Cerpen Teror sebagai Bahan Ajar

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Sunday, 15 July 2007 | 88 pembaca | 0 komentar | Feed

(Bedah cerpen Triyanto Triwikromo)
 
Layakkah cerpen-cerpen yang meneror dan mengelaborasi kekerasan menjadi bahan ajar di sekolah? Pembacaan cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo yang terhimpun dalam antologi terbarunya, Pintu Tertutup Salju (Bentang Budaya, 2000), oleh Agung Wibowo dan Evi Idawati di aula Depdiknas Kendal, Minggu (28 Mei 2000), agaknya pantas untuk untuk menstimuli kemunculan pertanyaan tersebut. Lebih-lebih auidensinya pada [...]

Kategori: Cerpen, Sastra

Ancaman

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Thursday, 12 July 2007 | 7 pembaca | 0 komentar | Feed

Cerpen Sawali Tuhusetya

Jam di tembok ruang tamu menunjuk angka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki –entah dari mana datangnya—sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Daraha Minranti mendesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja.

“Selamat pagi, Nyonya!” sapa lelaki itu tersenyum. Tampak deretan giginya yang kotor. Mulutnya seperti menyemburkan hawa busuk. Miranti tergagap. Tenggorokannya tercekat seperti ada beban yang menyumbatnya. Napasnya sesak. Dadanya naik-turun.

Miranti tercenung. Siapa tahu lelaki yang berdiri di depan pintu itu seorang mata-mata perampok atau bahkan seorang perampok yang nekad ingin menjarah rumahnya. Siapa dapat menjamin kalau lelaki itu orang baik-baik? Siapa pula dapat menebak gelagat yang menyembul di

Kategori: Cerpen
Kontak gmail