Pembelajaran Berperspektif Gender
Thursday, 3 July 2008 | 570 pembaca | 42 komentar
Selama tiga hari (30 Juni-2 Juli 2008) saya bersama rekan-rekan guru dari 9 kabupaten mengikuti pelatihan “Pembelajaran Berperspektif Gender” di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Berikut ini rangkumannya. Isu gender sebenarnya sudah lama menggema di negeri ini. Kuatnya cengkeraman kultur patriarki, disadari atau tidak, telah mempersempit gerak kesetaraan gender dalam berbagai ranah kehidupan. Dalam lingkungan keluarga, misalnya, anak laki-laki “dipaksa” membunuh kepribadiannya yang feminim, lembut, dan emosional. Sebuah pantangan apabila anak lelaki memiliki karakter cengeng dan suka menangis. Anak laki-laki harus kuat dan perkasa. Sebaliknya, anak perempuan juga dipaksa menanggalkan karakternya yang maskulin, rasional,... (Silakan baca lanjutannya!)
Gejala Tutur Indon-English dan UU Kebahasaan
Saturday, 28 June 2008 | 426 pembaca | 36 komentar
Jika kita runut berdasarkan aspek historisnya, Bahasa Indonesia (BI) telah mengalami proses yang panjang. Bukan hanya situasi heroik dan ”berdarah-darah” yang menyertai perjuangan para pendiri negara dalam menggapai identitas dan jatidiri keindonesiaan, melainkan juga karena dalam perkembangannya kemudian, BI telah mengalami proses adaptasi dan dinamika sosiokultural yang luar biasa, baik dalam persentuhannya dengan nilai-nilai kearifan lokal maupun nilai-nilai global di tengah kancah percaturan bahasa-bahasa di dunia. Kesadaran historis ini menjadi penting dan relevan untuk dikemukakan agar kita tidak mudah terjebak dalam buaian globalisasi yang bisa meruntuhkan semangat dan gairah untuk mencintai bahasa negeri sendiri di tengah ancaman... (Silakan baca lanjutannya!)
Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?
Wednesday, 25 June 2008 | 853 pembaca | 57 komentar
Dunia pendidikan kembali tercoreng. Entah, sudah berapa kali kasus kekerasan yang melibatkan kaum pelajar kita itu terungkap. Aksi mereka, konon tak melulu sebatas kenakalan remaja yang wajar, tetapi sudah memasuki stadium kriminal yang perlu diwaspadai secara serius. Maka, terhenyaklah kita ketika sekelompok pelajar putri yang menamakan diri sebagai Geng Nero (Neka-neka Langsung Keroyok) berulah. Mereka tak segan-segan melakukan praktik kekerasan jika ada anggota gengnya yang tersakiti. Kasus yang kini telah ditangani aparat keamanan setempat itu tak urung mencuatkan sejumlah pertanyaan dalam benak kita. Sudah demikian parahkah moralitas kaum pelajar kita sehingga begitu mudah melampiaskan naluri agresivitasnya? Sudah demikian mandulkah peran... (Silakan baca lanjutannya!)

















