Home » Blog » Pendidikan » Guru, Blog, dan Media Aktualisasi Diri

Guru, Blog, dan Media Aktualisasi Diri

Selasa, 17 Mei 2011, yang lalu, saya didaulat sahabat-sahabat pengurus IGI (Ikatan Guru Indonesia) Cabang Kota semarang untuk ikut berbicara dalam pelatihan bertajuk “Guru Menulis, Guru Go-Blog, Guru Menerbitkan Buku Bukan Tidak Mungkin” di SD Negeri Taman Pekunden, Jalan Taman Pekunden Semarang. Berikut tulisan selengkapnya yang saya sampaikan dalam pelatihan tersebut.

Membudayakan Aktivitas Ngeblog di Kalangan Guru *)
Oleh Sawali Tuhusetya

Seiring dengan perkembangan dan dinamika masyarakat yang makin mengarah ke situasi global, agaknya blog telah menjadi media yang diminati sebagai “rumah maya” untuk menampung pemikiran-pemikiran kritis dan kreatif. Blog dianggap telah menjadi media virtual yang tidak hanya sekadar dijadikan sebagai media berekpresi, tetapi juga telah menembus dimensi industri. Sudah banyak bloger di negeri ini yang sukses meraup dolar melalui blog. Meski demikian, blog tetap saja tak bisa dipisahkan fungsinya sebagai media sosial untuk berinteraksi dengan sesamanya secara maya.

Persoalannya sekarang, apakah guru yang notabene juga menjadi bagian dari masyarakat global perlu memanfaatkan blog sebagai media untuk melakukan aktualisasi diri? Perlukah guru memiliki blog sebagai salah satu pilar untuk meningkatkan profesionalismenya? Adakah manfaat praktis yang bisa didapatkan dari sebuah blog hingga seorang bloger yang kebetulan juga seorang guru rela berpayah-payah menyisihkan waktu untuk ngeblog, membayar rekening listrik yang membengkak, atau koneksi internet yang mesti rutin dibayar setiap bulannya? Apakah guru yang melakukan aktivitas ngeblog dengan sendirinya mampu “menyulap” siswa didiknya menjadi generasi masa depan yang cerdas dan berkarakter? Apa untungnya guru ngeblog dari sisi keilmuan dan kemajuan dunia pendidikan?

Blog, dalam pandangan awam saya, sejatinya merupakan sebuah media virtual yang tidak hanya bisa dimanfaatkan sebagai media beraktualisasi diri, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk menemukan “branding identitas” di tengah belantara media virtual lain yang makin beragam dan variatif. Selain blog, tak terhitung jumlah jejaring sosial yang sama-sama berkehendak menyajikan “branding identitas” untuk mengekspresikan pemikiran-pemikiran kreatif. Namun, dari sekian media virtual yang ada, saya harus mengatakan bahwa blog masih belum terkalahkan dalam menyajikan pemikiran-pemikiran kreatif yang sanggup menemukan “branding identitas” itu. Dalam bahasa sederhana, blog tak jauh berbeda dengan “rumah maya” dalam sebuah perkampungan global yang bisa bersanding dengan ruang-ruang maya yang lain.

Secara langsung, blog memang tidak bisa memberikan manfaat praktis terhadap peningkatan mutu proses pembelajaran dan bisa menyihir generasi masa depan negeri ini menjadi sosok yang cerdas dan berkarakter. Namun, secara tidak langsung, blog bisa dijadikan sebagai media untuk memberikan asupan dan nutrisi batin terhadap bloger yang bersangkutan dalam meningkatkan kompetensi dirinya. Jika dikaitkan dengan peran guru sebagai agen pembelajaran, aktivitas ngeblog telah menyentuh naluri seorang guru untuk membebaskan mitos peserta didik sebagai robot yang hanya bisa menjalankan perintah dan taat pada komando. Peserta didik adalah potret generasi masa depan yang harus bisa menentukan jalan hidupnya secara cerdas dan kreatif, hingga kelak mereka bukan menjadi beban bangsa, melainkan justru menjadi “katalisator” yang mampu memadukan kekuatan, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya, hingga sanggup melahirkan potensi dahsyat untuk melakukan sebuah perubahan.

Dalam konteks demikian, blog pada hakikatnya merupakan media untuk melakukan aksi-aksi kritis, kreatif, dan reflektif melalui tulisan berbasiskan semangat berbagi dan bersilaturahmi. Dari sisi finansial, blog bisa jadi belum mampu menjanjikan banyak keuntungan. Namun, dari sisi yang lain, selalu saja ada hikmah tersembunyi di balik aktivitas ngeblog itu. Yang jelas, dari sisi keilmuan, ngeblog akan terus memacu kita untuk tidak pernah berhenti belajar. Dari situlah pengetahuan dan ilmu kita akan terus berkembang seiring dengan makin banyaknya tulisan yang kita publikasikan sehingga akan melahirkan pemikiran-pemikiran kreatif dan inovatif untuk ikut memberikan sumbangsih pemikiran terhadap dinamika dunia pendidikan.

Lantas, bagaimana membagi waktu antara aktivitas ngeblog dan mengajar? Dari sisi waktu, guru termasuk profesi yang cukup “menguntungkan”. Tugas mengajar dalam sehari hanya sekitar delapan jam. Ini artinya, masih banyak waktu luang yang tersisa, sehingga bisa dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas lain yang bermanfaat, termasuk ngeblog. Dengan kata lain, aktivitas mengajar seorang guru tidak akan terganggu oleh aktivitas ngeblog. Ada pengalaman kreatif yang tak bisa dilupakan ketika seorang guru secara serius menekuni aktivitas ngeblog. Selain bisa melakukan aksi melalui tulisan, menumbuhkan semangat berbagi dan bersilaturahmi, tulisan-tulisan yang terpublikasikan di blog bisa diterbitkan menjadi sebuah buku. Buku kumpulan cerpen (Kumcer) berjudul “Perempuan Bergaun Putih”, misalnya, bisa terbit berkat bantuan seorang teman bloger yang kebetulan memiliki kepedulian terhadap dunia sastra. Yang menarik, kumcer tersebut diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta pada tanggal 16 Mei 2008 yang silam, bersamaan dengan diskusi buku puisi “Kembali dari Dalam Diri” karya penyair Malaysia, Dr. Ibrahim Ghaffar. Peristiwa semacam itu agaknya hanya akan menjadi sebuah mimpi jika saya tidak melakukan aktivitas ngeblog.

Tentu saja, tidak semua tulisan yang terpublikasikan di sebuah blog layak diterbitkan menjadi sebuah buku. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Menurut hemat saya, ada dua hal penting dan mendasar bagi seorang bloger agar bisa membuat postingan kreatif dan disukai pembaca, yakni muatan isi dan bahasa. Dari sisi muatan isi, sebagaimana tulisan-tulisan di media “mainstream” yang lain, blog perlu menyuguhkan postingan-postingan yang cerdas, mencerahkan, sekaligus menghibur, tidak sektarian, bersifat inklusif, dan sejauh mungkin menghindari unsur SARA. Cerdas lebih banyak terkait dengan bagaimana sikap bloger dalam menyuguhkan argumen, data, atau bukti pada setiap postingan (terutama pada postingan genre nonfiksi). Sedangkan, mencerahkan lebih banyak terkait dengan kemampuan sang bloger dalam memberikan masukan, solusi, pesan moral, imbauan yang penuh empati, dan sejauh mungkin menghindari kesan menggurui.

Namun, muatan isi saja tidaklah cukup. Bloger juga perlu mempertimbangkan penggunaan bahasa yang komunikatif, sehingga pesan-pesan yang disampaikan bisa dipahami dengan mudah oleh pembaca. Hal ini penting, sebab tujuan setiap postingan di blog adalah agar bisa dibaca dan dipahami dengan mudah oleh pembaca. Di tengah arus informasi yang terus mengalir setiap hari, agaknya (hampir) tak ada waktu bagi para pemburu informasi di dunia maya untuk berlama-lama membaca sebuah postingan di blog. Kalau tidak dikemas dengan bahasa yang menarik dan komunikatif, blog akan segera ditinggalkan pembaca. Yang tidak kalah penting, judul postingan juga perlu dipertimbangkan. Saya biasa menggunakan judul yang agak “provokatif” dan memancing rasa ingin tahu pembaca, tetapi relevansi dengan isi postingan tetap terjaga. Jangan sampai postingan hanya bagus dan menarik judulnya, tetapi isinya sama sekali tidak ada relevansinya, apalagi kalau hanya dimanfaatkan untuk kepentingan SEO (Search Engine Optimization). Mungkin untuk sementara waktu bisa meningkatkan trafik dan jumlah pengunjung, tetapi yakinlah postingan blog yang “menipu” pembaca semacam itu akan segera ditinggalkan pembaca, bahkan bisa “mati suri”.

Setidaknya ada tiga faktor penentu suksesnya sebuah blog, yakni content (isi), speed (kecepatan akses) blog, dan tampilan. Content blog menjadi faktor utama. Blog yang memiliki content bagus dan konsisten dalam menyajikan postingan-postingan yang bermutu akan dirindukan oleh pengunjung. Semakin banyak pengunjungnya, blog akan semakin menduduki peringkat yang bagus pada search-engine (mesin pencari) seperti google atau yahoo. Content blog yang bermutu akan semakin bagus peringkatnya di halaman mesin pencari jika didukung oleh kemampuan memanfaatkan webmaster tool (milik google), jejaring sosial (facebook atau twitter), atau mendaftarkan blog ke berbagai situs bookmark (digg.com, stumbleupon.com, del.icio.us, technorati.com, dsb).

Yang tidak kalah penting diperhatikan adalah speed (kecepatan akses) blog. Semakin kencang dan ringan speed sebuah blog, semakin banyak pengunjungnya. Banyak pengunjung yang dengan terpaksa harus lari dan meninggalkan blog tertentu lantaran beratnya loading sebuah blog. Para pengunjung tidak mau direpotkan untuk mengunjungi web/blog tertentu yang sulit diakses. Dalam situasi seperti ini, seorang bloger perlu juga sedikit mempelajari bahasa CSS (Cascading Style Sheets) dan html (HyperText Markup Language) yang sesuai dengan standar web sehingga bisa mendesain blog yang lebih bagus speed dan struktur css/html-nya.

Tampilan (theme) juga penting diperhatikan. Tampilan blog yang bagus dan menarik bisa menarik minat pengunjung untuk berlama-lama menjelajahi arsip blog kita. Kemampuan mendesain struktur tampilan blog, seperti pengaturan home-page, post-page, bar samping, atau bentuk font, akan ikut menentukan menarik atau tidaknya tampilan blog kita.

Komentar Pengunjung dan Mesin Pencari
Dalam aktivitas ngeblog, tidak jarang kita mendapatkan respon yang kurang simpatik dari pengunjung. Saya pun pernah dituduh sebagai seorang penjiplak. Nah, perlukah kita bersikap antipati terhadap sikap pengunjung yang demikian itu? Saya mengibaratkan pengunjung blog seperti penonton bola. Mereka bebas untuk berkomentar, baik yang mendukung dan mengapresiasi maupun yang berkomentar pedas. Pengunjung bebas berkomentar apa saja, baik yang positif, out of topic, sekadar say hello, atau bahkan berkomentar yang pedas sekalipun. Dalam situasi demikian, kita perlu bersikap lebih terbuka terhadap berbagai komentar dan kritik, sebab blog tanpa komentar ibarat rumah sakit yang megah tetapi tak ada pasiennya. Kalau harus memberikan respon, kita perlu menyikapinya dengan sikap yang lebih arif dan tak perlu ikut-ikutan emosional. Bahkan, blog yang mendapatkan banyak komentar, secara tidak langsung akan berdampak pada trafik pengunjung. Meningkatnya trafik pengunjung identik dengan naiknya “pamor” blog kita di halaman mesin pencari (search-engine). Semakin mudah blog kita ditemukan di search-engine, semakin banyak jaringan advertiser yang berminat untuk memasang iklan di blog atau mendapatkan job review. Hal ini bisa membuka ruang bagi kita untuk mendapatkan tambahan penghasilan melalui blog.

Dari sisi finansial, memang blog yang selama ini saya kelola belum memberikan banyak keuntungan dan penghasilan, karena orientasi saya ngeblog memang bukan semata-mata untuk mencari uang. Namun, yang lebih penting dan substansial, blog telah menjadi rumah maya, menjadi “ikon” yang menghubungkan ruang batin dan pemikiran saya dengan pembaca. Itulah sebabnya, nilai kepuasan batiniah yang saya peroleh jauh lebih membuat spirit saya untuk ngeblog makin tumbuh dan berkembang. Melalui blog, saya bisa menjalin silaturahmi dengan siapa saja secara lintasbudaya, lintasagama, lintassuku, bahkan lintasbenua. Melalui blog pula, saya bisa membangun semangat berbagi, bercurah pikir, berinteraksi, dan bisa memacu “adrenalin” saya untuk terus menulis, menulis, dan menulis.

Ngeblog, bagi saya juga sangat ditentukan oleh visi, misi, dan orientasi bloger yang bersangkutan dalam menjalankan aktivitasnya. Kalau blog semata-mata untuk mencari uang, mungkin kita akan kecewa dan segera kendur semangat ngeblognya, karena untuk bisa sukses menjalankan bisnis online butuh kerja keras, pantang menyerah, dan keuletan seperti halnya dalam bisnis offline. Namun, kalau ngeblog dilandasi kecintaan, niat yang tulus untuk membangun semangat berbagi dan bersilaturahmi, ngeblog terasa jauh lebih indah dan menyenangkan. Kita bisa mengenal dan berinteraksi dengan beragam karakter manusia yang belum tentu bisa kita peroleh secara langsung pada dunia nyata. Yang tidak kalah penting, blog bisa kita jadikan sebagai media pembelajaran di tengah tantangan hidup yang makin rumit dan kompleks, sehingga membuat hidup kita jadi terasa lebih damai, tenang, bahkan bisa membuat kita menjadi lebih arif, matang, dan dewasa.

Secara empirik, setidaknya ada empat jenis tulisan yang dipublikasikan di sebuah blog. Pertama, tulisan untuk menyampaikan informasi. Tulisan semacam ini biasanya menggunakan ragam bahasa resmi dan lugas. Hal ini masuk akal karena untuk menghindari kekeliruan dalam menafsirkan maksud yang terkandung di dalamnya. Untuk memberikan informasi kepada pengunjung, tulisan semacam ini sering memanfaatkan sumber dari blog atau web lain, baik dengan cara memberikan tinjauan, terjemahan, maupun kopi-paste –tanpa mengebiri etika dalam dunia kepenulisan– sehingga pengunjung memperoleh informasi yang sejelas-jelasnya. Tulisan berita dan ilmu pengetahuan bisa dikategorikan pada jenis kepentingan ekspresi ini.

Kedua, tulisan untuk kepentingan mencurahkan isi hati (curhat) dan menghibur pengunjung. Bahasa yang digunakan untuk kepentingan ekspresi semacam ini seringkali menggunakan bahasa gado-gado. Tujuan utamanya memang semata-mata untuk curhat dan menghibur pengunjung. Ragam bahasa yang digunakan cenderung variatif dan tidak terlalu “tunduk” pada kaidah-kaidah baku dalam struktur kebahasaan. Bahkan, tak jarang menggunakan tiga bahasa sekaligus; bahasa Indonesia, daerah, dan asing. Tulisan jenis ini biasanya sangat mudah memancing kesan-kesan emosi pengunjungnya, entah itu rasa iba, humor, atau sedih.

Ketiga, tulisan untuk kepentingan refleksi. Tulisan jenis ini bisa berasal dari peristiwa nyata (non-fiktif) atau berdasarkan imajinasi penulisnya (fiktif). Refleksi non-fiktif biasanya membahas persoalan-persoalan aktual dan menyangkut kepentingan publik yang dianalisis secara kritis berdasarkan renungan dan logika sang penulis. Bahasa yang digunakan dalam postingan jenis ini biasanya lugas, cenderung “liar” dan berani. Hal ini berbeda dengan postingan jenis refleksi-fiktif. Persoalan yang diangkat biasanya berasal dari pengalaman hidup, baik pengalaman diri sendiri maupun orang lain, yang disajikan dalam genre narasi, puisi, atau cerpen. Bahasa yang digunakan cenderung personal dan bersifat multitafsir. Sebagai tulisan reflektif, tulisan jenis ini berusaha memotret berbagai fenomena kehidupan untuk selanjutnya didedahkan lewat media bahasa pilihan yang benar-benar tertata, sehingga mampu memberikan sesuatu yang bermakna dalam ranah batin pembacanya.

Keempat, tulisan untuk kepentingan persuasi. Tulisan ini berusaha mengajak dan memengaruhi pembaca untuk melakukan sebuah tindakan sesuai dengan keinginan sang penulis. Ragam bahasa yang digunakan cenderung lugas agar mudah dipahami pembaca dengan menggunakan alasan yang logis dan masuk akal. Lewat tulisannya, sang penulis berusaha meyakinkan pembaca bahwa apa yang dipaparkan itu benar adanya. Tulisan yang mengajak pembaca untuk “golput” dalam sebuah pilkada atau mengajak pembaca untuk memberikan subsidi sukarela kepada sesama, misalnya, bisa dikategorikan ke dalam jenis kepentingan ekspresi ini.

Kelima, tulisan untuk kepentingan pembelajaran. Tulisan ini berusaha memberikan petunjuk dan bimbingan teknis tentang cara melakukan tindakan tertentu. Bau “how to“-nya sangat terasa sehingga cenderung menggurui. Ragam bahasa yang digunakan cenderung lugas dan apa adanya agar mudah dipahami pembaca dan terhindar dari salah tafsir.

Blog pribadi seringkali digunakan oleh sang penulis (admin) untuk berbagai macam kepentingan ekspresi. Ada warna “pelangi” di sana. Saya jarang menemukan blog yang mono-ekspresi. Ragam bahasa yang digunakan bervariasi sesuai dengan kepentingannya. Blog curhat pun sesekali diselingi dengan tulisan serius dengan ragam bahasa baku. Ini artinya, seorang bloger bisa berkomunikasi kepada pengunjung dengan mengusung beragam tema. Hal itu agaknya sangat dipengaruhi oleh kepentingan sang bloger dalam mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Bisa jadi, suasana “gado-gado” semacam itu juga dimaksudkan untuk menghindari kejenuhan, baik bagi sang bloger yang bersangkutan maupun pengunjung.

Sebagai hunian di dunia maya, kalau boleh disebut demikian, ketenaran sebuah blog akan sangat ditentukan oleh “kelincahan” sang bloger dalam mengemas gaya (ragam) pengucapan dan kepentingan ekspresinya. Dengan kata lain, efektivitas komunikasi yang dikemas melalui gaya pengucapan yang tepat akan sangat menentukan kualitas sebuah blog. Sebagus apa pun kepentingan ekspresinya, kalau kurang tepat memilih gaya pengucapan, bisa menimbulkan kesan “jorok” bagi pengunjung. Blog curhat, yang dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati, misalnya, jelas akan lebih mengena jika diekspresikan dengan gaya (ragam) pengucapan yang santai melalui kemasan bahasa “gaul”. Sebaliknya, blog yang dimaksudkan untuk mengekspresikan kepentingan pembelajaran, informasi, atau persuasi, akan lebih tepat jika dikemas dengan menggunakan bahasa yang lugas sehingga terhindar dari kesan multitafsir.

Nilai Tambah Sebuah Blog
Saat ini, dunia maya makin dinamis dengan hadirnya banyak blog yang penuh “warna”, gaya, dan muatan isinya. Apalagi, kini juga banyak web yang memberikan layanan gratis. Dunia pendidikan yang diyakini menjadi “kawah candradimuka” peradaban, juga akan makin dinamis dan berkembang pesat jika banyak guru yang bersedia meluangkan waktunya untuk melakukan aktivitas ngeblog. Bahkan, bukan tidak mungkin, blog akan menjadi media interaktif dalam sebuah pembelajaran elektronik yang menarik dan menyenangkan untuk peserta didik.

Sudah saatnya blog menjadi “piranti” dan media strategis untuk melakukan aksi, berbagi, dan bersilaturahmi di tengah peradaban yang kini dinilai sedang “sakit”. Melalui blog, kita bisa memberikan “pencerahan” kepada publik akan pentingnya makna kearifan hidup sehingga tidak mudah terangsang untuk melakukan tindakan-tindakan konyol dan tak terpuji yang bisa menodai citra keharmonisan hidup.

Sekadar refleksi, ada baiknya hal-hal berikut ini dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi rekan-rekan sejawat ketika berminat untuk menjalankan aktivitas ngeblog.

  1. Jangan jadikan blog sebagai media untuk mencari ketenaran atau sensasi. Fakta sudah banyak membuktikan hal itu. Seleksi alam yang akan membuktikan bahwa blog semacam itu tak akan berumur panjang.
  2. Tetapkan pola dan desain isi blog yang akan dibuat agar kita sendiri tidak merasa kesulitan dalam melakukan update tulisan.
  3. Budayakan aktivitas ngeblog di luar jam-jam mengajar di sekolah. Jam kerja guru masih terlalu pendek jika dibandingkan dengan waktu luangnya. Nah, akan lebih bagus jika waktu luang tersebut kita manfaatkan untuk melakukan aktivitas ngeblog yang sangat bermanfaat untuk membangun tradisi keilmuan.

Kehadiran bloger guru, menurut saya, bisa memberikan nilai tambah terhadap kemajuan dunia pendidikan. Pertama, dunia pendidikan akan makin berkembang secara dinamis karena banyak pemikiran dan ide kreatif dari para guru yang terabadikan melalui internet. Tulisan-tulisan yang berkaitan dengan masalah-masalah pendidikan, dengan demikian, akan semakin mudah ditemukan di search-engine.

Kedua, secara internal, bloger guru akan terpacu semangatnya untuk bertindak secara kreatif dan inovatif dalam mengemas proses pembelajaran yang menarik dan memikat. Semangat pembelajaran berbasis Paikem (pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) akan semakin membumi dan membudaya di ruang-ruang kelas sehingga dunia pendidikan tak lagi menjadi “penjara” yang memasung kebebasan berpikir siswa didik.

Ketiga, terjalinnya persaudaraan dan silaturahmi dengan sesama bloger, baik dari kalangan guru maupun non-guru, sehingga akan terbangun suasana keakraban di antara sesama anak bangsa yang sanggup membunuh benih-benih primordialisme sempit berbasiskan kesukuan alias kedaerahan, kelompok, suku, atau agama. Pengalaman ngeblog selama ini menunjukkan betapa kuyupnya persahabatan dan silaturahmi di antara sesama bloger, meskipun secara lahiriah (hampir) tak pernah bertemu secara langsung di darat. Blog bisa memperpendek jarak ruang dan waktu sehingga intensitas komunikasi bisa terjalin lebih akrab dan familiar. Bukankah ini sebuah kontribusi nyata dari para bloger dalam menciptakan nilai-nilai kerukunan di antara sesama warga bangsa? Jika atmosfer semacam itu bisa terus berlangsung, jelas akan mampu memperkuat fungsi dan peran dunia pendidikan sebagai agen kebudayaan yang akan mempertautkan dan menyatukan perbedaan etnik menjadi sebuah kebersamaan yang mengagumkan.

Keempat, bloger guru akan terus terpacu semangatnya untuk terus meningkatkan kinerjanya sehingga empat kompetensi guru, yakni pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial, sebagaimana tercantum dalam PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (pasal 28), dapat terwujud. Terlalu berlebihankah? Menurut hemat saya, tidak! Kebiasaan dan budaya mengekspresikan pemikiran-pemikiran kreatif ke dalam sebuah tulisan, setidaknya akan sangat memengaruhi pola dan gaya berpikir seorang guru. Ini artinya, blog bisa menjadi wahana yang tepat dan strategis untuk mengembangkan kompetensi pedagogis, kepribadian, profesional, dan sosial seorang guru dalam menjalankan aktivitasnya, baik di dalam maupun di luar dunia pendidikan.

Kelima, blog bisa menjadi media interaktif untuk mewujudkan pembelajaran elektronik yang dialogis dan demokratis sehingga kompetensi siswa bisa berkembang dengan baik. Dalam memberikan tugas, baik terstruktur maupun tidak terstruktur, misalnya, seorang guru bisa memostingnya di sebuah blog, kemudian siswa diberikan kebebasan dan kemerdekaan kreatif untuk menjawab, menyampaikan pendapat, sanggahan, atau usulan melalui kolom komentar. Hal ini akan sangat berbeda susasananya jika siswa bertatap muka secara langsung dengan sang guru yang seringkali dihadapkan pada kendala-kendala psikis, seperti rasa sungkan, takut, atau malu. Dari sisi ini, blog bisa menumbuhkan keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat yang selama ini menjadi hambatan klasik dalam proses pembelajaran.

Tentu saja, masih ada nilai tambah yang lain ketika guru mampu memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran. Meskipun demikian, harus diakui, bukan persoalan yang mudah untuk menjadikan blog sebagai “magnet” yang mampu memikat para guru. Selain kendala jaringan infrastruktur internet yang belum merata di berbagai daerah, juga masih muncul adanya kesenjangan kompetensi guru. Dalam kondisi demikian, dibutuhkan komitmen dan kebijakan para pengambil keputusan untuk tak henti-hentinya mengakrabkan guru pada dunia blog secara simultan dan berkelanjutan dengan memfasilitasi para guru untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam melakukan aktivitas ngeblog. ***

*) Disajikan pada Pelatihan “Guru Menulis, Guru Go-Blog, Guru Menerbitkan Buku Bukan tidak Mungkin” pada hari Selasa, 17 Mei 2011, di SD Negeri Taman Pekunden, Jalan Taman Pekunden Semarang, yang diselenggarakan oleh IGI (Ikatan Guru Indonesia) Cabang Kota semarang.

tentang blog iniTulisan berjudul "Guru, Blog, dan Media Aktualisasi Diri" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (22 Mei 2011 @ 00:09) pada kategori Blog, Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 66 komentar dalam “Guru, Blog, dan Media Aktualisasi Diri

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *