Home » Wayang » Bimasena: Antara Keperkasaan dan Kelembutan Hati

Bimasena: Antara Keperkasaan dan Kelembutan Hati

Catatan Sawali Tuhusetya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Penduduk Ekacakra resah. Mereka hidup dalam tekanan dan ketakutan. Maut mengintai dari berbagai sudut kampung dan kota. Bau teror dan kekerasan seperti kentut paling busuk. Menusuk tajam, tapi tak jelas siapa pelakunya. Koran, tabloid, majalah, radio, dan televisi sarat dengan berita bersimbah darah dan kekerasan. Bahkan, setiap detik berbagai situs di internet dan jejaring sosial tak luput ambil bagian. Postingan dan status dinding penuh darah berleleran.

Namun, sehebat-hebatnya orang menyimpan kebusukan, akhirnya terbongkar juga. Biang keresahan penduduk itu pun sudah berhasil terendus jejaknya berkat kerja keras para spion dan intel yang brilian. Namanya Bakasura. Manusia paling rakus dan serakah yang otaknya hanya dijejali nafsu. Ia tak pernah puas memanjakan isi perutnya. Kerjanya hanya makan dan tidur. Jika perutnya lapar, makanan jenis apa pun bisa masuk lewat lubang mulutnya yang lebar menganga. Air liurnya terus menyembur-nyembur. Sudah tak terhitung jumlah restoran dan kafe yang jadi korban keserakahannya. Jika belum puas, dia memaksa orang-orang di sekelilingnya untuk menjadi lauk-pauk. Juga sudah tak terhitung orang yang ketiban sial menjadi korban kerakusan Bakasura. Baginya, darah manusia seperti adonan kecap dan saus yang paling lezat. Sedangkan, tulang dan daging manusia seperti ramuan sate paling nikmat buatan koki terhebat di dunia. Itulah sebabnya, Bakasura kian kecanduan menyantap daging manusia.

Kegilaan Bakasura membuat dunia kuliner di Ekacakra gulung tikar. Tak satu pun bos berkantung tebal yang sanggup mengembangkan usaha kuliner. Kehadiran Bakasura benar-benar menjadi malapetaka buat pengusaha boga dan mereka yang sudah terbiasa memanjakan perut. Situasi seperti ini membuat amarah Bakasura meledak. Dia mengamuk membabi buta. Rumah-rumah penduduk menjadi sasaran. Dalam sekejap, ratusan rumah rata dengan tanah. Penghuninya raib. Konon telah masuk ke dalam perangkap lubang perut manusia kanibal itu. Sudah ratusan penduduk dilaporkan hilang tak jelas jejaknya.

Yang menyedihkan, aparat keamanan tak berdaya menghadapi kebiadaban Bakasura. Alih-alih menangkapnya hidup-hidup, menghabisi nyawa Bakasura dengan model keroyokan pun gagal dilakukan. Bahkan, ulah si Bakasura kian menjadi-jadi. Situasi keamanan Ekacakra benar-benar tak terkendali. Keresahan penduduk Ekacakra benar-benar berada pada stadium yang mencemaskan.

Keamanan Ekacakra agak terkendali setelah terjadi penandatanganan memorandum antara Bakasura dan penguasa Ekacakra. Dalam memorandum itu disepakati, Bakasura tidak akan berbuat onar apabila penduduk secara bergiliran bersedia menyediakan makanan paling lezat dan mempersembahkan satu orang untuk dijadikan sebagai lauknya setiap akhir pekan. Namun, kebijakan penguasa mendapatkan perlawanan masif dan bergelombong dari berbagai kelompok massa. Mereka menilai penguasa lebih mementingkan kepentingan Bakasura ketimbang rakyat.

“Sudah demikian biadabkah penguasa negeri ini hingga mau mengorbankan rakyatnya sendiri untuk kepentingan Bakasura yang kejam dan kanibal itu! Apa pun alasannya, kita harus menentang kebijakan bengis ini!” teriak salah seorang pendemo di sebuah bundaran hotel Ekacakra yang ramai disambung teriakan dan yel-yel gegap-gempita. Massa mengangkat umbul-umbul dan berbagai spanduk yang mengecam kebijakan penguasa yang dianggap lalim dan biadab. Hampir setengah bulan demo masif itu berlangsung. Namun, agaknya sudah tak sanggup lagi memengaruhi sikap penguasa. Setiap demo berlangsung, aparat bersenjata lengkap siap bertindak cekatan. Jika perlu, tembak di tempat terhadap pendemo yang dianggap membahayakan dan memicu kericuhan. Walhasil, di bawah tekanan aparat keamanan yang tak henti-hentinya bertindak di luar batas, secara bergilir penduduk Ekacakra harus menuruti semua keinginan Bakasura, termasuk mengorbankan salah satu anggota keluarganya.

Situasi mencemaskan semacam itu membuat Dewi Kunti prihatin. Sudah hampir sebulan dia dan kelima anaknya menjadi bagian dari masyarakat Ekacakra setelah lolos dari jebakan maut dan selamat dari prahara di Pesanggrahan Waranawata. Dia bisa merasakan derita hidup penduduk Ekacakra yang berada dalam tekanan dan ketakutan. Tiba-tiba saja, air matanya jebol di pelupuk matanya yang sayu. Dadanya sesak.

Sebagai keluarga bangsa Kuru yang besar, Dewi Kunti dan kelima anaknya seharusnya bisa hidup nyaman dan nikmat di istana yang megah. Para putra Pandu, anak-anaknya itulah yang seharusnya menjadi pewaris sah tahta Hastinapura, bukan para Kurawa, putra Destarastra. Namun, agaknya para Kurawa yang serakah itu yang dengan berbagai cara berusaha menyingkirkan dirinya dan anak-anaknya dari istana, sehingga mereka bisa melenggang naik tahta tanpa penghalang. Meski demikian, Dewi Kunti tak ingin anak-anaknya memiliki rasa dendam dan kebencian terhadap para Kurawa. Bahkan, di tengah penderitaan yang dialaminya, dia terus membesarkan hati anak-anaknya dan menempa kesabaran melalui pengalaman hidup yang ditimba langsung dari alam. Derita hidup yang harus dia alami bersama anak-anaknya, bahkan harus menyamar sebagai pengemis di Ekacakra, dianggap sebagai bagian dari garis hidup dan takdir yang mesti dijalani sebagai bagian dari kehendak Sang Pencipta.

Suatu malam, Dewi Kunti tak sanggup membendung keharuan yang merayap ke dalam genderang hatinya ketika mendengarkan isak tangis keluarga Brahmana miskin yang selama ini telah berbaik hati menerima kehadirannya dan anak-anaknya. Kepekaan nuraninya yang lembut tak sanggup menyaksikan nasib hidup keluarga yang baik hati itu jika harus menjadi santapan Bakasura. Kabarnya, besok pagi, keluarga brahmana itu yang mendapatkan giliran untuk menyerahkan makanan dan satu tumbal keluarganya. Dewi Kunti mendesah. Dia tak sanggup membayangkan jika peristiwa tragis itu benar-benar terjadi, padahal dia sendiri merasakan keresahan yang mencekam di tengah keluarga brahmana itu.

Atas kesepakatan dengan anak-anaknya, Dewi Kunti meminta Bimasena, putra keduanya yang perkasa itu, untuk melawan kebiadaban Bakasura.

“Ibu yakin, kamu bisa menghadapi kekejaman Bakasura itu, anakku!” kata Dewi Kunti lembut. Yudistira, Arjuna, Nakula, dan Sadewa saling berpandangan. Ada perasaan cemas yang bergelayut dalam lorong batinnya. Mereka khawatir, Bimasena tak sanggup menghadapi Bakasura yang dikenal kejam dan bengis. Berbeda dengan Bima. Dia justru tersenyum. Tak sedikit pun kecemasan terpancar di wajahnya yang keras.

“Pasti, Bu! Akan kucincang tubuh Bakasura dengan kuku Pancanaka yang tajam ini! Kebetulan sekali, sudah lama saya tidak berkelahi!” sahut Bima dengan dengan gigi gemeletuk.

“Ibu doakan, semoga kamu berhasil, anakku! Bukan hanya untuk keluarga brahmana ini, tapi juga untuk semua penduduk Ekacakra!” sambung Dewi Kunti.

“Tapi, kamu harus tetap hati-hati dan waspada menghadapinya, adikku!” seloroh Yudistira.

Secara diam-diam, malam itu juga Dewi Kunti menyelinap menemui keluarga sang brahmana. Mereka tersentak. Tak menduga kalau Dewi Kunti mau mengorbankan anaknya demi menyelamatkan keluarga mereka dari kekejaman Bakasura. Penguasa Ekacakra pun dibuat takluk, lebih-lebih Bima yang hanya anak seorang pengemis.

“Bukan mengorbankan, Bapak, tapi justru menyelamatkan. Doakan saja, semoga Bima berhasil menaklukkan Bakasura!” kata Dewi Kunti penuh harap.

“Jadi merepotkan Ibu! Ibu dan anak-anak di sini itu tamu yang harus kami muliakan! Tapi kok malah mau berkorban sedemikian besarnya buat keluarga kami!” jawab sang brahmana dengan suara bergetar.

“Sekali lagi, bukan mengorbankan, tapi menyelamatkan, Bapak. Bukan hanya untuk keluarga Bapak, tapi juga semua penduduk Ekacakra!” sahut Dewi Kunti.

“Baiklah, Ibu. Kami sekeluarga mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kesediaan Nak Bima menyelamatkan kami dan penduduk Ekacakra. Semoga berhasil!”

Keesokan paginya, ketika matahari sepenggalah, Bima bergegas menuju kediaman Bakasura. Tapi aneh, sepikul makanan yang dia bawa bukan diserahkan kepada Bakasura, melainkan dimakan sendiri dengan lahapnya, tepat di teras rumah Bakasura yang megah. Sisanya dibiarkan berserakan di pelataran rumah. Bakasura jelas murka. Seumur-umur belum pernah seorang penduduk pun yang berani bersikap demikian di depan matanya. Bakasura menggeram. Rumahnya serasa bergetar. Namun, Bima tetap cuek dan makan dengan lahapnya.

Merasa tidak digubris, amarah Bakasura makin memuncak. Namun, Bima tetap lahap menyantap makanan hingga perutnya kenyang. Kekuatannya pun jadi berlipat ganda. Dengan langkah bergedebam, Bakasura melemparkan benda sekenanya ke tubuh Bima. Namun, kini Bima tak tinggal diam. Tubuhnya meliuk, berkelit, dan menghindari serangan Bakasura. Terjadi perkelahian sengit. Suara ribut dan bergemuruh seperti hendak menggoyang bumi Ekacakra. Dengan mengandalkan kekuatannya, Bakasura terus berupaya menjatuhkan Bima sambil terus menggeram. Suaranya yang besar dan berat menggetarkan seantero Ekacakra. Namun, Bima tak kalah cerdik. Konon, orang yang marah dalam keadaan perut lapar gampang lengah dan kehilangan kewaspadaan. Dengan mudah, Bima berhasil menghindari semua serangan Bakasura. Sebaliknya, Bakasura makin sempoyongan menghadapi serangan beruntun dari putra penegak Pandawa itu. Tinju, bantingan, dan tendangan mautnya tepat mengenai sasaran. Dengan gerakan lincah dan indah, Bima segera melolos kuku pancanakanya, lantas dengan tepat menghunjamkannya ke perut Bakasura.

Bakasura menjerit dahsyat. Tapi hanya sekali. Setelah itu, tubuhnya terhuyung dan terkapar mencium tanah. Mati! Melihat Bakasura tak berdaya, Bima segera kabur. Dia tak ingin jejaknya diketahui penduduk Ekacakra.

Penduduk Ekacakra yang penasaran ketika mendengarkan suara ribut dan gemuruh berbondong-bondong menuju tempat kejadian. Mulut mereka hanya bisa melongo ketika menyaksikan kediaman Bakasura porak-poranda dan tubuh raksasa itu terkapar bersimbah darah dengan usus terburai.

“Hore! Bakasura mampus!” teriak seorang penduduk, lantas disambung kegaduhan yang sempurna. Para penduduk kian berjubel. Bola mata mereka membelalak. Tak ada seorang pun yang bisa menebak siapa yang telah menghabisi nyawa raksasa yang lalim dan kanibal itu.

“Siapa yang membunuhnya?” tanya seorang penduduk.

“Tidak tahu!” sahut yang lain. Geleng-geleng kepala. *** (tancep kayon)

tentang blog iniTulisan berjudul "Bimasena: Antara Keperkasaan dan Kelembutan Hati" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (24 Mei 2011 @ 15:21) pada kategori Wayang. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 24 komentar dalam “Bimasena: Antara Keperkasaan dan Kelembutan Hati

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *