Menyelesaikan Pekerjaan Offline yang Tersisa

Kategori Opini Oleh

Lebaran tinggal menunggu hitungan hari. Jalan raya sudah mulai padat merayap. Jalanan hampir tanpa sela dan jeda. Para pemudik seperti sudah tak sabar untuk bisa segera melepas kerinduan dengan sanak kerabat di kampung halaman. Sebagai bagian dari “komunitas” pemudik, saya pun juga merasakan geliat tahunan semacam itu. Sayangnya, untuk mudik kali ini, saya tidak bisa secepatnya ikut larut dalam antrean panjang di perjalanan. Masih ada beberapa pekerjaan offline yang tersisa. Rasanya kurang nyaman juga kalau beberapa pekerjaan itu tidak saya sentuh, hehe …. sebelum saya benar-benar mengunci rumah.

desaMasih berbicara tentang mudik. Ngomong-ngomong tentang kosakata yang satu ini memang selalu menyajikan nuansa budaya yang tak habis dibedah dari berbagai sisi. Dari sisi kultural, mudik sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pranata sosial kehidupan bangsa kita. Ia (baca: mudik) menjanjikan nilai-nilai kekerabatan dan kekeluargaan yang mampu merakit tali persaudaraan yang selama ini terpisahkan oleh jarak dan waktu. Tak berlebihan jika saudara-saudara kita yang sedang menjalankan “ritual” tahunan semacam itu rela berpayah-payah antre dan dibakar terik matahari selama menempuh perjalanan guna memenuhi hasrat dan naluri kekerabatannya. Rasanya tidak afdol menikmati lebaran tanpa mudik, khususnya buat saudara-saudara kita yang selama ini tinggal di perantauan.

Dari sisi ekonomi, mudik juga mampu memberikan nilai tambah buat kemajuan kampung halaman. Jika dikalkulasi, entah berapa duwit saja yang mengalir dari kota ke desa. Bahkan, beberapa warga yang selama ini tinggal di rantau, bersepakat untuk memberikan kontribusi buat kemajuan pembangunan di kampung dengan mengumpulkan duwit secara sukarela untuk ikut berpartisipasi memajukan kampung kelahiran. Ini realitas sosial yang tak terbantahkan. Pembangunan di negeri ini masih jauh dari aspek keadilan. Masih banyak kampung di negeri ini yang (nyaris) tak tersentuh geliat kemajuan. Ini artinya, mudik sesungguhnya juga merupakan bentuk sentilan dari rakyat kepada penguasa agar tidak melupakan kampung dan desa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari negeri yang besar ini.

Dari sisi religiusitas, mudik jelas menjadi bagian dari laku silaturahmi yang dalam ajaran agama apa pun sangat dianjurkan. Silaturahmi tak hanya merekatkan ikatan kekeluargaan, tetapi juga diyakini mampu memanjangkan umur dan memperluas jaringan rezeki. Sungguh tidak elok kalau memiliki kesempatan untuk bisa bersilaturahmi dengan sanak-kerabat dengan sengaja bersikap cuek dan apatis.

Semoga pekerjaan offline saya yang tersisa bisa secepatnya terselesaikan, sehingga bisa ikut merasakan geliat dan dinamika mudik selama di perjalanan, sekaligus bisa menuntaskan naluri kerinduan yang selama ini bersemayan di rongga dada. Selamat mudik saudara-saudaraku, semoga lancar dan selamat di perjalanan, hingga bisa bertemu dan menumpahkan rasa kangen dengan sanak kerabat dan handai taulan di kampung kelahiran. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

37 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Go to Top