Senin, 22 September 2014

Wednesday, 29 July 2009 (09:30) | Cerpen | 16186 pembaca | 7 komentar

Cerpen Maria Magdalena Bhoernomo
Dimuat di Suara Pembaruan (07/12/2009)

Kurbi ingin menjadi calon bupati dalam pilkada tahun depan yang digelar di daerahnya. Sebagai ketua cabang partai politik, dirinya akan bertarung dengan ketua cabang partai-partai politik lainnya untuk merebut jabatan bupati.
Sebagaimana lazimnya orang Jawa, Kurbi membutuhkan modal spiritual yang bersifat mistik. Bagi orang Jawa, jika mau memperoleh pangkat tinggi harus memiliki jimat pangkat. Maka Kurbi segera mencari orang pintar yang sekiranya bisa membantunya untuk memperoleh jimat pangkat.

“Aku akan sowan ke pondok Kyai Subhan,” gumam Kurbi menjelang tidur. Istrinya sudah terlelap di sampingnya. Dan setelah pagi tiba, istrinya lebih dulu bangun lalu sibuk di dapur. Setelah menu sarapan sudah siap di meja makan, istrinya membangunkannya untuk segera sarapan.

Kurbi tersenyum-senyum ketika sedang menikmati menu nasi goreng kesukaannya.

“Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu gembira, Pak. Sejak bangun tidur wajahmu ceria dan selalu ter- senyum-senyum saja.” Istrinya bicara dengan penasaran.

“Ya, aku memang sedang gembira, Bu. Sebab, tahun depan kamu akan menjadi istri seorang bupati.” Kurbi menjawab dengan suara mantap.

Istrinya terperangah. “Apa maksudmu, Pak?”

“Tahun depan ada pilkada, kan? Dan aku akan mencalonkan diri.”

“Kamu berani menjadi calon bupati?”

Kurbi mengangguk mantap.

Istrinya masih saja terperangah. Sekilas dibayangkannya dirinya menjadi istri seorang bupati yang sedang menghadap gubernur, lalu menghadap presiden. Banyak wartawan datang memotretnya dan mewawancarainya. Lalu di halaman koran-koran wajahnya terpampang anggun berwibawa.

“Kamu pantas menjadi istri seorang bupati, Bu.”

Istrinya masih saja terperangah. Perempuan yang sudah lama hanya menjadi ibu rumah tangga dan sibuk membesarkan anak-anak memang suka berkhayal yang bukan-bukan. Istrinya membayangkan sedang mendampingi bupati yang berkunjung ke desa-desa. Banyak rakyat miskin menyambutnya dengan penuh hormat. Lalu ia pura-pura bersikap ramah dengan mengelus-elus kepala bayi yang sedang digendong ibunya yang ikut menyambut kedatangannya. Bagi rakyat miskin, berjumpa dengan istri bupati tentu sangat membanggakan.

“Mulai saat ini, kamu harus belajar berbagai tata krama pergaulan tingkat tinggi, Bu. Supaya tidak canggung menghadapi orang-orang besar.”

Istrinya tetap saja terperangah. Dibayangkannya dirinya bersama suaminya sedang berkunjung ke Singapura. Naik pesawat, menginap di hotel berbintang, lalu belanja pakaian dan perhiasan. Betapa serba menyenangkan.

Kurbi lalu mencium pipi istrinya sebelum kemudian berangkat ke pondok Kyai Subhan di lereng gunung.

Hari masih pagi ketika Kurbi tiba di pondok Kyai Subhan. Ulama sepuh yang terkenal memiliki banyak ilmu gaib itu sedang sibuk mengurus burung-burung di dalam sangkar yang digantungkan di beranda pondoknya. Jalak uren, kutilang, perkutut, kenari, kepodang, srikatan dan kacer berkicau bersahut-sahutan di dalam sangkar masing-masing seolah-olah menyambut kedatangan Kurbi.

Kurbi sudah lama mengenal Kyai Subhan. Bahkan Kurbi sudah beberapa kali datang di pondok itu, sehingga tidak asing lagi di mata Kyai Subhan.

Setelah selesai mengurus burung-burung kesayangannya, Kyai Subhan segera mengajak Kurbi duduk di ruang tamu.

“Apakah sudah mantap untuk menjadi calon bupati?” Kyai Subhan tiba- tiba melontarkan pertanyaan yang membuat Kurbi terheran-heran.

Kyai Subhan sepertinya mampu memahami maksud kedatangan tamunya.

“Jika sudah mantap mau menjadi bupati, sebaiknya segera memenuhi syarat-syaratnya.” Kyai Subhan bicara dengan mata terpejam. “Syaratnya gampang-gampang sulit. Tapi kalau memang Tuhan menghendaki, tentu akan gampang-gampang saja.”

Kurbi mengangguk-angguk walau belum tahu maksud ucapan Kyai Subhan.

“Bagimu, untuk bisa memenangi pilkada, syaratnya harus makan otak burung Rajawali.” Ujar Kyai Subhan dengan mata tetap terpejam.

“Ya, saya akan berusaha memenuhi syarat itu, Romo Kyai,” Kurbi bicara dengan ragu. Sekilas terbayang seekor burung Rajawali yang disembelih kemudian dibelah kepalanya untuk diambil otaknya. Tapi sekarang, burung Rajawali sudah menjadi binatang langka.

“Coba segera mencari seekor burung Rajawali. Setelah mendapatkannya, segera bawa kemari. Ada syarat-syarat khusus untuk menyembelihnya dan mengambil otaknya,” Kyai Subhan bicara lagi dengan mata tetap terpejam.

Kurbi mengangguk. Lalu merogoh selembar amplop di saku bajunya untuk diletakkan di atas meja sebelum kemudian pamit pulang.

*

SETIBANYA di rumah, Kurbi segera mengajak istrinya bicara.

“Aku harus segera mendapatkan seekor burung Rajawali, Bu. Kyai Subhan mengatakan aku bisa menang pilkada jika aku sudah makan otak burung Rajawali.”

Istrinya terpana. Dibayangkannya seekor burung Rajawali yang sedang terbang di angkasa dengan sayapnya yang mengepak lebar-lebar. Betapa indahnya. Betapa terlalu sayang jika burung yang sekarang sudah langka itu harus dibantai untuk diambil otaknya. Sejak kecil, istrinya memang menyukai burung Rajawali. Bahkan ketika duduk di sekolah dasar istrinya juga gemar menggambar burung Rajawali yang sedang hinggap di atas ranting atau sedang terbang dengan sayap terbentang lebar-lebar.

“Mungkin sulit untuk mendapatkan seekor burung Rajawali, Bu. Tapi aku harus berusaha untuk mendapatkannya.”

“Kenapa harus burung Rajawali yang akan menjadi korban, Pak?”

“Aku tidak tahu, Bu. Itulah yang diperintahkan Kyai Subhan.”

“Seharusnya burung Rajawali dilindungi, karena sudah menjadi binatang langka.”

Kurbi menatap wajah istrinya. “Sepertinya kamu keberatan kalau aku mencari burung Rajawali untuk diambil otaknya, Bu?”

“Ya, aku memang keberatan jika kamu akan mengorbankan burung Rajawali, karena sejak kecil aku mencintainya, Pak.”

Kurbi tersenyum lebar. “Rupanya Kyai Subhan benar-benar berilmu tinggi.”

Istrinya terpana lagi.

Dengan tetap tersenyum-senyum, Kurbi menjelaskan bahwa Kyai Subhan menyuruhnya makan otak burung Rajawali karena istrinya mencintai burung tersebut. Sejak dulu ada mitos, bahwa jimat-jimat yang bertuah memang sering berkaitan dengan masalah cinta mencintai dan sayang, menyayangi. Ada orang diharuskan untuk menyembelih kucing karena kucing menjadi hewan tercintanya. Ada orang disuruh menyembelih kelinci karena hewan itu sangat disayanginya. Ada orang disuruh menyembelih burung merpati karena orang itu sangat menyayanginya. “Kamu mendapat ujian, Bu. Kamu harus mendukungku kalau kamu ingin men-jadi istri bupati.”

Istrinya masih saja terpana. Berlintasan dalam benaknya bayang-bayang seekor burung Rajawali yang disembelih untuk diambil otaknya. Dibayangkannya juga seekor burung Rajawali yang sedang hinggap di atas ranting diberondong senapan angin.

“Kyai Subhan tampaknya sedang mengujimu, Bu. Kalau kamu keberatan aku makan otak burung Rajawali, berarti kamu tidak berbakat menjadi istri bupati.” Kurbi bicara dengan lembut, karena tahu istrinya memang sejak dulu sangat menyayangi burung Rajawali.

“Baiklah, Pak. Aku mendukungmu. Tapi di mana kamu bisa memperoleh burung Rajawali? Di pasar burung tak ada yang menjualnya. Di hutan-hutan juga tidak ada lagi burung Rajawali. Adanya mungkin hanya di kebun-kebun binatang, dan itu mustahil bisa kamu korbankan.” Istrinya akhirnya bicara dengan bimbang. Rasanya mustahil bisa mendapatkan seekor burung Rajawali untuk dikorbankan.

“Aku akan meminta bantuan sejumlah kawan untuk mencari burung Rajawali, Bu. Kalau harus membayar mahal, akan kubayar berapa pun harganya.”

*

Kurbi segera menghubungi kawan-kawannya yang suka berburu burung di hutan dan di pelosok desa-desa untuk membantunya mencari seekor burung Rajawali.

“Kalau ada yang bisa mendapatkannya, serahkan segera kepadaku, aku akan membayarnya mahal.” Kurbi menebar harapan indah. “Dan jika nanti aku menjadi bupati, aku akan memberikan bonus istimewa kepada kalian.”

Kawan-kawannya sangat senang.

“Oke, Boss. Akan kami tangkap burung Rajawali, hidup atau mati.”

“Oke Bo0s. Kami sangat bangga jika Boss menjadi bupati.”

Kurbi lega. Mereka benar-benar kawan yang baik.

Berhari-hari selanjutnya Kurbi menanti kabar dari kawan-kawannya yang sedang berburu burung. Dan pada suatu pagi, dibacanya berita kecil di sudut halaman koran. Kabar mengenai pencurian yang terjadi di kebun binatang. Seekor burung Rajawali telah hilang dicuri orang.

Setelah Kurbi membaca berita itu, kawan-kawannya datang menyerahkan seekor burung Rajawali.

Kurbi mendengus panjang. “Kenapa kalian harus mencurinya dari kebun binatang?”

“Terpaksa kami mengambilnya di kebun binatang, karena di hutan dan di desa-desa tidak ada lagi, Bos.”

“Kalian ceroboh!”

“Tak usah cemas, Bos. Tidak ada saksi mata yang melihat kami mengambil burung Rajawali ini.”

“Tapi beritanya sudah dimuat di koran. Coba baca.” Kurbi menyuruh kawan-kawannya membaca koran yang tergeletak di atas meja. Mereka lalu membaca sebuah berita pencurian burung Rajawali di kebun binatang yang terjadi kemarin malam. Diberitakan juga pihak polisi sedang mengejar pencurinya. Konon ada seorang penjaga di kebun binatang yang menyaksikan peristiwa pencurian itu, tapi dia sembunyi karena kawanan pencuri membawa bedil.

“Kalian benar-benar ceroboh.” Kurbi mengungkapkan kecemasannya.

Kawan-kawannya tampak ketakutan.

“Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Kalian akan kuberi uang, dan kalian harus minggat untuk sementara. Jangan sampai kalian tertangkap.”

Kawan-kawannya menurut. Mereka kemudian minggat ke luar kota.

*

DENGAN wajah ceria, Kurbi datang lagi di pondok Kyai Subhan dengan membawa seekor burung Rajawali yang diikat dan disembunyikan di dalam koper.

“Saya sudah mendapatkan seekor burung Rajawali, Romo Kyai.”

Wajah Kyai Subhan tampak redup. “Kamu sudah melakukan kesalahan berat. Kenapa kamu harus mencuri burung Rajawali di kebun binatang?”

Kurbi tersipu-sipu. “Kawan-kawan saya yang mencurinya, Romo Kyai. Bukan saya.”

“Ya, memang kawan-kawanmu yang mencurinya, tapi untuk kamu, jadi sama saja kamu yang mencurinya.”

“Maaf, saya telah ceroboh.”

Kyai Subhan marah. “Kecerobohanmu bisa menyeret kita masuk penjara.”

“Sekali lagi maafkan saya, Romo Kyai.”

“Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Sebaiknya burung Rajawali itu kamu kembalikan segera.”

“Tapi bagaimana kalau saya dituduh telah mencurinya, Romo Kyai? Sekarang polisi sedang mengejar pencurinya.”

“Kamu harus belajar bertanggung jawab kalau benar-benar ingin menjadi pemimpin. Apa jadinya kalau kamu menjadi bupati, tapi tidak bertanggung jawab?” Kyai Subhan bicara dengan nada berat.

Kurbi terpaksa mau mengembalikan seekor burung Rajawali itu ke kebun binatang. Tapi di tengah perjalanan menuju kebun binatang, satu regu polisi menyergapnya dan menyita seekor burung Rajawali itu sebagai barang bukti kasus pencurian yang telah dikutuk banyak organisasi pencinta satwa langka. Kurbi kemudian dihukum penjara.

Selama menjalani hukuman penjara, Kurbi sering membayangkan dirinya menjadi bupati yang mengajak istrinya berkunjung ke Singapura dengan kedok kunjungan kerja, tapi acaranya hanya belanja dan berfoya-foya saja. Betapa nikmatnya menjadi pejabat yang menghambur-hamburkan uang rakyat di luar negeri! ***

Griya Pena Kudus, 2009

Tags:

Tulisan berjudul "Burung Rajawali" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (29 July 2009 @ 09:30) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

7 komentar pada "Burung Rajawali"

  1. begitulah, mas ilyas. dalam sebuah teks fiksi, realitas apa pun bisa terjadi.

  2. ILYAS AFSOH says:

    sebuah metafora yang unik,

    berapa banyak Kurbi yang memilih jalan pintas untuk jadi petinggi yang berujung penjara???

    ilyas afsoh
    .-= ILYAS AFSOH´s last blog ..safe at highway (a campaign) =-.

Leave a Reply