Ketika Sastra(wan) Membuka Diri

Ketika Sastra(wan) Membuka Diri
(Gambaran guru. Bercakap dengan murid. Membingungkan)
Oleh: Nasrullah

(Tabloid URBANA, edisi 25 April-09 Mei 2011, Seni & Budaya)

Berada di depan sastrawan untuk membicarakan karya sastra bagi saya sangatlah menakutkan. Apalagi di hadapan belasan sastrawan. Meski ketika berada di Yogyakarta saya sering mencari kesempatan bertemu Emha Ainun Nadjib, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra (Almarhum), tapi hanya untuk minta dibubuhi tanda-tangan di buku yang mereka tulis. Walhasil, dalam buku Mata Jendela dan Hujan Bulan Juni, pengarangnya Sapardi Djoko Damono menggoreskan tanda tangan dengan kalimat pendek, “Untuk Nasrullah”. Emha Ainun Nadjib juga demikian, di buku Istriku Seribu selain memberi tanda tangan, dituliskannya kalimat, “Semoga Membuka Jendela Berkah”.

Kali ini ceritanya berbeda, Ali Syamsudin Arsi (ASA) juga menandatangani buku barunya, Bungkam Mata Gergaji serta menuliskan harapan “Moga Bermanfaat”. Namun, buku itu mesti saya bahas dalam acara launching dan diskusi sastradi Taman Olah Sastra Indonesia (TOSI) Banjarbaru (17/4) yang bekerja sama dengan Tabloid URBANA. Saya berharap dapat digantikan orang lain, tapi hal itu tak dapat saya hindari. “Ini tugasmu sebagai Kepala Pusat Data dan Analisi URBANA,” kata Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Tabloid URBANA, Budi Kurniawan.

Akhirnya, saya memberanikan diri membahas buku Bungkam Mata Gergaji (BMG) karya Ali Syamsudin Arsi (ASA) itu. Keberanian saya dibayangi perasaan wani-wani takut (berani-berani takut) karena menghadapi dua persoalan serius terhadap BMG. Pertama, BMG susah dibaca, tidak mudah dipahami. Kedua, kalau mengalami kesulitan pertama, tentu lebih susah lagi untuk membahasnya.

Dua persoalan itu semakin parah mengingat saya bukanlah seorang sastrawan, pengamat sastra apalagi kritikus sastra dan tak lebih hanya seorang penikmat sastra. Sangat memalukan jika saya menyamar menjadi sastrawan, tentu akan ditertawakan karena tak ubahnya Tarzan masuk kota. Saya merasa beruntung memiliki disiplin ilmu Antropologi karena nyaris semua bidang ilmu dapat dimasukinya, baik seni, kedokteran, pertanian, begitu pula sastra. Antropologi mampu bersekutu dengan disiplin ilmu yang lain.

Faktor inilah membuat saya berani untuk tampil membahas BMG karya ASA. Fokusnya pada pemikiran ASA yang terkandung dalam BMG. Keberanian saya setidaknya diperkuat dua orang mahaguru Antropologi UGM. Pertama, Irwan Abdullah yang pada tahun 2005 menulis Kepak Sayap si Burung Merak: Blues untuk Redra. Tulisannya berisi tentang pengalaman terhadap karya dan pementasan Rendra yang nampaknya sejalan dengan konsep pengalaman dan ekspresi dari Edward M. Bruner. Kedua, Heddy Shri Ahimsa Putra yang membahas secara serius tiga buah karya sastra Umar Kayam, yakni Sri Sumarah, Bawuk dan Para Priyayi (lihat Salam (ed), 1998: Ahimsa-Putra, 2006). Bagian kedua ini menjadi pilihan saya untuk membahas karya ASA dalam BMG.

Di hadapan para sastrawan Banjarbaru seperti Hajriansyah, Arsyad Indradi, Sirajul Huda, Harie Insani Putra, Randu Alamsyah, Miftahudin Munidi, Hamami Adaby, Zian Armie dan Dian Arlika serta sejumlah wartawan yang hadir pada saat itu, termasuk Ketua Umum Dewan Kesenian Kota Banjarbaru yang juga Wakil Walikota, H. Ogi Fajar Nuzuli bersama istrinya, saya menyampaikan pembahasan tentang salah satu bab BMG. Sebelumnya HE Benyamine, pengamat sastra Banjarbaru membahas BMG dari persfektif eksistensialisme. “Sepertinya buku ini kekirian,” katanya.

Saya sendiri melihat karya ASA dalam persfektif strukturalisme Levi-Strauss, berisi kontradiksi kehidupan. Kontradiksi inilah merupakan oposisi biner sebagai konflik batin. Keberadaan tokoh seseorang agaknya simbol guru yang secara eksplisit ditegaskan sub bab, yakni berdiri di depan kelas. Begitu pula pada kalimat lain “seseorang yang bercakap dengan anak muridnya”. Guru sebagaimana tugasnya untuk memberikan bahan pelajaran, tapi gambaran guru pada bagian ini bukanlah guru seperti zaman sekarang.

Tokoh ‘seseorang’ hanya sosok yang memiliki kemampuan terbatas. Ia harus melawan pada kekuatan luar biasa pada simbol bendera-bendera partai. Di bagian akhir secara jelas dituliskan “anak-anak itu pun turut terbungkam oleh pesona yang ditebarkan warna-warni bendera, senjata di balik kibarnya”.

Menarik dari karya ASA ini adalah, memberikan peluang untuk dianalisa di luar disiplin ilmu sastra atau bahasa. Ini menunjukkan terbuka kesempatan di luar kalangan sastrawan untuk menikmati karya sastra. Pun dalam acara itu, selain kalangan sastrawan turut hadir kalangan aktivis Walhi. “Kami juga menggalakkan puisi bertema lingkungan,” kata Andi, aktivis Walhi.

Pertemuan kalangan sastrawan, aktivis lingkungan, kalangan jurnalis adalah kombinasi unik dan asyik sebab akan memberi wawasan baru untuk saling mengisi. Kini tinggal konsistensi untuk menguatkan hubungan tersebut, sebab sastrawan maupun karya sastra ketika ditampilkan berarti terbuka ruang untuk dinikmati masyarakat secara luas. ***

Tulisan lain yang berkaitan:

Membaca Ida Nursanti Basuni Pasca-100 Hari “Kepulangannya” (Tuesday, 17 April 2012, 986 pembaca, 23 respon) Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, Sabtu (14 April 2012) pukul 19.30 WIB. Suasana tampak syahdu dan mengharu-biru. Puluhan penyair muda dan pencinta...
Lelaki Bulan Mei (Tuesday, 25 October 2011, 1,516 pembaca, 24 respon) Lelaki Bulan Mei Gumam Asa 8 Tentang Lelaki di bulan-bulan berlewat. Bulan-bulan yang terus melewati catatan sejarah. Kelebat riuh menunggu terpancar...
Menari Puisi-puisi (Monday, 17 October 2011, 861 pembaca, 16 respon) Gumam asa 9 Menari Puisi-puisi Oleh: Ali Syamsudin Arsi Ayo, puisi-puisi, mari menari, melingkar pada titik putarmu. Ayo, puisi-puisi, mari kita ikut...
Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra Ke-8 di Kota Banjarbaru (Tuesday, 6 September 2011, 2,046 pembaca, 39 respon) Catatan: Beberapa waktu yang lalu Bang Asa (Ali Syamsudin Arsi), sastrawan yang kini bermukim dan menetap di kota Banjarbaru, mengirimi saya dua buah...
Penyair Indonesia Asal Kalsel dalam “Akulah Musi” (Thursday, 11 August 2011, 1,778 pembaca, 29 respon) PENYAIR INDONESIA ASAL KALSEL DALAM “AKULAH MUSI” (Wajah paling mutakhir perpuisian Nusantara) Oleh : Ali Syamsudin Arsi 1 MENARIK bila dicermati...
tentang blog iniTulisan berjudul "Ketika Sastra(wan) Membuka Diri" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (10 May 2011 @ 01:19) pada kategori Esai, Sastra dan telah dikunjungi oleh 1,955 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: