Home » Antologi PBP » Cerpen » Sastra » Pengakuan

Pengakuan

Warti hamil! Kabar itu segera menyentakkan kampung. Kalau Warti bersuami, jelas tak bermasalah. Tetapi, perempuan bertubuh pendek, berwajah kasar, dan berambut keriting itu jelas masih perawan, meskipun tergolong perawan kasep untuk ukuran di kampungnya. Umurnya sudah menginjak kepala tiga. Karuan saja, kampung dekat bibir hutan jati itu jadi gempar. Orang-orang tua mencibir sinis. Para pemuda blingsatan dan saling melempar kasak-kusuk.
“Edan! Siapa yang menghamili Warti?” sergah Paijo di depan kerumunan para pemuda yang bergerombol di depan gardu poskamling itu. Berulang-ulang, pemuda yang sering boro ke kota itu mengibas-ngibaskan tangan kanannya, seperti sengaja ingin memamerkan jam tangan barunya yang melingkar di lengannya. Para pemuda yang lain saling bertatapan. “Kok ya doyan-doyan-nya menyikat perempuan cebol begitu!” lanjutnya sambil geleng-geleng.

“Ah, namanya saja kalau orang lagi tergoda iblis! Tak peduli dia cantik atau nggak, yang penting bisa beranu-ria,” sahut Paimin sembari memberi isyarat porno.

“Tapi ya kebangeten kok! Saya dibayar cemban hanya disuruh mencium wajahnya yang kasar itu, uh, amit-amit, sumpah saya nggak mau!” sela Ramin, pemuda berhidung mancung yang juga sering boro bersama Paijo itu. Suasana di gardu Poskamling sore itu jadi hangat. Mulut mereka berkempas-kempus dengan asap rokok. Sesekali suara tawa membuncah.

“Apa mungkin Karmin, ya?” sela Paijo sembari menyapu kerumunan. “Sebab dia sering glenak-glenik sama Warti di rumah Bu Mantri Kirno!” sambungnya.

“Wah, jangan menuduh orang sembarangan, Jo! Berbahaya kalau nggak punya bukti,” sahut Soni, sembari membuang puntung rokok.

“Tapi bisa juga, ya? Dia kan bermata juling, jadi nggak bisa membedakan mana perempuan cantik dan tidak!” sela Ramin menguatkan tuduhan Paijo. Para pemuda saling bertatapan ke sekian kalinya. Lalu, disambung gumam-gumam pendek yang tidak jelas. Perbincangan mereka semakin seru. Dan dengan alasan yang sengaja dihubung-hubungkan, Karmin, anak Pak Dhe Karso yang sais dokar itu, dituduh telah menodai Warti. Hingga azan Maghrib menggema dari corong masjid, para pemuda itu masih berkumpul di gardu poskamling.
***
Warti memang bernasib malang. Teman-teman seusianya sudah berumah tangga dengan tiga atau empat anak. Barangkali karena keadaan tubuhnya dan wajahnya yang kasar itulah yang menjadi penyebab ia jadi tidak “laku”. Hanya bersama Mbok Ranem, ibunya yang janda itu, ia tinggal di gubugnya yang reot. Kang Timin, kakak satu-satunya, kini tengah boro ke Jakarta, sudah hampir lima bulan. Mbok Ranem sering meratap, menangisi nasib Warti yang tengah dilanda aib. Setiap kali ditanya siapa lelaki yang berbuat, Warti tak pernah mau berterus terang. Malah, ia tampak tak begitu peduli dengan perutnya yang semakin membuncit. Selepas Maghrib, Warti tetap saja klesetan di rumah Bu Mantri Kirno, nonton TV bersama tetangga yang lain. Dan baru pulang setelah pukul sembilan malam ketika TV menyiarkan dunia dalam berita. Kontan saja, Mbok Ranem sering uring-uringan.

“Kamu itu bagaimana sih, Ndhuk? Tahu kalau lagi ruwet kok masih saja nonton TV. Apa kamu nggak malu dijadikan gunjingan para tetangga?” gerutu Mbok Ranem begitu melihat Warti pulang.

“Acaranya bagus kok Mbok! Bintang filmnya cantik-cantik!” sahut Warti sambil membaringkan tubuhnya di atas dipan bertikar lusuh. Perutnya tampak mengembang.

“Ndhuk? Terus teranglah sama Simbok! Siapa yang telah berbuat itu?” rajuk Mbok Ranem sembari mendekati anak gadisnya itu.

“Rahasia!” sahut Warti sewot. Mbok Ranem geleng-geleng.

“Bagaimana kalau kakangmu Timin tahu? Pasti dia marah kalau pulang!” desak wanita tua itu.

“Kalau saya berterus terang apa Sampean bisa membujuk orangnya agar mau mengawiniku?”

Mata Warti memancarkan kecemasan. Seperti ada beban yang menindih pikirannya. Mbok Ranem terpaku.

“Ah, nggak usahlah Mbok! Aku takut!” sergah Warti sembari mendesah panjang, lalu menutup wajahnya dengan selimut. Tenggorokan Mbok Ranem tercekat. Ia hanya ngungun di sisi pembaringan anak gadisnya. Bergeming.
***

Gurat-gurat di wajah Mbok Ranem semakin mempertegas ketuaan. Raut mukanya seperti dihimpit benan hidup yang tak berujung. Berulang-ulang, wanita tua itu mendesah. Pikirannya kusut.

Pak Jenggol, suaminya, telah meninggal dua tahun yang lalu akibat digerogoti penyakit paru-paru kronis. Guru lelakinya itu meninggal dengan mewariskan bertumpuk masalah. Sepetak ladangnya telah terjual habis untuk berobat. Tetapi nihil hasilnya. Penyakitnya tak kunjung sembuh hingga akhirnya direnggut maut.

Sebenarnya Mbok Ranem sangat mengharapkan Timin, anak sulungnya itu, menjadi tumpuan hidup keluarga. Namun, harapan itu terkubur sudah. Setiap pulang dari kota, Timin tak pernah memberinya duwit sepeser pun. Malah dia sering mendengar kabar dari para pemuda yang boro ke kota, Timin terbius bermain judi. Uang hasil kerjanya dihambur-hamburkan di lubang kemaksiatan. Hidup berumah tangga pun tak pernah dipikirkan hingga jenggoten. Dan untuk menyambung hidupnya, Mbok Ranem mencari kayu rencek dan daun jati ke hutan saban hari, kemudian menjualnya ke pasar.

Ulu hati Mbok Ranem seperti dihantam bongkahan batu besar setiap kali memikirkan beban hidupnya. Dadanya terasa perih. Dan kini, ia dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah diduganya. Mengapa Warti tidak mau berterus terang, siapa lelaki yang telah menabur aib di perutnya? Lalu, siapa nanti lelaki yang mau bertanggung jawab? Bagaimanakah nasib si jabang bayi kelak jika telah lahir? Benak wanita tua itu semakin terjejali pertanyaan-pertanyaan yang sulit terjawab. Hingga larut malam, Mbok Ranem masih saja termangu di sisi pembaringan Warti yang telah pulas tertidur seperti tanpa beban. Pelupuk wanita tua itu merembang. Tanpa terasa air matanya bergulir di pipinya yang keriput. Dadanya terasa sesak.
***
Tuduhan bahwa Karmin yang telah menodai Warti meruyak. Tanpa bukti yang jelas, orang-orang kampung telah memvonisnya. Ulah Karmin menjadi kembang lambe orang-orang sekampung.

“Sampeyan jangan menuduh saya sembarangan!” elak karmin ketika Paijo mendesaknya agar segera mengawini Warti. Di gardu poskamling, tempat yang biasa dipakai untuk mangkal para pemuda, sore itu jadi ramai. Suasana jadi gaduh.

“Ah, mbok jangan mukir, Min! akui saja perbuatanmu, kami justru malah senang!” timpal Paijo sambil tersenyum.

“Betuuuul!” sahut pemuda lain serempak.

“Edan, demi Tuhan saya nggak melakukannya!” bantak Karmin dengan wajah memerah.

“Apa buktinya kalau saya yang telah berbuat?” lanjut Karmin dengan tatapan mata berubah liar. Matanya menyapu jalang kepada para pemuda yang berkerumun.

“Karena Sampeyan yang biasa glenak-glenik di rumah Bu Mantri Kirno setiap nonton TV bersama Warti!” sahut Ramin. Para pemuda yang lain mengangguk serempak, ditingkah suara gaduh yang menyeruak kerumunan. Suasana berubah menjadi panas. Mata Karmin yang juling semakin liar dan jalang. Tiba-tiba saja anak sais dokar itu berontak. Nalurinya sebagai lelaki seperti telah dilecehkan. Dengan cekatan, dicengkeramnya krah baju Paijo. Paijo gelagapan. Wajahnya memucat. Tatapan matanya nanar. Para pemuda melongo melihat adegan itu. Di mata mereka, Karmin tiba-tiba berubah bak Malaikat; begitu garang dan berwibawa.

“Saya sebenarnya sudah tidak mau peduli dengan masalah kehamilan Warti karena memang itu bukan urusanku!” berondong Karmin dengan mata julingnya yang mencereng tepat di wajah Paijo.

Paijo tak berkutik. Kekuatannya seperti menguap. Loyo. Ia tak segarang seperti saat ngobrol bersama para pemuda di gardu psokamling. Para pemuda termangu. Saling tatap. Saling tanya. Lalu, disambung gumam-gumam pendek yang samar, tidak jelas.

“Tahan, Min!” cegah seseorang ketika tangan Karmin siap menghunjamkan tinjunya ke wajah Paijo yang pucat. Karmin tersentak. “Dan juga untuk semuanya saja! Saya sudah mendengar pengakuan dari mulut Warti!” lanjut Pak RT yang datang secara tiba-tiba itu. Suasana hening sejenak. Para pemuda yang berkerumun di depan gardu poskamling itu menatap serentak ke wajah Pak RT.

Dengan runtut, Pak RT menceritakan bahwa selama ini Warti tidak mau berterus terang karena takut ancaman Paijo. Paijolah yang telah berbuat nista itu, dan mengancam Warti akan dibunuhnya jika kejadian tak senonoh itu diceritakan kepada orang lain. Wajah Paijo semakin pucat. Wajah para pemuda yang bergerombol di mata Paijo tampak bagikan monster yang menakutkan. Karmin melepaskan krah Paijo dengan keras. Paijo terjengkang. Matanya nanar.

“Ayo, segera kawini si Warti itu, bangsat!” bentak Karmin. Para pemuda yang lain segera meneriakkan yel-yel dan menuntut Paijo agar segera mengawini perempuan pendek itu. Suasana kampung jadi onar. Lelap dalam kegaduhan yang dahsyat. Paijo gelagapan. Wajahnya seperti dilempari telur busuk. Siasatnya justru jadi bumerang. Kini, ia harus bertanggung jawab terhadap aib yang menimpa Warti. Mata Paijo berkunang-kunang. ***
(Wawasan, 3 November 1996)

tentang blog iniTulisan berjudul "Pengakuan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (24 September 2007 @ 14:37) pada kategori Antologi PBP, Cerpen, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 1 komentar dalam “Pengakuan

  1. Pingback: MENGUAK ABSURDITAS CERPEN DANARTO « Tentang Bahasa dan Sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *