Home » Blog » Dari Festival hingga Sarasehan Ambalwarsa I Kotareyog

Dari Festival hingga Sarasehan Ambalwarsa I Kotareyog

Ya, ya, ya, akhirnya saya datang pada acara Ambalwarsa I Kotareyog.com di Ponorogo, Jawa Timur. Momen ambalwarsa yang digelar 8-9 Agustus 2009 ini sekaligus mengobati kerinduan saya terhadap sahabat-sahabat bloger yang gagal saya temui pada acara-acara sebelumnya. Kebetulan acaranya berlangsung pada hari Minggu, sehingga saya bisa lebih leluasa untuk mengikuti acara yang digelar panitia. Kehadiran saya ke Ponorogo juga berkat jasa baik sahabat-sahabat bloger Kotangawi (Sangbayang, Jauhdimata, dan beberapa sahabat bloger lain) yang setia menunggui kedatangan saya untuk bersama-sama menghadiri acara ambalwarsa itu.

reyogSuasana dingin langsung terasa begitu kami memasuki kawasan Telaga Ngebel, markas Ambalwarsa I Kotareyog.com, yang terletak sekitar 24 Km ke arah timur laut Ponorogo itu. Telaga Ngebel yang berada di lereng gunung Wilis dengan ketinggian 734 meter DPL dan suhu 22-32 derajat celcius dengan luas permukaan sekitar 1.5 Km telaga ngebel dan dikelilingi jalan sepanjang 5 Km, memang tepat dipilih panitia sebagai markas pertemuan para bloger yang sengaja diundang untuk memeriahkan ambalwarsa yang pertama itu. Selain sejuk, Telaga Ngebel juga sangat nyaman untuk berdiskusi dan bersarasehan. Suasana alamnya yang indah dan asri bisa memicu adrenalin untuk berpikir sekaligus berimajinasi, meski suasana mistisnya tak sanggup terelakkan.

Festival Reog Mini
Suasana dingin pun berubah hangat begitu masuk ke markas. Di sana sudah berkumpul beberapa bloger. Selain tuan rumah (Arifudin, denologis, dafhy), juga ada bloger nasional, Andy MSE bersama Diky, anaknya, Kyai Slamet, Mas Anang, jidat, Mas Noersam, bloger malhikdua, bloger Loenpia Semarang, dan beberapa bloger TPC Surabaya (Mas Novi dan Mas Nopy). Setelah santap malam, para bloger diajak menuju alun-alun Ponorogo untuk menikmati Festival Reog Mini. Tiba di alun-alun yang ramai dan meriah, saya bertemu Paman Tyo dan beberapa bloger Bengawan.

ambalwarsaambalwarsaambalwarsaambalwarsaambalwarsaambalwarsaambalwarsaSetelah sedikit berjuang menyisir padatnya pengunjung yang hendak menyaksikan festival, akhirnya kami bisa duduk dan menyaksikan dari dekat acara festival itu. Meski hanya berupa festival reyog mini (festival reyog yang diikuti oleh siswa-siswa setingkat SMP/SMA), saya tak kehilangan rasa kagum. Ditingkah alunan terompet, angklung, kendang, kempul, kenong, dan gong yang rancak, para penari (bujanganom, warok dan sesepuhnya, jathilan, Kelana Sewandana, dan singabarong), berupaya serius untuk memikat pengunjung lewat gerakan-gerakan tarinya yang lentur dan atraktif. Tepuk tangan dan aplaus pengunjung pun terdengar membahana hingga ke dinding langit Ponorogo begitu Kelana Sewandana mengeluarkan pecut saktinya yang digunakan untuk mengusir singabarong yang hendak merebut putri Sanggalangit yang dicintainya.

Menurut salah satu versi cerita rakyat yang berkembang di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada suatu ketika Raja Bantar Angin, Kelana Sewandana, ingin melamar seorang puteri dari Kerajaan Kediri, Dewi Sanggalangit (dalam versi yang lain disebutkan Dewi Ragil Kuning). Akan tetapi, dalam perjalanannya Raja tersebut dicegat oleh Singobarong penjaga hutan Lodaya. Pasukan Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Raja Bantar Angin dikawal oleh patih Bujanganom dan pasukan warok (pria yang memiliki ilmu kanuragan dengan ciri khas pakaian serba hitam). Pertempuran dua pasukan tangguh inilah yang dianggap sebagai salah satu sumber rujukan bagi pertunjukan tarian Reog Ponorogo.

Pertunjukan Reog biasanya terdiri dari beberapa adegan. Adegan pertama adalah tarian pembuka, yang menampilkan 6-8 lelaki dengan pakaian hitam dan muka (atau topeng) yang dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang marah. Setelah para lelaki pemberani tersebut, berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 perempuan atau bisa juga lelaki yang didandani mirip perempuan yang menaiki kuda kepang (kuda-kudaan dari anyaman bambu).

Fragmen kedua adalah inti dari tarian Reog yang bergantung pada kondisi di mana seni Reog ditampilkan. Jika pertunjukan berhubungan dengan pernikahan, maka yang diekplorasi adalah adegan percintaan. Sedangkan, untuk hajatan khitanan, sunatan, maupun memperingati hari besar nasional biasanya yang ditonjolkan adalah fragmen keperwiraan.

Bagian terakhir adalah singabarong, yaitu atraksi penari yang memakai “topeng” berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu-bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg dengan ukuran yang cukup besar. Uniknya, topeng ini dimainkan hanya dengan mengigit sebilah kayu yang terpasang di bagian belakang topeng. Kemampuan membawakan topeng ini, selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diperoleh dengan latihan spiritual, seperti berpuasa dan bertapa.

Kesenian Reog biasanya diselenggarakan pada tiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia (tanggal 17 Agustus) dan perayaan Garebek Suro yang bertepatan dengan hari jadi Kota Ponorogo (tiap tanggal 1 Muharram/tahun baru Hijriah). Agenda tahunan tersebut bisa berupa pertunjukan biasa atau Festival Reog Nasional, yaitu perlombaan kesenian Reog dari seluruh Indonesia.

Pertunjukan Reog biasanya diselenggarakan di lapangan atau di jalanan karena jumlah penari dan ekplorasi pertunjukan yang memerlukan ruang yang cukup luas. Di arena pertunjukan Reog, penonton bisa menikmati prosesi pertunjukan yang dipenuhi ritual mistis. Misalnya saja, sebelum pertunjukan dimulai, warok (sebutan bagi ketua kelompok Reog) menggelar jampi-jampi memohon kelancaran pertunjukan. Tak jarang di tengah-tengah tarian para penari kesurupan roh halus, sehingga menambah heboh jalannya pertunjukan.

Meskipun umumnya tarian Reog memiliki alur yang jelas, adegan demi adegan bisa dimodifikasi dengan memasukkan unsur-unsur kreasi baru sesuai dengan selera estetika kelompok yang sedang bermain. Di sini selalu ada interaksi antara pemain dan warok (dalam hal ini, warok juga menjadi dalang pertunjukan), serta interaksi antara penari dan penonton, sehingga yang terpenting dalam pementasan seni Reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Puas menikmati festival, kami segera balik ke markas. Saking asyiknya menikmati sajian pertunjukan, sampai-sampai saya tak peduli lagi jam berapa saya berada di sana dan lebur bersama dengan ratusan, bahkan mungkin ribuan pengunjung, yang sedang dilanda romantisme dan eksotisme budaya itu. Komitmen Pemkab Ponorogo dalam menumbuhkembangkan seni reog sebagai seni pertunjukan eakyat yang telah mendunia itu memang layak dikagumi dan perlu diteladani pemkab daerah lain. Selain rutin menggelar destival tahunan, konon seni reyog juga sudah dimasukkan ke dalam kurikulum sebagai mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) dan menjadi kegiatan ekstrakuriikuler yang “wajib” ada di setiap sekolah. Festival Reog Mini merupakan bagian dari manifestasi komitmen itu.

Tiba kembali di markas, saya masih terlibat obrolan santai dengan sahabat-sahabat bloger. Sambil ditemani kopi dan kudapan yang disuguhkan shohibul bait, rasa capek dan kantuk pun hilang, hingga tanpa terasa, jam di dinding markas pun sudah menunjuk angka 03.30 dini hari.

Sarasehan
Keesokan harinya (Minggu, 9 Agustus 2009), sesuai dengan rencana, digelar Sarasehan Ambalwarsa I Kotareyog yang dikemas dalam suasana santai dan akrab yang dipandu oleh Azaxs dan Wongbagus. Pada acara sarasehan itu, saya untuk pertama kalinya bisa bertemu dengan Mas Budiono, Mbah Sangkil, dan Mas Eros, serta beberapa sahabat bloger yang datang belakangan. Diawali dengan perkenalan antarbloger dan wakil dari komunitas bloger yang hadir (Kotangawi, BlogerNgalam, Bloger Pasuruan, Loempia Semarang, TPC Surabaya, Bloger Gresik), acara berlanjut mulai testimoni, pemotongan tumpeng, hingga tanda tangan massal plakat kotareyog.

Berikut ini testimoni saya selengkapnya tentang kotareyog.com.

Setiap kali menyebut Ponorogo, ingatan kolektif kita tak bisa dipisahkan dengan keberadaan seni pertunjukan rakyat bernama reyog. Sebagai sebuah produk budaya, reyog agaknya telah menjadi ikon publik yang identik dengan nilai-nilai kearifan lokal. Banyak yang telah memanfaatkan ikon publik ini untuk kepentingan pencitraan dan membangun brand. Bahkan, produk budaya ini konon juga telah diklaim oleh negeri jiran sebagai produk budaya negerinya.

Sebagai pemangku budaya Ponorogo, tidak salah kalau sekelompok anak muda Ponorogo yang tergabung dalam komunitas maya menamakan dirinya sebagai Komunitas Bloger Warok Kotareyog. Secara kultural, mereka memang berhak menyandang nama yang identik dengan seni pertunjukan khas rakyat Ponorogo itu. Melalui brand semacam itu, publik seperti diingatkan akan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di balik seni pertunjukan reyog. Kini, Komunitas Bloger Warok Kotareyog berusia setahun. Usia sebuah komunitas yang bisa dibilang masih cukup muda, tetapi memiliki aura kultural yang cukup menjanjikan dan mencerahkan.

Persoalannya sekarang, peran apa saja yang bisa dimainkan oleh Komunitas Bloger Warok Kotareyog dalam upaya mendinamisir nilai-nilai kearifan lokal di tengah dinamika peradaban global yang makin rumit, kompleks, dan kompetitif? Upaya apa saja yang perlu dilakukan oleh Komunitas Bloger Warok Kotareyog untuk menjaga eksistensi diri agar keberadaannya benar-benar dibutuhkan dan “legitimate”?

Sebuah komunitas (nyaris) tak akan pernah lahir tanpa prinsip kolegial dan kolektivitas. Ia lahir karena munculnya semangat kebersamaan untuk melakukan sebuah perubahan. Tak jarang, sebuah komunitas muncul karena adanya ikatan emosional dan nilai-nilai primordial tertentu yang dengan amat sadar diangkat sebagai perekat komunitas agar menjadi lebih solid dan kokoh. Hal itu memang sah-sah saja. Namun, persoalannya akan menjadi lain ketika ikatan emosional dan nilai-nilai primordial itu membuat sebuah komunitas jadi eksklusif dan elitis. Dalam situasi seperti itu agaknya sebuah komunitas akan mengalami kesulitan dalam menjalankan peran-peran kulturalnya.

Saya bersyukur ketika menyaksikan kiprah para penggiat Komunitas Bloger Warok Kotareyog tak terjebak ke dalam sikap ekskluif dan elitis. Mereka bisa “manjing ajur ajer”, adaptif, dan sanggup menunjukkan sikap egaliter dalam lalu lintas pergaulan di dunia maya. Hal itu bisa dilihat dari aktivitas blogwalking yang dilakukan oleh para penggiat Komunitas Bloger Warok Kotareyog. Mereka terlibat cukup intens dalam membangun jaringan silaturahmi, baik dengan sesama bloger maupun dengan sesama komunitas. Aktivitas semacam ini jelas akan memberikan nilai tambah buat komunitas yang sedang memasuki usianya yang pertama ini. Apalagi, para penggiatnya berasal dari kalangan anak muda yang memiliki elan dan etos kreativitas yang sarat dengan idealisme. Ini artinya, Komunitas Bloger Warok Kotareyog memiliki prospek yang bagus untuk berkembang secara dinamis sebagai komunitas bloger yang inklusif, terbuka, dan lentur dalam menghadapi perubahan.

Kiprah Komunitas Bloger Warok Kotareyog tentu saja tak cukup hanya di dunia maya, tetapi juga perlu bersinergi dengan berbagai pihak di dunia nyata. Dalam konteks lokal Ponorogo, agenda dan kreativitas yang berkaitan dengan upaya menumbuhkembangkan nilai-nilai kearifan lokal perlu digarap secara serius. Di dunia maya, mampu membangun pencitraan dan brand positif terhadap daerah dengan segala keunikan kulutrnya, sedangkan di dunia nyata, mampu berbaur dan bersinergi dengan berbagai kelompok dan komunitas masyarakat. Persoalan ini menjadi penting dan urgen untuk diungkapkan agar Komunitas Bloger Warok Kotareyog tak berdiri di puncak menara gading eksklusivitas yang justru akan sangat tidak menguntungkan, baik bagi komunitas itu sendiri maupun dalam konteks interaksi dengan komponen komunitas yang lain.

Sungguh beruntung Ponorogo memiliki sebuah komunitas bloger yang dengan amat sadar menjadikan nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari platform aksi mereka. Melalui komunitas semacam ini, setidaknya Ponorogo dalam peta kebudayaan nasional jadi makin eksis dan diperhitungkan. Lebih daripada itu, Komunitas Bloger Warok Kotareyog juga mampu menjadi kekuatan kontrol alternatif untuk mengawal dinamika Ponorogo menjadi kota masa depan yang modern dan dinamis, tanpa harus kehilangan nilai-nilai kearifan lokal yang sudah teruji oleh sejarah.

Selamat ambalwarsa yang pertama buat Komunitas Bloger Warok Kotareyog, semoga kiprahmu makin eksis dan mencerahkan! ***

Usai sarasehan, para bloger diberi kesempatan untuk menikmati keindahan Telaga Ngebel. Sebelumnya, saya sempat ngobrol dengan Mas Suryaden yang datang bersama isteri dan putri tercintanya. Mas Suryaden juga yang telah berkenan mengantarkan saya dan Sangbayang hingga ke Ngawi, bertemu dan ngobrol kembali dengan Mas Abied.

Terima kasih saya sampaikan kepada sahabat-sahabat bloger kotareyog yang telah berkenan mengundang saya. Terima kasih juga saya sampaikan kepada segenap sahabat bloger yang telah memberikan sambutan hangat dan penuh kekeluargaan. Semoga momen indah ini bisa terus menjadi pemicu untuk membangun semangat berbagi dan bersilaturahmi melalui blog. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Dari Festival hingga Sarasehan Ambalwarsa I Kotareyog" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (10 Agustus 2009 @ 22:39) pada kategori Blog. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 104 komentar dalam “Dari Festival hingga Sarasehan Ambalwarsa I Kotareyog

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *