Home » Opini » Kecerdasan Paripurna Menggapai Kesejatian Diri

Kecerdasan Paripurna Menggapai Kesejatian Diri

Daniel Goleman berhasil mengubah opini dunia. “Mitos” Intelektual Quotient (IQ) yang berabad-abad lamanya konon “dipuja” banyak orang lantaran dianggap sebagai penentu kesuksesan hidup, kini seakan-akan telah “runtuh”. Lewat tesisnya yang menggemparkan, Emotional Intelligence (EI) (dialihbahasakan oleh T. Hermaya, Gramedia Pustaka Utama: 1996), Goleman berhasil meyakinkan publik dunia bahwa EI justru memiliki peran yang jauh lebih penting ketimbang IQ.

Temuan Goleman ini, tampaknya mengilhami para pemikir dari berbagai belahan dunia untuk mengkaji ulang apa makna kecerdasan yang sesungguhnya. Di Indonesia, misalnya, Ary Ginanjar Agustian tampil lewat konsep ESQ (Emotional Spiritual Quotient)-nya. Menurut dia, ESQ merupakan konsep universal yang mampu mengantarkan seseorang pada “predikat yang memuaskan” bagi dirinya sendiri dan orang lain. ESQ pula yang dapat menghambat segala hal yang kontraproduktif terhadap kemajuan umat manusia.

syekh Kini, ada pula konsep Kecerdasan Milyuner yang mengungkap tentang pentingnya mengembangkan kecerdasan Sepia (Spiritual, Emosional, Power, Intelektual, dan Aspirasi) secara seimbang sebagai “way of life” dalam upaya mewujudkan kebahagiaan hidup secara utuh dan “paripurna”. Konon, para milyuner memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang baik. Mereka adalah orang-orang yang tangguh, ulet, sabar, mampu mengendalikan diri, bermasyarakat dengan baik, memiliki keluarga harmonis, dan berbagai hal lain yang membuktikan bahwa mereka memiliki kecerdasan emosional (EI) yang baik. Selain itu, mereka juga meyakini Tuhan sebagai sumber pemberi rizki sehingga kebanyakan dari mereka menyumbangkan penghasilan 10 persen atau lebih dari pendapatan kotor. Hal ini menunjukkan bahwa mereka juga memiliki tingkat kecerdasan Spiritual (SQ) yang baik.

Konon pula, para milyuner ternyata memiliki lebih dari sekadar IQ-EQ-SQ. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa para milyuner tidak hanya memiliki kecerdasan Intelektual, Emosional, dan Spiritual semata, tetapi juga memiliki dua kecerdasan yang lain, yakni kecerdasan Aspirasi (memiliki mimpi besar, tujuan yang jelas, teguh memegang impian) dan kecerdasan Power (mampu memanfaatkan kekuatan yang ada dalam dirinya maupun di sekelilingnya). Ini artinya, untuk meraih sukses hidup dibutuhkan pengembangan kecerdasan Sepia secara seimbang dan “paripurna”.

Dalam buku SEPIA: Kecerdasan Milyuner, Warisan yang Mencerahkan Keturunan Anda (Khairul Ummah, Dimitri Mahayana, Agus Nggermanto, September 2003), misalnya, dijelaskan bahwa Kecerdasan Sepia pada hakikatnya merupakan refleksi dari karakter (Aspirasi, Spiritual, Emosional) dan kompetensi (Intelektual, Power) manusia. Hubungan kelima kecerdasan tersebut dilambangkan dengan ikon Matahari Sepia. Di tengah bulatan matahari adalah keseimbangan karakter dan kompetensi yang dilambangkan dengan C-C (Character-Competence) dalam bentuk lingkaran Yin-Yang. Menurut penulis buku tersebut, kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia untuk memberi makna atas apa yang ia alami dan jalani. SQ bukan sekadar agama (religi). Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh; bermakna di hadapan Tuhan. Wujud dari SQ adalah sikap moral yang dipandang luhur oleh sang pelaku., misalnya selalu beryukur atas karunia Tuhan, kemurahan hati yang tulus, kerendah-hatian untuk tidak cepat menilai terhadap sesuatu, atau berupaya mencari makna hidup.

Kecerdasan emosi (EI) merupakan kemampuan mendeteksi dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain. Sebagai tips bagi mereka yang ingin meningkatkan kecerdasan emosi, penulis memberikan kerangka kerja 4 P, yakni Peka, Peduli, Positif, dan Partisipatif. Pada bab ini juga dibeberkan tentang pentingnya kecerdasan ketangguhan — Adversity Quotient yang pernah diperkenalkan oleh Paul Stoltz – yaitu kemampuan seseorang untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hidup.

Power Intelligence (PI)? Hemm, PI sering ditafsirkan sebagai kemampuan mengelola semua potensi kekuatan, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan. Kemampuan yang utama ialah mengenali seluruh potensi dan menggunakannya untuk meraih tujuan. Dalam segala zaman, PI memegang peran yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan. Pengelolaan kekuatan muncul dalam bentuk strategi, penciptaan peraturan, pemaksaan, negosiasi, intrik, persekutuan, pengelolaan informasi, energi, material, serta kekuatan binatang dan alam. Semakin mampu seorang manusia memanfaatkan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, semakin efisien dan efektif ia dalam mencapai tujuan. Erat kaitannya dengan PI adalah kecerdasan finansial (kecerdasan dalam mengelola masalah uang dan kekayaan) dan kecerdasan politik (kecerdasan mengambil keputusan yang tepat untuk mencapai tujuan).

Tentang Kecerdasan Intelektual (IQ)? Istilah yang lebih dahulu lahir ini sering dipahami sebagai kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan belajar dan penciptaan. Orang yang cerdas mampu belajar dengan cepat dan mampu menciptakan sesuatu. IQ merupakan elemen yang sangat penting dari kompetensi manusia. Dengan pengelolaan yang baik atas bakat-bakat penciptaan yang dikaruniakan Tuhan, manusia dapat mewujudkan kebudayaannya.

Masih ada satu kecerdasan lagi, yakni Aspiration Intelligence (AI). AI merupakan kecerdasan manusia dalam mengenali dan mengelola keinginannya, sehingga mampu menjadi sumber daya gerak yang hebat. Orang-orang besar yang berhasil mendaki sampai puncak kontribusi, yang telah berhasil melewati berbagai rintangan adalah mereka yang tetap teguh dengan aspirasinya – Paul Stoltz menyebutnya sebagai Climber. Para Climber ini memiliki kecerdasan emosi yang hebat dan kesetiaan untuk tetap membela mimpi-mimpinya (kecerdasan aspirasi).

Agar sanggup menggapai kesejatian diri agaknya diperlukan kemampuan untuk mengelola kecerdasan Sepia secara simbang dan “paripurna”. Keseimbangan menjadi hal yang paling penting dalam kehidupan modern. Kehilangan salah satu elemen Yin-Yang ini akan menyebabkan bencana kegagalan. Ibarat mobil yang berjalan dengan mesin yang sangat kuat, berlari dengan kencang, tapi tiba-tiba sadar bahwa remnya blong, sehingga tidak dapat menghentikan laju mobil. Pedal gas tanpa pedal rem pastilah sebuah kekonyolan!

Berkaitan dengan konsep tersebut, bagaimana pendapat Sampeyan kalau ada seorang milyarder yang ingin mengawini gadis di bawah umur sebagaimana yang dilakukan seorang Syeikh yang menghebohkan itu? Apakah sang Syekh juga telah menerapkan konsep kecerdasan Sepia? Pernah dengar beritanya, kan? Kalau belum, silakan ketikkan kata kunci ”syekh puji” pada search engine, pasti Sampeyan akan ditunjukkan berita-betita heboh tentang ”sensasi” yang dibuat oleh pengusaha yang bergerak di bidang kaligrafi dari kuningan di bawah PT Sinar Lendoh Terang itu. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Kecerdasan Paripurna Menggapai Kesejatian Diri" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 November 2008 @ 09:18) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 113 komentar dalam “Kecerdasan Paripurna Menggapai Kesejatian Diri

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *