Home » Wayang » Ketika Destarastra Didera Kegalauan

Ketika Destarastra Didera Kegalauan

Wayang

Dalang: Sawali Tuhusetya

Usai kekalahan pedih dan menyakitkan dalam permainan dadu yang licik dan panas, Pandawa tersaruk-saruk meninggalkan istana Hastinapura dengan tubuh limbung. Rakyat Hastinapura dari berbagai lapis dan strata sosial menyaksikan kekalahan itu dengan perasaan perih dan menyayat. Mereka berjubel di pinggir jalan; bergelantungan di pepohonan;  berjejal di atas bubungan atap rumah; dengan wajah tertunduk dan masygul. Para pengendara yang tengah melintas buru-buru berhenti, lantas menunduk takzim dengan memendam kepedihan tak terperikan. Mereka tak kuasa menahan gelombang air mata ketika menyaksikan langkah gontai para putra Pandawa yang dekil dan bertelanjang kaki menuju kawasan rimba belantara yang wingit dan misterius. Seisi kota tersuruk dalam lembah kepedihan. Nglangut.

Destarastra mendesah. Dadanya turun-naik. Kegalauan tampak menyelimuti dahinya yang berkerutan. Hatinya gerah. AC di kamar pribadinya tak juga sanggup menyejukkan hati dan jiwanya. Dalam layar memorinya terbayang derita keponakan-keponakannya, Pandawa, yang harus tersingkir dari Hastinapura akibat kelicikan Sangkuni dan putra-putranya. Untuk mengurai kegalauan hatinya, penguasa Hastinapura itu “curhat” bersama Om Widura.

“Om Wid, Sampeyan bisa menceritakan suasana keberangkatan para keponakanku ke tempat pengasingannya?” tanya Destarastra sembari berupaya mengeriyapkan bola matanya yang gelap. Sementara itu, di sudut ruang yang lain, Duryudana dan saudara-saudaranya tampak menikmati suasana pesta kemenangan yang masih tersisa. Sesekali suara tawa membuncah. Bersambung-sambungan.

Yudistira

Yudistira

“Menyedihkan sekaligus mengharukan. Yudistira berjalan tertatih dengan wajah tertutup kain. Bima berjalan gontai dengan wajah tertunduk. Arjuna berjalan paling depan sambil melantunkan syair-syair elegi yang getir. Nakula dan Sadewa berjalan di belakang Yudistira. Tubuh mereka dekil dan penuh debu. Drupadi berjalan di samping Yudistira. Rambutnya yang panjang tergerai menutupi wajahnya yang basah oleh air mata kepedihan,” jawab Widura dengan dada sesak. Hati Destarastra semakin cemas dan galau.

“Bagaimana respon rakyat Hastinapura?”

“Itulah yang mengharukan. Rakyat dari berbagai lini dan strata sosial tetap mengelu-elukan para Pandawa. Sebaliknya, mereka membenci dan mengutuk tindakan para Kurawa yang dianggap zalim dan biadab. Izinkan aku akan mengulangi kata-kata yang mereka ucapkan: ‘Pemimpin kita telah meninggalkan kita. Celakalah bangsa Kuru yang membiarkan ini terjadi! Anak-anak Destarastra, terkutuklah kalian karena telah mengusir putra-putra Pandu ke hutan.’ Mendengar penuturan Widura, Destarastra menelan ludah. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Jakunnya naik-turun.

“Hem …. seperti itukah? Benar-benar sebuah pertanda buruk. Bagaimana roda pemerintahan negeri ini bisa berjalan mulus kalau rakyat memusuhi pemerintahnya sendiri? …”

Destrarastra

Destarastra

Ketika Destarastra dan Widura sedang terlibat “curhat” serius, tiba-tiba muncul Prof. Narada dengan gerakan yang begitu cepat dan terlatih. Dengan wajah yang kurang bersahabat, guru besar bertubuh pendek itu meradang: “Destarastra dan Widura, camkan kata-kataku ini! Empat belas tahun mendatang, terhitung sejak hari ini, Kurawa akan hancur akibat kejahatan Duryudana.” Entah! Usai menyampaikan “ultimatum”, Prof. Narada berkelebat begitu cepat meninggalkan istana Hastinapura. Duryudana dan saudara-saudaranya yang masih menikmati sisa-sisa pesta kemenangan tersentak ketika mendengar “ancaman” yang demikian lantang dan tajam itu. Wajah mereka tampak cemas. “Ultimatum” Prof. Narada mereka rasakan seperti rajaman pisau silet di ulu hati. Perih. Mereka pun bergerak cepat menemui Prof. Durna dengan langkah sempoyongan akibat “racun” minuman keras. Dengan vokal berbaur minuman keras, Duryudana menghiba agar sang guru besar itu tidak pernah meninggalkan Hastinapura.

“Kami mohon dengan sangat agar Sampeyan tidak meninggalkan kami, apa pun yang terjadi,” pinta Duryudana sembari melemparkan tatapan mata ke wajah saudara-saudaranya yang berkerumun di belakangnya.

“Aku percaya, kata-kata Prof. Narada itu bukan isapan jempol. Dia seorang guru besar yang telah teruji integritasnya dan tak mudah diajak berselingkuh dengan kekuasaan. Meskipun demikian, aku tetap berada di pihak kalian. Bumi Hastinapura telah menghidupiku selama ini. Aku akan berjuang untuk kalian meskipun langit harus runtuh menimpaku!” jawab Prof. Durna tegas. Duryudana dan saudara-saudaranya manggut-manggut dan tersenyum puas. “Ini bagian dari dinamika hidup. Aku juga mesti ikut bertanggung jawab ketika aku telah menggulingkan dan menghina Drupada karena amarah dan dendam. Akibat peristiwa berdarah itu, Drupada terus berdoa dan melakukan ritual agar dianugerahi anak laki-laki yang diharapkan mampu membalas dendam terhadap keculasanku. Doa Drupada agaknya dikabulkan. Konon anak laki-laki bernama Drestajumena itulah yang akan membunuhku. Seperti telah menjadi suratan takdir, dia akhirnya menjadi ipar Pandawa dan sekutu paling militan!” lanjut Prof. Durna dengan bola mata berkaca-kaca. Para Kurawa saling berpandangan.

“Lantas, apa yang meski kami lakukan, Prof?” tanya Dursasana.

“Waktu akan terus bergerak. Siapa menuai angin bakal menuai badai. Jangan buang-buang waktu untuk berbuat kebajikan. Dekatkan diri kalian kepada Sang Pencipta! Hindarkan perbuatan tercela dan terkutuk! Berikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan sebelum segalanya terlambat. Pada tahun keempat belas, prahara itu benar-benar telah menanti kalian! Berdamailah kalian dengan Pandawa!” Nasihat Prof. Durna agaknya membuat Kurawa kecewa. Mereka bergegas meninggalkan Prof. Durna tanpa pamit.

Sementara itu, di tempat yang lain, dalam perjalanan menuju sebuah vila, Sanjaya, asisten pribadi Destarastra, menangkap selimut kabut di wajah majikannya. Iseng-iseng ia bertanya, “Bapak, adakah sesuatu yang membuat hati Bapak galau hingga tampak murung seperti ini?”

“Hem … memang benar, Sanjaya. Aku sedih melihat permusuhan antara anak-anakku dan para keponakanku, Pandawa! Aku tak tega menyaksikan Pandawa dinistakan dan dilukai hatinya!”

“Saya juga berpikir demikian, Bapak. Saya ingat kata orang bijak. Orang yang menanam pasti bakal memetik hasilnya. Saya justru kasihan nanti melihat nasib putra-putra Bapak. Maaf, saya tidak tahu, azab apa yang akan menimpanya kelak. Namun, yang pasti, azab itu pasti akan datang. Penghinaan dan pelecehan terhadap Non Drupadi, putri kesayangan Tuan Drupada, penguasa Pancala, sama saja membuka lubang kehancuran terhadap nasib putra-putra Bapak.”

