Home | Budaya, Opini, Refleksi, Sastra | Sutardji Calzoum Bachri, Maman S. Mahayana, dan Saut Situmorang

Sutardji Calzoum Bachri, Maman S. Mahayana, dan Saut Situmorang

Sunday, 20 January 2008 (14:10) | 4,083 pembaca | 38 komentar | Print this Article

Usai sudah perhelatan akbar itu. Gedung DPRD Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (19-21 Januari 2008) telah menjadi saksi kiprah para “penggila” sastra se-Indonesia dalam memburu dan menemukan cintanya. Saya bukanlah anggota Komunitas Sastra Indonesia (KSI), apalagi pengurus. Kehadiran saya hanya sebatas penggembira. Kalau toh saya dapat undangan, itu juga karena *halah* ulah teman-teman di Kudus itu, semacam Mas Mukti Sutarman Espe, sang penyair flamboyan atau Dimas Jimat Kalimasadha, cerpenis yang tak kalah “katrok” dan “ndesa” seperti saya, heheheheehe :mrgreen: Jadi, bukan lantaran KSI-nya. Meski demikian, saya menaruh respek dan hormat kepada pihak penyelenggara yang berhasil menghadirkan para “pemuja” imajinasi itu ke dalam sebuah ruang dan waktu yang sama. Jelas, bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Sayangnya, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, yang dijadwalkan untuk membuka acara secara resmi, batal hadir. Demikian juga Budi Darma, sang penulis cerpen “Kritikus Adinan”, Arswendo Atmowiloto, penulis novel Canthing, atau Emha Ainun Najib, sang penyair “Lautan Jilbab”. Walhasil, saya pun hanya bisa berharap pada “kharisma” Sutardji Calzoum Bachri, Maman S. Mahayana, Sujiwo Tejo, Diah Hadaning, Habiburrahman El Shirazy, atau Saut Situmorang untuk bisa menghidupkan atmosfer perhelatan.

ksi5.jpg

Syahdan, diskusi yang digelar sebelum acara dibuka pun langsung membangkitkan tensi tinggi ketika kritikus Maman S. Mahayana dengan nada getir mengkritik pemerintah dan Depdiknas yang dinilai abai terhadap dunia sastra atau ketika Parni Hadi, Direktur Utama RRI, menyayangkan kebijakan pemerintah yang memisahkan kebudayaan dari dunia pendidikan dan menggabungkannya dengan dunia pariwisata. Audiens pun terhenyak. Sayangnya, tensi yang sudah meninggi itu tiba-tiba mencapai antiklimaks ketika sang moderator menyatakan bahwa waktu telah habis. Suasana makin hening ketika “Presiden” penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri didaulat membaca puisi. Di tengah tampilan fisik yang mulai menua, sang penyair itu masih sanggup “menyihir” ratusan audiense. Yang ingin menikmati puisi Sutardji Calzoum Bachri, silakan klik di sini.

maman.jpgMenjelang acara pembukaan, saya segera memburu Maman S. Mahayana. Dengan sikap latah dan sok akrab, saya mengajak dosen FIB UI Jakarta itu untuk sedikit berdiskusi. Di luar dugaan, Maman S. Mahayana “terpancing” juga. Beliau segera menarik lengan saya untuk keluar dari arena perhelatan. Basa-basi pun tumpah; mulai dari yang sepele hingga yang serius. Suasana jadi hangat. Di dalam ruang, upacara pembukaan terus berlangsung hingga akhirnya terdengar rancak suara terbang papat sebagai pertanda bahwa perhelatan akbar itu resmi dimulai.

Kami terus terlibat dalam obrolan dan diskusi hingga akhirnya saya menawarkan jasa untuk mengantarkan sang kritikus itu ke penginapan. Kami tak sempat menikmati atraksi Ki Sujiwo Tejo, Diah Hadaning, atau sastrawan lain. Sayang, di perjalanan, cuaca kurang bersahabat. Hujan seperti tumpah dari pintu langit. Lantaran naik sepeda butut, terpaksa cari tempat berteduh. Eh, terdampar di warung kopi. Wah, dari sinilah saya makin tahu siapa Maman S. Mahayana yang sesungguhnya. Beliau ternyata “pencandu” kopi; kental dengan sedikit gula. Di situlah tampak benar kalau Pak Maman, demikian Beliau saya sapa, sangat dekat dengan para tukang becak dan masyarakat bawah. Itu terlihat dari bagaimana cara dia menempatkan diri dan membuka percakapan hingga akhirnya mampu menjalin percakapan santai dan akrab yang menghangatkan suasana di tengah guyuran hujan.

p1190132.JPG

Bedakan ketika Maman S. Mahayana menjadi pembicara dalam forum diskusi!

p1200147.jpg

Keesokan harinya (Minggu, 20 Januari 2008) saya masih berharap pengarang Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy, mampu “menghipnotis” suasana perhelatan. Namun, dalam forum diskusi, justru tenggelam di balik “kharisma” Saut Situmorang yang tampil eksentrik dengan warna vokalnya yang khas; ngebass, tapi rancak.

saut1.jpg

Yang ingin menikmati puisi Saut Situmorang, silakan klik di sini.

Berikut beberapa skrinsut yang menggambarkan suasana perhelatan selama Kongres KSI berlangsung.

ksi21.jpg

p1200138.JPGksi13.jpg

gunoto-s.jpgksi7.jpg

diah-hadaning.jpgjiwotejo1.jpg

Perhelatan memang telah usai. Yang menjadi pertanyaan adalah mampukah forum semacam kongres KSI menghidupkan dan mendinamiskan atmosfer komunitas sastra yang tersebar di seluruh penjuru tanah air? Sanggupkah KSI menghasilkan kreator-kreator ulung yang melahirkan karya-karya masterpiece yang mampu menembus batas-batas geografi? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting untuk dijawab agar KSI tidak terjebak menjadi sebuah penggerak komunitas yang latah dan hanya sekadar rutinitas belaka. Jangan sampai terjadi sindiran Chairil Anwar “sekali berarti sesudah itu mati” terus menjadi ancaman akut yang sering menghinggapi forum-forum sejenis. ***

Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Sastra | Tags: , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgVirtual Host Berbasis Open Source untuk Pembelajaran Interaktif dan Mencerdaskan (Monday, 19 October 2009, 641 pembaca, 133 respon) Selama dua hari (Sabtu dan Minggu, 17-18 Oktober 2009), saya mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Berbasis Open Source Tanpa Internet” di SMA Muhammadiyah Weleri, Kendal, yang menghadirkan Mas Reza Ervani dari Rumah Ilmu Indonesia sebagai...
imgKreativitas Penciptaan: antara Kekuatan Personal dan Atmosfer Komunitas (Tuesday, 12 May 2009, 574 pembaca, 109 respon) Sesungguhnya, kreativitas penciptaan, khususnya dalam dunia kepenulisan, merupakan wilayah personal, merdeka, dan otonom. Bahkan, ada yang meyakini bahwa dunia kepenulisan merupakan “dunia panggilan” yang sangat erat kaitannya dengan bakat dan...
imgProstitusi Pelajar dan Beban Sosial Bangsa (Saturday, 28 February 2009, 1,628 pembaca, 114 respon) Berita “Metropolitan” Kompas (27/2/2009, halaman 27) sungguh menyentakkan nurani kita. Sebuah jaringan prostitusi yang ”menjual” pelajar SMP dan SMA sebagai pekerja seks komersial (PSK) berhasil dibongkar aparat. Dalam berita itu dikabarkan, tiga...
imgBanjir! (Monday, 9 February 2009, 2,875 pembaca, 178 respon) Minggu hingga Senin, 8-9 Februari 2009, Kendal, Jawa Tengah, terendam banjir. Praktis bah yang terbilang cukup besar di bulan kedua Tahun Kerbau ini (nyaris) melumpuhkan aktivitas warga. Meski tak sampai masuk rumah, keberangkatan saya ke LPMP Semarang...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Sutardji Calzoum Bachri, Maman S. Mahayana, dan Saut Situmorang" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 20 January 2008 (14:10)) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

38 Responses to "Sutardji Calzoum Bachri, Maman S. Mahayana, dan Saut Situmorang"

  1. kagome says:
    Menggunakan Firefox 3.6b2 Firefox 3.6b2 pada Windows XP Windows XP

    apa yang membuat manusia betah dengan sastra?

  2. nurul says:
    Menggunakan Firefox 3.5.3 Firefox 3.5.3 pada Windows XP Windows XP

    Aku penggemar berat Sutardji Calzoum Bachri, aku pengen banget mengikuti jejak beliau, coz di sekolah juga aku masuk exkul teater, namanya Teater Peri, aku suka kesenian,,, tapi nyanyi aku nggak bisa yang aku gemari bikin puisi ‘n bawain puisi’y…. Pak Sutardji Calzoum Bachri, bikinin puisi teantang Teater Peri donk,,, biar keren!… Heheheh,,,, :-\”
    Tapi… jangan ketang nggak perlu di bikinin, biar aku aza yang bikin, biar aku bisa persis Pak Sutardji Calzoum Bachri,, ya ngaak? ya nggak?.. hehehehhehehheh:d/:d/:d/:d/:d/:d/

  3. melani_putri@yahoo.com says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    iia akku seneng banget sama bapak sutardji dan salut terhadap semua karyanya!!

  4. melani putri says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    bapak sutardji keren banget,put salah satu penikmat karya bapak..
    kapan iia put bisa jadi penyair hebat seperti bapak?
    put seneng bgt sama puisi yang judulnya “Q”…Keren!!!!!!!!!!!

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (112 queries: 0.929 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP