Home | Budaya, Refleksi | Ramadhan, Korupsi, dan Kearifan Budaya

Ramadhan, Korupsi, dan Kearifan Budaya

Thursday, 20 August 2009 (18:40) | 1,144 pembaca | 125 komentar | Print this Article

selamat berpuasaRamadhan dalam dimensi kehidupan sejatinya tak hanya mampu membangun pribadi muttaqin sebagai manifestasi sikap seorang hamba kepada Sang Khalik, tetapi juga mampu menumbuhkembangkan kepekaan sosial terhadap sesama. Dalam aktivitas berpuasa selama Ramadhan, kita digembleng untuk bisa berempati terhadap nasib kaum dhua’afa yang terus dihimpit ketakberdayaan akibat beratnya persoalan hidup yang mesti ditanggungnya. Ibarat kawah candradimuka, Ramadhan bisa menjadi media yang tepat untuk membakar kecongkakan dan keangkuhan, hingga akhirnya menjadi pribadi yang rendah hati dan tidak kemaruk terhadap harta benda. Dengan kata lain, puasa di bulan Ramadhan tak hanya mampu membangun kesalehan secara personal, tetapi juga mampu menaburkan benih-benih kesalehan secara sosial.

Andai saja nilai-nilai keluhuran budi yang terpancar melalui aktivitas berpuasa ini bisa diterapkan dalam tataran praksis kehidupan, bukan tidak mungkin korupsi yang nyata-nyata telah membuat negeri ini bangkrut bisa diperangi, hingga akhirnya menjadi bangsa yang gemah ripah loh jinawi sebagaimana yang terilustrasikan dalam narasi dan kisah-kisah masa silam. Sungguh disayangkan, puasa di bulan Ramadhan agaknya telah berubah menjadi rutinitas ritual belaka yang dinilai telah kehilangan “roh” dan semangat religius. Puasa jalan terus, tetapi maksiat korupsi juga makin merajalela.

Puasa di bulan Ramadhan juga membawa pesan-pesan moral dan religi agar kita terus melakukan ikhtiar lahiriah dan batiniah untuk membangun kembali nilai-nilai kearifan budaya yang selama ini telah menguap akibat keasyikan kita memanjakan nafsu untuk berkuasa dan larut dalam pesona gebyar kemewahan. Kita lupa bahwa di negeri ini masih ada jutaan rakyat yang dicekik kemiskinan dan kelaparan. Kita juga gampang lupa terhadap petuah-petuah keagamaan yang terus menggema dari balik mimbar-mimbar khotbah yang rutin kita dengarkan. Kita juga gampang silau oleh gaya hidup konsumtif dan hedonistis, sehingga tega menilap harta negara yang jelas-jelas bukan miliknya.

Semoga pesan dan nilai-nilai kearifan budaya yang tersembunyi di balik puasa Ramadhan tahun ini sanggup membrangus akar-akar nafsu keduniaan yang menjalar dalam nurani dan batin kita. Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin. ***

Kategori: Budaya, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgTenggelamnya Gebyar Agustus-an di Balik Kesyahduan Ramadhan (Sunday, 15 August 2010, 446 pembaca, 71 respon) Saya merasakan gebyar Agustus-an tahun ini tenggelam di balik kesyahduan Ramadhan. Hampir tak ada grengseng Agustus-an yang meruyak di ruang-ruang publik. Spanduk, slogan, atau papan reklame (nyaris) tak bersentuhan dengan HUT ke-65 kemerdekaan RI itu....
imgPerubahan Gaya Hidup di Bulan Ramadhan (Friday, 13 August 2010, 530 pembaca, 66 respon) Konon, puasa di bulan Ramadhan merupakan manifestasi ibadah yang memiliki dimensi personal dan sosial. Dari dimensi personal, hanya kita yang bisa berkata dengan jujur kepada Sang Khalik tentang perilaku “religius” yang tengah kita jalankan....
imgMenemukan Nilai Kesejatian Diri di Bulan Ramadhan (Tuesday, 10 August 2010, 878 pembaca, 90 respon) Bulan Ramadhan sejatinya bisa dijadikan sebagai momentum untuk menemukan nilai kesejatian diri sebagai manusia yang serba-dhaif. Puasa mengajarkan kita untuk memiliki kepekaan terhadap nasib sesama; membakar sikap amarah, kesombongan, serakah, atau...
imgRamadhan, Kemerdekaan, dan Kesalehan Sosial (Sunday, 1 August 2010, 1,386 pembaca, 141 respon) Menyaksikan Indonesia tak ubahnya menonton sebuah repertoar tragis di atas panggung teater. Sarat konflik dan (nyaris) tanpa ending. Untuk sebuah lakon teater, pertunjukan seperti itu bisa jadi memiliki “magnet” dan daya tarik yang memikat buat...
imgDari Siskamling hingga Pak Susno (Sunday, 30 May 2010, 356 pembaca, 53 respon) Malam ini, Kang Sukri kena giliran ronda. Bersama Lik Sukadi dan Kang Sandimin, dia –sesuai kesepakatan dalam rapat RT— harus mengambili jimpitan dan berjaga-jaga hingga lepas dini hari. Bagi Kang Sukri, ronda Siskamling bukanlah pekerjaan berat....
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Ramadhan, Korupsi, dan Kearifan Budaya" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Thursday, 20 August 2009 (18:40)) pada kategori Budaya, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

125 Responses to "Ramadhan, Korupsi, dan Kearifan Budaya"

  1. Irawan says:
    Menggunakan Firefox 3.5.9 Firefox 3.5.9 pada Windows XP Windows XP

    Saatnya introspeksi diri…
    Baca juga tulisan terbaru Irawan berjudul Jadwal Piala Dunia Afrika Selatan 2010 versi WIB dan versi FIFAMy ComLuv Profile

  2. Menggunakan Firefox 3.0.11 Firefox 3.0.11 pada Windows XP Windows XP

    Selamat Menunaikan Ibadah Puasa..Semoga Amal Ibadah Kita Diterima Allah SWT..

  3. racheedus says:
    Menggunakan Opera Mini 4.1.11355 Opera Mini 4.1.11355 pada J2ME/MIDP Device J2ME/MIDP Device

    Tampaknya, puasa kebanyakan kita hanya berhenti pada tataran fisik, hanya menghasilkan lapar dan dahaga. Belum sampai pada tataran psikis dan moral sehingga bisa mengendalikan tuntutan duniawi, termasuk korupsi itu.

  4. Menggunakan Firefox 3.5.2 Firefox 3.5.2 pada Windows XP Windows XP

    @gajah_pesing,
    selamat menunaikan ibadag pouasa juga, mas fay, btw, bukankah tahun hijrahnya sudah mencapai tahun ke-1430, mas fay, hehe …

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (198 queries: 0.795 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP