Home » Wayang » Sumpah Kresna dan Trauma Drupadi

Sumpah Kresna dan Trauma Drupadi

Catatan Sawali Tuhusetya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Gigi Salwa yang kuat terdengar gemeletuk. Menahan amarah. Bola matanya liar; menerawang dan menelanjangi wajah Kresna dalam layar memorinya. Pada saat yang lain, keriyap bola matanya meluruh; menggerayangi wajah Sisupala yang nglumpruk tak berdaya; tewas di tangan Kresna ketika upacara agung rajasuya yang diadakan Yudistira di Indraprasta berlangsung. Dia tahu benar bahwa Kresna dan Sisupala memang bermusuhan meski mereka saudara sepupu. Basudewa, ayah Kresna, kakak-beradik dengan Srutadewi, ibu Sisupala. Namun, cinta agaknya telah membuat hubungan persaudaraan mereka pupus. Kresna, dianggap telah merebut Dewi Rukmini, kekasih Sisupala. Salwa berkali-kali menahan napas.

Salwa, sungguh tidak bisa menerima kematian Sisupala, sahabat karibnya itu. Setelah melalui diskusi matang dengan para komandan prajuritnya, Salwa dengan kekuatan penuh, menyerang Dwarawati, negeri Kresna, secara mendadak. Ugrasena, yang diberi amanat untuk menjaga Dwarawati, tak sanggup menghadapi kekuatan serdadu Salwa. Benteng kokoh yang mengelilingi ibukota Dwarawati dengan persenjataan lengkap, canggih, dan mutakhir, logistik yang lebih dari cukup, ternyata tetap gagal menghadapi gempuran prajurit Salwa yang amat militan, kuat, dan terlatih.

Ugrasena

Ugrasena

Lantaran makin terdesak, Ugrasena segera mengumumkan keadaan darurat perang. Seluruh rakyat Dwarawati dilarang pergi ke ruang-ruang publik. Semua sudut kota dijaga ketat para prajurit dengan siapa penuh. Pelabuhan diblokir. Para pelancong dilarang masuk. Wajib militer diberlakukan untuk para pemuda Dwarawati demi memperkuat pertahanan. Meski demikian, Ugrasena tetap tak sanggup membendung arus kekuatan Salwa yang menggemuruh bagaikan banjir bandang. Pertahanan Dwarawati jebol. Perang telah membuat Dwarawati berduka. Selain ibukota yang menjadi urat nadi dan “magnet” kekuasaan porak-poranda, tidak sedikit prajurit dan penduduk sipil yang harus menjadi korban.

Sepulang dari Indraprasta, Kresna meradang. Ia tak sanggup menyaksikan prajurit dan rakyatnya yang menjadi korban perang sia-sia. Melalui naluri perangnya yang sudah terlatih dan amarah yang memuncak, Kresna menggelar serangan balasan. Berkat taktik jitu dan rekam jejaknya yang ngedap-edapi dalam strategi militer, ia sukses melumpuhkan kekuatan serdadu Salwa.

Baru saja ia usai terlibat dalam perang sengit, mendadak ia mendengar berita tentang kekalahan Pandawa dalam permainan dadu yang panas dan licik di Hastinapura hingga akhirnya Pandawa harus diasingkan di hutan belantara yang angker. Mengingat Pandawa sudah dianggap sebagai bagian dari “darah-daging”-nya, Kresna bergegas menemui para Pandawa di tempat pengasingannya. Ikut dalam rombongannya adalah Drestaketu, anak Sisupala, yang sangat kecewa terhadap perilaku Duryudana yang busuk.

Drupadi

Drupadi

Kresna

Kresna

Duka dan tangis meledak ketika pertemuan itu terjadi. Drupadi, isteri para Pandawa, mendekati Kresna dengan tangis tertahan. Air mata duka menjebol pertahanan kelopak matanya yang sayu. Lantas, menuturkan peristiwa pahit yang dialaminya ketika para suaminya tengah menghadapi kelicikan dan tipu muslihat Kurawa.

“Aku diseret ke depan persidangan. Anak-anak Dritarastra menghinaku dengan sangat
keji. Mereka menelanjangi aku dan mengira aku akan sudi menjadi budak mereka. Mereka perlakukan aku seperti perlakuan mereka terhadap dayang-dayang di Hastinapura. Yang lebih menyakitkan, Bhisma dan Dritarastra yang seolah-olah lupa akan asal kelahiranku dan hubunganku dengan mereka,” tutur Drupadi dengan tangis tertahan. Kresna tampak sedih dan terharu. Ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak menjebol pelupuk matanya.

