Home | Budaya, Edukasi, Refleksi | Prostitusi Pelajar dan Beban Sosial Bangsa

Prostitusi Pelajar dan Beban Sosial Bangsa

Saturday, 28 February 2009 (01:35) | 1,628 pembaca | 114 komentar | Print this Article

Berita “Metropolitan” Kompas (27/2/2009, halaman 27) sungguh menyentakkan nurani kita. Sebuah jaringan prostitusi yang ”menjual” pelajar SMP dan SMA sebagai pekerja seks komersial (PSK) berhasil dibongkar aparat. Dalam berita itu dikabarkan, tiga anak berstatus siswi SMP dan SMA bisa dipesan dengan tarif Rp500.000,00-Rp1 juta. Sungguh, ini sebuah berita yang membuat dada kita terasa sesak. Seks yang dulu ditabukan bagi anak-anak, kini justru menjadi demikian terbuka sebagai ajang komersialisasi dan praktik pelacuran. Kasus semacam itu mungkin bukan satu-satunya yang pernah terjadi di negeri ini. Bahkan, bisa jadi seperti fenomena gunung es; makin ke bawah kian membesar dan meluas.

Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi di negeri ini sehingga seks yang sakral sudah berubah menjadi perilaku yang profan dan murahan? Sudah demikian parahkah moralitas sebagian pelajar putri kita sehingga mereka rela menggadaikan ”mahkota”-nya demi memanjakan nafsu lelaki hidung belang?

Ya, ya, ya, prostitusi agaknya bukan persoalan yang mudah untuk dihilangkan begitu saja dari muka bumi ini. Perilaku ”anomali” semacam itu konon tergolong sebagai perilaku yang tertua. Dia ada semenjak manusia mengenal peradaban. Persoalan ekonomi, gaya hidup hedonis, putus asa, kompleksnya persoalan sosial dan budaya, proses dereliginasi, degradasi moral, atau maraknya sikap permisif, bisa menjadi ”sponsor” utama maraknya praktik pelacuran. Bahkan, ada yang secara ekstrem menyatakan bahwa prostitusi baru akan hilang ketika peradaban dunia sudah tamat alias lenyap. Dalam keadaan demikian, bisakah prostitusi dianggap sebagai ”penyeimbang” dinamika hidup agar manusia tak terjebak ke dalam rutinitas hidup yang sarat dengan simbol-simbol kebenaran dan etika sosial yang cenderung dogmatis? Bisa jugakah prostitusi dimaknai sebagai alternatif perilaku biologis ketika manusia gagal menemukan kesejatian dirinya sebagai makhluk yang punya akal sekaligus nafsu?

Entahlah, yang pasti, selain banyak dikutuk, prostitusi agaknya juga telah menjadi jalan hidup sebagian orang yang kehabisan akal dan gelap mata. Mereka yang punya naluri bisnis ”esek-esek” semacam itu agaknya juga telah terlatih untuk menajamkan daya penciuman dalam memburu mangsa. Dengan berbagai macam cara, mereka memasang perangkap untuk menjerat perempuan di bawah umur demi memuaskan naluri purba pelanggannya. Tak ayal, pelajar putri yang kebetulan sedang bermasalah menjadi sangat rentan kena perangkapnya.

Jika kondisi semacam itu tak segera teratasi jelas akan makin menambah beban sosial yang sudah demikian rumit dan kompleks. Persoalan prostitusi yang melibatkan pelajar putri kita bukanlah persoalan pendidikan semata, tetapi ada banyak faktor yang ikut bermain di dalamnya. Selain ekonomi sebagai faktor utama, juga ada ranah moral-religius yang terabaikan, longgarnya sikap permisif alias pembiaran terhadap berbagai bentuk perilaku anomali sosial, lingkungan keluarga yang gagal mengakarkan nilai-nilai etika dan pendidikan seksual yang mencerdaskan, atau maraknya berbagai media yang secara tidak langsung mengusung gambar dan adegan mesum.

Prostitusi idealnya menjadi bagian dari sekian persoalan bangsa yang mesti ditangani secara serius. Meski tidak mudah untuk dihapuskan, upaya preventif dini mutlak dilakukan. Orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh-tokoh anutan sosial lainnya, perlu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk menumbuhkan imaji anak agar tak sampai terjebak dalam lingkaran prostitusi yang jelas-jelas akan membunuh masa depan anak itu sendiri. Selain itu, perlu ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum terhadap orang-orang yang terlibat dalam sindikat prostitusi yang melibatkan anak-anak usia sekolah. Merekalah yang nyata-nyata telah menggadaikan kehormatan kaum perempuan demi memenuhi naluri bisnis haram dan kepentingan komersial mereka. ***

Kategori: Budaya, Edukasi, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgBanjir! (Monday, 9 February 2009, 2,875 pembaca, 178 respon) Minggu hingga Senin, 8-9 Februari 2009, Kendal, Jawa Tengah, terendam banjir. Praktis bah yang terbilang cukup besar di bulan kedua Tahun Kerbau ini (nyaris) melumpuhkan aktivitas warga. Meski tak sampai masuk rumah, keberangkatan saya ke LPMP Semarang...
imgPertemuan Tak Terduga dengan Sahabat-Sahabat TPC (Wednesday, 28 January 2009, 1 pembaca, 36 respon) Sungguh, saya terharu ketika dikontak Pak Gempur, Minggu sore, 25 Januari yang lalu. Masih berada di wilayah Gunung Kelir dalam rangkaian “Ziarah Wali Bloger Timur-Tengah”, beliau menyampaikan keinginan mengajak teman-teman dari TPC Surabaya untuk...
imgAnak-anak dan Imajinasi tentang Perang (Thursday, 15 January 2009, 595 pembaca, 152 respon) Perang-perangan termasuk salah satu mainan favorit anak-anak kampung. Dengan menggunakan senjata mainan dari pelepah daun pisang, anak-anak bisa dengan sangat bangga mencitrakan dirinya sebagai pahlawan. Lewat bunyi onomatope ”dor!” dari mulut...
imgHari Ibu dan Wajah Peradaban Bangsa (Sunday, 21 December 2008, 1 pembaca, 26 respon) Sepanjang sejarah peradaban manusia, peran seorang ibu sangat besar dalam mewarnai dan rnembentuk dinamika zaman. Lahirnya generasi-generasi bangsa yang unggul dan pinunjul, kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, bervisi kemanusiaan, beretos kerja...
imgMendaki Pelangi: Menatap Matahari (Saturday, 8 November 2008, 1 pembaca, 23 respon) Bisa jadi terkesan bombastis kalau blog ini menggunakan judul: “Mendaki Pelangi” dengan tag: “Menatap Matahari”. Tidak membumi, jadinya, hehehe … Haks, benar juga, karena pelangi sendiri jarang bersentuhan dengan bumi. Dia hanya muncul ketika...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Prostitusi Pelajar dan Beban Sosial Bangsa" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 28 February 2009 (01:35)) pada kategori Budaya, Edukasi, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

114 Responses to "Prostitusi Pelajar dan Beban Sosial Bangsa"

  1. sandi_rasta says:
    Menggunakan Firefox 3.0.17 Firefox 3.0.17 pada Windows XP Windows XP

    semoga semua pihak bisa melaksanakan tugasnya untuk memberantas itu semua baik dari pemerintah, guru dan orang tua…!!

  2. Menggunakan Firefox 3.0.11 Firefox 3.0.11 pada Windows XP Windows XP

    kuat-kuat iman aja deh jaman sekarang mah….tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (188 queries: 0.875 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP