Home | Blog, Edukasi, Opini, Refleksi | Virus Menulis: Dari ERA hingga EWA

Virus Menulis: Dari ERA hingga EWA

Monday, 1 September 2008 (00:36) | 493 pembaca | 62 komentar | Print this Article

Saya baru saja mendapatkan kiriman buku bagus dari Divisi Buku Umum Grafindo Media Pratama, Jakarta, atas kebaikan seorang sahabat saya, Mas Hery Azwan. Judulnya Blind Power: Berdamai dengan Kegelapan. Sebuah buku yang mendedahkan otobiografi sang penulis; Eko Ramaditya Adikara (ERA), seorang pemuda hebat; tunanetra, tapi punya kelebihan di atas rata-rata pemuda seusianya. Sebagai pencinta buku, tentu saja saya sangat senang mendapatkannya. Terima kasih, Mas Azwan. Semoga Allah berkenan memberikan balasan budi baik ini.

Saya belum tuntas membacanya. Mudah-mudahan selama Ramadhan, saya bisa suntuk menikmatinya; ikut menyelusuri jejak-jejak kehidupan seorang ERA yang sempat membuat Indonesia mengaguminya.

Blind powerJudul Buku: Blind Power: Berdamai dengan Kegelapan

Penulis: Eko Ramaditya Adikara

Penulis Pendamping: Hermawan Aksan

Penyunting: Eko Ramaditya Adikara

Penerbit: Grafidia (PT Grafindo Media Pratama)

Cetakan Pertama: September 2008

Tebal Buku: 373 halaman

Harga: ?

Sebagaimana ditulis oleh Mas Azwan, di sini, di sini, dan di sini, sosok ERA, kalau boleh saya memanggilnya demikian, atau Rama, demikian dia akrab dipanggil, memang sosok inspiratif. Kekurangan dan cacat fisik bukan halangan baginya untuk tak henti-hentinya menaburkan benih-benih kreativitas di atas ladang kehidupan. Melalui homepage pribadinya, kita dibuat berdecak kagum. Selain tampilan tertata rapi, postingan-postingannya juga menarik. Tak menyangka kalau sosok yang berada di balik blog inspiratif itu adalah seorang Rama yang cacat netra. Tak heran jika Kompas pun tertarik untuk memprofilkannya.

Keakrabannya dengan dunia teknologi agaknya membuat kiprah kehidupan ERA makin eksis. Simak saja pengakuan jujurnya berikut ini!

… Karena tahu bahwa hidupku bakal susah banget, makanya aku harus bertahan. Bagaimana caranya? Ya, memanfaatkan kesempatan yang ada. Salah satunya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang 80% jadi penyokong kehidupanku sekarang … (halaman 85)

Begitulah! Kemajuan teknologi agaknya telah membuat sosok ERA makin bermakna di tengah kekurangan fisiknya. Tak perlu heran kalau ke mana pun pergi, ERA selalu tak lupa menenteng handpone dan laptop.

Sosok ERA makin mengagumkan ketika dia dengan amat sadar mengabadikan pengalaman-pengalaman hidupnya ke dalam sebuah buku. Jelas, ini sebuah kesaksian sejarah hidup yang akan terus memvosil dalam ranah sebuah peradaban. Kelak, generasi muda negeri ini akan selalu menyebut nama ERA sebagai pionir, motivator, sekaligus inspirator kehidupan; tak hanya buat mereka yang mengalami keterbatasan fisik, tetapi juga buat mereka yang dianugerahi fisik “sempurna”.

Semoga kehadiran buku yang diterbitkan oleh Grafidia ini bisa memicu “adrenalin” bagi anak-anak negeri ini untuk mengikuti jejak ERA dalam membangkitkan potensi diri menjadi sosok yang berkarakter dan berkepribadian tangguh. Sungguh, buku ini layak dibaca dan dimiliki oleh para pemburu nilai-nilai kehidupan yang lebih terhormat, bermartabat, sekaligus mencerahkan.

Sementara itu, beberapa waktu sebelumnya saya juga mendapatkan kiriman buku dari Pak EWA (Ersis Warmansyah Abbas). Judulnya Menulis dengan Gembira. Dosen Unlam, Banjarmasin ini, sudah sangat dikenal publik blogosphere. Selain dikenal melalui tulisan-tulisannya yang sangat kental dengan upaya menyebarkan “virus” menulis, Pak EWA juga rajin blogwalking. Inilah yang membedakan sosok Pak EWA dengan sesama dosen yang sebagian besar asyik dengan dunianya sendiri; berada di puncak menara gading keilmuan.

EWAJudul Buku: Menulis dengan gembira

Penulis: Ersis Warmansyah Abbas

Editor: Fivin Novidha

Penerbit: Gama Media, Yogyakarta

Cetakan: 2008

Tebal Buku: 245 halaman

Harga: ?

