Home | Edukasi, Opini, Refleksi | Kinerja Guru dan Sertifikat Pendidik

Kinerja Guru dan Sertifikat Pendidik

Tuesday, 24 November 2009 (00:12) | 1,410 pembaca | 116 komentar | Print this Article

25 November tahun ini seharusnya menjadi momentum yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap keberadaan sosok guru yang dianggap publik berada di garda depan dalam dunia pendidikan. Namun, hiruk-pikuk dan karut-marut persoalan hukum tentang dugaan terjadinya kasus mafia hukum dan merebaknya perilaku anomali para maklar kasus (markus) agaknya telah menenggelamkan isu-isu seputar dunia keguruan. Tak berlebihan kalau Hari Guru Nasional yang bertepatan dengan HUT ke-64 PGRI pun (nyaris) kehilangan gaungnya.

sertifikasisertifikasisertifikasiPadahal, profesi guru selama ini tak pernah surut dari perbincangan dan wacana publik. Ada banyak sisi yang bisa digunakan untuk membidik profesi ini, mulai rendahnya kinerja, kepribadian yang kurang terpuji, hingga persoalan asap dapur. Ketika rezim Orde Baru masih berkuasa, guru ditempatkan dalam sebuah “rumah kaca” yang gampang diamati gerak-geriknya. Jika guru melakukan tindakan yang tak segaris dengan kebijakan penguasa, mereka tak segan-segan “disemprit”; entah dengan penundaan jenjang karier, pemecatan, hingga ancaman dan tekanan. Yang lebih menyedihkan, guru tak henti-hentinya digiring dan dimobilisasi untuk mendukung partai penguasa. Melalui kaki tangan rezim yang menggurita hingga ke lapisan birokrasi paling bawah, guru dikurung dalam tungku kekuasaan yang panas dan gerah. Guru harus menjadi sosok yang serba tunduk dan penurut pada kehendak rezim yang sedang berkuasa.

Angin reformasi yang telah berhembus lebih dari satu dasawarsa memang telah banyak memberikan “berkah” bagi guru. Setidak-tidaknya, guru tidak lagi kena sindrom mobilisasi yang diarahkan untuk berafiliasi pada aliran politik penguasa. Guru, sebagaimana warga negara yang lain, bebas menentukan hak politiknya. Dari sisi kesejahteraan, guru juga sudah banyak menikmati tunjangan profesi, terutama mereka yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik. Tambahan satu kali gaji pokok, setidak-tidaknya bisa dimanfaatkan untuk meringankan beban ekonomi guru yang selalu dituntut untuk “meng-upgrade” diri agar tak tersalip ilmunya oleh siswa didik. Melalui tunjangan profesi itu, guru diharapkan tidak lagi direpotkan memikirkan asap dapur, biaya kesehatan, dan berbagai persoalan kebutuhan lainnya, sehingga bisa total dan intens menjalankan tugas-tugas profesinya. Dengan kata lain, di negeri ini tak akan lagi terdengar guru yang nyambi jadi tukang ojek atau penjual rokok ketengan yang dinilai bisa mengganggu dan menghambat kinerjanya.

Namun, ketika program sertifikasi guru digulirkan, pro-kontra tentang terobosan ini terus bermunculan. Banyak kalangan menduga, proses sertifikasi guru yang dilakukan dengan mengumpulkan dokumen portofolio sebanyak 850 point akan rawan dengan manipulasi. Ternyata dugaan itu tidak meleset. Berdasarkan pemantauan tim asesor, tidak sedikit ditemukan berkas dokumen portofolio yang aspal (asli tetapi palsu). Oleh karena itu, penilaian dokumen portofio pun diubah. Sejak tahun 2008, berkas dokumen portofolio harus asli (tidak boleh foto kopi).

Persoalannya sekarang, apakah sertifikasi guru akan memberikan dampak positif terhadap kemajuan dunia pendidikan? Bagaimana memantau kinerja guru yang sudah tersertifikasi agar mampu memberikan nilai tambah buat kemajuan dunia pendidikan? Kalau memang nyata-nyata ditemukan sejumlah fakta bahwa sertifikasi guru tidak memberikan imbas positif terhadap kemajuan dunia pendidikan, perlukah sertifikasi dikaji ulang? Kalau memang perlu dikaji ulang, adakah upaya lain yang bisa dilakukan agar peningkatan kesejahteraan guru memberikan imbas positif terhadap kemajuan dunia pendidikan?

Dalam menyambut Hari Guru Nasional tahun ini, sengaja saya melontarkan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan masukan dari segenap pembaca sebagai bahan refleksi ketika program sertifikasi ini telah menjadi isu nasional yang (sejatinya) tak kalah menarik dibandingkan dengan ranah penegakan hukum. ***

Kategori: Edukasi, Opini, Refleksi | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgRefleksi Akhir Tahun Pelajaran (Friday, 3 July 2009, 385 pembaca, 62 respon) Jika tak ada aral melintang, 13 Juli nanti merupakan hari pertama masuk sekolah. Selalu saja ada romantisme baru yang bersemayam dalam gendang nurani kita setiap kali memasuki tahun pelajaran baru. Harapan baru, semangat baru, seragam baru, dan...
imgTersedu di Atas Hamparan Sajadah (Friday, 5 December 2008, 392 pembaca, 129 respon) Menjelang dini hari. Cuaca dingin berkabut. Sunyi. Saya masih tenggelam dalam penjelajahan arus dunia maya ketika tiba-tiba saja gendang telinga saya menangkap suara tangis tertahan. Tak terlalu keras, tapi cukup mengusik kepekaan nurani saya. Sejenak...
imgSebuah Kado Menjelang Hari Guru (Monday, 17 November 2008, 927 pembaca, 181 respon) Sudah mengantongi sertifikat pendidik, tetapi belum menikmati tunjangan profesi? Pertanyaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi saya. Dari sekian puluh guru peserta uji sertifikasi susulan tahun 2007, bisa jadi sayalah satu-satunya guru...
imgRefleksi Menjelang Hari Guru 2008 (Sunday, 16 November 2008, 1,541 pembaca, 94 respon) Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam. Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kedaluwarsa. Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk ….. Bolehkah kami bertanya, apakah artinya bertugas mulia, ketika kami hanya terpinggirkan,...
imgHalaman Khusus Guru “Go-Blog” (Friday, 8 February 2008, 319 pembaca, 26 respon) Sebenarnya sudah lama saya berkeinginan membuat “rumah” khusus untuk agregator blog guru. Namun, apa daya? Tenaga dan pikiran seringkali menjadi kendala. Belum lagi memikirkan, siapa saja rekan-rekan sejawat yang berkenan untuk menjadi...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Kinerja Guru dan Sertifikat Pendidik" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Tuesday, 24 November 2009 (00:12)) pada kategori Edukasi, Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

116 Responses to "Kinerja Guru dan Sertifikat Pendidik"

  1. Lukman says:
    Menggunakan Firefox 3.0.16 Firefox 3.0.16 pada Windows XP Windows XP

    ayo semangat 2010 buat para guru untuk lebih profesionalisme,
    Baca juga tulisan terbaru Lukman berjudul "Institut Pertanian Bogor (IPB)" My ComLuv Profile

  2. Menggunakan Google Chrome 4.0.249.11 Google Chrome 4.0.249.11 pada GNU/Linux GNU/Linux

    terima kasih, bu pita. semoga saja dengan meningkatnya kesejahteraan guru, akan meningkat juga kinerja dan profesionalismenya.

  3. Menggunakan Google Chrome 4.0.249.11 Google Chrome 4.0.249.11 pada GNU/Linux GNU/Linux

    saya kira benar banget itu, mas. semoga hal ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

  4. MARIA UTAMI says:
    Menggunakan Firefox 3.5.5 Firefox 3.5.5 pada Windows XP Windows XP

    semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi ya, pak…hingga saya dapat ngangsu kawruh dari bapak…karena salah satu guru yang menjadi pelita di Indonesia adalah pak Sawali…semoga sehat terus dan makan yang banyak supaya gemukan dikit…
    semangat…

  5. Menggunakan Shiretoko 3.5.7 Shiretoko 3.5.7 pada Ubuntu 9.10 Ubuntu 9.10

    amiiin, terima kasih bu tami. demikian juga dg bu tami, semoga terus bersemangat utk sharing dengan teman2 sejawat.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (190 queries: 0.992 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP