Home » Jampi Sayah » Surat Buat Mak di Kampung

Surat Buat Mak di Kampung

Mak, saya tahu kalau Mak nggak mungkin baca surat ini. Selain luput dari sentuhan bebas 3 buta (baca, tulis, dan hitung), di kampung nggak ada internet. Saya juga tahu kalau hari ini Mak sedang bercengkerama dengan alam desa yang masih ramah, belum tercemar limbah dan polusi pabrik. Saya juga tahu kalau Mak belakangan ini lebih banyak duduk di depan kotak ajaib. Menghabiskan siswa waktu di kala anak dan cucumu mengadu nasib di perantauan. Saya juga bisa memahami kalau Mak sedang kesepian. Ingin selalu bersama, hidup dalam satu atap bersama anak, menantu, dan cucu. Tapi apa boleh buat, Mak. Tuhan sudah memiliki skenario kehidupan bagi setiap hamba-Nya. Mohon maaf, Mak, kalau sudah hampir seperempat abad ini, aku tidak lagi bisa mendampingi dan menemani Mak. Tidak bisa seperti ketika Mak menyaksikan kenakalanku waktu SD dan SMP.

Mak, saya jadi ingat ketika Mak harus bersusah-payah mencari pinjaman hutang untuk biaya sekolahku waktu kuliah di sebuah institusi yang disebut-sebut sebagai lembaga pencetak calon guru. Waktu itu, keluarga kita benar-benar sedang hancur. Ayah sakit keras. Tak berdaya melawan virus kelumpuhan yang terus menggorogoti tubuhnya. Hingga sekarang, aku juga tidak tahu, virus apa yang bersarang di tubuhnya, hingga akhirnya Ayah tak kuasa melawannya. Ayah harus berpulang menghadap ke haribaan-Nya. (Semoga Ayah tenang di alam-Nya sana, diterima semua amal baiknya, dan diampuni segala dosanya.) Aku juga tahu kalau Mak saat itu sedang dalam keadaan bingung. Tapi, kalau harus berhenti kuliah, aku juga tidak sanggup melakukannya. Cita-cita untuk memenuhi dunia panggilan sebagai seorang guru sudah merajam darah dan jiwaku. Alhamdulillah, berkat jerih-payah Mak, akhirnya kuliahku selesai juga.

Mak, aku sudah sangat rindu untuk bertemu. Sekadar bisa mengambilkan segelas air putih, mencarikan handuk, atau mengganti channel TV yang Mak suka. Tapi, aku belum bisa melakukannya. Mohon maaf, kalau itu hanya bisa kulakukan setahun sekali ketika lebaran tiba.

Mak, aku pingin sedikit bercerita tentang peran dan fungsi keluarga pada zaman sekarang yang sering disebut-sebut orang dengan istilah globalisasi alias kesejagatan. Mak, agaknya sekarang ini sudah banyak keluarga yang mengalami pergeseran nilai dalam memaknai fungsi keluarga.

Yang pernah aku baca dari berbagai buku, sosok Ibu adalah orang yang pertama kali memperkenalkan, menyosialisasikan, menanamkan, dan mengakarkan nilai-nilai agama, budaya, moral, kemanusiaan, pengetahuan, dan keterampilan dasar, serta nilai-nilai luhur lainnya kepada seorang anak. Dengan kata lain, peran ibu sebagai pencerah peradaban, ‘”pusat” pembentukan nilai, atau “‘pancer” penafsiran makna kehidupan, tak seorang pun menyangsikannya. Hanya Malin Kundang saja yang arogan dan menihilkan peran seorang ibu dalam membesarkan dan “memanusiakan” dirinya. Dan itu sudah Mak lakukan dengan sempurna.

Tapi Mak, seiring gerak roda peradaban, peran ibu sebagai pencerah peradaban semakin berat tantangannya. Setidaknya ada dua tantangan mendasar yang harus dihadapi oleh seorang ibu di tengah dinamika peradaban global. Pertama, tantangan dari dalam lingkungan keluarga yang harus tetap menjadi sosok feminin yang lembut, penuh perhatian dan kasih sayang, serta sarat sentuhan cinta yang tulus kepada suami dan anak-anak. Kedua, tantangan di luar “pagar” rumah tangga seiring tuntutan zaman yang semakin terbuka terhadap masuknya nilai-nilai mondial dan global yang menuntut dirinya untuk bersikap maskulin.

Nah, lho, Mak. Berat sekali tantangan Ibu-ibu pada zaman sekarang, kan? Mereka diharapkan dapat menyikapi dan menyiasati dua tantangan mendasar itu. Mereka jelas dituntut untuk semakin memaksimalkan perannya, memberdayakan potensi dirinya sehingga mampu tampil feminin dan maskulin sekaligus dalam menerjemahkan dan menginternalisasi selera zaman yang mustahil dihindarinya sebagai seorang ibu yang hidup pada era kesejagatan. Ini artinya, fitrah seorang ibu tidak hanya “dicairkan” dalam lingkup domestik, tetapi juga harus ditebarkan pada ranah publik, seiring dengan semakin kompleks dan rumitnya masalah-masalah yang harus diatasi.

Maaf, Mak. Istilah-istilah semacam itu mungkin banyak yang tidak Mak pahami. Tapi, itu perlu aku kemukakan agar juga bisa menjadi bahan renungan bagi Ibu-ibu yang lain. Yang masih aku ingat, seorang Ibu menjadi “ruh” keluarga yang akan menjadi penentu ”mati hidupnya” sebuah paguyuban batih (keluarga), menjadi “pelepas anak panah” keluarga sesuai sasaran bidik yang dituju. Paling tidak, seperti yang dikemukakan oleh Yaumil Agus Achir, ada delapan fungsi keluarga, yakni fungsi sosial budaya, cinta kasih, perlindungan/proteksi, reproduksi, sosialisasi, pendidikan, ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan. Meskipun tidak mutlak menjadi tanggung jawab ibu sepenuhnya, kedelapan fungsi keluarga tersebut akan terwujud dalam tataran praktik hidup apabila diimbangi dengan kesiapan, kemampuan, dan kesanggupan seorang ibu dalam menjalankan fitrahnya di lingkup domestik.

Tapi, Mak, arus modernisasi yang demikian gencar menawarkan pergeseran dan perubahan pranata-pranata hidup dan nilai-nilai luhur baku, agaknya memiliki imbas yang cukup kuat terhadap masyarakat dalam menginternalisasi dan mengapresiasi fungsi keluarga. Keagungan sebuah keluarga sebagai entitas sosial dalam menyosialisasikan nilai-nilai luhur kepada para anggotanya, dinilai mulai semakin luntur. Para anggota masyarakat dalam mengapresiasi fungsi keluarga mengalami pergeseran dan perubahan. Keluarga tidak lagi dipandang sebagai “institusi” dan yang menjadi satu-satunya wadah yang cukup akomodatif dan adaptif terhadap selera dan atmosfer zaman yang sulit diduga.

Kondisi tersebut, mungkin ya Mak, juga dipengaruhi oleh pergeseran peran orangtua, yang semula diyakini sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap upaya pewarisan nilai dan tradisi, kini telah tereduksi sebagai pihak yang secara biologis sekadar menghadirkan seorang anak ke muka bumi. Bahkan, dalam banyak hal, orangtua sekadar dipahami sebagai pihak yang hanya memiliki otoritas ekonomi dalam rentang waktu tertentu hingga anak dinilai dewasa.

Seiring dengan itu, Mak, pandangan anak terhadap orangtua pun tidak lagi “sakral” dengan bentuk penghormatan yang optimal dan proporsional. Hubungan anak dengan orangtua melulu sebagai hubungan darah “kekerabatan” yang kehilangan basis moral dan spiritualnya. Tidaklah mengherankan kalau generasi masa kini menjadi sulit menerima petuah dan nasihat luhur orangtua. Mereka telah memiliki “referensi” tersendiri yang cocok dengan gejolak naluri purbanya.

“Anak buah” teknologi yang begitu canggih mentransfer berbagai bentuk kemasan informasi dan hiburan, menyebabkan anak-anak menjadi rentan terhadap imaji kekerasan, kemanjaan, kemunafikan, dan hipokrit. Anak menjadi kehilangan kepekaan terhadap makna kearifan hidup. Sikap sabar, tawakal, tabah, telaten, dan tahan uji telah menjelma ke dalam sikap hidup instan, kehilangan naluri “proses” dalam mendapatkan sesuatu. Kota-kota besar yang sarat gebyar materi akhirnya menjadi “ladang” subur bagi tumbuhnya generasi-generasi zaman yang menanggalkan sikap responsifnya terhadap iklim spiritual. Terjadi proses dereliginasi (pendangkalan agama), pembonsaian nilai-nilai kemanusiaan, dan involusi budaya di kalangan generasi muda. Bukan hal yang mustahil kalau sudah tak terbilang lagi jumlah remaja kita yang terjebak ke dalam lembah seks bebas, pesta “pilsetan”, penyalahgunaan obat terlarang, tindak kekerasan, dan kriminal, atau ulah amoral lainnya.

Fenomena yang penuh pengingkaran terhadap ajaran agama dan moral tersebut jelas membutuhkan intensitas peran ibu sebagai pencerah peradaban dalam lingkup keluarga, yang pada gilirannya nanti akan benar-benar mampu melahirkan generasi-generasi bangsa yang unggul dan pinunjul, maju, mandiri dan tahan uji, sehingga kelak sanggup menghadapi kerasnya tantangan peradaban di era global.

Mak, kadang-kadang aku juga cemas menyaksikan fenomena banyaknya kaum ibu yang berbondong-bondong meninggalkan rumah, menggeluti peran publiknya sebagai perempuan karier. Mampukah mereka memaksimalkan perannya di ranah domestik atau keluarga, ya, Mak? Sanggupkah sang ibu mengembalikan fungsi keluarga yang ideal di tengah kesibukannya menggeluti profesinya?

Mak, aku juga pernah dengar dari para pejuang feminisme, kalau kaum Ibu juga dituntut untuk memberdayakan potensi dirinya, mewujudkan kebutuhan akan prestasi, dan mengaktualisasikan motivasi intelektualnya.

Kalau menurut pendapat awamku, Mak, kaum ibu idealnya menjadi sosok androgini; bisa tampil maskulin di ranah publik dengan capaian prestasi yang seimbang dengan kaum pria, sekaligus tidak menanggalkan sifat femininnya di ranah domestik yang tetap menjaga kelembutan, sikap keibuan, dan ketulusan kasih sayang terhadap suami dan anak-anak. Dengan sosok androgini ini, kaum ibu tetap akan mampu memaksimalkan perannya sebagai pencerah peradaban; peran luhur dan mulia yang sudah teruji lewat sejarah peradaban yang panjang, walaupun sang ibu sibuk meniti karier di panggung publik. Hanya saja, kaum pria mestinya tidak bersikap “arogan”, mempersempit ruang gerak kaum ibu di sektor publik, serta mau memberikan legitimasi terhadap kemampuan dan “kekuatan” internal kaum ibu.

Mitos konco wingking yang memosisikan kaum perempuan (ibu) sebagai makhluk kelas dua harus dibebaskan. Perlu keberanian kaum pria untuk mengakui posisi dan martabat kaum perempuan sebagai mitra yang benar-benar sejajar dengan dirinya. Sudah bukan saatnya lagi pembagian peran semata-mata didasarkan pada bias gender dan jenis kelamin minded, melainkan pada tingkat kapabilitas dan kredibilitasnya dalam mengakses peran. Dan alhamdulillah, semua peran itu telah Mak lakukan dengan sempurna, meski Mak bisa dibilang tak paham apa itu sosok androgini.

Mohon maaf, Mak, kalau surat ini terlalu panjang. Hanya sebatas inilah yang bisa aku lakukan untuk mengenang jasa dan pengorbananmu yang tak mungkin bisa aku balas, bahkan dengan darah dan nyawaku sekalipun. Terima kasih, Mak, dan mohon Mak berkenan menerima sembah sujud dan sungkemku dari jauh. Dirgahayu Hari Ibu, Mak!

————————

Tulisan ini saya publikasikan dalam rangka memeringati Hari Ibu, 22 Desember 2007.

tentang blog iniTulisan berjudul "Surat Buat Mak di Kampung" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (21 Desember 2007 @ 04:31) pada kategori Jampi Sayah. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 6 komentar dalam “Surat Buat Mak di Kampung

  1. Pingback: reverse phone calls

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *