, ia juga menyampaikan keputusan bahwa lima putra akan menikah dengan Drupadi. Tentu saja, Raja Pancala merasa sangat senang. Namun, bola matanya mendadak melotot setelah mendengar bahwa lima putra Pandawa akan menikahi Drupadi. Ia benar-benar tersentak dan kecewa. Sebagai penguasa agung, Raja Drupada jelas menentang perkawinan itu.

“Sungguh tidak patut jika putriku harus menikah dengan lima lelaki sekaligus. Itu namanya poliandri. Tidak ada sejarahnya seorang perempuan menikah dengan lima lelaki sekaligus! Tidak elok! Apa kata dunia jika pernikahan konyol itu benar-benar terjadi? Bagaimana mungkin para Pandawa yang beradab dan berbudi bisa berpikiran nyleneh seperti itu, hem?” tanya Raja Pancala dengan tatapan bola mata melotot.

“Mohon maafkan kami, Tuan! Kami sudah bersumpah dan berkomitmen untuk membagi apa pun yang kami miliki ketika kami harus hidup susah, terlunta-lunta, dan tercampakkan! Kami mustahil mencederai sumpah itu. Apalagi, Ibu kami sangat mendukung dan merestuinya!” jawan Yudistira sembari menyembah takzim.

“Termasuk dalam soal perkawinan?”

“Betul, Tuan! Yang melegakan, Drupadi pun bisa memahami dan menerima kenyataan seperti ini!”

“Hmm … kenapa jadi serumit ini? Sungguh di luar dugaan kalau akhirnya ending sayembara akan berakhir konyol seperti ini. Tapi, baiklah, saya tak bisa mencegah kalau kalian berkeinginan seperti itu, apalagi putriku juga telah menyetujuinya!” kata Raja Pancala sambil mencoba mengembangkan senyumnya. Dewi Kunthi, Drupadi, dan para Pandawa merasa lega, saling bertatapan.

Walhasil, pernikahan agung pun digelar di istana Pancala dengan segenap kemegahan dan kemewahannya. Undangan dari berbagai penjuru mengalir, tumpah ruah ke istana. Mereka ingin menyaksikan sebuah pernikahan agung, tetapi unik, satu perempuan dengan lima lelaki sekaligus. Selama tujuh hari tujuh malam penduduk Pancala dimanjakan dengan berbagai jenis hiburan yang mengakar pada tradisi rakyat. Sementara itu, Duryudana yang gagal menikahi Drupadi hanya bisa menelan kekecewaan. Amarah menyelubungi layar batinnya yang gelap. (Tancep kayon).***

tentang blog iniTulisan berjudul "Ketika Drupadi Harus Berpoliandri" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 Juni 2011 @ 23:34) pada kategori Wayang. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 31 komentar dalam “Ketika Drupadi Harus Berpoliandri

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *