Minggu, 23 November 2014

Friday, 1 July 2011 (02:55) | Sastra | 22219 pembaca | 16 komentar

Di tengah maraknya kasus mafia yang melanda negeri ini, kita kehilangan sosok sastrawan yang amat setia dengan dunianya, Wisran Hadi. Beliau wafat pada Selasa, 28 Juni 2011 (pukul 07.30 WIB) akibat serangan jantung di Kota Padang Sumatera Barat dalam usia 66 tahun. Almarhum tiba-tiba tersungkur ketika sedang mengetik tulisan. Menurut istri almarhum, Raudhah Thaib, saat dibawa ke kamar untuk diberi obat, nafasnya sudah tersengal-sengal. Saat itulah, sastrawan yang juga budayawan ini menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wisran Hadi meninggalkan istri Raudhah Thaib (46) serta empat orang anak, yaitu St Ahmad Riyadh, St M Ridha, St M Tarikh, dan Puti Aisyah Humairah.

WHWisran Hadi pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu yang berisi empat naskah drama: ”Senandung Semenanjung”, ”Dara Jingga”, ”Gading Cempaka”, dan ”Cindua Mato”. Atas karyanya itu, almarhum mendapatkan penghargaan South East Asia (SEA) Write Award 2000. Novel yang pernah dibukukan, antara lain Tamu, Imam, Empat Sandiwara Orang Melayu, dan Simpang. Cerpen-cerpennya kerap dipublikasikan di media cetak dan dibukukan penerbit Malaysia berjudul Daun-daun Mahoni Gugur Lagi. Sedangkan, 12 naskah drama karya tamatan Akademi Seni Rupa Indonesia (kini Institut Seni Indonesia) Yogyakarta ini pernah memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dari 1976 hingga 1998, ikut International Writing Program di Iowa University, Iowa, Amerika Serikat pada tahun 1977 dan pernah mengikuti observasi teater modern Amerika pada tahun 1978 dan teater Jepang pada tahun 1987. Dia juga pernah mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud karena karya buku dramanya Jalan Lurus mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud dan dijadikan buku drama terbaik pada Pertemuan Sastrawan Nusantara 1997.

Sungguh, wafatnya Wisran Hadi benar-benar merupakan sebuah kehilangan buat negeri kita yang sedang membutuhkan pencerahan melalui karya-karya literer yang bermutu. Karya-karya almarhum, meski secara langsung tidak mampu melakukan sebuah perubahan, setidaknya telah memberikan kontribusi sosio-kultural-emosional dalam dinamika dan perjalanan peradaban bangsa yang tengah tertatih-tatih akibat dihimpit banyak beban dan persoalan. Sastrawan bukanlah politisi yang memandang setiap persoalan berdasarkan kalkulasi untung-rugi dengan banyak kepentingan yang bermain-main di dalamnya. Sastrawan juga bukan penguasa atau pengusaha yang nalurinya selalu bergerak untuk mengendus setiap peluang dan kesempatan sebagai investasi untuk melanggengkan kekuasaan, harta, dan kemewahan. Sastrawan lebih banyak bersentuhan dengan persoalan-persoalan kemanusiaan yang selama ini terabaikan oleh para pengambil kebijakan yang dinilai sudah kehilangan kepekaan dan nurani.

Sungguh, di tengah “kebangkrutan moral” yang mengancam negeri ini, kita sangat membutuhkan sosok sastrawan semacam (alm.) Wisran Hadi yang mampu menyentuh setiap persoalan hidup dan kehidupan dengan lebih jernih melalui kepekaan intuitif dan mata batinnya, yang kemudian terekspresikan melalui teks-teks sastra yang “liar”, mencengangkan, sekaligus mencerahkan. Meski almarhum telah meninggalkan kita semua, karya-karyanya akan menjadi warisan kekayaan literer yang tak akan pernah habis mengalirkan “nutrisi” batin kepada segenap anak bangsa dari generasi ke generasi.

Sungguh, bangsa kita benar-benar merasa kehilangan sosok sastrawan dan budayawan yang demikian setia menekuni dunianya hingga Malaikat Maut menjemputnya menuju ke alam keabadian itu. Selamat jalan, Abah, semoga Allah memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya, amiin! ***

Tags:

Tulisan berjudul "Wisran Hadi: Potret Sastrawan yang Setia dengan Dunianya" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 July 2011 @ 02:55) pada kategori Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Menjaga Marwah Sastrawan Kita (Monday, 9 December 2013, 66771 pembaca, 5 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Sebagai salah satu produk kebudayaan, sastra berperan sebagai penjaga peradaban. Ia (baca: sastra) bagaikan “mata zaman”...

Butet Kertaradjasa: Berpotensi Mati Muda (Tuesday, 22 May 2012, 57286 pembaca, 1 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Inilah Butet Kertaradjasa, salah satu seniman paling “rasional” yang dimiliki Jogja. Silahkan, katanya, jika...

Abdul Muis: Melawan Belanda dengan Pena (Sunday, 13 May 2012, 56199 pembaca, 0 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Perlawanan terhadap penjajahan Belanda dilakukannya tanpa putus-putus dengan berbagai cara. Dengan ‘pena’-nya yang...

W.S. Rendra: Kepiawaian Si Burung Merak (Saturday, 5 May 2012, 54858 pembaca, 3 respon) Meski usianya hampir 70 tahun, kepak sayap si penyair berjuluk “Si Burung Merak” ini masih kuat dan tangkas. Suaranya masih lantang dan...

Pramoedya Ananta Toer (Sunday, 26 February 2012, 55840 pembaca, 2 respon) Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia Minggu 30 April 2006 sekitar pukul 08.30 WIB di rumahnya Jl Multikarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Sang...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
1 PIN
2 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

16 komentar pada "Wisran Hadi: Potret Sastrawan yang Setia dengan Dunianya"

  1. semoga mati syahid dalam berjuang menyebarkan kebenaran.

Leave a Reply