Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan

Tuesday, 14 October 2008 (22:04) | 932 pembaca | 119 komentar | Print this Article

PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

***

kpKita pasti masih sangat hafal dan fasih dengan ikrar Sumpah Pemuda semacam itu. Jelas bukan persoalan yang mudah untuk merumuskan sebuah teks yang sanggup mengakomodasi aspirasi semua golongan ketika situasi masih sangat kental dengan warna lokal dan atribut-atribut lain yang berporos pada hal-hal yang bersifat kedaerahan. Namun, agaknya warna lokal dan berbagai atribut primordialisme semacam itu berhasil ditepis oleh para pendahulu negeri ini. Pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 yang diprakarsai oleh PPPI (Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia), para peserta kongres yang terdiri dari wakil organisasi Pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, atau PPI, berhasil merumuskan sebuah tekad untuk menyatukan sikap nasionalisme yang mengakui tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu, yakni Indonesia.

sptDari sisi historis, memori kita juga tidak bisa menepis sebuah opini bahwa pada setiap zaman dan peradaban, kaum muda selalu tampil sebagai agen dan aktor perubahan. Secara kolektif, kaum muda bisa menjadi sebuah ikon pembaharu yang sanggup memberikan pengaruh dan imbas dahsyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini sangat beralasan, sebab dukungan fisik, semangat, dan talenta idealisme, sangat kuat tercitrakan pada sosok kaum muda. Momentum reformasi 1998 hingga berhasil menggeser rezim Orde Baru dari singgasana kekuasaannya pun tak luput dari peran kaum muda yang dipelopori oleh barisan mahasiswa kita.

Meskipun demikian, kita juga harus jujur mengakui bahwa dinamika kaum muda saat ini tidak selalu bergerak pada ranah pemikiran dan aksi yang cerdas dan mencerahkan. Tidak sedikit kaum muda yang gampang terjebak melakukan tindakan anomali sosial demi memanjakan nafsu dan ambisi sekelompok orang yang dengan amat sadar memanfaatkan potensi dan talenta mereka. Dalam pandangan awam saya, demo-demo anarkhis dan vandalistis yang ditandai dengan aksi perusakan fasilitas publik, bukanlah semata-mata inisiatif murni kaum muda yang ingin melakukan sebuah perubahan, melainkan diduga telah disetir dan digerakkan oleh kelompok tertentu yang paham betul tentang potensi gerakan kaum muda sebagai generasi pendobrak. Kelompok tertentu inilah yang dianggap dengan amat sadar melakukan gerakan-gerakan terselubung dengan memanfaatkan kaum muda sebagai tameng untuk menciptakan situasi keruh dan tidak menentu dalam upaya menggapai puncak ambisi dalam ranah kekuasaan.

Saya juga tidak tahu apakah analisis “bodoh” semacam itu memiliki tingkat relevansi kebenaran yang sesuai dengan realitas yang sesungguhnya atau tidak? Saya bukan pengamat sosial-politik, juga bukan intel yang memiliki data valid tentang gerakan-gerakan kaum muda yang dengan gampang disetir oleh kelompok-kelompok tertentu. Saya hanya menggunakan logika dan analisis amatiran yang saya kaitkan dengan realitas sejarah kaum muda pada masa masa pra-kemerdekaan yang demikian elegan dan ksatria sehingga sanggup menanggalkan kepentingan dan pamrih-pamrih sempit dalam situasi terjajah yang sangat tidak menguntungkan.

Saya juga hanya bermimpi negeri ini memiliki kaum muda yang sanggup menjadi aktor perubahan; sosok yang memiliki kecerdasan dalam berpikir, memiliki kedewasaan dan kearifan dalam bertindak, serta sanggup melepaskan ikatan-ikatan primordial sempit sehingga mampu memberikan pencerahan sosial di tengah-tengah publik. Kaum muda juga selalu menjadikan “sejarah sebagai guru kehidupan”; mampu mengejawantahkan makna “historia magistra vitae” dalam merumuskan langkah hari ini dan masa depan negerinya. Saya yakin, bahkan haqqul yakin, bahwa sosok kaum muda yang memiliki karakter semacam itu masih ada di negeri ini. Hanya saja mereka belum bisa tampil secara kloletif menjadi sebuah kekuatan prima yang sanggup melakukan perubahan.

Sungguh, kaum muda yang gampang terkena provokasi sehingga terjebak melakukan tindakan anarkhis dan vandalistis yang sangat tidak menguntungkan bagi publik, sejatinya telah menodai citra kaum muda sebagai aktor perubahan itu sendiri. Meski demikian, saya juga optimis bahwa suatu ketika kaum muda negeri ini bisa bangkit merapatkan barisan untuk melakukan “reinkarnasi” secara kolektif mengejawantahkan semangat para pendahulunya dalam upaya melakukan sebuah perubahan yang cerdas dan mencerahkan bagi kehidupan bangsa dan negerinya. Semoga mimpi dan optimisme itu bisa terwujud! ***

Share and Enjoy:

  • Digg
  • del.icio.us
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • MySpace
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Tumblr
  • Facebook

Tulisan Terkait:

119 komentar terhadap “Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan”

  1. Diah | Tuesday, 14 October 2008 @ 22:13

    Mudah2-han bisa segera terwujud ,saya juga kangen dengan pemuda yang dengan semangat yang tinggi dan cerdas untuk membangun ibu pertiwi yang semakin lama semakin menderita ..:(

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:07):

    amiin, semoga demikian, mbak diah.

    Reply

  2. cK | Tuesday, 14 October 2008 @ 23:38

    tadi siang para pemuda alias mahasiswa malah tawuran… [-(

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:08):

    nah itu, dia mbak chika, gimana mereka sanggup jadi aktor perubahan?

    Reply

  3. SJ | Tuesday, 14 October 2008 @ 23:44

    paling tidak mengubah dirinya sendiri. dengan harapan orang lain bakal tertular. kejemuan itu menular, untungnya demikian pula dengan harapan. :-?

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:08):

    betul juga, mas jenang. btw, kok langsung dikaitkan dengan kejemuan, mas, napa?

    Reply

  4. f474r | Tuesday, 14 October 2008 @ 23:45

    Semoga :) >-

    Baca juga tulisan terbaru f474r berjudul Who Do You Host With? Are You Happy?

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:09):

    amiiin.

    Reply

  5. Ersis Warmansyah Abbas | Wednesday, 15 October 2008 @ 00:11

    Saya pegang alinea terakhir Pak … hidup kaum muda Indonesia

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:10):

    bravo pemuda indonesia! semangath!

    Reply

  6. Gunawan Rudy | Wednesday, 15 October 2008 @ 00:23

    Saya jadi ingat salah satu wawancara terakhir Pramoedya Ananta Toer.

    HAPPY SALMA: Anda sepertinya punya harapan besar terhadap generasi muda?

    PRAMOEDYA: Betul. Soalnya sejarah Indonesia itu sejarahnya angkatan muda. Jangan lupa itu! Sejak tahun belasan, di negeri Belanda, menjalar ke Indonesia. Puncaknya di Sumpah Pemuda. Itu titik tolak jadinya negara kita. Saya anjurkan yang punya perhatian pada sejarah, susunlah sejarah Sumpah Pemuda sampai jadi buku wajib. Sejarah Indonesia, praktis nggak karuan diajarkannya. Saya percaya, sejarah Indonesia itu sejarah angkatan muda. Angkatan tua itu jadi beban.

    Harusnya mereka-mereka yang hebat dalam ‘main fisik’ itu malu jika mendengar rasa percaya dan optimisme Pram kepada mereka.

    …atau malah Pram yang malu? :P

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:11):

    sebuah lecutan buat kaum muda, mas gun, semoga ucapan pram sanggup dibuktikan oleh kaum muda kita.

    Reply

  7. genthokelir | Wednesday, 15 October 2008 @ 00:43

    pak Sawali saya juga masih muda ( pemuda ) heheheh kalo Pak sawali masih pemuda nggak….?
    tapi mudah mudahan bukan yang terjebak anomali sosial hehehe

    Baca juga tulisan terbaru genthokelir berjudul Jangan Memalukan Yang Melahirkan

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:11):

    umur saya sekarang sudah draw 4, mas totok, gimana?

    Reply

    genthokelir (October 20th, 2008 @ 14:41):

    saya masih 30 han dan seleranya masih 20 an hahahahhahahahahahhhhh:d

    Baca juga tulisan terbaru genthokelir berjudul Antara Uang dan Kredibilitas

    Reply

  8. thimbu | Wednesday, 15 October 2008 @ 01:46

    saya sepakat dengan paragraf terakhir, pak…namun untuk dapat merapatkan barisan saya rasa perlu adanya “musuh bersama” yang dijadikan isu sentral oleh kaum muda.

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:13):

    “musuh bersama” itu sbenarnya sudah ada di depan mata, mas thimbu, korupsi, kemiskinan, dan keterbelakangan.

    Reply

  9. BLogicThink [dot] com | Wednesday, 15 October 2008 @ 03:00

    kaum muda….
    ketika kaum muda mengambil alih kepemimpinan, dan terjebak pada resiko terburuk misalnya mereka juga sama busuknya gampang dipotongnya.
    Beda sama kaum tua, yang udah jelas busuk aja masih mau maju. motongnya susah, ada keluarga lah, ada bawahan yang terkait lah, malah orang2 penting juga terkait. makanya kalo orang tua yang busuk biasanya dicari orang lain untuk ditumbalin. Tapi keluarga orang yang ditumbalin itu dijamin hidupnya.
    :d walau kaum muda punya kelemahan, saya tetap dukung. Harus berani berubah… mereka generasi maghribi ’sunset generation’ mundur aja. Pak dukung anak2 muda ya :d
    kalo jahat dijitak aja pak…
    kayaknya, lebih dari sekedar romantisme, kita memang patut mempercayakan nasib ini kepada kaum muda :-?

    Baca juga tulisan terbaru BLogicThink [dot] com berjudul Happy Resign to ME !!!

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:14):

    saya selalu bangga dan mendukung anak2 muda yang kreatif dan inovatif, mas satria.

    Reply

  10. Juliach | Wednesday, 15 October 2008 @ 03:43

    Wahai kaum muda Indonesia: berpikir dan bertindaklah lebih dewasa. Jangan mudah diadu domba!
    Majukan bangsa dan negaramu!

    Hidup Indonesia!

    Baca juga tulisan terbaru Juliach berjudul Bantulah Anak Mandiri Sedini Mungkin

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:16):

    hidup indonesia, hidup pemuda indonesia!

    Reply

  11. aRuL | Wednesday, 15 October 2008 @ 04:19

    ada harapan besar dari pemuda, ada juga keinginan yang kuat dari kaum tua..
    sungguh sinergitas yang luar biasa ketika terjadi kesatupaduan antar keduanya…
    semoga kita masing2 memahami makna sumpah pemuda ini :)

    Baca juga tulisan terbaru aRuL berjudul Thalassemia dan Jodoh

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:17):

    memang perlu sinergi antara kaum muda dan kaum tua, mas arul, agar tak terjadi gejolak, apalagi revolusi!

    Reply

  12. mantan kyai | Wednesday, 15 October 2008 @ 05:09

    saya cuman pengen pak sawali tau kalo saya ini masih muda :D Hidup kaum muda!!!!

    Baca juga tulisan terbaru mantan kyai berjudul Dendam Derita Sakri

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 05:18):

    walah, perasaan saya belum pernah menyapa mas ardy menjadi mbah ardy, loh, kekeke ….

    Reply

  13. Syamsuddin Ideris | Wednesday, 15 October 2008 @ 05:50

    Sepertinya Sumpah Pemuda harus lebih disosialisasikan ke kalangan anak muda saat ini. Misalkan antara mahasiswa UKI dan AAI yang kemarin baru saja tawuran, heleh..sama kampus tetangga saja nggak bisa akur. Apa kata dunia? Mungkin ini termasuk tugas para guru agar lebih menanamkan rasa persatuan kepada anak didiknya.

    Baca juga tulisan terbaru Syamsuddin Ideris berjudul Empat Bulan Tanpa Makan

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 09:27):

    nah itulah, pak syam, yang sering jadi persoalan. bagaimana mungkin bisa menjadi aktor perubahan kalau mereka suka tawuran, haks?

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  14. Tony | Wednesday, 15 October 2008 @ 07:14

    walau masih 2 minggu tapi met hari sumpah pemuda :)

    Baca juga tulisan terbaru Tony berjudul Tips PayPerPost

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 09:28):

    bravo pemuda indonesia!

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  15. Sumintar | Wednesday, 15 October 2008 @ 07:14

    Setuju butuh kemauan, kesadaran dan cara dan teknik baru agar para pemuda bisa seperti dulu, perlu pemimpin yang patriotik tapi tetap bisa menyesuakan jaman yang sudah berubah.

    Baca juga tulisan terbaru Sumintar berjudul Peran Blogger Mandiri Dalam Menggerakkan Sektor Riil

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 09:31):

    sepakat banget, pak sumintar. memang sudah saatnya kaum muda tampil, tidak lagi suka tawuran.

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  16. darnia | Wednesday, 15 October 2008 @ 07:50

    saya bukannya sok baik dengan “tidak turut campur urusan orang” hanya tetep pada prinsip semula… jika ingin membuat perubahan, berubahlah terlebih dahulu.
    Bisa dibilang saat ini pemuda banyak dicap sebagai biang kerusuhan dan identik dengan “gampang naik-darah”, padahal banyak juga lho.. yang mencoba membuat perubahan dengan cara non-anarkis. Tapi ya itu tadi.. orang lebih gampang menilai keburukan namun selalu menganggap hal yang baik adalah hal yang wajar-wajar saja :)

    Tapi sudahlah… keep the dogs and bark yourself :p

    Baca juga tulisan terbaru darnia berjudul A New Humanism Tragedy

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 09:33):

    hehehe …. sebagai motor dan aktor perubahan dengan sendirinya, kaum muda harus punya tekad yang kuat untuk melakukan sebuah perubahan, mbak dar. sungguh disayangkan kalau potensi muda mereka justru sering digunakan utk melakukan aksi2 yang kurang bermanfaat.

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  17. edratna | Wednesday, 15 October 2008 @ 08:54

    Saya masih percaya pada generasi muda…dan para blogger kalau kita cermati sebagian besar usianya masih sangat muda…jadi bagaimana pak Sawali (juga masih muda lho), jika para blogger muda ini menggerakkan perubahan ke arah positif, mengembangkan tulisan yang bisa mengajak kaum muda untuk bergerak maju ke arah perbaikan….?

    Baca juga tulisan terbaru edratna berjudul Cewek panggilan?

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 11:50):

    setuju banget, bu. kalau bisa berdaya dan mandiri, bloger yang masih muda pun bisa melakukan perubahan. btw, usia saya sudah kepala 4 loh, bu, masih terbilang muda juga, yak, hehehe ….

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  18. Daniel Mahendra | Wednesday, 15 October 2008 @ 09:00

    Sampai dengan hari ini aku masih tetap percaya: yang dapat melakukan perubahan adalah angkatan muda. Kalau angkatan muda tak dapat melakukannya, masih ada angkatan yang lebih muda lagi. Kalau angkatan yang lebih muda lagi pun tidak dapat melakukannya, masih ada angkatan yang jauh lebih muda lagi.

    Mereka-mereka yang ada dalam sistem, yang mulutnya belepotan uang korupsi, yang tangannya bercucuran darah pembantaian, out saja!

    Mesti ada yang berani memutus rantai kebobrokan ini. Tapi siapa? Tidak ada lain: angkatan muda!

    Tapi tak jarang: masih begitu banyak orang-orang tua yang hati, pikiran, serta semangatnya yang justru jauh lebih muda dari angkatan muda itu sendiri.

    Kalau angkatan muda tak dapat melakukan perubahan sebagai angkatan muda, undur diri saja dari barisan perubahan. Duduk manja nonton TV!

    Tabik, Pak Sawali. Maaf aku kerap keras dalam konteks seperti ini.

    Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Kompas 9 Oktober

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 11:56):

    wah, baru kali ini saya membaca pernyataan mas daniel yang begitu keras, jadi tambah salut nih. intinya saya sepakat banget kalau kaum muda harus tampil sebagai kekuatan pendobrak. sudah saatnya meraka mengambil tongkat istafet dari generasi tua yang selama ini dinilai telah gagal memberikan kesejahteraan dan keadilan buat rakyat. salut dan angkat topi saya buat mas daniel. ^:)^

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  19. Epat | Wednesday, 15 October 2008 @ 09:08

    meriahnya bangunan kapitalisme di negeri ini semakin memanjakan gairah kaum muda, melupakan nilai-nilai idealisme bahkan memberantas nasionalisme. harus disegerakan perbaikannya.

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 11:57):

    mudah2an saja tak sampai telanjur basah, pak aryo, haks, seperti lagu ndangdut aja.

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 11:59):

    maaf mas epat, kok pak aryo, sih, hehehe …. salah ketik.

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  20. Edi Psw | Wednesday, 15 October 2008 @ 10:02

    Saya merasa prihatin dengan kaum muda yang sempat tawuran di Jakarta kemarin. Padahal mereka nantinya juga akan menjadi aktor perubahan. Kalau kekuatan fisik yang mereka jadikan sebagai modal utama, bagaimana dengan nasib bangsa kita kelak?

    Baca juga tulisan terbaru Edi Psw berjudul PDAM Alih Fungsi

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 12:00):

    itulah yang menjadi keprihatinan kita, pak edy, semoga saja tak sampai berlarut-larut.

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  21. Achmad Sholeh | Wednesday, 15 October 2008 @ 10:22

    Saya termasuk salah satu yang masih yakin bahwa kaum mudalah yang akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik untuk negeri kita ini

    Baca juga tulisan terbaru Achmad Sholeh berjudul Lebih Bijak Memandang Kaum Militan

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 12:16):

    saya juga termasuk orang yang optimis, pak, asalkan ada kekuatan yang sanggup menggerakan mereka untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  22. laporan | Wednesday, 15 October 2008 @ 10:38

    Jaman telah berubah Pak Sawali, ketika dulu di jaman revolusi pemuda memiliki spirit yang berkobar-kobar untuk melawan penjajah baik secara fisik dengan bergerilya, maupun secara intelektual seperti Soekarno muda. Begitu pula dengan mahasiswa saat reformasi 1998. Namun sekarang konteknya lebih pada perjuangan ekonomi, pendidikan, kreatifitas dsb.

    Yang sangat disayangkan adalah jika bukan mendobrak untuk kemajuan tetapi mendobrak kaca, merusak tempak ibadah, anarki dan vandalisme.

    Baca juga tulisan terbaru laporan berjudul Well, Come to Reality

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 12:04):

    betul pak aryo, sitasui telah berubah, tapi sesungguhnya idealisme kaum muda tak bisa dimatikan, sungguh disayangkan kalau talenta mereka terpenggal di tengah jalan akibat ulahnya sendiri.

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  23. Rindu | Wednesday, 15 October 2008 @ 10:50

    Kalo makna pemudi bagi pemuda kira kira ditinjau dari sisi pemuda itu apa yah?

    *komen gak fokus*

    Baca juga tulisan terbaru Rindu berjudul Saya dan Embun …

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 12:12):

    walah, pertanyaan mbak rindu selalu menggoda, haks, agak sulit saya menjawabnya karena saya yakin mbak rindu sudah berhasil menemukan jawaban yang lebih top, hehehehe ….

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  24. zoel | Wednesday, 15 October 2008 @ 11:26

    :) nasinalisme mungkin itu yang kurang dari pemuda saat ini, termasuk saya kaliii :d

    Baca juga tulisan terbaru zoel berjudul Hoax – Jangan Terlalu Yakin dech

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 12:14):

    walah, mas zoel sukanya kok merendah, haks. memang banyak yang menengarai seperti itu, mas zoel, semoga tak sampai membuat kaum muda kita kehilangan nasionalisme sama sekali.

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  25. mikekono | Wednesday, 15 October 2008 @ 11:32

    kaum muda (mahasiswa) kini kehilangan
    jatidirinya sbg agen of social change
    karena tak punya musuh bersama (public enemy),
    sprt di era 20-an, 40-an, 70-an, 80-an
    dan terakhir thn 1998, kaum muda kompak
    menurunkan rezim Soeharto
    karena tak punya isu sentral yang jelas,
    gerakan mahasiswa srng menjd bias
    btw, tepat usulan mas Sawali soal perlunya
    redefinisi makna dan peran pemuda di masa kini
    :) >-:)>-:)>-

    Baca juga tulisan terbaru mikekono berjudul Kehilangan Kekasih Boleh, Asal….

    Reply

    sawali tuhusetya (October 15th, 2008 @ 12:18):

    sebenarnya da juga sih, mas agus, problem bangsa yang seharusnya menjadi public enemy kaum muda kita, terutama korupsi, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. sayangnya visi kaum muda kita kurang visioner dan lebih fokus pada hal2 yang bersifat pragmatis.

    Baca juga tulisan terbaru sawali tuhusetya berjudul Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender

    Reply

  26. Moh Arif Widarto | Wednesday, 15 October 2008 @ 14:01

    Mari kita kaum muda bergerak untuk bangsa dan negara kita. Bergerak untuk Indonesia Raya!

    Kaum muda tidak boleh hanya berpangku tangan atau menjadi penonton melainkan harus cancut tali wondho menjadi pemain.

    Insya’ Allah, dapat kursi atau tidak, saya sudah memulai. Saya tidak ingin berpangku tangan melihat anggota DPR yang ditangkapi KPK atau berbuat asusila. Oleh karena itu, saya bergerak menjadi pemain, mendaftar sebagai caleg DPR RI untuk menggantikan mereka yang korup dan asusila itu.

    Tentu saja, dukungan Sampeyan semua sangat saya harapkan.

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 18:36):

    saya mendukung dan terus mens-support mudah2an cita2 itu terwujud, mas arif. semoga makin bayak bloger muda yang terjun ke politik praktis utk memperjuangkan nasib rakyat yang selama ini terabaikan.

    Reply

  27. Abi Bakar | Wednesday, 15 October 2008 @ 14:19

    Hi mas Sawali salam kenal:D, benar sekali mas biasanya generasi muda sering skali di manfaatkan oleh politikus untuk kepentingannya sendiri, dikarenakan potensi mereka.

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 18:38):

    salam kenal juga,m mas abi bakar, yaps, mudah2an kaum muda kita menyadarinya.

    Reply

  28. masarif | Wednesday, 15 October 2008 @ 14:24

    saat pundak kaum muda di bebani tanggung jawab berupa sebuah harapan untuk menjadi mainstream perubahan terjadi penghianatan oleh pihak ‘tua’ Mereka menyetir pemuda, mengendalikan, mengadu domba, membenturkan dengan sebuah kenyataan bahwa negeri ini ternyata sangat nyaman untuk adanya kekacauan. Kalau perubahan adalah dinamika, maka Perubahan itu sudah dan sedang terjadi. Kearah mana dinamika bergerak? Ah pasti kesitu lagi! Karena tidak puas lagi! Kemiskinan lagi! Kebutuhan perut lagi! Ketidak adilan lagi! Lo.. kok ujung-ujungnya kesana lagi.. Goverment! Yess, our goverment! Leadership!

    (maaf berceracau P Sawali :) )

    Baca juga tulisan terbaru masarif berjudul Script Gratis, Membuat free Image Hosting

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 18:49):

    semoga saja ada sinergi antara kaum tua dan kaum muda sehingga regenerasi dan suksesi kepemimpinan di negeri ini berlangsung baik dan lancar.

    Reply

  29. herianto | Wednesday, 15 October 2008 @ 15:40

    Pemuda sekarang memang harus lebih banyak lagi mengikuti kegiatan2 yang lebih positif dan produktif agar tidak terjebak pada obat2an yg terlarang apalagi beragam aktivitas yang cuma menjanjikan kesenangan sementara saja.
    Kemampuan dan pentingnya bekerjasama (kerja kolektif) juga harus selalu ditanamkan kepada generasi muda kita agar tidak terayu pada gaya individualistis, lagi pula kebiasaan bersama-sama akan membuat pertahanan diri kita lebih baik.

    Salam Pemuda pak Sawali.
    (Sama2 pemuda berkepala 4 kita nih :) )

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 18:51):

    setuju banget, pak heri, semoga saja kaum muda kita tampil kreatif dan selalu memiliki orientasi utk membangun masa depan bagsa dan negerinya, jangan sampai menjadi penghamba pil setan, haks. salam pemuda kepala 4 juga, pak, hehehe ….

    Reply

  30. EEng | Wednesday, 15 October 2008 @ 17:17

    bangsa ini bangkit pertama kali oleh para pemuda, dan saat ini pun pemuda masih menjadi generasi yang paling dibutuhkan.
    semoga saya termasuk pemuda yang berguna bagi bangsa. hehe..

    Baca juga tulisan terbaru EEng berjudul Yang Aneh Google Atau Blog Ini Ya?

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 18:53):

    idealisme yang bagus, mas gareng, saya percaya harapan itu bisa mas gareng wujudkan.

    Reply

  31. andirich | Wednesday, 15 October 2008 @ 17:20

    Kalau saya melihat pemuda kita sekarang ini sudah kebanyakan ngurusin moralnya orang lain dari pada memperbaiki moralnya sendiri.

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 19:16):

    mudah2an saja kaum muda kita tak hanya melulu menjadi kekuatan kontrol moral bagi orang lain, tapi juga mampu mengontrol dirinya sendiri, mas andi.

    Reply

  32. TengkuPuteh | Wednesday, 15 October 2008 @ 17:47

    setuju dengan bang Sawaly…
    sedikit saya tambahkan
    mari kita menjadi generasi yang muda, yang berguna…

    Baca juga tulisan terbaru TengkuPuteh berjudul SANG TIRAN

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 19:22):

    sepakat banget, mas tengku, mudah2an harapan itu bisa terwujud.

    Reply

  33. gajah_pesing | Wednesday, 15 October 2008 @ 19:10

    numpang nanya… poto saia kok tidak ada disitu pak..?

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 19:25):

    hehehehe …. mas vay harusnya minta dilahirkan pada awal abad 20, hehehe …. biar fotonya bisa ikut nampang bersama para tokoh pergerakan, haks.

    Reply

  34. marshmallow | Wednesday, 15 October 2008 @ 20:23

    tua maupun muda sebenarnya berkesempatan membawa perubahan. tapi karena kelebihan-kelebihan seperti yang pak sawali sebutkan, maka orang muda dianggap lebih berpotensi.
    tapi lagi-lagi terkendala masalah kolektivitas, belum tentu semua berpikiran sama.
    terpulang lagi ke peribahasa: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh ya, pak?
    suara sekecil apa pun kalau didengungkan bersama-sama bakal terdengar lantang juga akhirnya; termasuk juga tindakan.

    Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Nonton Bareng Warga Kampung Blagu

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 21:51):

    saya sepakat dengan mbak yulfi. akan lebih bagus lagi jika antara angkatan tua dan muda bisa saling berinergi. perubahannya mungkin bisa akan lebih bagus dan akomodatif.

    Reply

  35. badoer | Wednesday, 15 October 2008 @ 21:14

    ayo sebagai pemuda indonesia yang baik, kalau cara saya cukup bagi backlink buat kontestan SEO asal indonesia agar kita menang lagi :D

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 22:21):

    hahahaha … untuk teman2 bloger sepertinya cara itu bisa juga, mas badoer. semoga sukses para bloger muda indonesia dalam kontes seo!

    Reply

  36. aziz | Wednesday, 15 October 2008 @ 22:21

    saya selalu terbayang kata-kata ‘pemuda sekarang, pemimpin di masa depan’

    mau atau tidak, nantinya para pemuda yang menanggung beban berat dalam menjalankan segala sistem yang ada. kadang saya sendiri ragu, apa bisa seperti itu? lha sekarang pemuda aja banyak yang mati karena narkoba, makin rusak karena miras, atau yang malah rusak moralnya…. kalau hanya sekedar kemauan, tanpa kemampuan, semua juga bisa, tapi nantinya yang bisa hanya yang berkemauan juga berkemampuan…. usul juga buat yang udah ’senior’, jangan lagi tinggalkan kesengsaraan di masa yang akan datang hanya dami membuat kalian senang saat ini….

    Baca juga tulisan terbaru aziz berjudul SAYA MENUJU KETENARAN

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 15th, 2008 @ 22:27):

    wah, pandangan yang bagus nih, mas azis. yang penting dimulai dari diri sendiri. jika setiap pemuda berpandangan seperti mas azis, saya yakin masa depasn negeri ini akan lebih bagus.

    Reply

  37. icha | Wednesday, 15 October 2008 @ 23:37

    (a) yang muda yang menjadi lokomotif bangsa
    (b) yang muda yang pengen main sinetron

    pilihlah sendiri karyamu, wahai pemuda…

    Baca juga tulisan terbaru icha berjudul Cinta dalam Temaram Lampu Ublik

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 01:43):

    hehehe … semua menjadi milik kaum muda dong, mbak icha, kalau begitu, hanya tinggal soal pilihan.

    Reply

  38. hanggadamai | Thursday, 16 October 2008 @ 00:51

    dinamika kaum muda saat ini tidak selalu bergerak pada ranah pemikiran dan aksi yang cerdas dan mencerahkan

    semoga diriku tdk termasuk ke dalamnya… amienn :)

    Baca juga tulisan terbaru hanggadamai berjudul Ketika Kekayaan Menjadi Keharusan…

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 01:44):

    saya malah haqqul yakin, kalau mashangga tak termasuk dalam kelompok kaum muda yang di-quote itu.

    Reply

  39. gus | Thursday, 16 October 2008 @ 04:04

    orang muda selalu seperti pedang bermata ganda. bisa menjadi agen perubahan atau agen perusakan sekaligus…

    Baca juga tulisan terbaru gus berjudul Selamat Ulang Tahun ya, Mba Eeda…

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 08:58):

    yaps, betul banget, gus, karena memang memiliki potensi dan talenta yang besar utk melakukan perubahan. semoga saja mereka bisa menjadi agen perubahan ke arah yang baik.

    Reply

  40. omoshiroi_ | Thursday, 16 October 2008 @ 04:04

    kalo dilihat dari sejarah negara kita, memang para pemuda memegang peran yang cukup besar dalam setiap perubahan yang terjadi. mungkin para pemuda pembawa perubahan itu masing bersembunyi saat ini mas..

    Baca juga tulisan terbaru omoshiroi_ berjudul Mata-Mata

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 08:59):

    semoga saja kaum muda pembawa perubahan itu segera muncul dari persembunyiannya, hehehe …

    Reply

  41. albri | Thursday, 16 October 2008 @ 04:48

    :) Hidup pemuda indonesia……..

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 08:59):

    bravo!

    Reply

  42. Andy MSE | Thursday, 16 October 2008 @ 07:50

    Ada baiknya tulisan ini diperbanyak dan disebarluaskan ke Salemba…
    Saya prihatin, -dan gemez- dengar berita mahasiswa tawuran… Jan ra mutu bangets…

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 09:01):

    itulah yang membuat kita tak habis mengerti, mas andy. kenapa potensi yang mereka miliki malah dilampiaskan utk melakukan aksi yang tidak ada manfaatnya.

    Reply

  43. qizink | Thursday, 16 October 2008 @ 08:36

    Saya yakin, mahasiswa yang tawuran hanya segelintir dari ‘oknum mahasiswa’ (nyontek istilah orba. Pasti di setiap jaman ada mahasiswa atau pemuda yang bergerak untuk melakukan perubahan di garis terdepan. Namun sayang, media lebih suka mengekspose hal negatif dibandingkan gerakan-gerakan perubahan ke arah positif.

    Baca juga tulisan terbaru qizink berjudul Kematian dan Kehidupan

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 09:03):

    saya juga optimis kaum muda kita masih banyak yang smart dan kreatif, mas qizink. kalau mereka secara kolektif menyatukan visi utk melakukan sebuah perubahan, mereka pasti dapat melakukannya, bukan menyia-nyiakan talenta utk aksi yang sia2.

    Reply

  44. ontria | Thursday, 16 October 2008 @ 09:18

    yang saya heran kok pada suka berantem sama saudara setanah air sendiri ya??:((

    Baca juga tulisan terbaru ontria berjudul Blog Adalah Gaya Hidup

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 11:24):

    nah itu dia persoalannya, mas ontria. kaum muda yang seharusnya jadi aktor perubahan, justru malah berantem. repots!

    Reply

  45. okta sihotang | Thursday, 16 October 2008 @ 09:27

    mas sawali emang INDONESIA BANGET neh ;)
    *saloet

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 11:25):

    walah, istilah kok indonesia banget, haks, maksudnya apa mas okta?

    Reply

  46. bangpay | Thursday, 16 October 2008 @ 09:34

    sialnya –atau untungnya, banyak pemuda yang merasa tua, banyak yang tua merasa masih pemuda, banyak pemuda yang gak mau jadi bagian dari para pemuda, banyak pemuda yang keburu lelah dan memutuskan pensiun dari kepemudaan, ada ya…

    ah embuh….

    (ada pemuda yang dikit-dikit ngomong “ah embuh…”)

    Baca juga tulisan terbaru bangpay berjudul Anjangsana Anjangsini

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 11:26):

    hehehe … ternyata pemuda pun memiliki karakter yang berbeda-beda, ya, bangpay, hiks.

    Reply

  47. wahyu bmw | Thursday, 16 October 2008 @ 10:31

    Kembali lagi ke “kepedulian”. Orang tua sangat pegang kendali untuk mempoles anak-anaknya yang nota bene merupakan pemuda harapan bangsa. Orang tua jangan cuma mencekoki anaknya dengan kebutuhan duniawi saja, begitu anak2(pemuda) pada bubrah ortu baru merasakan kegerahan. Lingkungan seperti sekolah sampai ke lingkup RT pun turut andil dalam penciptaan generasi. Bukankah anak mau jadi apa tergantung yang mempolesnya …..

    Baca juga tulisan terbaru wahyu bmw berjudul HAI … AKU DAPAT FITRAH …

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 11:27):

    sepakat banget, mas wahyu, semua komponen bangsa juga perlu memiliki kepadulian untuk meciptakan kaum muda yang cerdas, baik dari sisi intelektual, sosial, emosional, maupun spiritualnya.

    Reply

  48. ershad | Thursday, 16 October 2008 @ 11:41

    jangan sampai hanya karena egosentris kedaerahan dan agama memecah belah bangsa ini !

    Baca juga tulisan terbaru ershad berjudul Menonaktifkan Post Revisions Tracking

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 11:46):

    sepakat banget, mas ershad, semoga tak ada lagi konflik di negeri ini, lebih2 yang berbau sara.

    Reply

  49. Nenyok | Thursday, 16 October 2008 @ 19:52

    Salam
    Duh malah sebaliknya Pakde ya, para calon kaum intelektulaitas itu malah bergaya primitif. :-?

    Baca juga tulisan terbaru Nenyok berjudul Ruwaybidhah

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 21:17):

    nah itu dia mbak ney, kenaoa mereka yang seharusnya menjadi motor perubahan justru malah berbuat yang tak terpuji.

    Reply

  50. lovepassword | Thursday, 16 October 2008 @ 21:31

    Yah gimana yah ? namanya juga anak muda. Mereka penuh semangat sehingga diharapkan membawa perubahan karena semangat anak muda milik mereka. tetapi semangat yang sama juga berarti semangat asal gebuk saja. Hi Hi hi.

    Idealnya sih kalo bisa diarahkan, Tapi bahwa kengawuran mereka didasari atas semangat darah muda yang sama dengan semangat untuk membawa perubahan, saya rasa itu fakta. Dan semangat itu pula yang membuat anak muda juga sulit diarahkan. Halah…aku ki ngomong opo to yo. Hik Hik

    SALAM PAK SAWALI

    Baca juga tulisan terbaru lovepassword berjudul Lupa Password Winforce(r)

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 16th, 2008 @ 23:21):

    hehehe …. karakter anak muda mungkin bisa jadi begitu, mas love. tapi potensi agresivitas mereka akan leboh bagus jika diarahkan utk bertindak agresif dalam hal pemikiran2, hehehe *walah aku juga ngomong apa ini, hiks * btw, salam juga, mas love. sukses selalu buat mas love.

    Reply

  51. Daniel Mahendra | Friday, 17 October 2008 @ 01:26

    Adakah perlu diadakan kongres pemuda lagi, Pak Sawali?
    Mendefinisikan ulang pengertian sumpah itu sendiri…

    Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Kompas 9 Oktober

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 17th, 2008 @ 04:34):

    hehehe…. kongres sekarang dengan dulu kayaknya dah beda suasana, mas daniel. kongres sekarang seringkali berbiaya tinggi, hiks, yang pasti pemaknaan sumpah dan peran kaum muda itu sendiri juga akan sangat ditentukan oleh dinamika zamannya. *halah kok jadi sok tahu saya*

    Reply

  52. aakdidik | Friday, 17 October 2008 @ 09:24

    tidak semua pemuda seeperti harapan jennengan dan saya sepakat. bahwa saat ini pemuda dalam kondisi mencari jatidiri. tetapi jatidiri yang mana? pengejawentahan yang bagaimana? sangat mencemaskan. walau tidak semuanya.

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 17th, 2008 @ 17:54):

    yaps, kita hanya bisa berharap pak didik dengan membimbing anak2 lewat sekolah, hehehe …. semoga kelak mereka menjadi generasi masa depan yang baik.

    Reply

  53. Daniel Mahendra | Friday, 17 October 2008 @ 13:09

    Jadi, kiranya apa yang mesti dilakukan angkatan muda, Pak Sawali? Pada zaman sekarang ini.

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 17th, 2008 @ 17:56):

    walah, mas daniel pasti sudah tahu jawabannya deh, hehehe …. yaps, setidaknya mereka pelreu bertindak cerdas dg tidak melakukan aksi2 yang merugikan orang lain.

    Reply

  54. Robert Manurung | Thursday, 23 October 2008 @ 18:35

    Hambatan bagi kaum muda untuk berperan sekarang ini utamanya adalah sistem ekonomi negara kita yang terlalu kapitalistik. Sampai tahun 50-an, misalnya, mahasiswa kita masih dapat macam-macam bantuan dan kemudahan dari pemerintah.

    Tapi sekarang…kampus sudah berubah menjadi PT (perseroan terbatas). Mahasiswa terpaksa belajar pakai kalkulator…bukan untuk menghitung soal matematika, tapi menghitung pengeluaran… dan pikirannya terpusat untuk mengembalikan ongkos kuliah yang mahal itu, segera!

    Kisah selanjutnya adalah korupsi…

    Baca juga tulisan terbaru Robert Manurung berjudul RUU Pornografi Menghina Kemanusiaan Orang Indonesia

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 24th, 2008 @ 01:22):

    hehehe … seperti itulah kenyataan yang terjadi, bung robert. semoga saja segera ada perubahan.

    Reply

  55. budi | Saturday, 25 October 2008 @ 17:12

    saya masih muda juga ding.

    ayo generasi muda tingkatkan nasionalisme

    Baca juga tulisan terbaru budi berjudul Hijrah & Alexa Rank Naik

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 25th, 2008 @ 18:37):

    nah, begitu dong, mas budi, hehehe … semangath!

    Reply

  56. Ozank | Sunday, 26 October 2008 @ 01:22

    Untuk pemilu 2009, katanya yang tua jangan lagi mencalonkan diri… Sekarang saatnya yang muda..

    Baca juga tulisan terbaru Ozank berjudul Pesta Blogger

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 26th, 2008 @ 05:58):

    mestinya begitu, bung ozank, terbukti ketika mereka memimpin dinilai belum mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. memang sudah saatnya kaum muda tampil.

    Reply

  57. hesty | Monday, 27 October 2008 @ 12:20

    apa sech sebenarnya makna dari ‘menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia? n apa bedanya dengan ‘mengaku berbahasa yg satu, bahasa indonesia?

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 27th, 2008 @ 19:01):

    hehehe, sepertinya memang ada rumusan bunyi ikrara sumpah pemuda yang berbeda, mbak hesty. menurut wikipedia, yang bener itu “menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia”. namun, dari sisi makna, sebenarnya memiliki semangat dan ruh yang sama kok, hanya utk yang saya sebut tadi, ada nilai kebanggaan tersendiri terhadap bahasa indonesia.

    Reply

  58. (Seharusnya) Hari Sumpah Pemuda - Journal by The Lightbeamers, MD. | Tuesday, 28 October 2008 @ 06:16

    [...] Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan [...]

  59. dhoni | Wednesday, 29 October 2008 @ 04:16

    Pak Sawali yang santun, Insyaalloh dalam 20 tahun ke depan negeri kita sudah mampu berdiri sejajar dengan negara maju lainnya dengan orang-orang “Muda” seperti yang Bapak impikan. Indonesia membutuhkan Van Helshing untuk melawan koloni Vampire yang menghisap darah Ibu sendiri. Meskipun 1000 Van Helshing tidak akan menang kalo berjuang sendiri2 menumpas koloni Vampire tersebut. Tapi kalau dengan semangat yang Bapak ilustrasikan, dan Van Helshing2 yang ada membentuk jaringan yang kuat, meskipun Vampirenya ada puluhan ribu, 1000 Van Helshing akan menang karena masyarakat menginginkan yang 1000 itu memelihara eksistensi negeri ini, bukan eksistensi koloninya sendiri.

    Kira-kira demikian…haiyah!!

    :)

    Baca juga tulisan terbaru dhoni berjudul Jogjaaa!… Jogjaaa!… Jogjaaa!… Nyempil ke Semarang.

    Reply

    Sawali Tuhusetya (October 29th, 2008 @ 17:23):

    vampire memang perlu dilawan dengan kesadaran kolektif, mas dhoni, hehehe … kalau sendirian, van helshing pasti langsung tumbang. wah, pernyataan mas dhoni sungguh mencerahkan. makasih tambahan infonya, mas.

    Reply

Komentar Anda?

CommentLuv Enabled

« Menikmati Silaturahmi Pasca-Lebaran
Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1) »IP
http://www.emailcashpro.com