Top

Tumbal

Thursday, 3 January 2008 | 41 pembaca | 11 komentar
Kategori: Cerpen, Refleksi, Sastra, Tradisi

Orang-orang bagai rusa masuk kampung. Bingung. Subuh tadi, anak Lik Karimun yang baru berusia tujuh bulan, hilang. Konon, si Nok tiba-tiba raib dari sisi tetek simboknya. Kontan saja Yu Painem menjerit-jerit histeris. Lik Karimun yang tidur di sisi Yu Painem pun limbung. Tubuhnya loyo. “Wah! Ini pasti ulah demit jembatan itu lagi. Sudah tiga anak yang jadi tumbal!” kata seorang lelaki tua di sela-sela kerumuman banyak orang di rumah Lik Karimun. Suasana bagai lebah mencari sarang. Onar dalam kebingungan. Saling pandang. Saling tanya. Namun, tak ada jawaban. Mereka mengurai menurut alur pikiran masing-masing. “Kalau begitu, betul-betul gawat kampung kita. Kita harus mbudidaya agar demit itu tak lagi seliweran kemari!” lanjut lelaki... (Baca lanjutannya!)

Kang Sakri dan Perempuan Pemimpi

Tuesday, 1 January 2008 | 47 pembaca | 3 komentar
Kategori: Cerpen, Sastra

Puluhan mayat terjepit mengenaskan di sela-sela reruntuhan dan puing-puing bangunan yang porak-poranda. Bau busuk menyembur-nyembur. Ratusan burung pemangsa bangkai terbang rendah. Lantas, dengan kecepatan tak terduga menyerbu mayat-mayat itu. Dengan kekuatan penuh, paruh dan kuku burung-burung ganas itu mencengkeram dan mencabik-cabik puluhan mayat yang sudah penuh belatung. “Crok… crok … cruok!” Ratusan burung pemakan bangkai berpesta. Rakus. Buas. Lalat dan serangga terbang berhamburan. (Baca lanjutannya!)  Read More →