Home | Bahasa, Budaya, Edukasi, Opini, Politik, Refleksi | Lompatan Budaya Membaca yang Tidak Wajar

Lompatan Budaya Membaca yang Tidak Wajar

Monday, 15 September 2008 (04:22) | 922 pembaca | 66 komentar | Print this Article

otakAllah dengan segala kebesaran dan keagungan-Nya, telah memberikan anugerah akal-budi yang tak ternilai harganya kepada umat manusia. Melalui akal-budi, manusia dapat menyimpan peristiwa masa silam ke dalam kantong memorinya, memikirkan peristiwa pada masa kini, sekaligus mampu membayangkan peristiwa yang bakal terjadi pada masa mendatang. Yang luar biasa adalah kemampuan manusia untuk me-retrieve alias memanggil ulang peristiwa-peristiwa masa silam ke dalam layar kehidupan masa kini.

Bisa jadi, itulah yang membedakan manusia dengan binatang. Dalam hal berbahasa, misalnya, manusia adalah makhluk yang paling dinamis. Melalui akal budinya, manusia mampu mempelajari berbagai bahasa di dunia, apalagi jika bersentuhan langsung dengan kultur masyarakat pemakai bahasa yang bersangkutan. Lain dengan binatang. Ayam dan kucing, misalnya, tak akan pernah sanggup belajar berbahasa. Meski dikerangkeng dalam sebuah kurungan seumur hidup, ayam tak akan pernah sanggup mengeong seperti kucing. Kucing pun tak akan sanggup berkokok seperti ayam. Konon, binatang hanya sanggup mempertahankan hidup berdasarkan nalurinya secara statis dan stagnan.

Hem, kok jadi ngelantur nih, haks. Begini. Pernah dengar stigma bangsa yang “rabun” membaca? Yaps, stigma ini muncul akibat lumpuhnya bangsa kita dalam soal budaya membaca. Ada yang mengatakan bahwa bangsa kita mengalami lompatan budaya membaca yang tidak wajar; dari budaya praliterasi langsung melompat ke budaya posliterasi. Sedangkan, budaya literasinya (nyaris) tak lagi tersentuh. Budaya praliterasi muncul ketika bangsa kita belum sanggup baca-tulis. Mereka hanya mampu menggunakan media bahasa lisan dalam berkomunikasi dengan berbagai komunitas. Dengan berkembangnya peradaban manusia, bangsa kita masuk pada budaya literasi yang ditandai dengan sentuhan-seuntuhan nilai pendidikan yang mampu membuka kesadaran baru tentang pentingnya keaksaraan dalam mengabadikan pemikiran-pemikiran kreatif.

Belum matang benar budaya literasi mengilusumsum dan bernaung turba dalam kehidupan masyarakat, muncul peradaban baru yang memiliki daya pukau dahsyat yang ditandai dengan temuan-temuan baru di bidang teknologi dan informasi. Anak buah teknologi, semacam TV-kabel, multimedia, atau sarana telekomunikasi bergerak lainnya mulai merambah ke tengah-tengah kehidupan masyarakat dengan segala kelebihan dan keunggulannya. Masyarakat pun mulai berubah pola dan gaya hidupnya. Mereka mulai dimanjakan dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan bermacam-macam piranti teknologi canggih sehingga melupakan budaya literasi yang seharusnya mereka lalui. Masyarakat demikian terpukau oleh kehadiran sarana dan fasilitas teknologi itu sehingga jadi malas dan lupa membaca. Ketika antena dan parabola menjamur di atap-atap rumah, masyarakat pun rela menghabiskan waktunya di depan “kotak ajaib” itu. Tumpukan buku dibiarkan melapuk dan tak tersentuh.

Sejatinya, membaca sangat erat kaitannya dengan aktivitas akal-budi. Membaca merupakan aksi intelektual yang mencerahkan dan mencerdaskan yang akan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran kreatif sehingga menimbulkan rangsangan manusiawi untuk bertindak penuh kearifan dan kebajikan. Dalam diskursus yang lebih luas, membaca bisa dimaknai sebagai kemampuan menafsirkan “ayat-ayat” Tuhan yang tergelar di ruang semesta. Membaca sanggup “membunuh” benih-benih keangkuhan dan berbagai macam naluri purba yang serba naif dan menjijikkan. Orang yang memiliki kemampuan membaca, dengan sendirinya, tidak mudah terangsang untuk melakukan tindakan-tindakan korup dan biadab, karena tahu akan risiko dan imbasnya terhadap keseimbangan semesta.

Nah, bisa jadi, orang yang tega berbuat korup dan biadab, lantaran tak pernah melakukan aktivitas akal-budi, tak pernah membaca “ayat-ayat” Tuhan. Jika benar demikian, mereka hanya menggunakan naluri sekadar untuk memuaskan kebuasan hati, bukan menggunakan nurani untuk menjaga keseimbangan semesta. Lantas, apa bedanya dengan kucing dan ayam yang selalu statis dan stagnan sehingga tak pernah punya kesanggupan untuk membaca tanda-tanda zaman? Atau, bisa jadi, lantaran kesalahan kolektif bangsa kita yang mengalami lompatan tak wajar dalam budaya membaca? ***

Kategori: Bahasa, Budaya, Edukasi, Opini, Politik, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgRamadhan, Kemerdekaan, dan Kesalehan Sosial (Sunday, 1 August 2010, 1,386 pembaca, 141 respon) Menyaksikan Indonesia tak ubahnya menonton sebuah repertoar tragis di atas panggung teater. Sarat konflik dan (nyaris) tanpa ending. Untuk sebuah lakon teater, pertunjukan seperti itu bisa jadi memiliki “magnet” dan daya tarik yang memikat buat...
imgDari Siskamling hingga Pak Susno (Sunday, 30 May 2010, 356 pembaca, 53 respon) Malam ini, Kang Sukri kena giliran ronda. Bersama Lik Sukadi dan Kang Sandimin, dia –sesuai kesepakatan dalam rapat RT— harus mengambili jimpitan dan berjaga-jaga hingga lepas dini hari. Bagi Kang Sukri, ronda Siskamling bukanlah pekerjaan berat....
imgSastra, Korupsi, dan Keterasingan Hidup (Sunday, 25 April 2010, 578 pembaca, 55 respon) Panggung sosial di negeri ini agaknya sedang menampilkan lakon keterasingan hidup. Sebuah situasi yang sangat paradoksal. Di tengah dinamika peradaban yang demikian gegap-gempita menyajikan repertoar-repertoar global yang genuine dan beradab, Indonesia...
imgEpisode “Perang Kembang” dan Jalan Kebajikan (Friday, 9 April 2010, 488 pembaca, 136 respon) Terkuaknya aroma korupsi dalam skandal perpajakan yang memunculkan nama Gayus Tambunan, bisa jadi baru satu dari sekian mafia yang sempat terendus. Konon, masih banyak aroma busuk penggelapan uang rakyat dan negara yang tak tercium. Berbagai skandal dan...
imgGayus Tambunan dan Rumitnya Penanaman Nilai Kejujuran (Tuesday, 6 April 2010, 1,097 pembaca, 111 respon) Nama Gayus Tambunan, belakangan ini meroket; melebihi ketenaran seorang seleb. Aparat kepolisian, pekerja media, dan masyarakat luas mengarahkan perhatiannya pada PNS golongan III A di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan yang disebut mantan...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Lompatan Budaya Membaca yang Tidak Wajar" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Monday, 15 September 2008 (04:22)) pada kategori Bahasa, Budaya, Edukasi, Opini, Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

66 Responses to "Lompatan Budaya Membaca yang Tidak Wajar"

  1. Puspita W says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.20 Firefox 2.0.0.20 pada Windows XP Windows XP

    Salam kenal Bapak,

    Menurut mengalaman saya, supaya orang mau membaca perlu dipaksa menulis dulu. Makanya saya sarankan siswa saya belajar ngeblog secara otomatis mereka belajar menulis dan membaca.

    Berbahagialah guru di era global ini, mampu melakukan pelayanan jarak jauh. Punya kesempatan mengembangkan karya siswa dalam bentuk tulisan manual maupun online.

  2. Ikkyu_san says:
    Menggunakan Firefox 3.0.2 Firefox 3.0.2 pada Windows XP Windows XP

    selain membaca perlu pakai hati,
    membaca juga perlu pengetahuan lain yang menunjang.
    Kalau saya melihat semua fenomena ini sebagai prduk karbitan
    orang Indonesia banyak yang matang karbit, dipaksa oleh lingkungan dan teknologi
    sehingga bukan matang secara alami…
    dalam segala hal….

    itu uneg-uneg saya pak.
    EM

  3. sjahrir says:
    Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    sukakah anda saya ajak menulis Nya dengan NYA ?
    NYA, tak ada lagi yang lebih besar dariNYA.
    semoga terasa…
    Salam.

    sjahrirs last blog post..Penderita HIV-AIDs di RS untuk apa peduli ?

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (140 queries: 0.888 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP