Home | Budaya, Opini, Sosial | Gender dan Fenomena Perubahan Kelamin

Gender dan Fenomena Perubahan Kelamin

Friday, 25 December 2009 (13:10) | 648 pembaca | 131 komentar | Print this Article

Perubahan jenis kelamin yang sukses dilakukan oleh Agus Wardoyo (warga Kalilangsir, Kelurahan Gajah Mungkur, Kota Semarang) menjadi Nadia, baik secara medis maupun hukum, membuat banyak orang terperangah. Memang, fenomena semacam ini bukan untuk yang pertama kali. Artis Dorce Gamalama pun pernah melakukan hal yang sama. Tak heran jika MUI pun lebih bersikap pasif. Selama tidak ada aduan dari masyarakat, institusi pemrodusir fatwa itu konon tidak akan melakukan tindakan apa pun. Meski demikian, fenomena ini tetap saja menarik untuk dicermati.

nadiaTerlepas dari kontroversi yang mencuat ke permukaan, dalam pandangan awam saya, perubahan jenis kelamin sangat erat kaitannya dengan situasi sosio-kultural masyarakat kita yang cenderung masih amat patriarkhis. Ketidakadilan gender dalam berbagai bentuk dan variannya masih menjadi pemandangan rutin yang terjadi di mana-mana. Lihat saja pola stereotype (citra baku) yang masih kuat mengakar dalam ranah domestik dan publik kita. Seringkali diilustrasikan bahwa seorang lelaki mesti tampil maskulin; pemberani, agresif, aktif, wibawa, dan citra “serba lelaki” lainnya. Sedangkan, kaum perempuan mesti tampil feminin; pemalu, defensif, pasif, santun, dan citra “serba perempuan” lainnya. Akibatnya, kaum lelaki yang ingin mengekspresikan citra ke-”serba perempuan”-an terhambat oleh atmosfer citra baku yang sudah demikian kuat menggurita dalam kultur masyarakat kita.

Dalam perspektif gender, suasana-suasana emotif dan karakter, bukanlah sesuatu yang bersifat kodrati. Sikap cengeng, nakal, pemberani, pemalu, atau wibawa, merupakan karakter universal yang bisa melekat kepada siapa saja, terlepas apa pun jenis kelaminnya. Ini artinya, seorang lelaki bisa juga berpotensi untuk memiliki karakter gampang menangis, cengeng, pemalu, dan semacamnya. Demikian juga sebaliknya. Seorang perempuan pun bisa berpotensi untuk memiliki karakter agresif, pemberani, tegar, dan semacamnya. Namun, akibat citra baku yang sudah lama mengakar dalam masyarakat kita, karakter-karakter yang dinilai “berlawanan” secara seksual semacam itu gagal terekspresikan dalam ranah interaksi dan pergaulan hidup sehari-hari.

Situasi sosio-kultural yang telah membelenggu seseorang untuk mengekspresikan karakter-karakter personalnya di depan publik secara wajar, disadari atau tidak, telah membuat suasana gelisah dan trauma sosial berkepanjangan. Tak jarang, kaum lelaki yang memiliki karakter feminin merasa terampas hak-hak sosialnya untuk bisa bergaul secara wajar di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Ada batasan-batasan kultural yang membuat mereka tidak bisa bersikap adaptif dan “manjing-ajur-ajer” di tengah-tengah pergaulan sosialnya. Suasana gelisah dan tidak nyaman dalam ranah pergaulan sosial jelas bisa menjadi hambatan serius bagi seseorang dalam mengaktualisasikan dirinya. Mereka merasa tidak mendapatkan pengakuan dan legitimasi sosial sehingga perlu menempuh cara lain agar masyarakat mengakui keberadaan dirinya, misalnya dengan melakukan operasi jenis kelamin seperti yang dilakukan oleh Dorce atau Nadia.

Fenomena Dorce atau Nadia hanyalah dua dari sekian banyak fakta dari imbas ketidakadilan gender yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita. Sebagai konsep yang mengacu pada peran dan tanggungjawab laki-laki atau perempuan, gender akan mengalami perubahan dan dinamika seiring dengan situasi sosio-kultural masyarakatnya. Agaknya masih dibutuhkan kearifan zaman dan peradaban agar tidak lagi muncul fenomena “Nadia-Nadia” baru di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita. ***

Kategori: Budaya, Opini, Sosial | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgTemu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan (Monday, 3 November 2008, 738 pembaca, 81 respon) Bertempat di Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal Dan Informal (P2PNFI) Regional II Jawa Tengah, Jalan Diponegoro 250 Ungaran, Dinas Pendidikan Prov. Jawa Tengah menggelar Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan Prov. Jawa Tengah...
imgTayangan TV yang Bias Gender (Saturday, 13 September 2008, 1,179 pembaca, 47 respon) Saya bukanlah pengamat media. Namun, perasaan saya sering kalut ketika menyaksikan tayangan televisi yang makin tidak membumi, bertentangan dengan akal sehat, jauh dari nilai-nilai edukatif, bahkan sangat bias gender. Sesekali, amatilah tayangan hiburan...
imgSanggupkah Kaum Perempuan Membangun Fitrahnya? (Tuesday, 1 April 2008, 1,931 pembaca, 38 respon) Will Durant, seorang sejarawan kondang, pernah mengatakan, manusia di seluruh dunia akan menyaksikan revolusi besar mulai abad ke-20. Revolusi tersebut bukanlah revolusi ekonomi, politik, atau militer, melainkan kebangkitan peran kaum perempuan di segala...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Gender dan Fenomena Perubahan Kelamin" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Friday, 25 December 2009 (13:10)) pada kategori Budaya, Opini, Sosial. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

131 Responses to "Gender dan Fenomena Perubahan Kelamin"

  1. Menggunakan Google Chrome 4.0.295.0 Google Chrome 4.0.295.0 pada GNU/Linux GNU/Linux

    terima kasih tambahan infonya, mas.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (200 queries: 0.825 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP