Home » Esai » Sastra » Kisah Pradna Paramita tentang Inus, Suher, dan Viper

Kisah Pradna Paramita tentang Inus, Suher, dan Viper

Beberapa waktu yang lalu, Mas Pradna Paramita mengirimi saya beberapa cerpen via email, yaitu “Halt” (dimuat di majalah Hai! April 2009), “Warung Koboi” (dimuat di Gagasmedia-blog, 2008), “Viper” (masuk dalam kumpulan cerpen “Demi Waktu”, yang dimuat oleh Warung Fiksi asuhan Bhramanto Anindityo), dan “Tunas” (kumpulan cerpen sekaligus novel mini). Oleh Mas Pradna, kisah-kisah fiksi tersebut diemailkan dengan maksud untuk menemani long week-end saya saat liburan yang lalu. Wah, benar-benar sebuah kehormatan buat saya. Terima kasih atas kiriman cerpen-cerpennya, Mas Pradna. Namun, mohon maaf, baru kali ini saya sempat membaca sekaligus memostingnya dalam sebuah review sederhana, kecuali “Tunas”, sebuah kumpulan cerpen yang  sekaligus juga novel mini, yang perlu review tersendiri.

Cerpen “Halt” bertutur tentang seorang tahanan Polda Metro Jaya bernama Inus yang “ditakdirkan” sebagai sosok yang serba anomalis. Lahir dibuang ke panti asuhan, ketika umur 3 tahun kesetrum komputer. Namun, peristiwa tak terduga ini membawa perubahan besar dalam hidupnya. Ia jadi begitu “rakus” untuk melahap hal-hal yang berkaitan dengan perangkat teknologi komputer. “Kerakusan” akan dunia komputer membuat Inus jadi anak jenius. Sayangnya, kejeniusannya dikembangkan untuk memperlebar wilayah dunia kriminal. Saat kelas 9, dia sudah berhasil membobol beberapa ribu dolar dari beberapa bank internasional. Ketika kelas 11, nama Inus sudah diperhitungkan di dunia bawah tanah internasional. Carding, phising, cracking merupakan aktivitas kejahatan yang dengan gampang ia lakukan sambil membersihkan kotoran kuku. Ketika duduk di pertengahan kelas dua belas, Inus diciduk polisi satuan cyber-crime Polda Metro Jaya.

Ketika berstatus sebagai tahanan Polda Metro itulah konflik cerita “Halt” dimulai. Di balik jeruji besi, Inus yang biasa malang-melintang menjalani profesinya sebagai cracker “hitam” di dunia maya mesti berhadapan dengan gerombolan preman bertampang seram di alam kasunyatan. Namun, bukan Inus kalau tak cerdik berkelit. Meski dihajar hingga babak-belur, ia tetap menikmatinya seperti belaian kasih sayang. Beruntung pembiadaban itu tak berlanjut. Oleh beberapa Polisi Samapta, ia dipertemukan dengan seorang bapak gendut berbaju safari dan bapak berkacamata dan berjas abu-abu (pengacara). Lantas, dibawa menyelinap dalam jaguar hitam yang nyaman menembus keramaian ibukota menuju apartemen Inus.

Sambil mengompres mulutnya yang bonyok, Inus dibujuk si bapak gendut berbaju safari agar mau membobol harta seorang kakek tua yang telah diwariskan kepada cucu satu-satunya. Berbekal data dalam mini-disk, Inus segera beraksi. Keahliannya melacak data membuat Inus demikian gampang menemukan apa yang dia inginkan. Namun, ia tersentak ketika melihat sang pewaris tunggal harta trilyunan itu; Kartika Yunari, yang tak lain adalah cewek teman sekelas Inus yang biasa memberikan contekan PR dan makan siang.

Ketika dia terus melakukan pelacakan data, ternyata ada penjarah lain yang akan menghisap kekayaan Ika. Muncul sikap kepahlawanannya. Inus berupaya melindungi harta Ika dengan membuat sistem keamanan berlapis yang sulit dibobol cracker. Walhasil, si Inus pun kembali dijebloskan ke tahanan Polda Metro setelah dia gagal diajak kerja sama dengan si bapak gendut berbaju safari. Namun, kali ini ia diselamatkan oleh Kartika Yunari yang diam-diam mulai jatuh cinta setelah tahu Inuslah yang telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan harta warisannya.
***

Cerpen “Warung Koboi” bertutur tentang kesaksian Suher, seorang pedagang angkringan, terhadap berbagai fenomena yang terjadi di sebuah kawasan di Yogya. Sebagai pedagang bermodal pas-pasan, ia seperti tak bisa mengelak dari nasib buruk yang menelikungnya. Sejak sore (hampir) semua penjaja makanan nasi kucingnya, dengan berbagai alasan tak bisa membayar. Belum tuntas kegeramannya, Suher harus menerima kenyataan pahit. Mahasiswa yang sedang demo kenaikan BBM beramai-ramai melewati warungnya. Walhasil, dia pun harus siap-siap menutup warungnya sebelum sesuatu yang buruk menimpanya. Sial!

Cerita diawali jam lima sore ketika pelanggan pertama datang. Seorang pria berusia awal empat puluhan yang tampil rapi dan parlente. Meski berpenampilan rapi, lelaki ini dengan berbagai alasan bergaya ala orang kaya selalu mengelak ketika ditawari makanan yang tersedia. Ketika ditanya soal pekerjaan, dengan mantab dia bercerita panjang lebar tentang pekerjaannya di bank, bahkan baru saja mendapatkan nasabah baru dan untung besar. Lantas, dia pun mulai beraksi merayu Suher agar bersedia menjadi nasabahnya. Namun, sayang, belum tuntas dia beraksi, dua polisi berpakaian preman telah meringkusnya. Rupanya, si lelaki parlente itu sudah lama jadi incaran polisi.

Kisah berlanjut ketika angkringan Suher dikerubuti para abas (anak basket) yang badung dan suka gojek kere (bercanda model orang miskin) hingga akhirnya ortu mereka memanggil-manggil nama mereka ketika bedug Maghrib menggema. Adegan berikutnya adalah datangnya sepasang anak muda ketika rinai hujan menyembur-nyembur. Sambil menghangatkan diri dengan minuman jahe susu pesanan dan gorengan, dua anak manusia berbeda jenis ini terlibat obrolan khas orang yang sedang dimabuk kasmaran. Ketika mau membayar makanan sepuluh ribu perak, si pemuda mengeluarkan duwit 100-an ribu. Karena tak punya kembalian, Suher pun rela, duwit 10 ribu itu melayang.

Rupanya “cobaan” Suher belum juga berakhir. Tiba-tiba saja dia teringat istri dan anaknya ketika dua orang berbeda jenis menerobos ke warung angkringannya. Rupanya kedua anak manusia ini sedang ditimpa masalah. Mereka sedang bertengkar karena si perempuan ternyata sudah hamil sebelum resmi menikah. Si lelaki, dengan alasan “belum siap” meminta si perempuan untuk membunuh janin dalam kandungan alias mengugurkan. Pertengkaran pun makin seru. Belum sempat dua orang ini membayar, tiba-tiba terjadi kerusuhan; mahasiswa yang demo BBM bentrok sama Polisi. Dengan terpaksa, Suher harus segera menyelamatkan warung angkringannya. Maka, sempurnalah penderitaan Suher. Jualan tak dapat duwit, terancam kerusuhan lagi.

Cerpen “Viper” bertutur tentang impian yang terenggut dan menjadi alasan tokoh “aku” menghabisi ayah angkatnya, Komisaris Besar Bambang Suwiryo, yang semula dikaguminya. Namun, perubahan terjadi ketika si “aku” mulai suka menulis. Menurut sang “ayah”, aktivitas menulis merupakan dunia yang cengeng dan banci. Sang ayah yang semula dikagumi, mendadak dibenci. Apa pun yang dikatakan sang ayah dianggap sebagai penghinaan. Maka, mulailah si “aku” merencanakan sebuah taktik mematikan. Semua keinginan ayahnya yang berlatar belakang keluarga militer diturutinya, sehingga si “aku” langsung masuk ke Akademi Kepolisian di Semarang. Tiga tahun berikutnya lulus dengan peringkat pertama, lantas melanjutkan pendidikan sebagai intel dan akhirnya menjadi bintang cemerlang bagi kepolisian. Berbagai kasus sulit, termasuk kasus mutilasi, bisa diselesaikan dengan mudah, hingga akhirnya mendapatkan kesempatan  menempuh pendidikan penyidik di The School of the London Detective, Scotland Yard. Lantaran kecerdasan, ketenangan dan kecepatannya saat memecahkan studi kasus, si “aku” mendapat nickname: Viper. Pulang ke tanah air, karir si “Aku” menanjak pesat. Usia 25 tahun telah berhasil merengkuh gelar Komisaris Polisi termuda dalam sejarah kepolisian Indonesia dan masuk di jajaran Polda Semarang, di bawah Kombes Bambang Suwiryo yang selalu membangga‐banggakan si “aku” di depan koleganya.

Namun, dendam yang mengeram dalam dadanya terhadap sang ayah angkat tak pernah pupus. Muncullah rencana rapinya untuk membunuh sang ayah. Berbekal kemampuan melakukan aksi intel, rencana pun berlangsung mulus. Sang ayah terbunuh mengenaskan, demikian juga sang ibu. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya terjatuh juga. Demikian juga sang tokoh “aku”. Rencana rapinya terbongkar justru oleh anak buahnya, Bripda Jatmoko, yang dikenal sangat loyal kepadanya.
***

Hmm …. Kisah-kisah yang menarik! Dari tiga cerpen yang saya baca, Mas Pradna setidaknya memiliki kemampuan mengeksplorasi dan mengelaborasi tema. Mas Pradna bisa bertutur tentang apa saja terhadap berbagai fenomena kehidupan yang menggelisahkan mata batinnya. Kepekaan intuitifnya dalam menguliti persoalan-persoalan keseharian layak diapresiasi. Ia bisa bertutur tentang pembunuhan yang sarat balutan misteri, persekongkolan jahat, perselingkuhan, marginalisasi wong cilik, dan berbagai persoalan hidup yang lain. Mas Pradna tak terpaku pada satu tema tertentu. Imajinasinya yang “liar” seringkali menghasilkan teks-teks cerpen yang memiliki daya kejut dan suspensi yang tak gampang ditebak. Meski baru tiga cerpen yang saya baca; “Halt”, “Warung Koboi”, dan “Viper”, Mas Pradna sudah mampu membuktikan diri sebagai penulis fiksi masa depan yang bertalenta.

Kemampuan Mas Pradna dalam mengeksplorasi dan mengelaborasi tema tampak benar pada cerpen “Halt” dan “Viper”. Dalam “Halt”, Mas Pradna bisa demikian fasih mengungkap tentang modus kaum cracker dalam menjalankan aksinya. Kita simak saja kutipan berikut ini!

Sebetulnya, dengan perlindungan tambahan yang Inus berikan sekarang ini, para penjarah itu tidak akan bisa menembus lagi lapisan keamanan bank. Dan Inus bisa melakukan aksinya dengan tenang dan keluar melalui backdoor sistem dari bank itu sendiri. Tapi, entah kenapa Inus malah menambah terus lapisan keamanan bikinannya sendiri, dan terus berpatroli dari bank satu ke bank lain. Memang kawanan troll itu terus bertambah, tapi Inus juga terus menambah shield-nya. Kini, keamanan rekening Ika setara dengan keamanan NSA (National Security Agency)-nya Amerika.

Sudah dua hari dua malam Inus terjaga, melindungi harta Ika. Kini saatnya menyerang balik. Troll itu sudah sedemikian banyak, hilang satupun tidak akan ketahuan. Inus meng-capture satu troll dan memindai identitas pemiliknya. Benar dugaan Inus, semua troll ini milik satu orang yang memiliki nickname Nero. Nero menggandakannya dengan sejenis program clone-troll (ehm, sebaiknya jangan dibaca yang aneh-aneh).

Sungguh, bukan hal yang mudah untuk mendeskripsikan persoalan-persoalan teknis seperti ini dalam sebuah teks fiksi. Tak hanya butuh kekuatan imajiner, tetapi juga butuh sentuhan “kecerdasan” tersendiri. Demikian juga halnya dalam cerpen “Viper” seperti kutipan berikut ini.

Mayor Infantri Pramono Suwiryo tertangkap basah saat berada di lokasi terbunuhnya Kombes Bambang Suwiryo. Dengan mudah Mayor Pramono dijadikan tersangka, karena bukti‐bukti nyata semua mengarah padanya. Mulai dari sidik jari, percakapan telepon terakhir yang berisi undangan Kombes Bambang agar Mayor Pramono datang ke rumahnya hari ini, hingga pistol yang digunakan untuk menghabisi suami‐istri itupun cocok dengan milik Mayor Pramono.

Tidak ada keraguan lagi. Provost dari POM Kodam IV Diponegoro, Semarang sudah dihubungi dan telah bersiap membawa Mayor Pramono. Aku tidak bisa datang awal karena harus menunggu ijin resmi agar diberi kewenangan memimpin penyidikan ini. Sesampainya di TKP, segera kuperiksa bukti‐bukti yang ada.

Tentu saja, jenius sepertiku tidak akan menyiapkan jalan cerita remeh‐temeh seperti ini. Om Pram, begitu biasa aku panggil, cuma sebagai kambing hitam pertama yang aku siapkan untuk menuju kambing hitam sesungguhnya.

Toh, aku tidak begitu dendam pada adik kedua ayah angkatku ini. Bahkan kalau aku selamatkan dia saat ini, kelak Om Pram akan membalas budi. Dan ini berguna bagi karirku di kemudian hari.

Seperti biasa, aku menunjukkan ciri polisi hasil didikan London, yaitu selalu melihat motif tersangka  melakukan kejahatan. Mayor Pramono tidak punya motif kuat untuk membunuh korban. Justru Kapten Pelaut Joko Suwiryo, adik pertama Kombes Bambang, yang memiliki motif kuat.

Setelah dicek ulang bukti‐buktinya, semua pas. Dipimpin olehku, para penyidik yang Terpesona dengan pertunjukan analisisku segera bersiap menuju kediaman KaptenJoko. Saat itulah, Brigadir Polisi Dua Jatmoko melapor.
….

Aku ingat itu ponsel terakhir yang dipegang ibu angkatku sebelum terjungkal tadi. Tadi aku sudah periksa, ponsel ini aman. Jadi, apa yang ditemukan keroco ini?

Tangan bersarung karet Bripda Jatmoko mengeluarkan ponsel dari kantung plastik. Memencet‐mencet sebentar dan menyerahkannya padaku. Aku melihat foto seseorang di situ. Citra yang ditampilkan begitu kabur. Tapi buat yang kenal, tidak salah lagi itu adalah fotoku. Celaka.

Jika citra ini dicocokkan dengan waktu pengambilannya, ia akan membawaku ke depan regu tembak. Aku memaki dalam hati. Aku salah duga. Aku tidak menyangka wanita sialan itu memfoto diriku, alih‐alih menelepon.

Ya, ya, gaya bertutur Mas Pradna yang lincah membuat pembaca seperti “tersihir” oleh alur cerita yang dikembangkannya. Pembaca seperti dihadapkan pada kisah-kisah detektif yang sarat intrik dan konflik. Banyak penulis yang gagal mendeskripsikan persoalan teknis seperti ini dalam sebuah teks fiksi, tetapi Mas Pradna mampu melakukannya dengan baik.

Yang agak berbeda adalah cerpen “Warung Koboi” sebagai representasi kepekaan intuitif Mas Pradna dalam mendedahkan dunia “wong cilik” dalam teks cerpen. Cerpen ini tidak secara detil mengelaborasi dunia Suher yang tertelikung dan terjerat kemiskinan, tetapi lebih banyak berupa sketsa seperti kisah “mozaik” yang menempelkan berbagai “kesaksian” menjadi sebuah adonan cerita. Dengan kata lain, sikap empati Mas Pradna terhadap dunia wong cilik yang tergencet dan termarginalkan oleh kesalahan para pengambil kebijakan dalam mengurus negara belum tampak benar dalam teks ini.

Meski demikian, jika terus diasah, bukan mustahil kelak Mas Pradna akan menjadi penulis fiksi yang cukup diperhitungkan dalam ranah sastra Indonesia mutakhir. Dalam pandangan awam saya, cerpen-cerpen Mas Pradna masih perlu sentuhan kode-kode sastra dengan mengakrabi stilistika gaya bercerita yang lebih liar dan menghanyutkan. Kekuatan diksinya masih perlu dipoles dengan memperbanyak idiom-idiom yang lebih subtil dan menyentuh kepekaan estetik pembaca. Cerpen bukan semata-mata mengalihkan fakta ke fiksi, melainkan juga menawarkan sejumlah renungan dan refleksi sehingga menumbuhkan kesadaran baru bagi pembaca untuk memberikan penafsiran yang “lain” dan beragam melalui idiom-idiom estetik yang didedahkan sang pengarang.

Saya mengucapkan selamat kepada Mas Pradna Paramita atas keberhasilan cerpen-cerpennya menembus berbagai media, baik online maupun offline. Semoga menjadi pemicu adrenalin untuk menciptakan teks-teks cerpen yang lebih liar dan menghanyutkan. Nah, salam kreatif! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Kisah Pradna Paramita tentang Inus, Suher, dan Viper" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 Mei 2011 @ 09:09) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 43 komentar dalam “Kisah Pradna Paramita tentang Inus, Suher, dan Viper

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *