Refleksi Menjelang Agustus-an
Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global. Itulah tema yang diusung panitia peringatan HUT ke-63 RI. Ada dua entry-point yang ditekankan dalam tema itu, yakni pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional. Tentu saja, ada misi dan tujuan tertentu, mengapa dua variabel itu diangkat sebagai titik pusat perhatian dalam momen 63 tahun Indonesia merdeka. Pembangunan ekonomi, jelas ini menjadi bagian dari pengamat... (Selanjutnya bagaimana?)
Pembacaan Cerpen dan Diskusi Kumcer “Di Kereta Kita Selingkuh”
Minggu, 27 Juli 2008 (pukul 09.00-13.30 WIB), aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kendal-Jateng, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra. Agenda bertajuk ”Diskusi Sastra: Pembacaan Cerpen-cerpen Karya Budi Maryono” yang digelar oleh Teater Semut itu menghadirkan pembacaan cerpen ”Lelaki Terakhir” secara teatrikal. Adegan kekerasan melalui kebuasan keris “kutukan” Empu Gandring yang bertubi-tubi menghabisi nyawa korbannya telah membuat panggung tak lebih dari sebuah ladang pembantaian roh dan nilai kemanusiaan. Tragis... (Selanjutnya bagaimana?)
Sastra Kita Miskin Pemberontakan?
Sekitar tahun 1983, Budi Darma pernah menyatakan, jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya para sastrawan kita belum berbobot. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Paling tidak, ada dua kandungan tafsir yang tersirat di balik pernyataan pengarang novel Olenka itu. Pertama, sebagai ”pasemon” terhadap ”tradisi” pengarang yang suka bikin sensasi lewat eksperimentasi penciptaan yang mentah dan konyol, tanpa dibarengi akuntabilitas moral dan etik. Artinya, pemberontakan hanya dilakukan untuk... (Selanjutnya bagaimana?)
Dihajar Komentar SPAM
Sungguh tidak nyaman kedatangan tamu ”begajulan”. Sudah datang tanpa permisi, teriak-teriak lagi. Apalagi, kalau tamu ”begajulan” itu sama sekali tak kita kenal jatidirinya. Argh! Ingin rasanya membungkam teriakan mereka yang sangat mengganggu ketenangan tamu-tamu lain yang santun itu. Itulah yang terjadi di gubug abal-abal ini. Berkali-kali dihajar oleh komentar-komentar SPAM yang tak jelas maksud dan tujuannya. Padahal, sejak gubug ini berdiri 5 Januari 2008 yang lalu, saya sudah minta bantuan seorang Satpam untuk berjaga-jaga, yakni si... (Selanjutnya bagaimana?)
Tulisan Terbaru
Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global (93 pembaca)Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender (183 pembaca)
Dunia Pendidikan, Realitas Sosial, dan Ujian Nasional (199 pembaca)
Mencermati Pembusukan Penggunaan Bahasa Indonesia (392 pembaca)
Makna Kekerabatan di Balik Mudik Lebaran (392 pembaca)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H (491 pembaca)
Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup (376 pembaca)
Refleksi Menjelang Lebaran (233 pembaca)
Di manakah Allah ? (128 pembaca)
Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam” (266 pembaca)