“Hem … sungguh, aku sendiri tidak mengerti, Sanjaya, kenapa aku bisa ikut-ikutan terseret ke jalan kenistaan anak-anakku yang gila harta dan kekuasaan? Kenapa juga aku gagal menghentikan nafsu bejat anak-anakku sendiri? Hem …”

Usai berkata demikian, pikiran Destarastra menerawang entah ke mana. Dalam layar memorinya, tiba-tiba muncul bayangan Widura yang selalu mengingatkannya akan sebuah bencana besar yang akan menimpa keturunan bangsa Kuru akibat kebencian Kurawa terhadap Pandawa. Widura selalu mengingatkan dirinya terhadap kesalahan-kesalahan besar yang telah dilakukan Duryudana. Bahkan, menipu Pandawa dengan cara-cara licik dan biadab melalui permainan judi. Selain Prof. Durna yang harus ikut bertanggung jawab untuk menghentikan perilaku culas yang telah dilakukan para Kurawa, menurut Widura, Destarastra sebagai orang tua memiliki kewajiban utama untuk “menjewer” para Kurawa atas perbuatan-perbuatan busuknya terhadap Pandawa. Widura juga menyarankan agar para Pandawa dipanggil kembali ke Hastinapura dan dibebaskan dari hutan pengasingan.

“Semua itu menjadi kewajiban Mas Destarastra sebagai orang tua. Jangan sampai keponakan-keponakanku terus terlibat dalam perilaku dendam dan kebencian yang tidak berkesudahan,” kata Widura pada suatu sore yang gerah.

Semula Destarastra memang menyimak dan mengiyakan kata-kata Widura. Namun, lama-lama bosan juga mendengarkan khotbah-khotbah Widura yang klise dan terus diulang-ulang, hingga akhirnya kesabarannya benar-benar berada di titik nol.

“Widura, diam! Nada bicaramu selalu saja memihak Pandawa. Tak sejengkal pun ada kebaikan di pihak anak-anakku! Kamu memang menjengkelkan! Sekarang tinggal pilih, mau tetap berada di Hastinapura atau mengasingkan diri di hutan bersama Pandawamu itu!”

Begitulah, akhirnya Widura lebih memilih hidup bersama Pandawa di hutan pengasingan yang wingit dan misterius. Meski jauh dari sentuhan kemewahan hidup, Widura justru menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun, tidak demikian halnya dengan Destarastra. Sepeninggal Widura, hatinya semakin cemas dan galau. Ia menyesal telah mengusir Widura yang arif dan bijak, bahkan kini telah bergabung bersama Pandawa. Oleh karena itu, di tengah beban kegalauan yang terus menggelayuti batinnya, ia meminta Sanjaya, asisten pribadinya, untuk menjemput Widura agar kembali ke Hastinapura. Dengan siasat diplomasi tingkat tinggi, Sanjaya berhasil meyakinkan Widura, hingga akhirnya mau kembali ke istana Hastinapura.

***

Pada sebuah siang yang panas, Mahaguru Matriya yang dikenal dengan hasil terawangannya yang jitu dan futuristik, bertandang ke istana Hastinapura. Destarastra menyambutnya dengan ramah dan takzim.

“Selamat datang di Hastinapura Mahaguru Matriya. Aku yakin, Mahaguru pasti telah bertemu dengan keponakan-keponakanku, Pandawa, yang aku sayangi di hutan Kurujanggala. Bagaimana kabar mereka? Semoga tetap sehat dan senantiasa berada dalam lindungan Yang Mahakuasa,” sambut Destarastra sembari mengeriyapkan bola matanya yang gelap.

“Yah, kebetulan aku bertemu dengan Yudistira di hutan Kamiyaka. Para pengamat, cendekiawan, tokoh LSM, dan tokoh-tokoh lintas-agama rupanya datang silih berganti menemui dia. Dari sana aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di Hastinapura. Aku betul-betul terkejut dan menyayangkan mengapa peristiwa pahit itu mesti terjadi dan terkesan ada proses pembiaran oleh penguasa Hastinapura, termasuk oleh Mahaguru Bisma yang ada di sini,” sahut Mahaguru Matriya dengan vokal yang lantang dan tertata. Destarastra terkejut. Ia tak menduga kalau mahaguru yang sangat dihormatinya itu akan melontarkan kata-kata pedas yang menohok ulu hatinya. Namun, ia terus mencoba menahan gejolak amarah yang hendak menjebol gendang batinnya.

Tak lama kemudian, Mahaguru Matriya menemui Duryudana. Dengan tenang, ia menasihati Duryudana agar berdamai dengan Pandawa.

Destrarastra

Duryudana

“Ketahuilah Duryudana, selain karena Pandawa makin hebat lantaran mendapat gemblengan para cendekiawan dan tokoh-tokoh spiritual, Drupada dan Kresna ada di belakang mereka. Oleh karena itu, berdamailah dengan mereka. Kalian tak akan sanggup menghadapi mereka,” kata Mahaguru Matriya. Namun, nasihat itu justru ditafsirkan sebagai penghinaan kepada pihak Kurawa. Dengan sikap arogan, Duryudana menentang keras upaya perdamaian itu. Dia tertawa sembari menepuk-nepuk pahanya dan meludah dengan congkak. Ia tidak meresponnya dan segera berkelebat pergi dari ruangan.

Mahaguru Matriya berang. Sikap Duryudana benar-benar telah mengusik kredibilitasnya sebagai seorang mahaguru yang amat disegani.

“Duryudana, camkan kata-kataku! Kesombonganmu dengan cara menepuk paha dan meludah sembarangan untuk melecehkan orang akan membunuh dirimu sendiri. Ingatlah, pahamu yang kamu tepuk itu kelak akan terbelah menjadi dua oleh keperkasaan Bima! Kamu sendiri akan tewas mengenaskan dalam pertempuran,” kutuk Mahaguru Matriya dengan amarah yang memuncak.

Destarastra kembali tersentak. Mendengar kutukan Mahaguru Matriya itu, ia bergegas mendekatinya, lantas menghiba memintakan maaf atas perilaku Duryudana. Namun, kutukan telanjur meluncur dari mulut Mahaguru Matriya. Kutukan itu hanya bisa dihentikan jika Kurawa mau berdamai dengan Pandawa.

Destarastra makin tak sanggup mengendalikan gelombang kegelisahan yang membombardir jiwa dan batinnya. Ia tak bisa membayangkan kalau kutukan itu benar-benar terjadi. Ia tak ingin putranya, Duryudana, tewas mengenaskan di medan pertempuran. Meskipun demikian, ia juga tidak mudah meluluhkan hati anak tercintanya itu agar mau berdamai dengan Pandawa. Tiba-tiba saja, Destarastra merasakan kabut tebal bergantung di atas istana Hastinapura. Pada usia senjanya, ia bukannya merasakan kebahagiaan hidup sebagai mantan penguasa yang disegani, melainkan justru terus dibebani ulah culas anak-anaknya yang haus harta dan kekuasaan. (Tancep kayon). ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Ketika Destarastra Didera Kegalauan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (6 September 2013 @ 15:01) pada kategori Wayang. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 14 komentar dalam “Ketika Destarastra Didera Kegalauan

  1. Pingback: Ebon Talifarro

  2. Terima kasih gan atas informasinya, sudah beberapa hari ini saya mencari informasi ini, ini sungguh sangat membantu saya . mulai sekarang saya akan bookmark blog ini agar saya bisa kembali dan melihat informasi yang terbaru.
    mungkin agan atau pengunjung blog agan juga membutuh kan infomasi dari saya, silahkan liat artilek saya yang sangat Mohon kunjungi website kami
    http://www.168sdbet.com
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *