Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam”

Kategori Blog Oleh

Sebenarnya saya kurang begitu paham terhadap dunia para hacker. Konon, mereka adalah orang-orang yang cerdas. Rasa ingin tahunya terhadap dunia komputer dan internet melebihi batas-batas kewajaran, sehingga apa pun mereka lakukan demi “memanjakan” naluri rasa ingin tahunya itu. Untuk membuktikan “kecerdasannya”, para hacker tak henti-hentinya melakukan inovasi dan terobosan baru di dunia IT. Jelas menjadi sebuah kebanggaan jika temuan-temuannya berhasil menjadi ikon kecanggihan dalam dunia komputer dan internet. Dari sisi ini, keberadaan seorang hacker jelas akan membawa peradaban menjadi lebih maju dan modern.

Namun, persoalannya menjadi lain ketika kecerdasan yang dimilikinya bukan digunakan untuk memberikan kemaslahatan umat manusia, melainkan justru untuk membangun sebuah kebanggaan semu yang menyengsarakan orang lain. Saya lebih suka menyebutnya dengan hacker “hitam”; tak ubahnya seorang cracker yang suka melakukan kejahatan “kemanusiaan” lewat kecerdasan yang dimilikinya dalam mendayagunakan piranti komputer dan internet.

Begitulah yang telah terjadi. Saya dan beberapa sahabat bloger, seperti Mas Okta Sihotang, Mas Nindityo, atau Mas Izandi, bahkan mungkin juga sahabat-sahabat bloger yang lain, mau atau tidak, dipaksa menyaksikan kejahatan seorang hacker “hitam” yang tega men-deface web dan blog, termasuk blog saya mulai 24 September 2008 dini hari. Blog jadi tak bisa diakses. Yang muncul adalah wajah seperti berikut ini!

hack

Dua kali Mas Adipati Kademangan mengirimkan email yang baru saya baca sekitar pukul 13.30 sepulang dari sekolah yang mengabarkan tentang blog saya yang di-hack itu. Namun, lantaran sedang geram terhadap ulah hacker hitam itu, saya tak sempat melakukan aktivitas apa pun kecuali berusaha untuk menormalkan kembali blog yang telah berubah wajah itu. Mas Nindityo berkali-kali melakukan kontak via HP. Arghhhh…. Benar-benar kelewatan ulah begajulan si hacker hitam itu. Kang Kombor pun juga menanyakan nasib blog saya itu via SMS. Bahkan, Mas Sapimoto malah lebih dahulu membuat postingan khusus tentang nasib blog saya yang telah hancur wajahnya itu.

Iseng-iseng saya mencoba melihat file .php lewat ftp. Haks, ternyata banyak file yang telah hancur. Banyak kode rahasia yang muncul di sana. Dengan sendirinya, kode-kode tag html/xhtml blog telah hancur. Semua file indeks.php yang terdapat dalam
{blog_folder}, {blog_folder}\wp-admin, {blog_folder}\wp-includes, {blog_folder}\wp_content, {blog_folder}\wp_content\themes, {blog_folder}\wp_content\themes\{other_theme_folders}, atau {blog_folder}\wp_content\plugins\wp-table, semuanya telah berubah.
Walhasil, saya pun terpaksa membuang file indeks yang telah dihancurkan oleh “petualang gelap” itu, kemudian menggantinya dengan file-file asli wordpress versi 2.6.2 yang saya gunakan.

Ini pelajaran berharga, tetapi pahit buat saya. Untuk mengantisipasi ulah hacker hitam yang bisa datang kapan saja itu, agaknya kita perlu mem-back-up file-file penting, termasuk theme yang telah dimodifikasi agar sewaktu-waktu kita tak terlalu repot. Saya yang lalai melakukan back-up, akhirnya harus kelabakan sendiri karena masih harus mencari-cari file-file pengganti, mencari dan menginstal theme baru seperti yang sekarang saya gunakan. Benar-benar capek! Untung saja arsip postingan masih utuh; tak ada satu pun yang rusak. Semoga para hacker “hitam” yang telah membuat sengsara banyak orang itu diberikan pencerahan menuju jalan kebenaran. ***

Tags:

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

114 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Blog

Setelah 9 Tahun Ngeblog

Juli 2007 merupakan saat pertama saya belajar ngeblog (=mengeblog). Sering berganti-ganti engine,

Enam Purnama Tanpa Jejak

Sudah enam purnama, saya tidak meninggalkan jejak di blog ini. Sejatinya, enam
Go to Top