Minggu, 26 Oktober 2014

Wednesday, 17 September 2008 (05:50) | Pendidikan | 20843 pembaca | 66 komentar

demokrasiSejak reformasi bergulir di negeri ini, atmosfer demokrasi berhembus kencang di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Masyarakat pun menyambut “peradaban” baru itu dengan antusias. Kebebasan yang terpasung bertahun-tahun lamanya kembali berkibar di atas panggung kehidupan sosial. Meskipun demikian, atmosfer demokrasi itu tampaknya belum diimbangi dengan kematangan, kedewasaan, dan kearifan, sehingga kebebasan berubah menjadi “hukum rimba”.

Mereka yang tidak sepaham dianggap sebagai “kerikil” demokrasi yang mesti disingkirkan. Contoh paling nyata adalah meruyaknya berbagai aksi kekerasan yang menyertai perhelatan pilkada di berbagai daerah beberapa waktu yang lalu. Pihak yang kalah bertarung tidak mau menerima kekalahan dengan sikap lapang dada. Jika perlu, mereka memaksakan diri untuk melalukan tindakan anarkhi yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.

Jika kondisi semacam itu terus berlanjut, bukan tidak mungkin benih-benih demokrasi di negeri ini akan layu sebelum berkembang. Bagaimana mungkin nilai-nilai demokrasi bisa tumbuh dan berkembang secara kondusif kalau demokrasi dimaknai sebagai sikap besar kepala dan ingin menang sendiri? Bagaimana mungkin atmosfer demokrasi mampu menumbuhkan kedamaian, keadilan, dan ketenteraman kalau perbedaan pendapat ditabukan?
***

Disadari atau tidak, ketidakmatangan, ketidakdewasaan, dan ketidakarifan masyarakat dalam menyongsong tumbuhnya iklim demokrasi tidak terlepas dari buruknya penanaman nilai-nilai demokrasi dalam dunia pendidikan kita. Kelas bukan lagi menggambarkan masyarakat mini yang mencerminkan realitas sosial dan budaya, melainkan telah menjadi ruang karantina yang membunuh kebebasan dan kreativitas siswa didik.

Guru belum mampu bersikap melayani kebutuhan siswa berdasarkan prinsip kebebasan, kesamaan, dan persaudaraan –sebagai pilar-pilar demokrasi– tetapi lebih cenderung bersikap bak “diktator” yang memosisikan siswa sebagai objek yang bebas dieksploitasi sesuai dengan selera dan kepentingannya. Masih menjadi sebuah pemandangan yang langka ketika seorang guru tidak sanggup menjawab pertanyaan muridnya, mau bersikap ksatria untuk meminta maaf dan berjanji untuk menjawabnya pada lain kesempatan. Hampir sulit ditemukan, siswa yang melakukan kekhilafan diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan diri. Yang lebih sering terjadi adalah pola-pola indoktrinasi dan dogma-dogma menyesatkan. Siswa diposisikan sebagai pihak yang paling bersalah sehingga harus menerima sanksi yang sudah dirumuskan tanpa melakukan “kontrak sosial” bersama siswa.

Ketika ada siswa yang mencoba bersikap kritis dengan bertanya: “Mengapa kalau guru terlambat tidak mendapatkan sanksi, sedangkan kalau siswa yang terlambat akan dikenai hukuman tanpa pembelaan? Bak seorang diktator, sang guru akan menjawab secara dogmatis bahwa hal itu sudah menjadi peraturan yang tak boleh ditawar-tawar lagi. Sungguh, sebuah dogma menyesatkan yang bisa membunuh nilai-nilai demokrasi dalam jiwa dan kepribadian siswa.
***
Seiring dengan berhembusnya iklim demokrasi di negeri ini, sudah saatnya dilakukan upaya serius untuk membumikan nilai-nilai demokrasi di kelas. Prinsip kebebasan berpendapat, kesamaan hak dan kewajiban, tumbuhnya semangat persaudaraan antara siswa dan guru harus menjadi “roh” pembelajaran di kelas pada mata pelajaran apa pun. Interaksi guru dan siswa bukanlah sebagai subjek-objek, melainkan sebagai subjek-subjek yang sama-sama belajar membangun karakter, jatidiri, dan kepribadian. Profil guru yang demokratis tidak bisa terwujud dengan sendirinya, tetapi membutuhkan proses pembelajaran. Kelas merupakan forum yang strategis bagi guru dan murid untuk sama-sama belajar menegakkan pilar-pilar demokrasi.

Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, mewariskan semangat “ing madya mangun karsa” yang intinya berporos pada proses pemberdayaan. Di kelas, guru senantiasa membangkitkan semangat berekplorasi, berkreasi, dan berprakarsa di kalangan siswa agar kelak tidak menjadi manusia-manusia robot yang hanya tunduk pada komando. Dengan cara demikian, kelas akan menjadi magnet demokrasi yang mampu menggerakkan gairah siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai demokrasi dan keluhuran budi secara riil dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah bukan zamannya lagi, guru tampil bak diktator yang menggorok dan membunuh kebebasan dan kreativitas siswa dalam berpikir. Berikan ruang dan kesempatan kepada mereka di kelas untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang kritis dan dinamis. Tugas dan fungsi guru adalah menjadi fasilitator dan mediator untuk menjembatani agar siswa tidak tumbuh menjadi pribadi mekanistik yang miskin nurani dan antidemokrasi.

Bukankah membangun pribadi yang demokratis merupakan salah satu fungsi pendidikan nasional sebagaimana tersurat dalam pasal 3 UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas? Kalau tidak dimulai dari ruang kelas, kapan anak-anak bangsa ini akan belajar berdemokrasi? ***

Tulisan berjudul "Membumikan Nilai Demokrasi dari Ruang Kelas" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 September 2008 @ 05:50) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Keteladanan Rasulullah di Tengah Krisis Kepemimpinan Nasional (Tuesday, 14 January 2014, 365846 pembaca, 19 respon) Negeri ini agaknya tengah mengalami krisis kepemimpinan. Mereka yang tengah berada dalam lingkaran elite kekuasaan bukannya berjuang untuk...

Masihkah Elite Negeri ini Mendengar Suara Punakawan? (Sunday, 29 December 2013, 201193 pembaca, 10 respon) Punakawan bagi masyarakat Jawa sudah bukan lagi nama yang asing. Dalam setiap pakeliran wayang kulit, keempat tokoh ini selalu muncul, bahkan...

Budaya Politik dan Pesimisme Bangsa (Friday, 27 December 2013, 145178 pembaca, 3 respon) Menjelang akhir tahun 2013, optimisme bangsa kita masih “galau” –kalau tidak bisa dibilang pesimis– dalam menghadapi dinamika dan...

Menjadikan Kurikulum sebagai Sahabat Siswa (Wednesday, 11 July 2012, 28812 pembaca, 16 respon) (Refleksi Menjelang Tahun Pelajaran Baru) Oleh: Sawali Tuhusetya Tidak lama lagi, dunia persekolahan kita akan kembali menggeliat dan ceria oleh...

Tahun Ajaran Baru dan Daya Pikat Kantor Pegadaian (Wednesday, 4 July 2012, 48150 pembaca, 32 respon) Seperti rutinitas tahunan, mendekati tahun ajaran baru biasanya merupakan “ritual” kesibukan buat orang tua calon siswa. Mereka mesti repot...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
1 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

66 komentar pada "Membumikan Nilai Demokrasi dari Ruang Kelas"

  1. Nuraeni says:

    benar sekali tuch pak…

    aku suka dengan artikelnya,..:)

  2. Juliach says:

    Karena mereka lagi menjilat demokrasi sewaktu tua. Coba kalo demokrasi udah kita rasakan sejak bayi. Pastilah engak ugal-ugalan yak!

  3. Wah, tepat sekali pak Li. Semoga tidak berlarut ‘demokrasi bablas’ di negeri ini. Masa harus setiap saat ada kantor dan gedung yang hancur akibat memaksakan kehendak dan tak lapang dada. Ujung-ujungnya ya memang pendidikan kita kurang berhasil, termasuk belum bisa membekali generasi bangsa dengan mental demokrasi yang benar-benar demokrasi.

    atep t hadiwa jss last blog post..MAKNA MENDALAM DARI SUATU CIPTA SASTRA YANG SEDERHANA

  4. nenyok says:

    Salam
    Hmm klau saya lebih seneng menyebutnya saling memberi dan menerima, guru dan murid berlaku layaknya mitra yang bekerjasama, berdiskusi memberi masukan bahkan kritikan satu sama lain, anak diajari bersikap kritis namun santun, dan gurupun membimbing murid dengan penuh teladan, kan asyeek Pak jadi si anak ta sungkan namun tah hilang hormat, gurupun mendapat feedback yang baik *halah sok tahu ya* :)

    nenyoks last blog post..Beritahu Aku

Leave a Reply