Home » Esai » Sastra » Membaca Ida Nursanti Basuni Pasca-100 Hari “Kepulangannya” » 63453 pembaca

Membaca Ida Nursanti Basuni Pasca-100 Hari “Kepulangannya”

mimpi sang dareBalai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, Sabtu (14 April 2012) pukul 19.30 WIB. Suasana tampak syahdu dan mengharu-biru. Puluhan penyair muda dan pencinta sastra Kendal serasa tak sanggup membendung sentakan rasa haru yang tiba-tiba saja menyelinap di rongga dada. Lirik-lirik puisi yang indah dan eksotis serasa mengalirkan sesuatu yang gaib. Singkawang (Kalimantan Barat) yang secara sosial dan geografis sangat berjarak dengan Kendal (Jawa Tengah) tiba-tiba hadir dengan segala geliat kultural dan dinamika peradabannya. Secara bergantian publik sastra yang tumpah dalam Hajatan Kebun Sastra #14 itu membacakan puisi yang sarat dengan warna lokal Singkawang.

Begitulah suasana hajatan bertajuk “Menafsir Kelelahan: Setangkup Doa atas 100 Hari Berpulangnya Kawan Tercinta: Ida Nursanti Basuni” yang digagas penyair Farhan Satria itu. Syahdu dan mengharukan. Sebagian besar yang hadir memang secara biologis tak mengenal siapa itu Ida Nursanti Basuni. Namun, secara “ideologis” kepenyairan, almarhumah terasa sanggup memperpendek jarak ruang dan waktu. Nilai-nilai kearifan lokal Singkawang dengan segala geliat peradabannya terasa begitu universal untuk ditafsirkan. Meski dia telah berpulang ke haribaan-Nya, 6 Januari 2012 silam, roh kreativitas Ida Nursanti Basuni terasa mengalirkan bahasa “universal” yang senantiasa sanggup menawarkan ruang-ruang penafsiran baru.

Aku ingat lelap kenangan
bertahun lampau
Ramadhan kesepuluh
yang terasa amat panjang
di serambe’
Uma’ membisik kata
yang tak mampu kujamah
lewat terawang mata.
“Sannong, hati Ma’ risau.
pendaringan kita tinggal antah.
walau Ma’ tahu kesulitan
ini dari Allah Ta’ala jua
ada nikmat tak terhingga di sebaliknya.”
….
(“Tujuh Likur dengan Dzikirmu, Ma’”)

Begitulah almarhumah men-trasendensi-kan sikap religiusnya. Ma’ dijadikan sebagai medium kepasrahannya terhadap kehendak Sang Khalik. Tak terlalu nyinyir dan latah. Kebajikan hidup dalam menafsirkan sang takdir tak diekspresikan dengan mengumbar ayat-ayat kitab suci. Dengan bahasa yang sederhana, lirik-lirik penyair yang meninggal dalam usia amat muda (29 tahun, lahir 7 November 1983) itu tak hendak berbicara dan terjebak dalam sesuatu yang absurd dan utopis. Hidup kesehariannya yang akrab dengan Singkawang yang damai telah melahirkan sejumlah puisi yang terkumpul dalam antologi Mimpi Sang Dare. Gaya tuturnya yang khas dan kaya personifikasi setidaknya telah menjadi sumber inspirasi bagi para penyair muda Kendal untuk terus mengeksplorasi talentanya dalam bertutur lewat puisi.

Mengenang Ida Mengenang Ida
Mengenang Ida Mengenang Ida
Mengenang Ida Mengenang Ida

Suasana ketika Hajatan “Mengenang 100 Hari Kepulangan Ida Nursanti Basuni berlangsung di Balai Kesenian Remaja (BKR), Sabtu, 14 April 2012

Publik sastra Kendal agaknya memiliki cara tersendiri dalam mengapresiasi karya-karya (almarhumah) Ida Nursanti Basuni yang dianggap telah menjadi sahabat “ideologis”-nya dalam berproses kreatif. Tak cukup hanya membacakan karya-karyanya yang ekspresif, diskusi pun digelar sebagai salah satu upaya untuk lebih mendekatkan “roh” kreativitasnya kepada publik sastra Kendal.

Maka, tak heran jika hajatan yang sengaja didesain bersahaja itu, secara tidak langsung berupaya “menghidupkan” roh kreativitas Ida Nursanti Basuni untuk terus diikuti jejaknya agar atmosfer penciptaan teks-teks puisi yang kental dengan warna lokal tetap terjaga.

Selamat jalan, Ida, semoga kamu menemukan kedamaian dan ketentraman di sisi-Nya! Meski kau telah tiada, proses kreativitasmu akan tetap terabadikan dan memfosil dalam “tahta” kesusastraan Indonesia mutakhir lewat karya-karyamu! ***

Tulisan berjudul "Membaca Ida Nursanti Basuni Pasca-100 Hari “Kepulangannya”" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 April 2012 @ 00:07) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!
Share to: Twitter Facebook Google+ Linkedin Pinterest

5 Comments

  1. Bertemu dengan Pak Sawali pada seminar guraru di slawi beberapa waktu yang lalu, saya langsung tergerak ingin segera membuka sawali.info. Rasa penasaran itu baru terobati sekarang ini. Ternyata, Pak Sawali memiliki blog yang luar biasa, saya terkesan dengan tampilan blognya yang cukup sederhana tapi mampu menampung sebegitu banyaknya ide. Salut and sukses untuk Pk Sawali.
    Perkenalkan pak, saya Oky guru bahasa Indonesia SMA di slawi. Saya termasuk blogger amatiran. Baru mengenal blog kurang lebih 2 tahun terakhir, kunjungi blog saya ya Pak, dan berikan komentar sebagai kritik yang membangun. Trims Pak
    http://eka-karatika.blogspot.com

  2. Masih muda, puisinya mistis dan sekarang dia sudah berpulang. Betapa nasib benar-benar Allah yang tentukan ya Pak. Semoga Mbak Ida bertambah tenang di sisi-Nya, berkat doa dari seluruh teman-temannya. Amin

  3. Saia penasaran kayak apa suwaranya pak Wali nekjika membacakan puisi pak. Tapi jujur, sejak SMP nekjika ada orang baca puisi dengan penghayatan yang apik, kayak orang baca qur-an suwasananya, syahdu, merdu, indah, hati bisa layu membiru, njur kaku tekan kuku-kukuku 😀

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*