Melly Kiong dan Bukunya
Wednesday, 30 April 2008 (18:36) | 580 pembaca | 40 komentar
Pernah mendengar nama Melly Kiong? Yups, di kompleks blogosphere, namanya memang kurang nyaring terdengar. Maklum, dia tergolong perempuan yang supersibuk. Selain sebagai perempuan yang dengan amat sadar memilih karier sebagai media perwujudan ”fitrah” keperempuanannya, dia juga sangat peduli pada harmoni kehidupan rumah tangga sebagai perwujudan ”kodrat” keperempuanannya. Bisa dimaklumi kalau dia jarang blogwalking. Blognya yang di WP pun sudah lama tidak di-update.
Lantas, mengapa saya tiba-tiba saja tertarik untuk membuat postingan khusus tentang Melly Kiong? Secara pribadi, saya memang belum bertemu secara langsung dengan Mbak Melly –demikian saya biasa menyapanya. Komunikasi hanya sebatas kami lakukan via chatting, SMS, atau telepon. Meski demikian, setidaknya saya bisa mengenal ide-ide dan pemikiran-pemikirannya. Di mata saya, Mbak Melly tergolong perempuan yang memiliki idealisme untuk kemajuan bangsa. Lewat program dan slogannya ”Peduli Anak Bangsa”, betapa sosok Mbak Melly demikian concern dan peduli terhadap dunia pendidikan, meski pekerjaannya tidak terkait langsung dengan masalah pendidikan. Tempaan pengalaman hidupnya yang pahit, sosok ibunya yang smart dan tangguh, serta atmosfer lingkungan rumah tangga yang kondusif, agaknya telah memengaruhi sikap hidup Mbak Melly untuk peduli terhadap dunia pendidikan.
Pengaruh sosok ibunya dan atmosfer lingkungan keluarga semacam itulah yang telah mengilhami perempuan kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, 1969 itu, untuk meluncurkan buku perdananya, Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Jakarta. Buku setebal 127 halaman itu memaparkan dan sekaligus juga untuk membuktikan bahwa perempuan karier ternyata bisa juga mendidik anak dengan baik.
Pilkada Pasca-Reformasi, Quo-Vadis?
Tuesday, 29 April 2008 (05:13) | 897 pembaca | 34 komentar
Suasana tegang, panas, dan mencekam (hampir) selalu mewarnai proses pemilihan kepala daerah/walikota (pilkada) belakangan ini. Aksi unjuk rasa, kerusuhan, bentrok antarpendukung calon, ulah perusakan rumah tinggal penduduk yang dianggap menjadi “lawan politik”-nya, dan amuk massa terhadap fasilitas umum milik masyarakat nyaris menjadi “irama” khas yang menggema di sela-sela pesta demokrasi itu.
Meski tidak semua daerah/kota yang tengah melangsungkan hajat demokrasi itu ditingkahi aksi kekerasan, tetapi tak urung juga mencuatkan tanda tanya di benak kita. Ada apa gerangan di balik ulah sebagian warga yang cenderung destruktif dan menjurus ke tingkah anarkhi itu? Bukankah selama ini rakyat selalu disanjung puji sebagai warga bangsa yang polos, lugu, manutan, dan santun dalam segenap perilakunya? Mengapa tiba-tiba saja mereka berubah beringas, rentan terhadap aksi kebrutalan dan begitu mudah larut dalam arus emosi “purba” yang sebenarnya kurang menguntungkan itu?
Fenomena kekerasan yang mewarnai setiap hajatan demokrasi jelas sangat tidak kondusif dalam upaya mendinamisir dan memberdayakan daerah/kota dari sentuhan kemajuan. Bahkan, bisa dibilang, daerah/kota yang bersangkutan akan mengalami set-back (langkah mundur) yang semakin jauh dari substansi ideal. Betapa tidak? Fasilitas umum yang dibangun bersama dengan susah-payah, akhirnya musnah dalam sekejap. Kepala daerah/kota terpilih yang seharusnya sudah siap terjun ke lapangan memaksimalkan kemampuannya menjadi terhambat.
Masih Adakah “Semar” dalam Lingkaran Elite Kekuasaan?
Friday, 25 April 2008 (14:42) | 1,257 pembaca | 50 komentar
Para penggemar pakeliran wayang purwa, pasti sudah tidak asing lagi dengan tokoh Semar. Bersama ketiga anaknya, Gareng, Petruk, dan Bagong, Semar seringkali hadir ketika dunia pakeliran mencapai tahap “gara-gara” alias klimaks yang menandai kacaunya situasi kehidupan di mayapada. Melalui karakternya yang khas dan tersamar, Semar mewakili basis kehidupan “wong cilik” yang seringkali tertindas dan menjadi korban pertarungan kaum elite yang tengah berebut kekuasaan.
Namun, Semar yang tampak adalah wadag kasar Janggan Semarasanta. Semar yang sesungguhnya adalah putra Sang Hyang Wisesa yang diberi anugerah mustika manik astagina yang mempunyai delapan daya (tidak pernah lapar, tidak pernah mengantuk, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah bersedih, tidak pernah merasa capek, tidak pernah menderita sakit, tidak pernah kepanasan, dan tidak pernah kedinginan). Kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun alias kuncung. Semar atau Ismaya juga memiliki beberapa gelar sekaligus, yakni Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, atau Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri (alam kosong) dan tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia.
Siapakah Janggan Semarasanta itu? Dalam jagad pakeliran, dia adalah anak sulung Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan yang berperawakan cebol, ipel-ipel, dan berkulit hitam. Sedangkan, Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan merupakan salah satu keturunan Batara Semar, hasil pernikahannya dengan Dewi Sanggani, putri Sanghyang Hening. Karena tidak diperkenankan menguasai kehidupan manusia di mayapada, Batara Ismaya menitis ke wadag Janggan Semarasanta yang akhirnya menjadi abdi setia di Pertapaan Saptaarga.
Petaka di Balik Cupumanik Astagina
Wednesday, 23 April 2008 (11:13) | 628 pembaca | 25 komentar
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Prof. Dr. Gotama masih sibuk dengan rutinitasnya di ruang laboratorium. Di ruang yang tak begitu luas itulah guru besar Ilmu Kimia Erriya University itu menghabiskan waktunya. Istrinya, Dewi Windradi, yang masih muda, sintal, dan bahenol pun jarang-jarang disentuhnya lagi. Kesetiaannya dalam mengabdi kepada ilmu pengetahuan telah mengalahkan segala-galanya.
Di kalangan ilmuwan, Prof. Dr. Gotama memang dikenal sebagai sosok brilian dan teguh memegang prinsip. Iming-iming dhuwit bertumpuk-tumpuk dari wayang-wayang kaya yang hendak memanfaatkan kebrilianannya pun ia tampik. Wayang tua berkepala setengah botak itu hanya punya hasrat menciptakan penemuan-penemuan baru sebagai warisan kepada umat wayang yang kini ditengarai sudah dicemari oleh ulah oknum ilmuwan yang rela menjual kebenaran demi menuruti kepentingan-kepentingan sempit dan memuaskan kebuasan nafsu.
Ruang laboratorium berselimut keheningan. Hanya sesekali terdengar denting lembut botol-botol eksperimen yang tengah dibenahi Jembawan, asisten pribadinya yang suntuk membantunya. Tiba-tiba saja tubuh kurus Prof. Gotama nyaris terpelanting dari kursi kerjanya ketika secara mendadak terdengar suara ribut dari luar. Konsentrasinya buyar. Jembawan tersentak. Buru-buru wayang muda bertubuh gempal itu mendekati atasannya.
Sang profesor berdiri. Jidatnya berkerutan hingga tampak semakin tua. Sesekali jemarinya membetulkan letak kacamata minusnya yang kelewat tebal. Mondar-mandir ia dari pojok ke pojok. Dari sudut ke sudut.
Suara ribut dari luar itu tak ada tanda-tanda mau mereda, bahkan kian menjadi-jadi, ditingkah teriakan-teriakan yang bikin merah telinga. Rasa kesal menyesak di dada sang profesor yang tipis. Jembawan hanya bisa termangu.
Bloger Bersatu untuk Hak Asasi Manusia
Monday, 21 April 2008 (23:15) | 992 pembaca | 44 komentar

Sudah dua hari ini, bar samping blog saya terpasang dua banner mencolok warna merah. Yups, banner itu semata-mata merupakan wujud simpati saya terhadap blogcatalog yang akan beraksi menggelar agenda “Bloggers Unite For Human Rights” yang sekaligus menandai peringatan hari ulang tahun yang pertama bersatunya para bloger dari berbagai penjuru dunia melakukan aksi kepedulian terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).
Rencananya, 15 Mei 2008 aksi “Bloger Bersatu untuk Hak Asasi Manusia” itu akan dilakukan. Para bloger yang bersimpati terhadap aksi tersebut bisa memosting tulisan di blognya masing-masing dengan mengangkat tema yang berkaitan dengan HAM. Ada sebuah adagium universal yang terus bergaung dari generasi ke generasi bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk hidup, mendapatkan kebebasan dan keadilan. Namun, agaknya bukan hal yang mudah untuk mewujudkan adagium itu. Pelecehan seksual terhadap kaum perempuan, penindasan terhadap kaum lemah, pemenjaraan terhadap para pejuang kebenaran dan kemanusiaan, kekerasan terhadap anak, atau kesewenang-wenangan terhadap pembantu rumah tangga masih terus terjadi.
