Beragam tulisan yang disajikan dalam buku tersebut tak jauh berbeda dengan ulasan-ulasan Pak EWA dalam blognya. Gaya ucapnya renyah dan gampang dicerna. Muatan isinya juga tak terlalu berat. Persoalan-persoalan yang diungkap seputar kiat-kiat menulis dan bagaimana memotivasi diri untuk menjadi seorang penulis produktif dan kreatif. Di tangan Pak EWA, apa pun bisa ditulis. Sesekali, menyentil “penyakit” malas yang acapkali mendera calon-calon penulis yang sedang mencoba untuk menemukan eksistensi diri.

Jadilah guru menulis untuk masing-masing diri. Artinya, menulis dilakukan tanpa ada intervensi dari mana pun dan atau atas pertimbangan apa pun. Caranya? Dengan menulis. Dengan demikian, sampailah kita kepada intisari sharing menulis, yaitu dengan menulis. Latihan menulis dengan menulis. Menulis, menulis, dan menulis lagi. Yang menulis itu siapa? Ya, siapa lagai kalau bukan yang ingin menulis. Ya, Sampeyan. (halaman 5)

Begitulah gaya Pak EWA. Lincah dan begitu bersemangat meng-“hipnotis” orang lewat jurus-jurus “Menulis Tanpa Berguru”-nya. Yang jelas, buku ini layak dibaca dan dimiliki oleh calon-calon penulis, bahkan juga untuk para penulis yang seringkali terjangkit “penyakit malas” untuk menari-narikan jemari di atas tombol keyboard. Terima kasih, EWA atas sharing ilmunya.

ERA dan Pak EWA memang sosok yang berbeda. Dari sisi usia, mereka memang terpaut jauh. ERA masih terbilang sangat muda, 27 tahun, sedangkan Pak EWA sudah memasuki usia kepala 5. Dari sisi geografis pun tak menunjukkan tanda-tanda etnisitas yang sama. ERA lahir di Semarang, Jawa Tengah, yang sekarang tinggal Pondok Gede, Bekasi, sedangkan Pak EWA lahir di Muara Laboh, Solok Selatan, yang kini menetap di Banjarmasin.

Meski demikian, kedua sosok ini sama-sama seorang bloger yang telah mengakrabi dunia menulis sebagai jalan untuk menuangkan pemikiran-pemikiran kreatif kepada publik. Semoga karya-karya mereka makin eksis dalam menyebarkan “virus” menulis di tengah-tengah publik. ***

Kategori: Blog, Edukasi, Opini, Refleksi | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgTerkabulkan Sudah Keinginan Itu (Friday, 6 February 2009, 1 pembaca, 21 respon) Sudah lama banget sebenarnya saya ingin bertemu darat dengan Pak Ahmad Sholeh. Ketika masih bertugas di Kudus, Jawa Tengah, saya sudah sering mendengar kabar dari Pak Marsudiyanto bahwa Pak Sholeh pernah tinggal di Kendal karena kebetulan saja istrinya...
imgPasca-Ziarah Bloger Timur Tengah: Sebuah Apresiasi dan Refleksi (Wednesday, 28 January 2009, 402 pembaca, 129 respon) Dengan mengusung motto “Datang Tak Diundang, Pulang Tak Diantar”, ziarah bloger Timur Tengah itu akhirnya tergelar juga Jumat Malam hingga Senin Sore (23-26 Januari 2009). Sungguh menyesal saya tidak bisa ikut berkiprah dalam momen penting dan...
imgTag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi (Saturday, 20 September 2008, 384 pembaca, 98 respon) Tanpa saya duga, ternyata saya dapat tag award dari tiga sahabat bloger dalam waktu yang berbeda. Pertama dari Mas Magma, kedua dari Mas Zoel, dan ketiga dari Mbak Nenyok. Bagi saya, lemparan tag ini saya maknai sebagai wujud silaturahmi dan apresiasi...
imgRoy Suryo, Bloger, dan Sikap Hipokrit (Friday, 29 February 2008, 374 pembaca, 75 respon) Sang pakar kita, Roy Suryo, kembali bikin ulah. Setelah gagal memperoleh legitimasi atas klaim lagu Indonesia Raya pada Agustus 2007 yang silam, sang pakar kita itu seperti melempari telor busuk ke wajah para bloger. Kita belum tahu, bagaimana respon...
imgPerlukah Kita Menjadi Narcisus? (Saturday, 12 January 2008, 208 pembaca, 51 respon) Pernahkah Sampeyan mengikuti diskusi sastra yang panas dan menegangkan? Ya, forum-forum diskusi sastra memang acapkali diwarnai situasi semacam itu. Hal itu cukup beralasan, sebab umumnya dihadiri oleh para kreator yang selama ini dikenal sebagai...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Virus Menulis: Dari ERA hingga EWA" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Monday, 1 September 2008 (00:36)) pada kategori Blog, Edukasi, Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

62 Responses to "Virus Menulis: Dari ERA hingga EWA"

  1. taufik79 says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.18 Firefox 2.0.0.18 pada Windows XP Windows XP

    Hari ini penularan virus EWA mendapat mangsa lagi. Perlahan tapi pasti mangsanya terus bertambah, :) setelah menyebar via email, blog atau buku.

    Hampir 90% mangsanya terjebak untuk ikut2an menulis dan ngeblog dan minta bantuan untuk diajari cara membuat blog gratisan.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (136 queries: 0.875 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP