Thursday, 8 January 2009 (00:21) | 1,960 pembaca | 26 komentar | Print this Article
Halaman Khusus bagi Peserta Kontes Review Cerpen:
Silakan baca ketentuan kontes review cerpen di sini, kemudian publikasikan hasil review Anda di kolom komentar halaman ini! Terima kasih!
update:
Mohon maaf, kontes review cerpen sudah ditutup! Terima kasih!












KANG PANUT
Pernah saudara mendengar orang meninggal namun lama kemudian hidup lagi? Jika belum, maka cerpen Sawali dengan judul Kang Panut akan menceritakan kepada saudara-saudara sekalian bagaimana seorang laki-laki tua yang biasa menjadi tukang masak, (atau pembuat minuman bagi warga yang berhajat) mendadak saja meninggal. Berawal dari kematian lelaki inilah, kemudian berkumpul beberapa warga. Di tengah keheningan kematian, mendadak saja pemuda desa melemparkan kata yang tak enak ketika seorang Lurah dating melayat. Pemuda tak mau melepas amarahnya, sampai kemudian keributan muncul, mengalihkan semua warga dari kematian lelaki bernama Kang Panut.
Belumlah lama berselang, beberapa media menuliskan artikel yang mengklaim bahwa kemunculan beberapa sinetron di layar televisi belakangan ini, tak bisa lepas dari nilai sekedar membual. Sekedar menghadirkan cerita, tak lantas memberikan ruang berfikir terhadap pemirsa. Kenyataan yang terjadi dalam indutsri perfilm-an tersebut, nampaknya terjadi pula pada dunia kepengarangan kita. Membaca cerpen karya pak Sawali, saya merasa risih ketika konflik yang bapak bangun adalah konflik murahan yang boleh dibilang terlalu mudah pembaca mencemoohnya. Perlu diingat, sekalipun cerpen (sebagai karya sastra) adalah sekedar fiksi, namun PEMBACA JUGA MEMPUNYAI NALAR untuk merunut setiap kejadian di dalamnya.
Dan saya tak mencatat kelebihan kecuali, konsistensi anda yang tak bisa lepas dari tema kematian, serta segala sesuatu yang berbau kerakyatan. Pada poin yang terakhir ini, bapak bolehlah saya jadikan simbol cerpenis yang mempunyai solidaritas terhadap kehidupan rakyat. Dan satu tahun blok anda, (selain dengan kegembiraan) rasanya perlu sekali dirayakan dengan banyak bereksplorasi.
JAGAL ABILAWA
Sawali telah kerasukan ruh Sori Siregar, Edi AH Iyubenu, Kuntowijoyo.
Sebelum anda berbangga dengan kalimat di atas, saya terlanjur menuliskan sebuah catatan sebagai berikut:
Bahwasanya seorang pembaca cerpen tak ubahnya penumpang angkot. Dan pengaranglah sopir kendaraan tersebut. Selamanya penumpang akan memasrahkan segalanya terhadap sopir. Masalah keselamatan, masalah kapan sampainya, masalah jalan yang terjal, itu urusan sopir. Sebab andalah pemegang kemudi. Namun, seberhak apapun anda, penumpangpun mempunyai kuasa untuk melayangkan protes. Seperti ketika anda tak berhati-hati pada tikungan tajam, atau ketika anda sedikit melamun.
Maka sebenarnya sah, ketika seorang pengarang menghendaki ending yang mengangetkan. (Bahkan karya yang seperti inilah karya yang diidam-idamkan pembaca) Namun, ketika anda mengerem sebuah kendaraan dengan mendadak, tanpa kapabilitas kendaraan yang mendukung, niscaya fatal juga apa yang akan terjadi.
Adalah wajar ketika istri ngidam kemudian menghendaki sesuatu yang aneh-aneh. Dan demikianlah yang terjadi terhadap Sumi, istri sang Narator. Maka sejatinya tak ada masalah sepanjang anda membangun konflik yang bermula dari ngidamnya Sumi itu. Dengan plot yang tak sebegitu berat, (mengingatkan saya akan gaya Almarhum Kuntowijoyo) anda berhasil membawa pembaca masuk ke dalam alam imaji anda. Bahkan ketika Sumi melahirkan bayi tanpa bantuan siapapun, itu adalah kewaharan. Bukankah bayi dalam rahimnya adalah bayi yang lain dari yang lain. Namun, dalam fase yang seharusnya genting ini, anda terlihat terlalu cair. Atau lebih kasarnya gagal menjiwai sebuah peristiwa.
Ketika kau berniat untuk menuls, penggallah kepalamu terlebih dahulu.
Kalimat di atas saya kutip dari ungkapan Joni Ariadinata. Dan memang betul, ketika kita mengarang cerpen, maka janganlah lebih mendahulukan kegeniusan ide, atau kebijakan tokoh. Sebab penjiwaan lebih wajib ketimbang beberapa perangkat itu.
Oleh sebab itu, mengapa cerpen Isbedi Setiawan, atau cerpen Juwayriyah Mawardi terasa indah walaupun konflik serta tokoh-tokoh yang dihadirkan tak sehebat atau sebijak Fahri? Dijawab oleh Yanusa Nugroho (dalam pengantar cerpen Isbedi) bahwa terkadang menyajikan perkara yang biasa itu sulit. Sebab dalam cerpen yang bertemakan biasa, satu hal yang lebih dituntut adalah penjiwaan. Penjiwaan yang saya maksud, bisa diartikan semisal penyajian bahasa, atau mengeluarkan beberapa ideologi, mengeluarkan kegelisahan-kegelisahan batin.
Namun, saya terlanjur menemukan jempol untuk menghadiahi bapak. Sebab, karya bapak adalah karya sastra yang tak mau lari dari konflik. Dan karya yang beginilah yang menurut I Nyoman Dharma Putra sebagai karya yang komplit. (Pengantar Cerpen Terpilih Kompas 2003). Jika seorang Sori Siregar adalah pesulap realita kedalap imajinasi, maka (saya kira) andapun pantas menyandang hal itu.
JAGAL ABILAWA
Sawali telah kerasukan ruh Sori Siregar, Edi AH Iyubenu, Kuntowijoyo.
Sebelum anda berbangga dengan kalimat di atas, saya terlanjur menuliskan sebuah catatan sebagai berikut:
Bahwasanya seorang pembaca cerpen tak ubahnya penumpang angkot. Dan pengaranglah sopir kendaraan tersebut. Selamanya penumpang akan memasrahkan segalanya terhadap sopir. Masalah keselamatan, masalah kapan sampainya, masalah jalan yang terjal, itu urusan sopir. Sebab andalah pemegang kemudi. Namun, seberhak apapun anda, penumpangpun mempunyai kuasa untuk melayangkan protes. Seperti ketika anda tak berhati-hati pada tikungan tajam, atau ketika anda sedikit melamun.
Maka sebenarnya sah, ketika seorang pengarang menghendaki ending yang mengangetkan. (Bahkan karya yang seperti inilah karya yang diidam-idamkan pembaca) Namun, ketika anda mengerem sebuah kendaraan dengan mendadak, tanpa kapabilitas kendaraan yang mendukung, niscaya fatal juga apa yang akan terjadi.
Adalah wajar ketika istri ngidam kemudian menghendaki sesuatu yang aneh-aneh. Dan demikianlah yang terjadi terhadap Sumi, istri sang Narator. Maka sejatinya tak ada masalah sepanjang anda membangun konflik yang bermula dari ngidamnya Sumi itu. Dengan plot yang tak sebegitu berat, (mengingatkan saya akan gaya Almarhum Kuntowijoyo) anda berhasil membawa pembaca masuk ke dalam alam imaji anda. Bahkan ketika Sumi melahirkan bayi tanpa bantuan siapapun, itu adalah kewajaran. Bukankah bayi dalam rahimnya adalah bayi yang lain dari yang lain. Namun, dalam fase yang seharusnya genting ini, anda terlihat terlalu cair. Atau lebih kasarnya gagal menjiwai sebuah peristiwa.
Ketika kau berniat untuk menuls, penggallah kepalamu terlebih dahulu.
Kalimat di atas saya kutip dari ungkapan Joni Ariadinata. Dan memang betul, ketika kita mengarang cerpen, maka janganlah lebih mendahulukan kegeniusan ide, atau kebijakan tokoh. Sebab penjiwaan lebih wajib ketimbang beberapa perangkat itu.
Oleh sebab itu, mengapa cerpen Isbedi Setiawan, atau cerpen Juwayriyah Mawardi terasa indah walaupun konflik serta tokoh-tokoh yang dihadirkan tak sehebat atau sebijak Fahri? Dijawab oleh Yanusa Nugroho (dalam pengantar cerpen Isbedi) bahwa terkadang menyajikan perkara yang biasa itu sulit. Sebab dalam cerpen yang bertemakan biasa, satu hal yang lebih dituntut adalah penjiwaan. Penjiwaan yang saya maksud, bisa diartikan semisal penyajian bahasa, atau mengeluarkan beberapa ideologi, mengeluarkan kegelisahan-kegelisahan batin.
Namun, saya terlanjur menemukan jempol untuk menghadiahi bapak. Sebab, karya bapak adalah karya sastra yang tak mau lari dari konflik. Dan karya yang beginilah yang menurut I Nyoman Dharma Putra sebagai karya yang komplit. (Pengantar Cerpen Terpilih Kompas 2003). Jika seorang Sori Siregar adalah pesulap realita kedalam imajinasi, maka (saya kira) andapun pantas menyandang hal itu.
KANG PANUT
Pernah saudara mendengar orang meninggal namun lama kemudian hidup lagi? Jika belum, maka cerpen Sawali dengan judul Kang Panut akan menceritakan kepada saudara-saudara sekalian bagaimana seorang laki-laki tua yang biasa menjadi tukang masak, (atau pembuat minuman bagi warga yang berhajat) mendadak saja meninggal. Berawal dari kematian lelaki inilah, kemudian berkumpul beberapa warga. Di tengah keheningan kematian, mendadak saja pemuda desa melemparkan kata yang tak enak ketika seorang Lurah dating melayat. Pemuda tak mau melepas amarahnya, sampai kemudian keributan muncul, mengalihkan semua warga dari kematian lelaki bernama Kang Panut.
Belumlah lama berselang, beberapa media menuliskan artikel yang mengklaim bahwa kemunculan beberapa sinetron di layar televisi belakangan ini, tak bisa lepas dari nilai sekedar membual. Sekedar menghadirkan cerita, tak lantas memberikan ruang berfikir terhadap pemirsa. Kenyataan yang terjadi dalam indutsri perfilm-an tersebut, nampaknya terjadi pula pada dunia kepengarangan kita. Membaca cerpen karya pak Sawali, saya merasa risih ketika konflik yang bapak bangun adalah konflik murahan yang boleh dibilang terlalu mudah pembaca mencemoohnya. Perlu diingat, sekalipun cerpen (sebagai karya sastra) adalah sekedar fiksi, namun PEMBACA JUGA MEMPUNYAI NALAR untuk merunut setiap kejadian di dalamnya.
Dan saya tak mencatat kelebihan, kecuali, konsistensi anda yang tak bisa lepas dari tema kematian, serta segala sesuatu yang berbau kerakyatan. Pada poin yang terakhir ini, bapak bolehlah saya jadikan simbol cerpenis yang mempunyai solidaritas terhadap kehidupan rakyat. Dan satu tahun blok anda, (selain dengan kegembiraan) rasanya perlu sekali dirayakan dengan banyak bereksplorasi.
maaf, Pak, review saya langsung copy paste dari Word.
ternyata hasilnya jadi semrawut, hehehe.
emoticon smile-nya ( :wink: ) malah jadi kotak kecil.
terima kasih. YNWA! :wink:
Selamat malam, Pak Sawali. Salam kenal. Maaf, saya ingin ikut kontes review cerpen.
Sebelum dan sesudahnya, saya mohon maaf jika ada hal-hal yang tidak berkenan. Misalnya, dalam hal mengungkapkan kelebihan dan kekurangan cerpen, tentu saja saya ungkapkan secara SUBJEKTIF. Jadi, maaf jika ada hal-hal yang tidak Bapak setujui.
O iya, awalnya saya membaca cerpen ”Perempuan Bergaun Putih” yang termuat di buku kumcer, setelah itu baru membaca cerpen yang ada di blog Bapak. Nampaknya ada beberapa perbedaan di antara keduanya. Kalau tidak salah, yang di blog hasil editan dari yang di kumcer ya, Pak? Maaf kalau salah.
Sebagai catatan, saya benar-benar menikmati mengikuti acara yang Bapak adakan ini. Tanpa sadar sudah nulis dan ngutip banyak sekali (sayang tanggal 16 Januari 2009 sudah hampir berakhir, hehehe). Intinya, terima kasih, karena kontes Bapak, saya telah dapat belajar membuat review. Sekali lagi, saya mohon maaf jika ada hal-hal dalam tulisan saya yang tidak Bapak pahami. Sebab, saya sendiri juga tidak paham, hehehe. Mungkin lagi setengah trance.
Selamat membaca, Pak. Semoga tidak bosan, dan semoga bermanfaat. Terima kasih.
Entahlah, Aku Tak Pernah Paham!
Sebuah Penafsiran atas Cerpen ”Perempuan Bergaun Putih”
Karya Sawali Tuhusetya
A. Rangkuman:
Tiba-tiba saja, tanpa seorang pun tahu sebabnya, anak perempuan satu-satunya yang sangat disayangi Kang Badrun dan Yu Darmi meninggal. Padahal, gadis kecil berkepang dua itulah yang diharapkan Kang Badrun dan Yu Darmi dapat mengangkat martabat keluarga mereka. Kang Badrun dan Yu Darmi berharap, setelah dewasa gadis itu dapat mengikuti jejak gadis-gadis tetangga mereka yang merantau ke negeri orang, dengan tujuan untuk mengumpulkan bekal hidup dan sepetak tanah sebagai kado yang wajib dipersembahkan kepada orang tuanya sebelum disunting seorang lelaki. Ah, kematian gadis itu membuat Kang Badrun dan Yu Darmi sangat menderita. Namun, ternyata penderitaan mereka belum berakhir. Penderitaan hidup Kang Badrun dan Yu Darmi makin sempurna ketika salah satu dari empat anak lelakinya tertangkap basah mencuri uang milik kepala dusun. Sesuai dengan adat di kampung itu, Kang Badrun sekeluarga pun terpaksa diusir dari kampung kelahiran yang mereka cintai.
Entah ke mana Kang Badrun dan keluarganya yang bernasib kurang beruntung itu pergi. Yang jelas, semenjak kematian gadis itu dan kepergian keluarga Kang Badrun, kampung mereka bagaikan dipayungi jubah malaikat maut. Hawa busuk kematian tercium di setiap sudut dan pintu-pintu rumah penduduk. Bahkan, sudah hampir tiga purnama ini, para penduduk dikejutkan oleh kehadiran sosok perempuan misterius bergaun putih. Entah siapa dia, tak seorang pun yang tahu. Yang pasti, setiap rembulan menggantung di langit, dia selalu setia menunggui bukit di bibir Lembah Kematian. Dari mulutnya, sesekali mendesis senandung pemujaan rembulan yang perih. Menurut penuturan beberapa penduduk, rambut perempuan itu tergerai memanjang hingga menyentuh lututnya. Sedangkan wajahnya yang rata selalu menengadah ke langit, menatap rembulan yang dipujanya.
Malam berganti malam. Namun, perempuan bergaun putih itu tak kunjung menghilang. Bahkan, setiap malam berganti, jumlah perempuan bergaun putih yang menengadahkan wajahnya ke langit makin bertambah. Mereka semua mirip, hingga membuat para penduduk tersentak. Dan, para penduduk pun makin tersentak, ketika pada malam berikutnya ribuan burung gagak bertengger di atas bubungan atap rumah dengan meninggalkan kotoran busuk yang menusuk hidung. Setiap malam, jumlah burung gagak itu kian bertambah, hingga membuat beberapa rumah penduduk tak sanggup lagi menampung beban. Akibatnya, belasan rumah roboh. Akhirnya, atas kesepakatan dengan tetua kampung, para penduduk mengungsi ke tempat lain. Tidak jelas, di mana mereka harus tinggal. Yang pasti, hampir setiap hari terlihat rombongan penduduk membawa barang-barang dan ternak melintasi jalan-jalan kampung yang sunyi, dingin, dan berkabut. Entah sampai kapan.
B. Review:
Berikut ini kelebihan dan kekurangan cerpen ”Perempuan Bergaun Putih”. Baik secara intrinsik, maupun ekstrinsik. Pokoke campur aduklah. Maklum, kejar deadline!
1. Kelebihan
a. Judul cerpen ini menjadi judul kumpulan cerpen Pak Sawali, tentu karena cerpen ini memiliki keistimewaan (walaupun saya tidak paham apakah memang seistimewa itu).
b. Berdasarkan proses kreatifnya, memang cukup menarik, seperti yang Bapak tulis di bawah ini.
Catatan:
(Cerpen ini kutulis ketika “insomnia”-ku kambuh pada Jumat dini hari, malam ke-2 Muharam 1429 H, ketika koneksi internet tiba-tiba lumpuh, ketika tiba-tiba saja imajinasi liarku teringat seseorang yang terus “menghipnotis” dan merangsang “adrenalin”-ku untuk melahirkan cerpen-cerpen surealis *halah* bernada perih).
Apakah berarti cerpen ini hanya ditulis dalam satu malam? Maaf, saya tak paham.
c. Saat membaca cerpen ini, ada tiga hal yang langsung berkelebat di benak saya. Dalam hal pemilihan gaya bahasa bernuansa kengerian, serta merta mengingatkan saya pada cerpen ”Anjing-anjing Menyerbu Kuburan” karya Kuntowijoyo dan buku serial Wiro Sableng yang berjudul ”Banjir Darah di Tambun Tulang”. Namun, nuansa Wiro Sableng, yang sering saya baca saat masih kecil, lebih kental. Jadi, membaca cerpen ini membuat saya agak bernostalgila hingga senyam-senyum sendiri.
Satu hal lainnya, percakapan dua orang tokoh yang sering berakhir dengan pertanyaan tak terjawab, mengingatkan saya pada naskah drama ”Menunggu Godot”. Mungkinkah memang ada hubungannya, Pak?
d. Secara isi, untunglah cerpen ini masih berhasil memotret penderitaan wong cilik, jadi masih nyambung dengan cerpen-cerpen lain dalam kumcer Perempuan Bergaun Putih. Salah satu isi cerpen ini, saking menderitanya seakan-akan wong cilik susah untuk mempunyai harapan, hingga harus menggantungkan harapan pada anaknya. Bahkan ketika sang anak tersebut meninggal, menjadi putus asa, tak tahu harus berbuat apa. Mungkin itu mencerminkan kehidupan wong cilik di negeri semrawut ini. Hopeless.
2. Kekurangan
Maaf, Pak, terus terang saya merasakan beberapa kekurangan dalam cerpen ”Perempuan Bergaun Putih”. Kekurangan tersebut, antara lain, sebagai berikut.
a. Judul cerpen ini menjadi judul kumcer (kumpulan cerpen) Pak Sawali. Entah dengan alasan apa, saya tidak paham. Dugaan bodon saya, karena cerpen ini termasuk salah satu dari tiga cerpen dokumen pribadi yang terdapat dalam kumcer Perempuan Bergaun Putih. Dugaan lain, mungkin karena judul cerpen ini lebih menarik (menjual) daripada judul 19 cerpen lain yang terdapat dalam kumcer itu. Walaupun sebenarnya, menurut saya, ada juga judul cerpen yang cukup menarik untuk dijadikan sebagai judul kumcer, misalnya ”Sepotong Kepala”, ”Sang Pembunuh”, atau ”Jagal Abilawa”.
Saya merasa penasaran apa alasan pemilihan judul cerpen ini sebagai judul kumcer, karena cerpen ini, secara keseluruhan, tidak lebih bagus jika dibandingkan cerpen-cerpen yang lain. Misalnya, secara tematik dan amanat, cerpen ini kalah bagus jika dibandingkan dengan cerpen ”Penjara”, ”Kang Sakri dan Perempuan Pemimpi”, atau ”Sang Pembunuh” yang lebih berhasil membingkai potret wong cilik yang teraniaya dan hidup serba salah.
Sebagai gambaran, kumpulan cerpen pilihan Kompas selalu diberi judul berdasarkan judul cerpen terbaik dalam kumcer tersebut. Apakah dalam kasus kumcer Perempuan Bergaun Putih ini juga demikian?
b. Hal-hal yang diceritakan dalam cerpen ini bagaikan kumpulan kepingan puzzle yang tidak utuh. Bahkan, terkadang terlalu dipaksakan untuk digabungkan, sehingga nampak semrawut di sana-sini. Misalnya, hubungan antara kematian gadis berkepang dua, kemunculan perempuan bergaun putih, dan kemunculan gerombolan gagak yang membuat penduduk desa mengungsi, gagal untuk saya pahami. Entahlah, apa mungkin karena cerpen ini terlalu surealis, ya?
c. Ada beberapa pernyataan yang ambigu dalam cerpen ini, yang dapat membuat pembaca terkecoh jika tidak teliti. Misalnya, kutipan berikut ini (dari buku, halaman 13).
Gadis kecil berkepang dua itulah yang didambakan Kang Badrun dan Yu Darmi dapat mengangkat martabat keluarganya. Mengikuti jejak tetangganya, gadis itu merantau ke negeri orang.
Pada blog Pak Sawali, kutipan di atas berubah menjadi berikut ini.
Gadis kecil berkepang dua itulah yang didambakan Kang Badrun dan Yu Darmi dapat mengangkat martabat keluarganya. Mengikuti jejak gadis tetangganya merantau ke negeri orang.
Pada dua kutipan di atas, terkesan bahwa anak perempuan Kang Badrun sudah merantau ke luar negeri. Padahal, kenyataannya belum, karena ia masih kecil. Tentu pernyataan yang ambigu tersebut dapat mengganggu kenikmatan kita saat membaca.
d. Dalam hal penulisan kata maupun istilah, ada beberapa hal yang kurang tepat. Misalnya, dalam dua kutipan berikut (dari blog Pak Sawali).
Sesekali terdengar samar lolong serigala di hutan jati yang jauh seperti memanggil-manggil arwah para penghuni lembah kematian.
Yang membuat pori-pori mereka makin merinding, hampir setiap malam mereka menyaksikan seorang perempuan bergaun putih yang suka menunggui rembulan di bibir lembah kematian.
Saya merasa terganggu dengan penulisan lembah kematian. Apa maksudnya? Jika merujuk pada sebuah nama, sebaiknya ditulis Lembah Kematian. Pun jika merujuk pada sebuah lembah yang bernuansa kematian, tetap saja penulisan tersebut terasa mengganggu.
O iya, saya lebih setuju penulisan Kang dan Yu tidak di-italic, seperti yang ada di blog (yang di buku, hampir di semua cerpen, di-italic). Sebab lema/kata Kang dan Yu sudah ada di KBBI. Jika di-italic untuk menunjukkan berasal dari kosakata bahasa Jawa, mengapa kata Mas tidak di-italic? Lebih baik arti kata-kata tersebut, juga arti kosakata lainnya yang berasal dari bahasa Jawa, ditambahkan sebagai keterangan di akhir cerpen sebagai informasi.
e. Dalam hal fakta atau kelogisan, ada juga beberapa hal yang mengganggu. Sebagai contoh dalam kutipan berikut (dari blog Pak Sawali).
Gadis kecil itu anak perempuan Kang Badrun dan Yu Darmi satu-satunya. Empat anaknya yang lain laki-laki yang sulit diharapkan masa depannya. Gadis kecil berkepang dua itulah yang didambakan Kang Badrun dan Yu Darmi dapat mengangkat martabat keluarganya. Mengikuti jejak gadis tetangganya merantau ke negeri orang.
Dalam kutipan di atas, terkesan anak perempuan lebih berharga daripada anak lelaki. Padahal, yang berkembang selama ini di masyarakat Jawa, orang tua lebih menginginkan anak lelaki daripada anak perempuan. Berdasarkan kutipan di atas, saya menangkap kesan bahwa anak perempuan lebih berharga karena dapat menjadi TKW di luar negeri. Namun, bukankah anak lelaki juga dapat menjadi TKI?
f. Kutipan dari blog Pak Sawali berikut ini, terutama yang saya bold, mungkin dapat membantu menjawab mengapa cerpen ini terasa memiliki kekurangan. Walaupun sebenarnya, menjadi hal yang menarik juga, karena ending cerpen ini disayembarakan . Piye tho, kurang ning kok menarik? Mbuh ah, aku ra paham.
Bagaimanakah nasib para penduduk yang berbondong-bondong melakukan eksodus lantaran tak kuasa lagi menghadapi serbuan ribuan burung gagak yang datang dan pergi secara tak terduga? Di manakah mereka mesti tinggal? Adakah trauma yang tersisa setelah mereka hijrah ke daerah hunian yang baru? Bagaimanakah kondisi kampung terpencil setelah para penduduk melakukan hijrah massal? Bagaimana pula dengan keberadaan perempuan bergaun putih yang misterius itu?
Saya yakin Sampeyan memiliki daya imajinasi yang lebih liar untuk melanjutkan ending cerpen ini. Jujur saja, imajinasi saya sudah mentok sehingga tak sanggup lagi mengembangkannya menjadi sebuah cerpen yang menghanyutkan, apalagi menjadi sebuah novel.
Berkaitan dengan itu, tolong saya berikan tambahan ending sebuah paragraf saja, lalu tulis di kolom komentar tulisan ini! Pengembangan ending menjadi hak “prerogatif” Sampeyan sepenuhnya. Saya akan sangat mengapresiasinya. Akan saya pilih 10 paragraf terbaik menurut penilaian saya pribadi dan akan saya berikan hadiah Kumcer langsung ke alamat Sampeyan. Oleh karena itu, cantumkan juga alamat rumah secara lengkap untuk memudahkan pengiriman.
O iya, ending cerpen ini akhirnya bagaimana, Pak? Sudah saya cari di blog Bapak, tapi belum ketemu. Maklum, mata saya sudah 5 watt.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya utarakan, Pak, tapi nanti malah semakin panjang nggak karuan, hehehe. Mungkin lain kali bisa kita sambung, sebab saya juga ingin tahu jawaban dari rangkaian pertanyaan yang saya kemukakan dalam review ini. Terima kasih.
Btw, kalau salamnya Liverpudlian: YNWA! YOU’LL NEVER WALK ALONE!
Tapi untuk Pak Sawali, saya ucapkan: Salam kreatif! YNWA! YOU’LL NEVER WRITE ALONE!