“Wahai, Janardana (= sapaan Kresna yang berarti ‘kesayangan manusia’), suami-suamiku pun tidak melindungi aku dari penghinaan manusia-manusia bejat itu. Kekuatan raga Bima yang perkasa dan senjata gendewa Arjuna yang sakti tak ada artinya. Padahal, orang yang paling lemah sekali pun, jika mendapat penghinaan sekeji itu pasti akan bangkit melawan. Namun, oh … Pandawa yang terkenal sebagai pahlawan-pahlawan hebat malah tidak melakukan apa-apa. Aku, putri raja dan menantu Raja Pandu, diseret ke depan persidangan dengan rambut dicengkeram. Aku, istri lima pahlawan besar merasa terhina sehina-hinanya. Wahai, Madhusudana (=sapaan Kresna yang berarti ‘pembunuh raksasa bernama Madhu’ engkau pun telah meninggalkan aku.” Usai menumpahkan kepedihannya, sekujur tubuh Drupadi bergetar. Darahnya menggelegak hingga memuncak ke ubun-ubun. Kresna yang sedari tadi menyimak dengan menahan kepedihan yang menggedor ulu hatinya, mencoba menghibur Drupadi dengan kata-kata bijaknya yang masih tersisa.

“Mereka yang telah menghinamu kelak akan binasa dalam perang besar yang penuh pertumpahan darah. Hapuslah air matamu! Aku berjanji, segala penghinaan yang menimpamu akan dibalas setimpal. Aku akan menolong Pandawa dalam segala hal. Engkau pasti akan menjadi permaisuri Rajadiraja Yang Agung. Langit boleh runtuh, Gunung Himalaya boleh terbelah, bumi boleh retak, lautan boleh kering, tetapi kata-kataku ini akan kupegang teguh! Aku bersumpah di hadapanmu,” kata Kresna dengan vokal lantang. Sumpahnya mengangkasa dan menggema seperti mampu menyentuh dinding langit.

Drestajumena pun mencoba menghibur hati adiknya yang sedang terluka. “Hapuslah air matamu, adikku. Aku akan membunuh Durna, Srikandi akan menewaskan Bisma, Bima akan melenyapkan nyawa Duryudana dan saudara-saudaranya, sedangkan Arjuna akan menamatkan Karna, anak sais kereta kuda itu.”

Di samping para Pandawa yang duduk kelu dan tertunduk, Kresna kembali berujar, “Ketika peristiwa sedih itu menimpa dirimu, aku sedang berada di Dwarawati. Andaikata aku ada di Hastinapura, aku pasti tak akan membiarkan kecurangan itu terjadi. Walaupun tidak diundang, kalau tahu aku pasti akan datang untuk mengingatkan Durna, Kerpa, dan para kesatria tua lainnya akan tugas kewajiban mereka yang suci. Aku pasti akan mencegah permainan curang itu dengan jalan apa pun. Ketika Sengkuni menipumu, aku sedang bertempur melawan Raja Salwa yang menyerang Dwarawati. Aku baru mendengar tentang ini setelah mengalahkannya. Aku sangat sedih mendengarnya, lebih-lebih karena aku tak kuasa segera menghapus dukamu. Ibarat membetulkan bendungan rusak, tidak bisa langsung selesai dan untuk sementara air tetap merembes.” Usai berkata demikian, Kresna dan rombongan minta diri untuk kembali ke Dwarawati. Demikian juga dengan Drestajumena. Ia kembali ke Pancala, membawa anak-anak Drupadi dari kelima suaminya itu.

Sepeninggal Kresna, hutan yang angker itu kembali diselimuti kabut duka, seperti berselimutkan jubah Malaikat Maut. Para Pendawa yang lunglai tak berdaya, hanya bisa pasrah menerima suratan nasib yang menelikungnya. Drupadi belum juga sanggup memupus trauma yang terus membadai dalam jiwanya. Entah sampai kapan! *** (Tancep kayon)

tentang blog iniTulisan berjudul "Sumpah Kresna dan Trauma Drupadi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 Desember 2013 @ 14:21) pada kategori Wayang. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 13 komentar dalam “Sumpah Kresna dan Trauma Drupadi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *