Mudik dan Tahun Baru 2013

Kategori Budaya Oleh
Budaya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Selama hampir sepekan ini, saya, isteri, dan si bungsu mudik. Si sulung dan anak kedua tidak bisa ikut karena tak ada “jatah” libur kuliah. Lega rasanya bisa berbaur di tengah-tengah keluarga besar yang guyup. Akrab dan sarat dengan sentuhan nilai kekeluargaan dan persaudaraan. Mudik menjelang pergantian tahun yang memang sengaja kami lakukan ini bukan semata-mata ingin terbebas dari sekapan rutinitas keseharian, melainkan juga lantaran kami sekeluarga sudah amat lama merindukan suasana kampung di tengah-tengah keluarga besar. Apalagi, saat itu kakak saya sedang punya hajat menikahkan putra sulungnya. Momen seperti ini biasanya bisa menjadi ajang silaturahmi yang sangat bagus karena (hampir) semua saudara dan sanak-kerabat berkumpul bersama.

tahun baruAgaknya gaung pergantian tahun sama sekali tak terdengar di kampung tempat kami mudik. Bisa jadi lantaran saudara-saudara kami yang selama ini tinggal di pedesaan tak pernah mengenal “tradisi” menyambut tahun baru. Sungguh kontras dengan masyarakat kota yang selalu ingar-bingar menyambutnya. Ketika tulisan ini saya tulis – dan itu artinya kami sekeluarga sudah pulang ke rumah—telinga saya baru saja menangkap suara berondongan petasan bersambung-sambungan tepat pukul 00.00 WIB entah di mana. Sementara itu, dari pesawat TV terdengar suara rancak para artis penyanyi top yang sengaja diundang untuk menyambut Tahun Baru 2013.

Ya, ya, kota dan desa agaknya memang memiliki sejarahnya sendiri. Sebagian besar masyarakat desa, khususnya desa tempat saya dilahirkan, beranggapan bahwa malam pergantian tahun tak ada bedanya dengan malam-malam biasanya. Sunyi dan nyaris tanpa dinamika. Sungguh berbeda dengan masyarakat kota yang selalu punya tradisi menyambut tahun baru dengan berbagai cara dan agenda. Meski demikian, tak perlu ditafsirkan bahwa postingan ini merupakan bagian dari “tradisi” menyambut tahun baru karena memang belum punya bahan lain untuk diposting, hehe ….

Selamat Tahun Baru 2013, semoga mendatangkan banyak berkah dan keberuntungan yang serba tak terduga. Khusus buat sahabat-sahabat blogger, semoga tahun baru memberikan “suntikan” semangat untuk mengibarkan “bendera” blog setinggi-tingginya. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

39 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Budaya

Pilpres, Mudik, dan Lebaran

Oleh: Sawali Tuhusetya Suasana Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Go to Top