Saturday, 25 May 2013

ARSIPBUKU TAMUKRITIK CERPENPASANG IKLANTAUTANUNDUHBAHASABLOGBUDAYAOPINIPENDIDIKANSASTRA

Tuesday, 17 April 2012 (00:07) | Esai, Sastra | 2,450 pembaca | 25 komentar | Print this Article

mimpi sang dareBalai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, Sabtu (14 April 2012) pukul 19.30 WIB. Suasana tampak syahdu dan mengharu-biru. Puluhan penyair muda dan pencinta sastra Kendal serasa tak sanggup membendung sentakan rasa haru yang tiba-tiba saja menyelinap di rongga dada. Lirik-lirik puisi yang indah dan eksotis serasa mengalirkan sesuatu yang gaib. Singkawang (Kalimantan Barat) yang secara sosial dan geografis sangat berjarak dengan Kendal (Jawa Tengah) tiba-tiba hadir dengan segala geliat kultural dan dinamika peradabannya. Secara bergantian publik sastra yang tumpah dalam Hajatan Kebun Sastra #14 itu membacakan puisi yang sarat dengan warna lokal Singkawang.

Begitulah suasana hajatan bertajuk “Menafsir Kelelahan: Setangkup Doa atas 100 Hari Berpulangnya Kawan Tercinta: Ida Nursanti Basuni” yang digagas penyair Farhan Satria itu. Syahdu dan mengharukan. Sebagian besar yang hadir memang secara biologis tak mengenal siapa itu Ida Nursanti Basuni. Namun, secara “ideologis” kepenyairan, almarhumah terasa sanggup memperpendek jarak ruang dan waktu. Nilai-nilai kearifan lokal Singkawang dengan segala geliat peradabannya terasa begitu universal untuk ditafsirkan. Meski dia telah berpulang ke haribaan-Nya, 6 Januari 2012 silam, roh kreativitas Ida Nursanti Basuni terasa mengalirkan bahasa “universal” yang senantiasa sanggup menawarkan ruang-ruang penafsiran baru.

Aku ingat lelap kenangan
bertahun lampau
Ramadhan kesepuluh
yang terasa amat panjang
di serambe’
Uma’ membisik kata
yang tak mampu kujamah
lewat terawang mata.
“Sannong, hati Ma’ risau.
pendaringan kita tinggal antah.
walau Ma’ tahu kesulitan
ini dari Allah Ta’ala jua
ada nikmat tak terhingga di sebaliknya.”
….
(“Tujuh Likur dengan Dzikirmu, Ma’”)

Begitulah almarhumah men-trasendensi-kan sikap religiusnya. Ma’ dijadikan sebagai medium kepasrahannya terhadap kehendak Sang Khalik. Tak terlalu nyinyir dan latah. Kebajikan hidup dalam menafsirkan sang takdir tak diekspresikan dengan mengumbar ayat-ayat kitab suci. Dengan bahasa yang sederhana, lirik-lirik penyair yang meninggal dalam usia amat muda (29 tahun, lahir 7 November 1983) itu tak hendak berbicara dan terjebak dalam sesuatu yang absurd dan utopis. Hidup kesehariannya yang akrab dengan Singkawang yang damai telah melahirkan sejumlah puisi yang terkumpul dalam antologi Mimpi Sang Dare. Gaya tuturnya yang khas dan kaya personifikasi setidaknya telah menjadi sumber inspirasi bagi para penyair muda Kendal untuk terus mengeksplorasi talentanya dalam bertutur lewat puisi.

Mengenang Ida Mengenang Ida
Mengenang Ida Mengenang Ida
Mengenang Ida Mengenang Ida

Suasana ketika Hajatan “Mengenang 100 Hari Kepulangan Ida Nursanti Basuni berlangsung di Balai Kesenian Remaja (BKR), Sabtu, 14 April 2012

Publik sastra Kendal agaknya memiliki cara tersendiri dalam mengapresiasi karya-karya (almarhumah) Ida Nursanti Basuni yang dianggap telah menjadi sahabat “ideologis”-nya dalam berproses kreatif. Tak cukup hanya membacakan karya-karyanya yang ekspresif, diskusi pun digelar sebagai salah satu upaya untuk lebih mendekatkan “roh” kreativitasnya kepada publik sastra Kendal.

Maka, tak heran jika hajatan yang sengaja didesain bersahaja itu, secara tidak langsung berupaya “menghidupkan” roh kreativitas Ida Nursanti Basuni untuk terus diikuti jejaknya agar atmosfer penciptaan teks-teks puisi yang kental dengan warna lokal tetap terjaga.

Selamat jalan, Ida, semoga kamu menemukan kedamaian dan ketentraman di sisi-Nya! Meski kau telah tiada, proses kreativitasmu akan tetap terabadikan dan memfosil dalam “tahta” kesusastraan Indonesia mutakhir lewat karya-karyamu! ***

Tulisan berjudul "Membaca Ida Nursanti Basuni Pasca-100 Hari “Kepulangannya”" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 April 2012 @ 00:07) pada kategori Esai, Sastra dan telah dikunjungi oleh 2,450 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda.

Tulisan lain yang berkaitan:

Resensi Buku Gumam Asa, Bungkam Mata Gergaji (Thursday, 7 March 2013, 219 pembaca, 11 respon) Menyingkap Nomena Gumam ASA dalam Buku ”Bungkam Mata Gergaji” Karya Ali Syamsudin Arsi Alih-Alih Pendahuluan PPada mulanya adalah gumam, bukan...
Menulis, Perlukah Bakat? (Tuesday, 18 December 2012, 701 pembaca, 43 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan rekan-rekan sejawat dalam sebuah pelatihan menulis, seringkali muncul pertanyaan...
Puisi Bahasa Banjar Ali Syamsudin Arsi (Tuesday, 31 July 2012, 2,622 pembaca, 15 respon) (Beberapa waktu yang lalu, penyair Banjar, Ali Syamsudin Arsi, mengirimi saya dua buah puisi via email. Meski kurang mengerti dengan makna, baik yang...
Catatan Belati dari Tragedi Dua Lelaki (Sunday, 22 July 2012, 2,032 pembaca, 12 respon) (sebuah ruang pembacaan atas puisi ‘Bunga Kering Perpisahan’ dalam buku “Atas Nama Cinta”  karya Denny JA) Oleh: Ali Syamsudin Arsy Dewi...
Aku Tulis Pamplet Ini (Saturday, 30 June 2012, 144 pembaca, 0 respon) Oleh : W.S. Rendra Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah Orang-orang bicara...

25 komentar: "Membaca Ida Nursanti Basuni Pasca-100 Hari “Kepulangannya”"

  1. Salam kenal ya gan :) nice blog

Leave a Reply

«
»