15May 2011 38 Comments1,535 pembaca
Kota Mati, Air Mata Darah, dan Kulacak Jejak Masa Silamku
Sajak-sajak Sawali Tuhusetya
Kota Mati
Kutulis sajak ini
ketika angin laut menyurut di tebing kelam
ketika suara jangkrik malam larut dalam dekapan kota mati
ketika lahar dingin membadai di kali lereng Merapi
meratakan perkampungan di tengah peradaban yang sunyi
memabukkan penguasa di atas tahta tanpa nama
meninabobokan para tirani demokrasi di atas panggung tanpa nurani
Wahai para ksatria negeri
Tataplah tebing-tebing zaman yang kerontang
Yang dihuni para pelacur tanpa kutang
Yang dikencingi para bromocorah dan petualang licik
Yang ditiduri para pencopet kelas teri
Yang terus dilintasi para musyafir tanpa jatidiri
Ini kota mati
Yang terus dikendalikan para pengikut machiavelli
Dan tak lagi percaya pada sabda-sabda nabi
* Kendal, Desember 2010
Kulacak Jejak Masa Silamku
Kulacak jejak masa silamku
Menyusuri lembah, ngarai, dan labirin kesunyian
Di tengah senja yang lindap
Berkepakan sayap-sayap kelelawar
Menyusuri silhuet pekat dan kesiur angin laut tanpa warna
Menjelajah bukit demi bukit tanpa nama
Memburu makna kearifan hidup di tengah rimba peradaban yang tandus
Aku bukan Kunti, kekasih Sang Surya
Yang mampu bersetubuh dengan matahari
Yang mampu melahirkan anak-anak peradaban
Di tengah padang Indraprasta
Aku juga bukan Bima Suci
Penemu tafsir tirta prawidhi
Di tengah ceruk samudra suci
Bersemayam dalam nirwana Sang Dewa Ruci
Dalam tambur hakikat kesejatian diri
Aku hanyalah kerikil peradaban
Yang tak sanggup mendengar terompet para pendusta
Yang terus mengiris gendang telinga para pemburu kebenaran
Oh, Sang Penjaga Semesta Malam
Jangan biarkan aku tenggelam dalam kealpaan
Jangan biarkan aku melupakan nama-nama nabi
Jangan biarkan aku memusnahkan fosil-fosil peradaban
Jangan biarkan aku larut melacak jejak masa silamku
* Kendal, Desember 2010
Air Mata Darah
Kusebut asma-Mu dengan air mata darah
Meratapi tubuh negeri yang berdarah-darah
Menatap gebalau zaman yang gelisah
Menyaksikan jutaan tangan setengah tengadah
Yang tak pernah berhenti menyetubuhi hamparan sajadah
Namun, tak juga menemukan singgasana rahmah
Kendal, Desember 2010
***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Kota Mati, Air Mata Darah, dan Kulacak Jejak Masa Silamku" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (15 May 2011 @ 00:28) pada kategori Fiksi, Sastra dan telah dikunjungi oleh 1,535 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:














May 18, 2011 @ 10:54:52
dari sendiri untuk mereka, dari mata turun kehati,, saya suka puisi anda pak,, haha,, gak nyambung ya ??
May 23, 2011 @ 01:53:42
hehe … nggak nyambung juga ndak apa2, kok, mas, hehe ….
May 17, 2011 @ 11:39:51
Keras dalam menyuarakan gejolak hati, namun indah dan penuh makna yang dalam …
Mantabs pak …
May 17, 2011 @ 20:37:53
walah, biasa saja kok, pak. puisi ini sdh lama ngendon di rak. baru kali ini saya publish, hiks.
May 17, 2011 @ 11:03:01
wah..puisinya bgus…
gile…haha
May 17, 2011 @ 10:19:13
gan boleh tuh puisina ,,,,lam kenal
May 17, 2011 @ 20:36:25
salam kenal juga. terima kasih atas apresiasinya.
May 17, 2011 @ 10:17:34
alam marah karena ulah manusia,,,alam bungkam walau mereka trus di usik,,,,tak ada yang harus lebih, di pahami selain jaga lingkungan tuk menghindari kehancuran
May 17, 2011 @ 20:35:23
subhanallah, terima kasih atas tambahan infonya utk memperkaya referensi sajak2 sederhana ini.