Home | Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi | Ulah Satpol PP dan Potret Buram Angkatan Gagap

Ulah Satpol PP dan Potret Buram Angkatan Gagap

Friday, 22 May 2009 (03:47) | 961 pembaca | 131 komentar | Print this Article

satpol ppEntah sudah berapa kali Satpol PP berulah. Kalau kita memasukkan kata kunci “ulah satpol PP” di search engine, dengan mudah kita dapat menyelusuri jejak-jejak Satuan Polisi Pamong Praja yang seharusnya sanggup memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum itu. Namun, pada praktiknya justru menjadi satuan “predator” yang menghancurkan masyarakat ekonomi lemah. Dengan dalih penertiban, mereka menaburkan arogansi yang bersembunyi di balik kebijakan atasan dengan sewenang-wenang. Terakhir, seorang bocah berusia 4,5 tahun, terpaksa harus menemui ajal. Bocah tak berdosa itu tak sanggup lagi menahan panasnya tumpahan kuah bakso yang meluncur dari gerobak dorong orang tuanya yang tengah diburu dan dikejar-kejar oleh para “predator”.

Apakah fenomena semacam ini merupakan potret buram Angkatan Gagap sebagaimana yang pernah diungkap oleh WS Rendra dalam kutipan liriknya berikut ini?

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum

Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja?

inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.
………………….
(“Sajak Anak Muda” karya W.S. Rendra dalam Potret Pembangunan dalam Puisi)

Kita tak bermaksud mendramatisir persoalan ini. Kita juga tak hendak memperpanjang kasus yang kini sudah ditangani aparat yang berwenang itu. Namun, sejujurnya, kasus yang memalukan seperti itu bukan kali yang pertama. Penggusuran, pembakaran hunian gubug-gubug liar, kekerasan yang menimpa warga urban, atau ulah tak manusiawi yang menimpa para penyandang masalah sosial, sudah menjadi pemandangan yang rutin terjadi. Haruskah kejadian-kejadian tragis semacam itu terus berulang dan menjadi siklus budaya yang harus terjadi ketika jargon-jargon dan bendera pembangunan dikibarkan tinggi-tinggi oleh penguasa?

Sungguh, kita juga tak habis mengerti kebijakan penguasa yang harus repot-repot membentuk Satpol PP kalau pada kenyataannya justru menciptakan monster-monster ganas yang akan menghabisi sesamanya. Bisa jadi, awalnya memang bertujuan baik, yakni untuk menciptakan ketertiban dan ketenteraman sebuah kawasan. Namun, siapa dapat menjamin kalau sosok-sosok berseragam yang pongah dengan pentungan yang selalu siap di tangan itu mampu mengawal dan mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan?

Dalam konteks demikian, mau atau tidak, kita mesti mengamini suasana tragis yang digambarkan Rendra dalam lirik yang dibuat pada 23 Juni 1977 itu. //Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan/Bukan pertukaran pikiran//Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan/dan bukan ilmu latihan menguraikan//

Ketika teks puisi tersebut dicipta, mungkin Rendra juga tak pernah berpikir kalau pada akhirnya ada sosok makhluk bernama “Satpol PP”. Melalui kepekaan intuitifnya, Rendra hanya berupaya mengekspresikan geliat batin dan perasaannya yang gelisah menyaksikan arah dunia pendidikan yang dinilai mulai menyimpang dari “khittah”-nya. Lembaga pendidikan bukan lagi menjadi tempat yang nyaman untuk menyemaikan nilai-nilai luhur baku, melainkan hanya melahirkan manusia-manusia patuh yang hanya taat pada komando. Para murid hanya menjadi mesin penghafal dan (nyaris) tak pernah memiliki kesempatan untuk mengembangkan daya nalar.

Keluaran pendidikan yang “bebal” semacam itu diperparah dengan kultur birokrasi feodal yang secara setreotipe memosisikan manusia dalam aras kawula-gusti. Kawula (bawahan) harus senantiasa patuh dan tunduk kepada sabda gusti (atasan), tanpa argumen. Implikasi sosialnya ternyata amat parah. Sikap patuh dan tunduk kepada atasan dilampiaskan dalam bentuk kebringasan dan luapan emosi berlebihan. Akibatnya bisa ditebak. Masyarakat ekonomi lemah yang amat rendah posisi tawarnya menjadi sasaran kebiadaban mereka.

Kalau memang sudah tak bisa berfungsi secara efektif dan pekerjaannya hanya melakukan intimidasi dan kekerasan terhadap rakyat, lebih baik bubarkan saja Satpol PP itu! Kecuali, kalau sang pemberi komando siap memberikan jaminan untuk mundur dari jabatan dan siap bertanggung jawab apabila anak buahnya mengumbar kebiadaban di ruang-ruang publik. ***

Kategori: Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,573 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Ulah Satpol PP dan Potret Buram Angkatan Gagap" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Friday, 22 May 2009 (03:47)) pada kategori Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

131 Responses to "Ulah Satpol PP dan Potret Buram Angkatan Gagap"

  1. Foto Unik says:
    Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    Galang dukungan BUBARKAN SATPOL PP

    GERAKAN SEJUTA FACEBOOKERS BUBARKAN SATPOL PP
    http://www.facebook.com/group.php?gid=117819414900653

    Peristiwa bentrokan Koja Berdarah sudah cukup bagi kita semua.

    Salam Sahabat
    Baca juga tulisan terbaru Foto Unik berjudul "Gerakan Sejuta Facebookers Bubarkan Satpol PP" My ComLuv Profile

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (204 queries: 1.153 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP