Thursday, 17 April 2008 (12:03) | 442 pembaca | 27 komentar | Print this Article
Ketika saya memosting pernak-pernik seputar dunia “Wayang Slengekan” –kalau boleh saya menyebutnya demikian untuk menampilkan kesan nakal, mbeling, atau konyol– di blog ini, banyak respon menarik dari teman-teman bloger dan para pengunjung. Hal itu bisa dilihat dari beberapa komentar yang muncul. Sebagian besar mengikuti style postingannya yang kenes, mbeling, nakal, dan slengekan. Hal ini menandakan bahwa dunia pakeliran wayang belum mati. Apalagi, setelah jagad pakeliran wayang purwa sering digelar di beberapa stasiun TV. Makin banyak saja orang yang mulai melirik dunia wayang purwa. Sebagai hiburan sekaligus juga memenuhi rongga nurani dengan berbagai asupan dan “gizi batin” yang mencerahkan.
Nah, dalam “Wayangan Slengekan”, saya sengaja mengangkat isu-isu mutakhir yang dalam pakem pewayangan mustahil ditemukan. Di sini, saya bebas mengangkat beragam tema. Ada cinta, moral, ekonomi, demokrasi, hukum, nasib rakyat, arogani penguasa, bahkan juga persoalan-persoalan politik kontekstual. Dalam konteks demikian, saya bisa memiliki kesempatan secara imajinatif untuk memosisikan setiap tokoh dalam dunia pewayangan menjadi tokoh-tokoh riil yang ada dalam kehidupan kontemporer masa kini dengan menampilkan karakter tokoh mulai di tingkat grass-root hingga mereka yang berada dalam lingkaran elite kekuasaan. Dengan kata lain, raganya saya meminjam epos Mahabharata atau Ramayana, tetapi rohnya adalah karakter orang-orang yang ada di sekeliling kita.
Lantas, sebenarnya di manakah letak keunikan “wayang slengekan” ini? Sekadar latah, unjuk kekenesan, tumpahan rasa tidak puas terhadap situasi dan kondisi zaman, atau sikap frustrasi lantaran tidak ada media yang tepat untuk menumpahkan berbagai kritik? Wew… pertanyaan ini sebenarnya lebih layak dijawab oleh pembaca. Pembacalah yang pantas menilai kehadiran “wayang slengekan” di blog ini.
Meski demikian, secara pribadi, saya bermimpi untuk bisa menggapai dua fungsi substansial melalui “wayang slengekan” ini. Pertama, fungsi introduksi seni wayang kepada para pembaca. Kedua, fungsi kritik untuk menciptakan suasana keterbukaan di tengah mampatnya saluran kritik resmi, sehingga memicu munculnya media kritik alternatif. Ini artinya, “wayang slengekan” bisa saya jadikan sebagai “corong” untuk melontarkan kritik konstruktif secara tidak langsung dengan mengambil latar dunia pewayangan.
Jujur saja, saya sering mengalami kesulitan ketika meracik “wayang slengekan” ini kepada pembaca. Saya tidak cukup hanya membaca dan memahami lakon alias cerita dalam pakem pewayangan pada setiap momen dan peristiwa, tetapi juga harus banyak belajar bagaimana melontarkan seni kritik. “Kena iwake naging aja nganti buthek banyune” (Kena ikannya, tetapi tidak sampai membuat air jadi keruh). Dengan cara yang demikian itu, saya berharap “wayang slengekan” tidak akan terjebak pada situasi yang hanya sekadar mengumbar kritik, kenes, atau sekadar tumpahan rasa frustrasi terhadap kondisi zaman. Esensi “wayang slengekan”, dalam pandangan awam saya, memang sekadar “guyon pari kena”; mengkritik tanpa menyakiti, sehingga bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi pembaca. Nah, ternyata memang bukan persoalan yang gampang.
Menyimak beberapa lakon “wayang slengekan” yang tergelar di blog ini memang sangat berbeda dengan rubrik pewayangan yang sudah ada di beberapa media, apalagi jika harus dibandingkan dengan pakeliran wayang yang sesungguhnya. Di berbagai media, rubrik-rubrik dunia pewayangan dikemas dengan lebih menonjolkan penampilan nilai filosofis yang terkandung di balik setiap lakon. Alur cerita, gaya bahasa, atau substansi isi ceritanya masih “pakem minded“.
Nah, “wayang slengekan” memang saya harapkan *halah* tampil beda. Bahasanya dikemas santai, gado-gado, dan tidak baku dengan konteks kekinian. Pakem wayang menjadi urusan nomor dua. Saya lebih terfokus untuk memilih isu-isu hangat dan aktual yang tengah berkembang di tengah masyarakat, baru kemudian masuk ke dalam bingkai pakem. Sangat masuk akal jika di pentas “wayang slengekan” ini muncul tokoh presiden, jenderal, menteri, profesor, peneliti, selebritis, atau tokoh-tokoh muda yang dalam pentas kehidupan masyarakat memang memiliki peran dalam ikut berkiprah mengendalikan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan desain “pakeliran” semacam itu, saya berharap “wayang slengekan” bisa membuka kemungkinan untuk menyuarakan kebebasan berpendapat atau melontarkan kritik dan opini, tanpa berpretensi untuk “menelanjangi” seseorang atau kelompok tertentu.
Selain itu, “wayang slengekan” juga ingin menaburkan “gosip” bahwa karakter orang semacam Sengkuni yang julig dan culas telah menjelma ke dalam sosok “Sengkuni-sengkuni” baru. Atau, bisa jadi sosok cendekiawan semacam Begawan Dorna yang rela “menjual” kebenaran demi kepentingan penguasa sudah bertaburan di sekeliling kita. Nah, bagaimana? ***
oOo
Keterangan:
Gambar diambil dari sini.




































kulo sanget setuju sareng pendapate bapak,napa maleh lare sak niki isin lek ningali wayang padahal niku budaya seng kudu di lestarikan bahkan kadang mahasiswa sastra ndiri juga kurang suka dengan wayang (sebenarx saya suka tapi karena belum terbiasa saja dengan yang namanya wayang n palagi saya mahasisiwi sastra,pak!tolong dong pak bagi2 ilmunya?)
hehe … kita kan bisa bareng2 belajar di dunia maya, mbak faizah, hehe …
Amiin
Yen dhalang mung ngoyak mutu, pakelirane bakal ditinggalake penonton. Nanging yen mung mburu payu, bisa-bisa dianggep “nerak” aturan pedhalangan. Kamangka dhalang iku ora mung ngupaya upa, nanging uga jejer minangka kreator, agen perubahan, local genius, kapara dadi gurune masyarakat. Kepriye rekadayane dhalang supaya bisa “mronjol selane garu” ing satengah-tengahe situasi sing sok-sok ora ngungungake tumrap jagad pakeliran iki? (dosen saya)
Tottzs last blog post..Hitam Pekat Asap Bus yang Menyebalkan
ooo
wah, salut banget dengan mas Tottz, nih :idea: tak kuduga, ternaya demikian fasih berbahasa jawa, setara dengan para dalang kondang itu. yups, kula sarujuk banget kalaih atur pangandikanipun mas tottz kala wau. panci leres, dalang kedah saged manjing ajur ajer :oke
Yang buat menarik apresiasi masyarakat terhadap wayang salah satunya dengan wayang slengekan seperti itu. Namun dda konflik batin dalam diri ini antara esensi wayang yang sebenarnya dengan wayang Slengekan.. Tapi tak apalah, yang penting orang Jawa ora ilang Jawane.
Tottzs last blog post..TN, Basket, dan Kerusuhan
ooo
yups, makasih mas tottz atas apresiasinya. mudah2an makin banyak yang suka wayang hehehehehe :oke
Kotake kok malih ono soal matematikane pak…
Kemarin2 saya merasa tau banyak tentang wayang, tapi setelah baca wayangnya P. Sawali, saya jadi merasa gak tau apa2. :114
Lalu saya berkesimpulan, saya tidak akan berjaya menjadi penulis sekiranya saya tidak menjadi pembaca terlebih dahulu. :razz:
Usul saya… (pasti ditindaklanjuti P. Sawali), tambah terus tulisan tentang wayang, biar saya bisa baca terus.
Kosa wayang yg ada pada saya ternyata minimalis, sebatas Yudistira Basodara, Gatotkaca, Abimanyu, Setyaki, Kresna, Baladewa, Arimbi, Kunti, Srikandi, Mustakaweni, Jagal Abilawa, Duryudono, Hanoman, Anggodo, Anilo, Sengkuni, Durna dan sedikit yg lain.
Yg saya ingat sebatas yang ada di mainan kecil tempo dulu, berupa selembar kertas segi empat bergambar 100 wayang, itupun dikurangi untuk gambar barisan, Jatayu, Banteng, Gajah dan gambar kewan lain sejumlah 10 buah. (P. Sawali ngalami itu gak ??). Lalu pencetaknya yaitu “Gunung Kelud” banting setir, nyetak gambar lain sejenis Monster raksasa yg ngobrak-abrik kota.
Jaman main wayangan dulu, kalau istirahat sekolah tiba, saya & temen2 memanfaatkan untuk judi kecil2an dengan taruhan wayang. Ada yg disebut “umbul”, ada pula yg sejenis “tombok”. Yg terakhir ini ada “Blandar”nya, ada penomboknya.
Saya jadi pengin pulang kampung dan kembali ke masa itu lagi…
marsudiyantos last blog post..
ooo
wakakakaka :lol: ternyata ora beda adoh saka aku, pak mar. jaman cilikanku mbiyen pas nonton wayang mesthi dha totohan nganggo kartu wayang. kadang2 totohane gelang karet. wah, asyik juga membayangkan masa kecil pak, mar :idea: ttg wayangnya insyaallah masih dapat bahannya, pak, entah menarik atau tidak, hehehehehe :roll: walah, pak mar malah hafal dg nama2 wayang segudang gitu kok, apalagi mbahnya pak mar kan punya wayang sakperabotane komplit :oke
Ada yang salah dengan blog saya kali ya? Saya belum ke sana seharian ini. :))
ooo
wew… masuk anginnya belum sembuh ya, mas, hehehehe :x
Saya membuka Wayang Slengekan ini sampai 5 kali tetapi bukan karena judulnya slengekan terus saya mbacanya slengekan. Kronologinya sebagai berikut:
1. Dari Viigo (RSS Reader). Begitu ada tanda bintang di Catatan Sawali yang berarti ada tulisan baru saya segera buka.
2. Dari BB Browser. Di Viigo tidak bisa komentar makanya buka di BB Browser. Ketika nungguin loading ketiduran. Indosat lagi parah akses datanya.
3. Dari Note Book. Belum dibaca keburu ketabrak kerjaan.
4. dari BB Browser dalam perjalanan ke klien. Ketunda karena pangilan-panggilan masuk.
5. Malam ini. Akhirnya khatam juga.
-*-
Saya senang dengan wayang slengekan yang digagas. Bukan untuk merusak pakem wayang melainkan membawa wayang agar mampu menyampaikan pesan-pesan kekinian. Kalau mau cerita yang baku, wayang purwolah yang harus dilihat. Kalau mau melihat wayang yang mengadopsi cerita-cerita baku namun berisi pesan-pesan kekinian, wayang slengekanlah yang perlu dinikmati.
oooo
wah, gpp, mas arif. syukurlah, akhirnya berhasil membaca juga, hehehehe :idea: yups, saya juga sepakat dg mas arif. “wayang slengekan” tdk dimaksudkan utk merusak pakem, tetapi lebih dimaksudkan utk mengintrodusir cerita pakeliran wayang ke dalam kemasan bahasa yang lebih mudah dipahami dengan menampilkan topik2 yang lebih kontekstual. yups, makasih mas arif. :idea: btw, kok commentluv-nya berubah jadi kode2 script, yaK? maaf, kodenya kuhapus saja, ya, mas :mrgreen: