Home | Budaya, Edukasi, Kearifan Lokal, Refleksi, Sastra | Saya Sedang Mencari Tuhan

Saya Sedang Mencari Tuhan

Monday, 25 August 2008 (00:42) | 952 pembaca | 59 komentar | Print this Article

buku puisiUntuk ke sekian kalinya, Aula Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Kabupaten Kendal, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra. Minggu, 24 Agustus 2008 (pukul 09.00-13.30), penyair Dharmadi (Purwokerto) hadir menemui publik sastra Kendal. Tak kurang, sekitar 100 peminat dan pencinta sastra dari kalangan guru, mahasiswa, siswa SMP/SMA/MAN, dan masyarakat umum mengapresiasi sekaligus membedah teks-teks puisi karya penyair kelahiran Semarang, 30 September 1948, itu. Secara khusus, penyair yang kini menetap di Tegal (Jateng) itu mendedahkan antalologi puisi terbarunya, “Jejak Sajak” yang diterbitkan secara mandiri.

Acara diawali dengan pembacaan dua buah puisi oleh awak Teater Semut Kendal yang sekaligus juga menjadi penjaga gawang acara. Fenny mampu berekspresi secara total dan musikal sehingga mengundang aplaus pengunjung. Agaknya, pembacaan puisi yang total dan ekspresif itulah yang mampu membawa audiens ke ruang imajinasi yang hendak disuguhkan oleh sang penyair. Buktinya, begitu diskusi dibuka, muncul banyak respon. Tak hanya dari kalangan guru. Siswa pun tak kalah bersemangat dalam mengapresiasi dan berdiskusi. Abdul Majid, salah seorang siswa SMA 1 Kendal, misalnya, langsung menghentak lewat sebuah “gugatan”, “Mengapa Pak Dharmadi masih saja selalu mengangkat tema-tema religius ke dalam puisi? Bukankah tema-tema itu sudah menjadi tema umum yang diangkat oleh para penyair?”

Yaps, sebuah “gugatan” yang mengejutkan sekaligus cerdas. Saya yang kebetulan didaulat menjadi moderator pun sempat terhenyak. Sebuah pertanyaan yang (nyaris) tak pernah terlintas dalam imajinasi dan pikiran saya. Menjawab “gugatan” semacam itu, Dharmadi dengan tangkas bereaksi bahwa setiap orang pada hakikatnya memiliki rasa berketuhanan.

Saya sedang mencari Tuhan!” Demikian reaksi balik dari penyair berpenampilan kalem ini. “Sejak kecil saya belum pernah bisa membumikan Tuhan. Didikan keluarga belum sepenuhnya mampu menghidupkan nilai-nilai religius itu ke dalam jiwa dan batin saya. Demikian juga selama proses kepenyairan saya yang telah berlangung lebih dari 30 tahun. Selalu saja Tuhan mengusik kegelisahan saya.” Begitulah jawaban yang bisa saya tangkap dari sang penyair.

Simak saja larik-larik puisi berikut ini!

//Kamboja tumbuh di retak-retak sawah ladang/melintas-lintas gagak terbang/sungai meratapi diri/merasa kehilangan arti.//

//gunung kelabu/di puncaknya tak ada lagi/ langit biru//

//matahari tajam menatap bumi/tak henti-henti melelehkan api.//

(Musim Kering)

diskusipentas pentas1pentas 2diskusi2diskusi3

Memang tak ada kata-kata Tuhan atau kutipan ayat-ayat suci. Namun, berdasarkan pendalaman rasa dan olah intuisi sang penyair, ada persoalan religi yang sangat kuat terpancar di sana. Betapa Dharmadi sangat peka dan sekaligus meratapi nasib lingkungan hidup yang (nyaris) mengalami kematian. Gersang dan tandus. Betapa umat manusia selama ini, disadari atau tidak, selalu abai terhadap teks-teks Tuhan yang tampak jelas di depan mata.

Demikian juga dalam sajak “Rindu Bening Telaga Matamu”; //kurindu bening telaga mata-mu/untuk membasuh muka agar kembali mengenal/wajah asalku//

Sajak yang pendek, tapi sungguh cerdas dalam mengungkapkan kegelisahan batin sang penyair ketika menghadapi kegamangan hidup hingga lupa mengenal jatidirinya sendiri. Dalam kondisi semacam itu, sang penyair sangat rindu kepada Sang Pencipta.

Dari sisi stilistika, Dharmadi memang tak banyak menggunakan metafor-metafor yang “njlimet” dan ndakik-ndakik (bombastis). Ia berpuisi dengan polos dan jujur. Diksinya sederhana. Dharmadi juga tak tergoda untuk berbicara tentang tema dan narasi-narasi besar. Ia berbicara tentang persoalan-persoalan keseharian dalam upayanya membumikan Tuhan dalam makna yang sesungguhnya.

Walhasil, diskusi pun makin seru ketika banyak guru yang ingin menjadikan teks puisi Dharmadi sebagai salah satu rujukan dalam pembelajaran.

“Saya sangat suka dengan puisi Pak Dharmadi yang sederhana diksinya. Cocok untuk bahan ajar murid-murid saya yang selama ini hampir tak pernah paham apa itu puisi!” ujar Pak Subadi, guru SMP 3 Pegandon. Terbatasnya waktu, jelas tak memungkinkan Dharmadi untuk menjawab secara tuntas semua respon audiens. Namun, yang pasti, kehadiran Dharmadi makin menggeliatkan dinamika sastra di kota “Beribadat” ini.

Baik, Bung Dharmadi, semoga Sampeyan tetap eksis berkiprah untuk menghasilkan teks-teks puisi yang lebih “membumi”; yang berbicara secara polos dan jujur, untuk terus melakukan pencarian terhadap Tuhan. Semoga Tuhan yang sesungguhnya bisa Sampeyan temukan, sebab pada zaman yang “sakit” seperti sekarang, memang banyak bermunculan tuhan-tuhan baru yang tampil penuh kesombongan dan ingin disembah-sembah banyak orang.

Ok, salam kreatif dan salam budaya! ***

Kategori: Budaya, Edukasi, Kearifan Lokal, Refleksi, Sastra | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgImazonation, Phantasy Poetica, dan Potret Kebhinekaan (Friday, 3 September 2010, 94 pembaca, 15 respon) Untuk kedua kalinya, rekan sejawat saya, Pak Riyadi, guru SMP 15 Purworejo yang kreatif itu, kembali mengirimi saya sebuah buku. Buku yang didesain “bilah dua”, separuh bunga rampai cerpen (Imazonation) dan separuhnya lagi bunga rampai puisi...
imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 282 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgGumam Asa ala Ali Syamsudin Arsy (Tuesday, 17 August 2010, 251 pembaca, 45 respon) Sekadar catatan: (Saya belum pernah bertemu langsung dengan Bung Ali Syamsudin Arsy. Sepanjang yang saya tahu, Bung Arsy –kalau boleh saya menyapanya demikian– menjadi salah satu pelanggan feed/rss blog saya. Uniknya, Bung Arsy selalu tidak lupa...
imgRuang Jingga: Memadukan Kreativitas melalui Jejaring Sosial (Monday, 16 August 2010, 213 pembaca, 45 respon) Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman sebuah antologi puisi “Ruang Jingga” dari Pak Riyadi, seorang sahabat dan rekan sejawat dari Purworejo, yang piawai merawi kata-kata seperti menjadi “mantra” yang mampu “menghipnotis” dan...
imgBanjir Puisi dalam Sehari (Monday, 9 August 2010, 486 pembaca, 75 respon) Minggu, 8 Agustus 2010, publik sastra Kendal cukup “dimanjakan” oleh dua agenda “Apresiasi dan Bedah Puisi”. Pertama, apresiasi dan bedah puisi “Tuhan, Ke Mana Cinta” karya Handry TM yang digelar di Gedung Wanita, Kompleks Pendapa Kab....
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Saya Sedang Mencari Tuhan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Monday, 25 August 2008 (00:42)) pada kategori Budaya, Edukasi, Kearifan Lokal, Refleksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

59 Responses to "Saya Sedang Mencari Tuhan"

  1. mantan kyai says:
    Menggunakan Opera Mini 4.1.11355 Opera Mini 4.1.11355 pada J2ME/MIDP Device J2ME/MIDP Device

    Menurut sampean sy punya potongan bkn puisi gak ya? Hehe

    wew…. mas ardy kok malah nanya saya. yang pasti sangat memenuhi syarat utk jadi seorang penyair, hehehehe ….

  2. dwi sri s says:
    Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    aku masih rindu acara begituan. kalo punya gawe lagi jangan lupa kabari aku ya Den Bagus……!!!!! mungkin yang baca puisi atau cerpennya bisa diambil dari para peserta acara atau panjenengan sakbolo kurowone, ada murid panjenengan, teman guru, anak n istri panjenengan, ato sapa aja lah yang mau.jadi lebih bervariasi acaranya. eh Pak, aku kemarin lagi belajar bikin blog, tapi masih wagu….he…he…he. isin aku ma panjenengan.

    wew… akhirnya ngeblog juga. siplah, saya langsung meluncur.

  3. denny says:
    Menggunakan Firefox 3.0 Firefox 3.0 pada Windows XP Windows XP

    ya ya ya…
    menarik, mencari tuhan dengan pemikiran, buah tinta, lirik dan bait

    asal tidak seperti teman saya yang slank waktu kita membahas serius mencari pencarian tuhan dia berkata dengan gampangnya:

    cari aja di guugle :-p *plaks…!*

    hehehehe :lol: makasih atas apresiasinya terhadap puisi karya bung dharmadi, mas denny. :oke

  4. nenyok says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Salam
    Akh Pakde saya suka sekali membaca puisi meski dengan susah payah memahami maknanya, Dengan membaca puisi-puisi relijius begitu terkadang gampang menyentuh kalbu juga. duh di kotaku ga pernah nie ada acara beginian ya.. hiks..

    hehehehe :lol: saya malah ndak bisa bikin puisi, mbak nenyok. makasih apresiasinya buat puisi bung dharmadi :roll:

  5. Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    salam kenal mas
    mas boleh kita berdiskusi tentang puisi
    saya ingin sekali belajar memahami puisi
    mas koment ya puisi saya
    sebagai bahan penambah wawasan untuk sebuah perbaikan

    salam kenal juga, mas bambang. ufh, saya juga masih berlajar mengapresiasi puisi, mas. hanya sebatas bisa menikmati. :oke

  6. kurt says:
    Menggunakan Firefox Firefox pada Windows XP Windows XP

    Penyair saja lahap dalam mencari Tuhan padahal dia kadang lebih “religius” dalam perasaan disetiap kata-kata. Kalau saya mau menggugat saya sendiri, seberapa jauh Kurt kamu mencari Tuhan… :D

    waduh, makasih apresiasinya terhadap bung dharmadi, mas kyai kurt. agaknya setiap orang punya penafsiran yang berbeda dalam menemukan Tuhan-nya, mas kurt. :oke

  7. Menggunakan Firefox 2.0.0.14 Firefox 2.0.0.14 pada Windows XP Windows XP

    pencarian tuhan…dimanakah sejatinya tuhan bertahta..

    pertanyaan ini agaknya lebih pas kalau yang menjawab, bung dharamdi, mas rizal, hehehe :oke

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (133 queries: 0.900 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP